Part 5

1370 Kata
Pagi ini tak seperti pagi biasanya karena matahari memilih bersembunyi dan digantikan awan abu-abu yang membuat langit gelap dengan hawa dingin mulai menyelimuti. Seperti alam tahu akan suasana hati Calista yang sama-sama mendung mengingat pertemuan dengan suaminya kemarin. Selesai sholat Calista duduk dibalkon kamarnya memandang langit mendung yang mulai meneteskan air hujan sedikit demi sedikit. Bahkan Calista tidak membereskan rumah dan tidak memasak seperti biasanya karena suasana hatinya yang sedang buruk. Calista suka hujan bahkan sangat suka hujan, baginya hujan bisa membuat ia melupakan kesedihannya walau sesaat. Calista turun dari balkon menuju halaman belakang rumah, tak peduli pakaiannya yang akan basah. Calista telentang di rerumputan sambil memandang langit yang mengeluarkan air hujan dan membiarkan air hujan itu jatuh menimpa wajah ayunya. Berharap hujan bisa sedikit demi sedikit mengikis kesedihan dalam dirinya. Menikmati air hujan menimpa wajahnya, otak Calista digelayuti banyak pikiran. Seperti.... Kapan dirinya bisa bahagia? Kapan ia bisa dihargai sebagai istri oleh suaminya? Kapan kehidupan pernikahannya berjalan normal seperti pernikahan pada umumnya? Banyak kata kapan yang mengganggu pemikiran Calista, dan ia sendiri tak punya jawaban atas pertanyaannya. Ia lelah. Benar-benar lelah. Lelah berjuang sendirian, lelah merasakan cinta sepihak, lelah mengejar sedangkan yang dikejar terus berlari menjauh, lelah merasakan jatuh berkali-kali. Ia lelah dan rasanya ingin menyerah. Tapi jika ia menyerah siapa yang akan berjuang? Tak ada. Sambil memejamkan mata, Calista berdo'a semoga hujan membawa semua kesedihannya. ** Keanu bangun tidur langsung mengerjakan kebiasaannya yaitu sholat,mandi dan pergi kekantor. Setelah siap Keanu turun dari tangga dan tak melihat istrinya disana. 'biasanya dia disana sekarang kemana'batin Keanu bertanya. Untuk soal kemarin Keanu juga tak membahasnya bersama Calista karena mereka sepakat tak mencampuri urusan masing-masing. Walaupun banyak pertanyaan berputar dikepala Keanu tapi ditahannya karena tak mau dianggap lancang. Keanu mencari Calista disetiap sudut rumah berlantai dua itu, sepertinya ada yang aneh dengan Calista karena Calista selalu masuk kekamar Keanu setiap pagi untuk menyiapkan baju yang akan dipakainya dan air hangat untuknya mandi. Dan tadi tak ada setelan kantor yang biasanya ia temukan diatas kasur dan tak ada air hangat dalam bath upnya. Mata Keanu menyipit untuk memperjelas apa yang ada di rerumputan halaman belakang rumahnya. Itu istrinya. Kenapa bisa disana? Langkah Keanu melebar menghampiri istrinya dengan wajah merah dan rahang mengeras menahan amarahnya. "CALISTA"teriak Keanu saat sampai di teras belakang rumah dengan nada dingin yang penuh amarah. 'apakah ia tak tau bahwa sekarang sedang hujan?kenapa malah hujan-hujanan, kalau ia sakit bagaimana?. Bodoh'batin Keanu melihat keanehan istrinya yang tiduran diatas rumput membiarkan hujan membasahi tubuhnya. Calista membuka mata dan beranjak bangun lalu berjalan menghampiri Keanu. "Ada apa?"tanya Calista saat sampai didepan Keanu dengan pakaian basah kuyup. "Apa yang kau lakukan?apakah kau tak tau bahwa sekarang sedang hujan?"tanya Keanu tegas. "Kamu khawatir ?" tanya Calista balik, dan Calita berharap Keanu menjawabnya 'iya aku khawatir'. "Aku hanya nggak mau kau sakit dan menyusahkanku" jawab Keanu ketus. Walaupun ia tak menyadari ada kekhawatiran di nada pertanyaannya tadi. Dan kenyataan menghempaskan Calista sekali lagi kedalam jurang kesakitan. Bahwa selamanya Calista tak berharga dimata Keanu. Calista tersenyum, senyum yang berhasil menyembunyikan jutaan luka yang ia rasakan selama ini. Ia pintar sekali dalam berakting, ia tetap tersenyum walaupun hatinya menjerit, maraung, berteriak akan kesakitan yang menimpanya. Ia menyembunyikan semua itu agar tak terlihat lemah didepan orang lain karena ia membenci tatapan kasihan dan iba orang lain padanya jika ia terlihat lemah. "Aku bercanda mas, mas mau berangkat?"tanya Calista dengan senyuman setulus mungkin tapi Keanu sadar mata Calista tak memancarkan cahaya seperti kemarin. Artinya bibirnya menunjukkan ia bahagia tapi matanya menunjukkan ia kesakitan. "Hm, dan jangan hujan-hujanan. Seperti anak kecil" jawab Keanu dengan nada dingin. "Iya, mas hati-hati"ucap Calista dengan mengulurkan tangan. Keanu mengulurkan tangan dan Calista segera mecium punggung tangan suaminya itu. Setelah itu Keanu pergi tanpa mengucapkan apapun. "Assalamualaikum"teriak Calista saat Keanu tak mengucapkan salam padanya. Keanu mendengar itu hanya menjawab salam dalam hati sambil mengulum senyum memperhatikan punggung tangan yang dicium istrinya itu. Astaga ia sudah gila senyum-senyum sendiri??!! Tapi ia bener-bener bahagia saat Calista mecium punggung tangannya, ia merasa dihargai sebagai suami walaupun ia tak pernah menghargai Calista sebagai istri. ** Setelah mobil Keanu pergi ia segera masuk kekamar untuk mandi dan berganti baju akan tak terserang flu. Sesuai kata Keanu tadi ia tak ingin disusahkan dan Calista tak ingin menyusahkan. Selesai bersih-bersih, Calista duduk dibalkon kamarnya sambil menikmati hawa dingin dan bunyi rintik air karena hujan masih turun. Sambil membaca novel, Calista memikirkan bagaimana nasibnya setelah ini. 'huhh'berkali-kali ia menghembuskan nafas kasar tanda bahwa kepalanya dipenuhi banyak pertanyaan. Drrt...drrtt Bunyi handphone berdering membuyarkan lamunan Calista. "Halo"ucapnya saat mengangkat telephone setelah melihat siapa yang menelphone pagi-pagi. "Jangan bilang lo lupa janji lo kemaren"tebak suara diseberang sana. "Gue nggak lupa, setengah jam lagi ketemuan dicaffe gue. Gue Line alamatnya"ucap Calista lalu memutus panggilan secara sepihak tak peduli lawan bicaranya mengumpat tindakan Calista itu. Calista mengambil tas dan kunci mobil di nakas lalu turun untuk menuju caffenya. "Assalamualaikum bu boss" ucap Rere saat melihat bossnya membuka pintu caffe. "Walaikumsalam Re" jawab Calista pendek. "Kenapa wajahnya loyo gitu boss? Kemaren aja semangatnya naudzubilah" tanya Rere dengan nada mengejek. "Mending kerjain kerjaan kamu deh Re" perintah Calista yang bosan dengan pertanyaan Rere. "Hehehe oke bu boss tapi bisa nggak mukanya biasa aja" jawab Rere karena sedikit takut melihat wajah bossnya yang sedang marah apalagi kelihatan sekarang bossnya sedang dimood jelek. "Nanti kalo ada yang cari saya suruh langsung keruangan saya dan jangan lupa anterin dua minuman keruangan saya" setelah mengucapkan itu, Calista menuju keruangannya dan dijawab dengan anggukan oleh Rere. "Permisi Calistanya ada" tanya seorang lelaki pada Rere. Rere melihat penampilan lelaki itu, jeans hitam dengan t-shirt putih dipadukan dengan jaket kulit hitam tak lupa sepatu sporty putih, simpel tapi menawan itu adalah kesan pertama Rere pada sosok dihadapannya. "Oh ada, mari saya antar keruangan bu Calista" ujar Rere seraya mengantarkan lelaki itu ketempat bossnya. "Silahkan masuk" ucap Rere setelah sampai didepan pintu dengan senyuman lebar. "Terima kasih" Tokk...tok...tok "Masuk" Lelaki itu masuk tak lupa menutup pintu lalu duduk disofa. "Jadi siapa dia?" tanya lelaki itu setelah meletakkan cangkir teh yang sudah diminumnya sedikit. "Huhh oke gue jelasin" jawab Calista diiringi helaan nafas kasar. Calista bangkit dari kursi yang ia duduki sekarang dan duduk di samping lelaki itu. "Dia suami gue" " kalo itu gue juga tau kan kemaren lo ngomong gitu, maksud gue kenapa suami lo pergi dengan wanita lain dan wanita lain itu ngaku sebagai pacar lo?" sewot Ardi. "Wanita itu emang pacarnya" jawab Calista santai. "WHAT??!! Suami lo punya pacar?" pekik Ardi kaget. Bagaimana tidak kaget jika sahabatnya mempunyai suami yang berstatus pacar orang. "Hmm" gumam Calista disertai anggukan. "Gila" satu kata dari Ardi mengetahui kenyataan yang sebenarnya. "Banyak pertanyaan dipikiran gue tapi gue nggak tau mau nanya yang mana duluan. Jadi lo ceritain mulai dari awal sama gue" ucap Ardi memandang wajah Calista dengan kebingungan yang ada diotaknya. Calista menceritakan semuanya dari rencana ia dijodohkan, pernikahannya, pacar suaminya. Calista menceritakan semuanya tanpa ada yang ia tutup-tutupi karena jujur ia lelah dengan semua ini, ia butuh orang untuk membagi kelelahannya dan Ardi adalah orang yang tepat. "Gue nggak tau kenapa lo tetep bertahan walaupun kesakitan menghampiri lo berkali-kali" kata Aldi sambil meletakkan minumannya di meja. Ardi melihat wajah Calista dengan teliti. Wajah itu dulu penuh keceriaan tapi sekarang wajah itu murung dan sorot matanya menunjukkan kesakitan yang mendalam. "Saat mas Keanu mengucapkan ijab kabul dulu saat itu juga gue udah mencintai mas Keanu dengan segenap jiwa dan raga gue, mengabdikan hidup gue untuk dia dan berusaha menjadi yang terbaik untuk dia. jika pernikahan gue kayak gini terus gue lelah dan suatu saat gue akan pergi tapi itu bukan kemauan gue melainkan kemauan dia yang menyuruh gue pergi" jelas Calista. "Kapan lo akan pergi dari hidup dia?" tanya Ardi. "Saat dimana dia nyuruh gue pergi dan saat itu juga gue akan pergi dan nggak kembali lagi" jawab Calista dengan helaan napas kasar berkali-kali menandakan ia lelah dengan apa yang ia alami. "Jika suatu saat suami lo tobat dan dia mencintai lo terus pengen bareng-bareng lagi sama lo gimana?" tanya Ardi mengutarakan pertanyaan diotaknya. "Hahaha dia nggk mungkin cinta sama gue karena dia cinta mati sama pacarnya itu" jawab Calista dengan tertawa tapi bukan tawa kebahagiaan yang Ardi lihat melainkan tawa miris mengetawakan hidupnya dimana sampai kapanpun ia tak akan dicintai suaminya. "Gue selalu berdo'a agar lo selalu bahagia mungkin sekarang Allah ngasih kesakitan bertubi-tubi sama lo tapi percayalah one day kesakitan lo itu berganti kebahagiaan yang tiada tara" ucap Ardi meyakinkan Calista bahwa hidup itu tak berpusat dalam satu hal melainkan banyak hal. "Ya, suatu saat gue pasti bahagia" yakin Calista dengan senyum lebar menghiasi wajahnya, meyakinkan diri sendiri jika kesakitan yang ia alami pasti nanti berganti dengan kebahagiaan yang akan ia miliki. Sekarang pertanyaannya. Kapan kesakitan itu berakhir dan terganti dengan kebahagiaan?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN