#benefit jadi pacar dosen II

2895 Kata
…. “Gadis jujur padaku, nilaimu pasti ada yang di berikannya lebih tinggi dari pada yang seharusnya bukan?” Curiganya padaku, aku mengingat beberapa hal yang pernah di lakukannya padaku selama menjadi mahasiswanya. “tidak, itu tidak pernah terjadi Kenan, dia tak akan melakukan hal seperti itu… ” Aku menyangkalnya. aku pikir, aku memang melakukan semuanya saat itu dengan semaksimal mungkin. dan karena akupun tak ingin mengecewakan Mas Alex jadilah aku selalu belajar dengan sangat rajin. Hasilnya ya tentu tak menghianati usahaku, aku jadi selalu mendapat nilai yang memuaskan. “cih..bohong!” “untuk apa aku berbohong padamu” “apa dia pernah membantu mengerjakan tugas-tugasmu?” “itu…ehmm…” ~ Kelas Psikopatologi 11B1 Saat itu Mas Alex, dosenku untuk mata kuliah psikopatologi. ia membagi kelas menjadi 13 kelompok sesuai jumlah pembahasan materi selama 12 pertemuan dalam satu semester (terhitung dengan UTS dan UAS). Semua bahan ajar itu tentang psikologi abnormal karena memang itu adalah pokok pembahasan materi psikopatologi. Saat itu aku harus mendapat Bab pembahasan OCD dan PTSD bersama empat temanku yang lainnya. Semuanya baik-baik saja, akupun tak begitu kesulitan memahami materinya dan hanya focus pada bab materi setiap pertemuannya, dan karena presentasiku itu dilakukan di pertemuan terakhir sebelum UTS, jadi aku masih santai-santai saja dan berencana akan mulai membaca materiku dan mengerjakan presntasinya ke dalam bentuk PPT di minggu ke-3 bersama teman satu kelompokku. “….” “Gadis” Mas Alex memanggilku ditengah pembahasan materi presentasi. “iya Pak” Jawabku sambil berusaha menampilkan senyum termanisku padanya. aku tahu sedari awal kelas di mulai ia diam-diam selalu mencuri-curi pandang padaku, memperhatikanku, bahkan ia dengan sengaja mejatuhkan pulpennya di hadapanku agar aku memungutnya hingga tangannya bisa memegang tanganku saat ku kembalikan pulpen itu padanya. ‘penuh trik sekali dia itu..’ kataku dalam hati. Padahal tadi pagi saat ia menjemputku sudah kuberikan morning kiss untuknya, tapi tetap saja dia masih bersikap seperti itu. “Gadis, minggu depan kau akan menjelaskan materi OCD bukan? sekarang jelaskan perbedaan antara GAD dan OCD” Tiba-tiba ia menyuruhku menjelaskan perbedaan dua kondisi abnormal itu. kelas hari itu adalah pertemuan ke-3 yang memang sedang membahas materi Generalized Anxiety Disorder atau biasa di singkat saja menjadi GAD. Aku yang masih belum membaca materi apapun tentang OCD, baru rencanaku akan mengerjakannya setelah selesai kelas hari ini bersama teman-teman satu kelompokku. aku jadi belum tahu banyak tentang OCD itu. ‘hhhh… bagaimana ini harus ku jawab apa??’ Aku berusaha memutar otakku. Mengingat-ingat apa saja kondisi gangguan obsesif kompulsif atau OCD itu juga perbedaannya dengan GAD yang baru saja di bahas di kelas hari itu. “hh.. itu, ehm-“ “kenapa? kau masih belum mempelajarinya?” Tebakannya memang selalu yang paling benar. Saat itu aku baru sekitar dua minggu menjadi pacarnya, dan aku masih belum tinggal di apartemennya. jadi ia tak tahu begitu banyak soal apa saja yang kulakukan setiap malamnya. mungkin saja Mas Alex bertanya begitu padaku, karenaia pikir kalau aku sudah membaca materi presentasiku yang akan ku lakukan minggu depan, padahal..aku masih belum membacanya. “….” Aku hanya diam, akupun menatap teman satu kelompokku berharap ada yang bisa membantuku, setidaknya mereka membuatkan alasan atau apapun itu untuk menjawab apa yang baru saja di tanyakannya padaku saat itu. “mana materi kalian?” Pintanya, Untunglah aku sudah sempat melakukan print out materi pembahasan presentasiku itu yang nantinya akan ku pelajari bersama teman-temanku. “ini Pak..” Kataku sambil menyerahkannya. Ia langsung membuka halaman demi halamannya. Aku sangat kesal sekali padanya itu, ‘kenapa dia tiba-tiba bertanya materi yang di bahas minggu selanjutnya dan kenapa tak focus saja pada materi bab pembahasan minggu ini.’ ‘kalau saja bukan pacarku…hhhh, aku pasti sudah menamparkan materiku itu pada wajahnya..’ “setelah kelas selesai temui saya, kita bicarakan materi untuk presentasi kelompokmu itu minggu depan.. karena materi ini memiliki point yang cukup tinggi untuk soal yang akan keluar saat kalian semua UTS nanti” “baik Pak” Jawabku. “…..” “sekarang jawab” “jawab apa Pak?” Tanyaku pada Mas Alex “pertanyaan saya yang tadi itu masih belum kau jawab Gadis..” benar-benar dia itu, bukankah tadi dia sendiri yang sudah menebak kalau aku ini belum membaca materi OCD itu. “… perbedaannya itu-“ “yah, karena waktu kita sudah habis jadi kita sudahi saja kelas sampai di sini, dan khusus untukmu Gadis, jangan pergi dulu dari kelas..” Ucapnya memotong jawabanku, ‘apa-apan dia itu, ingin mengerjaiku atau apa’ kesalku dalam hati. Mas Alex mengakhiri kelas dan semua mahasiswa mulai berjalan keluar meninggalkan ruang kelas hari itu. “Dis, bisa.. sendiri ketemu Pak Alex?” Tanya Celine teman satu kelompokku. “oh.. bisa, tenang saja” “kita pergi duluan ya..” Setelah berkata begitu mereka kemudian pergi meninggalkan kelas, sementara aku masih harus bertemu dengan dosen yang bertingkah sangat menguji kesabaranku itu. Kelas sudah kosong hanya tersisa aku dan Mas Alex yang masih merapihkan beberapa hal di meja dosennya. aku langsung berjalan menghampirinya dengan memasang wajah datarku. “ada apa?” Matanya melirikku, lalu terkehkeh. Mungkin karena mendengarku yang bertanya dengan ketus padanya. “jangan gitu dong tanyanya, jutek banget” “ahh.. yang benar saja Pak Alex ini, aku ini sedang sangat marah padamu, jadi cepat katakan ada apa?” Aku jadi berani berbicara tak formal seperti itu padanya. Mas Alex lalu mengehentikan aktifitasnya yang sedang memasukan beberapa berkas kedalam tasnya. Ia duduk kemudian di atas mejanya yang lebih rendah dari kaki panjangnya itu, melipat kedua tangannya di dadanya dan menatapku lekat. “kenapa? jadi kenapa kau sampai marah padaku?” Tanyanya, tak kujawab karena seharusnya dia jelas tahu aku ini marah karena ulahnya tadi. “…” “hey..” Kualihkan pandanganku kearah pintu, malas untuk mantapnya. Namun tangannya tiba-tiba menarik pinggangku dan membuatku mendekat padanya. “Pak Alex, ini di kampus..” Kataku mengingatkannya. Aku jadi menatap wajahnya yang sangat tampan itu. “benar, kita memang sedang di kampus” “lalu kenapa Pak Alex bersikap seperti ini padaku..” “karena kau sedang marah sampai tak ingin menatapku tadi” “hhhh… Pak Alex tahu bukan, aku ini presentasi materi OCD dan PTSD itu minggu depan, lalu kenapa tadi sudah bertanya materi OCD yang belum sempat k****a?” Akhirnya aku mengatakan kekesalanku padanya. “yaa.. seharusnya kau sudah bersiap sedari lama untuk itu, dan materipun sudah kukatakan padamu sejak tiga minggu yang lalu..” “tetap saja.. aku kan-“ “apa?” “aahh.. sudahlah aku sangat kesal padamu” Kataku, ia malah tersenyum. Dan mencubiti pipiku. “kau itu lucu sekali saat sedang panic seperti tadi…hhh” “apa?” “iya tadi aku hanya ingin mengetesmu saja Gadis.. habis kau itu lucu sekali saat sedang serius seperti tadi” “jadi Pak Alex tadi hanya menjahiliku begitu? Waah.. benar-benar..” Aku tak percaya dia hanya ingin mengerjaiku dan melihatku panic saja tadi. “bukan begitu juga, aku hanya ingin tau seberapa serius kau itu di kelasku ini..” “apa dengan aku duduk manis disana dan selalu memperhatikan wajamu ini tak cukup bagimu” Kataku sambil menangkup kedua pipi di wajah tampannya itu. Mas Alex tersenyum sangat lebar padaku, jarakku dengannya malah dihapuskannya dan tangannya semakin erat dilingkarkannya di pinggangku. “lepas, nanti ada yang lihat gimana..” “tak akan..” “aah.. tetap saja lepaskan aku.. aku masih kesal pada Pak Alex, jadi berhenti bersikap seperti ini..” Kataku. Tangannya malah naik ke punggungku dan sedikit mendorongnya, membuat dadaku lebih dekat dengan dadanya. karena memang sedari awal aku sedikit menjauhkan dadaku sementara pingangku yang berada di antara kedua kakinya seperti telah di kunci oleh tubuhnya. Ia membuat posisiku dengannya benar-benar sangat dekat, dan karena ia sedang duduk di meja, wajahku jadi bisa sejajar dengan wajahnya. bisa kurasakan deru napasnya di wajahku. “kau tahu, materimu itu kulihat tadi masih banyak kurangnya, jadi setelah ini perbaiki itu..” “hhh… kau itu terlalu perfectsionis” Ia tersenyum mendengarku mengomentarinya begitu, dan dengan jahil hidungnya yang sangat mancung itu ia gesekan dengan ujung hidungku. “aku hanya tak ingin presentasimu nanti tak memuaskan dan nilaimu hasilnya juga sama tak memuaskannya, jadi perbaiki, aku ingin kau bisa mendapat nilai bagus di kelasku sayang..” “memang apa kurangnya?” “banyak Gadis Ashleey-ku sayang.. aku tak ingin kelompok presentasimu seperti dua kelompok yang sudah melakukan presentasinya, mereka bahkan tak bisa mendapat B. jadi tadi itu sejujurnya aku hanya bermaksud melihat materi dan kesiapanmu saja agar minggu depan bisa melakukan presentasi dengan baik..” Jelasnya padaku sambil membelai wajahku lembut. aku akhirnya bisa tersenyum setelah mendengar penjelasannya itu. ternyata itu maksudnya, agar minggu depan aku bisa presentasi dengan baik. tapi tetap saja caranya itu menyebalkan menurutku. Ia kan bisa menghubungiku atau membantuku langsung setelah kelas, tak seperti tadi itu. “apa aku akan di beri nilai A?” “emmmhhh.. tergantung” Aku mengerutkan dahiku, “tergantung kau itu baik atau tidak..” “aku baik, sangat baik… Pak Alex tahu sendiri soal itu, bahkan Pak Alex sampai ingin jadi pacarku bukan?” Dia tertawa mendengarku berbicara seperti itu dengan sangat percaya diri sekali. “hahahh.. maksudku baik dalam mata kuliahku Gadis.. bukan baik soal itu..” “kalau begitu temani aku saat mengerjakannya..” Pintaku padanya. “yang benar saja, curang itu namanya” “aku tak memintamu untuk mengerjakan tugasku, aku hanya ingin Pak Alex temani..” “minta di temani, agar bisa di tanyai dan di mintai tolong begitu maksudmu sayang? Ehmm?” “ehmm.. mungkin… sedikit” Kataku padanya sambil mencubit pipinya. “kerjakan sendiri, aku akan menandai dimana saja kuranganya” “ayoolahh.. aku akan menginap dirumahmu, jadi-” “apa? menginap?” “ehmm.. aku akan menginap” “baiklah..” …. Dan saat itu aku benar-benar menginap di apartemennya. Pukul 7 malam, Apartemen Mas Alex “Gadis..” “emmhh?” “Gadis..” “emmmh? Apa? sebentar, aku masih harus menambahkan ini..” Kataku masih focus pada layar laptopku sambil mengetik materi disana. “hahhh… kau hanya cukup menambahkan teori Psikoanalisis, teori behavioral dan kognitif, dan terakhir fakstor biologisnya saja di pembahasan Etiologinya…” Ucapnya saat melihat apa yang kukerjakan di laptopku, lalu menyandarkan kepalanya di dadaku dan memeluk tubuhku. “ah.. apa itu cukup?” “cukup sayang… setelah itu jelaskan lebih banyak di gejala Obsesi dan kompulsi di tambah terapinya..” Aku tersenyum sambil menatapnya. “okee.. siap Pak” Aku merasa segalanya lebih mudah saat mengerjakan tugas, karena terkadang aku selalu bingung dengan pembahasan mana saja yang harus lebih banyak di tekankan dan untuk ku pahami. “cepat selesaikan.. agar kita bisa tidur” Ucapnya. Padahal saat itu aku dengannya sudah berada di ranjang tempat tidurnya. posisinya ia sudah setengah berbaring dan tangannya sudah memelukku seperti aku ini adalah bantal yang siap di peluknya saat tidur. “Pak Alex tidur saja lebih dulu” Kataku, “tidak, aku masih belum mengantuk lagi pula ini masih pukul 7” Dalam hatiku bukankah tadi dia sendiri yang memintaku cepat mengerjakannya agar bisa pergi tidur. Aku hanya menggelengkan kepalaku dan kembali focus pada tugas yang harus kuselesaikan. Aku memang akhirnya mengerjakan tugas kelompok itu sendiri dan tak bersama teman-temanku. meski mereka sudah membuat grup chat katanya untuk membagi materi dan pengerjaan tugas, tapi yaah.. ujung-ujungnya tugas kelompok seperti itu hanya jadi harus kuselesaikan sendiri saja. meski sebelumnya aku sempat bertemu dengan anggota kelompok presentasiku, tapi ada satu orang yang tak bisa hadir. lalu dua menit kemudian satu orang lagi harus pergi, dan dua lagi mereka sibuk membicarakan salah seorang kekasihnya, yang katanya malah pergi kencan bersama mahasiswa managemen yang terkenal karena kecantikannya. Hhhh.. aku memang tak berbakat untuk bekerja secara berkelompok. Jadilah malam itu aku mengerjakan tugas itu sendiri, maksudku di temani Mas Alex, dosenku juga. Meskipun ia tak banyak membantu, dan hanya memberikan arahan saja, tapi setidaknya aku tak merasa suntuk sendiri. Dan lagi Mas Alex tak pernah berada jauh dariku, selalu ada di sampingku, memelukku, menungguku mengerjakan tugas mata kulihanya itu. semuanya jadi tak terasa berat bagiku. Baru setengahnya ku kerjakan tugas psikopatologi itu, aku sudah merasa sangat pegal. Trakk trakkk Kupatahkan leherku kekanan dan kekiri. “hhhh…” “Gadis, tugas kelompok itu ku berikan agar bisa di kerjakan bersama-sama bukan sendiri seperti ini…lihat kau jadi pegal-pegal dan kelelahan sendiri begini” Ucapnya padaku. “kalau begitu aku kerjakan ini bersama Pak Alex saja bagaimana? Leherku pegal sekali” Ia bangun dan membuatku duduk memunggunginya. “kau kerjakan tugasmu, dan biar kupijiti lehermu..” Ucapnya, Entah kenapa rasanya aneh sekali saat tangannya mulai menyentuh kulit leherku. Napasku tiba-tiba jadi kutahan, saat jari-jarinya disapukannya ke leher juga bahuku. Aku pikir aku menikmatinya tapi, aku juga jadi merasa sedikit kepanasan. “hahhh… kenapa aku merasa kegerahan seperti ini..” Tangannya semakin liar menari-nari diatas kulitku, turun ke punggung bawahku dan naik kembali menggoda area belakang telingaku. “huuuuuuhhhh…” Wajah Mas Alex sudah berada di sisi kanan wajahku dan ia tiba-tiba meniupkan napasnya disana. aku memejamkan mataku reflex. “ahhhh…” Langsung ku tutup mulutku, setelah entah bagaimana suara desahan itu bisa lolos begitu saja dari mulutku itu. Wajahku terasa semakin panas dan kutebak pipiku semerah tomat saat itu. kutundukkan wajahku, malu. Mas Alex menahan tawanya melihatku begitu di buatnya. “hahhaha..” “berhenti tertawa Pak, aku jadi malu. kenapa Pak Alex menyentuhku seperti itu jadinya..” “kenapa?” Mas Alex memang paling senang menggodaku, ia mulai merapatkan tubuhnya padaku dan memelukku dari belakang. “kau sangat sexy saat mendesah seperti itu..” Bisiknya di telingaku, membuat sekujur tubuhku bergidik ngeri, hhh… bisa-bisanya ia menggodaku seperti itu. kugelengkan kepalaku dan kembali meraih laptopku berusaha mengalihkan perhatianku darinya. “ooh.. itu.. ehmmhh..” Mas Alex jahil menciumi leher dan area belakang telingaku. Mencumbuku disana, rasanya benar-benar memabukan dan aku jadi tak bisa focus lagi mengerjakan tugasku. “emmhhhh..Pak.. Pak-“ “apa sayang..” Dalam hatiku aku mendengus kesal ‘kenapa suaranya bisa sesexy ituu..ahhhh..bagaimana jika aku malah tergoda dan berakhir bercinta dengannya…tidak, itu, tidak boleh, ayahku akan marah jika tahu anaknya malah bercinta dengan dosennya’ (Pikiranku masih waras saat itu, tapi beberapa lama kemudian aku sudah keasikan selalu bercinta bersamanya setiap malam x_x) “oohh.. itu…emmhhh…ah, perbedaan OCD dan GAD tadi yang Pak Alex tanyakan padaku, jawabannya apa?” Tanyaku, berharap dengan begitu bibirnya bisa menghentikan aktifitasnya mencumbu leherku dan bisa di pakainya untuk berbicara padaku dulu. “perbedaannya itu, jika pada kasus OCD kekhawatiran mereka itu sebagai ego alien atau ego distonik, itu artinta mereka menganggap suatu pikiran sebagai sesuatu yang dimasukan dari luar diri dan sangat tidak masuk akal. Tapi pada kasus GAD, mereka masih mampu menyusun argument logis yang masuk akal tentang kekhawatiran yang mereka rasakan” Jelasnya, aku tak mendengarkannya dengan baik karena tangannya malah terus saja mengelus perutku masuk kedalam baju tidurku, jari-jarinya di sapukannya lembut disana. Sepertinya memang bukan rencana yang baik untuk mengerjakan tugas bersama kekasih dosenku ini. “ahh… Pak, jangan menyentuh pinggangku seperti itu.. itu ahh.. sangat sensitive” Kataku sedikit mengelinjang, tubuhku jadi bergerak tak karuan. “lalu, dimana aku harus menyentuhmu?” “hah?” Aku berpikir apa jawaban yang tepat untuk pertanyaannya itu. dimana kira-kira letak yang aman dari bagian tubuhku yang bisa di sentuh dosenku itu. “ooh.. itu.. tangan, tanganku saja.. eh tunggu, lalu aku mengerjakan tugasku bagaimana, kalau begitu.. ini..ini saja..” Kataku sambil menyerahkan kakiku, dan menunjuk jempol kakiku. “hahhh.. yang benar saja Gadis.. kalau ini si-” “Pak Alex! Pak Alex tahu, tugas yang Pak Alex berikan padaku ini masih banyak, belum tugas individu dari handbook Bu Ranny saja belum kukerjakan.. jadi diam dulu, sebentar saja yaa..eemmhh?” Kataku, sambil menampilkan wajah memelasku. “baiklah.. aku akan bermain dengan jempol kakimu saja” Ucapnya, sambil menekan-nekan ibu jari kakiku. Wajahnya di tekuk seperti anak kecil yang baru saja di larang bermain. Dan setelah itu Mas Alex diam tak begitu menggangguku, sampai dalam waktu setengah jam aku akhirnya selesai mengerjakannya. “ahhh… tubuhku pegal semua karena tugasmu Pak” Kataku sambil menghamburkan diri memeluknya. Ia balas memelukku dan mengecup keningku. “good job sayang..” “aku seharusnya mendapat hadiah darimu karena telah menjadi mahasiswa paling rajin mengerjakan tugasmu di kelas” “benarkah? Kalau begitu ini saja hadiah untukmu..” Cup “bukan di cium seperti ini..aahh” Cup cup cup Ia malah tak berhenti mengecupi wajahku. “hahaha…bukan itu maksudku Pak Alex sayang..” “kalau begitu..” Tak diselesaikannya Mas Alex naik keatas tubuhku, mendekatkan wajahnya padaku. “oohh.. tidak Pak, aku- aku… masih belum mmmmpphhhh” Mas Alex membungkam bibirku dengan bibirnya, ia mengulum bibirku bawahku dan memasuki ronggaku. Mengabsen satu persatu gigiku di dalam. “ahh..” Desahku di tengah-tengah ciumanku dengannya, entah kenapa rasanya aneh sekali saat dadanya menyentuh dadaku. Bibirnya masih memagut bibirku, menyesapnya rakus. “hhh.. hadiahnya, akan ku buat kau tidur dengan sangat nyaman malam ini dalam pelukanku sayang..” Ucapnya sambil tersenyum dengan tampannya seusai melepaskan ciumannya padaku. “terimakasih Pak, tapi… aku masih harus mengerjakan handbook statiska dengan korelasinya yang masih tak jelas bagaimana hubungannya itu..” “kenapa? memangnya kenapa?” “ehmm.. angkanya terlalu banyak dan aku selalu saja salah memasukannya itu saat menghitungnya” Mas Alex membelai pipiku lembut. “tidurlah dulu sebentar, otakmu bisa meledak setelah baru saja selesai mengerjakan sendiri tugasku..” “ahhh… nyamannya berada di pelukmu seperti ini..” Kutenggelamkan wajahku dalam dadanya yang kokoh dan bidang itu. ia memelukku erat, dan akupun tertidur pulas sampai pagi saat itu. …. .. “lalu tugas statistikamu?” Tanya Kenan. “ehmm.. itu..” “setahuku kau tak pernah tak mengerjakan tugas handbook statistika.. tunggu.. jangan bilang..Pak Alex..” Aku mengangguk dan tersenyum mengingat betapa manisnya sikapnya itu padaku. Padahal aku sudah sangat ketakutan saat dikelas Bu Ranny hari itu. terlebih saat Bu Ranny sudah meminta semua mahasiswa mengumpulkan tugas handbooknya. aku sangat kebingungan karena malam sebelumnya aku malah tidur dalam pelukan Mas Alex dengan lelap, lupa tak mengerjakan tugas statistikanya. Tapi kemudian saat ku buka handbookku, tugasku sudah selesai dan semua soalnya sudah terisi dengan jawaban yang lengkap sampai pada kesimpulan akhirnya. Dalam hatiku saat itu ‘ahh… Pak Alex, tapi- tapi kapan? Dan bagaimana? bukankah semalam ia tidur bersamaku…’ Lalu diantara lembaran handbookku terselip kertas kecil dengan tulisan ‘kau harus berterimakasih pada pacar dosenmu ini karena telah membatumu mengerjakan tugasmu sayang.. love you’ Alex Aku sangat berterimakasih padanya hari itu, ia benar-benar pacar terhebat, termanis yang pernah kumiliki. “waaah… amazing!! Seharusnya akupun mulai mengencani dosen saja yaa, ehmmm.. tunggu biar kuingat dosen tampan yang mungkin bisa kukencani adalah..” “disana tak ada lagi manusia Gay sepertimu Kenan” Ingatku padanya. “ahhh… tapi siapa tahu aja ada manusia tampan yang bisa jatuh cinta karena pesonaku ini..” Ucapnya. … …
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN