#benefit jadi pacar dosen

2332 Kata
“morning singapure..” Suaranya membangunkanku pagi ini. kulirik dengan mata yang malas dan masih berat kubuka, tangannya membuka gorden dan jendela kamarku. ia tengah berjalan kearahku, di tangannya sudah terdapat sepiring toast dengan potongan avocado dan telur diatasnya. “ahhh… yang benar saja… ini terlalu pagi untuk sarapan Kenan..” Kataku sambil menutupi wajahku dengan selimut, silau karena terkena cahaya ulah Kenan yang membiarkan matahari masuk. “hey.. bangun, cepat!!” “ahhh.. nanti” Ia mulai menggoyang-goyangkan tubuhku. Padahal semalam untuk pertama kalinya aku baru bisa menutup mataku dan tertidur lelap. “bangun!! Kau bilang ingin bertemu Pak Alex, kalau seperti ini siiih.. kau akan kalah sama ayam tetangganya..” Apa katanya Pak Alex, aku langsung bangun dan mendudukan tubuhku. membuka mataku lebar-lebar, kini. Menatap Kenan. “waah.. Pak Alex itu mantra sihir atau apa bagimu.. kau bisa langsung bangun seperti ini saat kusebutkan namanya.. ” “aku.. ingin melakukan video call dengannya..” Pintaku pada Kenan. “hhmmm?” Ia mendekat padaku menaikan alisnya dan berakhir dengan menggelengkan kepalanya. Ia memberiku toast yang kini sudah diarahkannya tepat didepan mulutku. “aah.. bukan ini, biarkan aku bertemu dengannya.. atau biarkan aku mendengar suaranya saja.. ahh.. fotonya saja..” Rengekku padanya sambil kujauhkan toast itu dari mulutku. “aaaaaa” Ia masih saja menyuruhku membuka mulutku. “sssshhh….Gadis aaa…” “Alex.. aku ingin Mas Alex.. bukan toast ini” Kataku pada Kenan. “hhhhh.. Gadis, dengar aku, kau akan menampakan dirimu yang seperti mayat ini padanya? Tak bisakah kau berpikir sedikit saja bagaimana perasaannya.. dia akan sangat sedih sekali jika melihatmu seperti sekarang ini” Aku langsung menggigit toast yang ia pegang dan arahkan padaku itu. “hhmm.. udah” Kataku sambil mengunyah toast dengan avocado dan telur mata sapi itu. aku tak suka, rasanya terlalu absurd kini di mulutku, entah bagaimana dia membuatkan itu untukku. “lagi” Aku menggelengkan kepalaku jelas menolak menggigit lagi toast buatannya itu. dalam hati aku bertanya-tanya dia ini sedang mengerjaiku atau apa sebenarnya, bahkan dia tak memberikanku minum air putih, dulu padahal aku baru bangun tadi, dan lidahku masih sangat aneh rasanya sudah di jejali sarapan seperti itu. “ini tak enak, aku tak suka” “benarkah.. padahal ini sarapan ala-ala bule..” Ucapnya, aku tertawa jadinya. “hahah.. yang benar saja kau ini..” Kenan jadi ikut menggigiti toast itu, raut wajahnya jelas menunjukan bahwa iapun sama tak menyukainya. “kenapa rasanya begini yaa.. padahal aku sudah mengikuti resep tadi..” “aku jadi merindukan makanan di kantin kampus..” tiba-tiba aku teringat saat-saat aku masih berkuliah bersamanya. Saat aku tak sedang bersama Mas Alex, aku selalu kekantin bersama Kenan, makan jajanan disana. meski terkadang aku selalu merasa kesal karena Kenan yang malah selalu mengambil hampir semua bakso di mangkukku tapi itu adalah momen di mana aku ingin kembali kedalamnya. “jangan bahas itu…. nanti aku hanya akan teringat kembali pada Devan yang selalu menyuapiku saat makan di kantin” Ucapnya, benar. Mereka di juluki bromance campus saat itu oleh semua orang tanpa tahu hubungan mereka itu seperti apa. Hhhh…aku tahu disini bukan hanya aku yang sedang merindu tapi Kenan juga sedang merasakan apa yang kurasakan. Setidaknya aku tidak merasakan rindu itu sendiri tapi di temani oleh Kenan. “kenapa kita seperti ini ya..” Kataku meratapi nasibku jadinya. “hmmm.. Gadis.. mandi gih..” Aku hanya menatapnya. Padahal suasananya sedang mendukung untukku bernostalgia dan merenungkan perasaanku, tapi dia malah berkata begitu. Tangannya kemudian meraih beberapa helai rambutku “iuuuhhh.. Pak Alex akan langsung kabur jika sampai melihat iniii…” Ia meledekku sambil menyirit seolah jijik pada rambutku. tapi jujur saja memang aku tak ingat kapan terakhir aku mandi. Aku selalu murung kemarin-kemarin dan tak memiliki tenaga untuk mandi. Meski saat itu aku selalu menangis di bawah guyuran air shower terlampau depresi tapi itu tak bisa di katakan mandi bukan. “mandi cepat sana.. atau harus ku mandikan?” Aku kemudian menaikan alisku, mendengarnya berkata akan memandikanku. Horor sekali ditelingaku. “aku tak mau dan bisa sendiri” Ucapku sambil melangkah buru-buru menuju kamar mandi. … Selesai mandi Kenan membantuku mengeringkan rambutku menggunakan hairdyer. “kau tau.. dulu Mas Alex yang selalu melakukan apa yang kau lakukan saat ini untukku..” Kataku, mengingat hari-hariku bersama Mas Alex yang kini hanya bisa menjadi memori untuk ku kenang saja. “dia.. sebaik itu?” Tanyanya padaku. “tentu, dia itu sangat baik, hangat dan perhatian sekali padaku..” “tapi kenapa dia di kelas terlihat seperti psikopat gila yang selalu memberiku segudang tugas ya..” Plakkk “awwww.. sakit” kupukul kaki Kenan keras sampai dia meringis kesakitan “sembarangan.. pacarku itu bukan psikopat tahu!!” Kataku tak terima dengan apa yang di katakannya pada Mas Alex. “halahhh.. kau juga saat pertama kali dia menjadi dosenmu, kau sendiri yang paling sering mengatainya psikopat penggila tugas..” Kalau diingat lagi memang benar, aku selalu mengumpat pada Mas Alex di awal perkenalanku dengannya. habisnya dia suka tak kira-kira saat memberiku tugas, terlebih soal analasis kasus untuk mata kuliah psikopatologi dan psikologi kepribadian, tenggatnya yang selalu hanya di beri waktu satu hari setelah tugas di berikan dan belum lagi tugas yang sebelumnya belum juga selesai, tugas baru sudah datang lagi darinya. errr.. Kalau aku mengingat momen itu ingin rasanya aku menendangnya. “yaa.. itukan dulu.. sebelum dia jadi baik dan sangat perhatian padaku” Balasku, karena memang setelah menjadi pacarku sikap Mas Alex berubah 180 derajat, bebeda sekali. “perhatian??… waaah.. aku masih ingat bagaimana dirimu mengatainya dosen terjahat yang tak punya hati dan tak punya perhatian, terus tukang balikin tugas buat lakuin perbaikan.. siapa yang suka berkata begitu…” Aku menggaruk-garuk kepalaku yang tak gatal jadinya. ya memang aku yang selalu berkata begitu saat itu, tapi itukan dulu. “tapi… ya kan jadinya aku bisa belajar lebih banyak, membaca lebih banyak, intinya aku bisa menjadi mahasiswa yang lebih baik lagi di kelas selama perkuliahan, dan lagi aku juga bisa mendapat nilai yang bagus dari Mas Alex” Balasku padanya. “tunggu… jangan bilang kau dapat nilai tinggi itu karena curang… pasti semua nilaimu itu bukan nilai asli tapi nilai dari hatii…benar bukan??” “hhh… mana ada nilai dari hati…kalo itu siih benefit jadi pacar dosen aja, makanya nilai aku sampai tinggi seperti itu” “cih..benefit..” “tentu itu benefit namanya.. karena pertama, aku jadi semangat masuk kelas, rajin mengerjakan tugas dan itu membuat absenku tak bolong-bolong sepertimu, dan karena pacarku itu adalah dosen seperti Mas Alex jadi… aku akan dengan senang hati memperhatikannya selama kelas berlangsung, jadilah aku selalu mengerti semua materi perkulihan..” Kataku, Kenan hanya menatapku sambil menaikan sebelah alisnya. “ooh.. yang benar saja, jadi itu pula alasanmu duduk di barisan paling depan hahhh… kau ini ckck otakmu penuh dengan modus rupanya” “tapi.. jujur padaku, pernah tidak dia memperlakukanmu dengan special? Maksudku lebih dari mahasiswa lainnya..” Curiganya padaku, aku jadi mengingat-ingat kembali. “ah!.. ingat waktu AC kelas 11B1 mati, bulan juni lalu dan semua orang berkeringat hari itu karena cuaca juga sedang panas sekali..” Kenan mencoba mengingat kelas Psikopatologi semester lalu, “aah.. yang kau malah membuat keributan dikelas..” Begini ceritanya.. Sebenarnya itu bukan keributan, tapi hanya suaraku yang sedang menyedot air es boba sampai habis. Bayangkan suaranya saat kau menyedot minuman dingin dan manis itu dari cup yang hampir habis. Hhh.. suaranya berhasil membuat satu mata di ruang kelas itu tertuju padaku. Yaa, bagaimana tidak.. kondisi kelas yang panas, sekitar pukul 13 siang, dan sialnya AC mati saat itu. kelas psikopatologi saat itu terasa seperti gurun sahara. Belum lagi kita harus mendengarkan kuliah dosen yang terkenal galak dan tak kenal ampun soal tugas. Terbayang bagaimana situasinya saat itu, semua orang mengipas-ngipas dengan kepala yang hampir terbakar dan telinga yang lelah harus mendengarkan ocehan kuliah dari Mas Alex. Dan aku malah “suuuurrrrrrlppppp…..” Mataku tertuju pada satu mahasiswa didepanku yang kulihat sangat berkeringat tengah menelan ludahnya menatapku yang sedang menyedot habis minuman dingin dan menyegarkan itu. “dia itu menggodaku atau bagaimana, bisa-bisanya si Ashleey minum boba itu sendiri sementara kita semua harus kehausan di kelas yang sangat menjengkelkan ini..” Gumam salah salah seorang mahasiswa yang masih dengan jelas ku ingat sampai saat ini kata-katanya itu. “uhuukkk.. maaf uhukk..” Kataku sambil terbatuk-batuk, merasa bersalah pada mereka semua yang menatapku. Mas Alex bahkan menelan ludahnya saat itu menatapku yang baru saja menghabiskan minumanku dan menjadi pusat perhatian stau kelas. Bibirku yang memang selalu menjadi lebih merah merekah saat meminum minuman yang dingin, hati itu membuat Mas Alex memandangi itu. aku tahu itu dari arah pandangnya yang turun dan matanya tampak betah, tak sedetikpun di alihkannya bibirku. “kau.. tak bisakah kau mengahargaiku.. aku ini sedari tadi berbicara dan sedang menjelaskan materi, bahkan sampai ke hausan tapi kau malah- hhhh” Mendengarnya berkata begitu, aku hanya menundukan kepalau dan memainkan bibirku dengan jariku, akupun menggigiti bibir bawahku karena merasa sangat menyesal sekali saat itu. “Gadis, ikut saya keluar..” Mas Alex sudah berjalan keluar ruangan lebih dulu dengan tangan yang sudah di letakan di pinggangnya. Aku sudah sangat takut padanya, ia mungkin akan sangat marah padaku, karena aku yang malah seperti tak focus, tak menghargai kelasnya bahkan tak menghormati dirinya yang tengah mengajar di kelas. “hhh.. gimana ini..” Gumamku. “Gadis, aku doakan kau masih memiliki tangan dan kaki saat kita bertemu lagi nanti..” Canda teman disampingku. “huss..kau pikir aku ini akan sampai di bunuhnya apa?” “cepat sana… nanti dia semakin marah..” Aku akhirnya keluar dan menutup pintu kelas 11B1 itu. kulihat Mas Alex saat itu berada di ujung lorong kelas. Lumayan jauh jaraknya dari ruang kelas. Aku berjalan menunduk menghampirinya, sampai berada dihadapannya kini akupun masih tetap menunduk. Ku hirup napas dalam-dalam siap untuk menerima amarahnya. “huuuuuuhhh…… Maaf Pak, tadi Gadis haus banget…” “dan kamu tau, saya juga anak-anak lainnya, kita semua sama kepanasan. terutama saya yang dari satu jam yang lalu mengoceh menjelaskan materi perkuliahan .. kamu pikir saya ini tak haus? hmm?” Ucapnya, aku hanya menunduk dan semakin menundukan kepalaku, tak berani untuk melihat wajahnya lagi. aku tahu seharusnya aku tak melakukan itu, terlebih di kelasnya, seharusnya aku bisa lebih mengehargai kelas kekasihku itu. dan kalaupun ia akan memarahi sampai menghukumku aku akan menerimanya dengan lapang d**a. “Gadis..” “iya Pak..” Jawabku pelan “Gadis..” “…..” “Gadis” Panggilnya lagi padaku, aku tak menjawabnya “hey…” Mas Alex meraih wajahku dan membuatku menatapnya. “apa? Pak Alex akan hukum aku?” “hahhh.. aku sudah katakan aturan kelas di awal perkualiahan, jangan bawa makanan atau minuman kekelas selain air putih, jangan pake sandal, jangan pake jeans robek-robek, keterlambatan hanya lima belas menit setelah kelas dimulai..” Ucapnya mengingatkanku. Aku jadi berpikir saat itu apa bedanya air putih dan es boba yang ku minum, sama-sama air menurutku. “minuman tadi bagaimana rasanya..” Tanyanya padaku tiba-tiba. “ehmm.. dingin” “lalu?” Tanyanya kembali, kini ibu jarinya perlahan mengusap-usap bibirku. “manis..” “ehmm terus? Enak?” Tanyanya lagi, aku tak mengerti mengapa dia bertanya padaku soal es boba yang kuminum tadi. “yaa.. rasnaya..mmpphhh” Mas Alex langsung mendaratkan bibirnya di bibirku, menyesap bibirku kuat, lidahnya kini menjelajahi rongga mulutku, membelit lidahku didalam. “emmhhh..” Aku bersuara begitu jadinya. Mas Alex merapatkan dirinya padaku, menyudutkanku sampai mundur bersandar pada dinding. Bibirku masih bertautan dengan bibirnya, berbagi saliva tepatnya ia menghisap salivaku di dalam rongga mulutku. Aku dengan Mas Alex larut dalam ciuman saat itu. “hhhh…kau…hhhh..rasanya manis.. seharusnya kau tak minum itu di kelasku sayang, dan yang barusan itu hukuman dariku…setidaknya seharusnya kau berbagi rasa manisnya itu denganku” Ucapnya, aku hanya menatapnya tak percaya, mataku langsung mengedarkan ke sekeliling, takut jika saja ada yang melihat apa yang baru saja dilakukannya padaku. “kenapa?” “ish.. bagiamana kalau ada yang lihat?” “tak akan..” Ucapnya sambil mengusapkan tangannya untuk mengahapus jejak sisa-sisa salivanya di bibirku. Cup Ia malah mendaratkan satu lagi kecupan singkat di bibirku. “bibirmu, itu merah dan sangat menggoda saat ini..” Ucapnya. “jadi.. Pak Alex tak marah padaku?” Ia hanya terkehkeh mendengarku bertanya begitu. “ku pikir Pak Alex akan memarahiku dan memberiku hukuman” Bibirnya di majukannya lagi dan meraup bibirku, tengukku ditekannya, ia mengulum bibirku kembali. “hh… ini.. hukuman untuk pacar dosen dan mahasiswa nakal sepertimu” Ucapnya. Aku tersenyum saja mendengarnya. Bagaimana ia bisa berkata begitu padaku membuat pipiku jadi panas saja. tangannya membelai wajahku kemudian. “pergi ke ruanganku, baca jurnal di folder psikopatologi 11B1, dari awal sampai akhir.. “ “apa? itu.. tapi-“ “bibirmu itu terlalu merah dan terlihat sedikit bengkak untuk masuk kembali ke kelas. jadi bersembunyi saja di ruanganku bersama jurnal-jurnal disana okey” Ucapnya padaku, tanganku langsung memegangi bibirku yang baru saja di raup habis olehnya. Takut jika ada yang menyadari bbirku yang jadi seperti itu karena ulahnya. ‘Hhh bisa-bisanya Pak Alex menciumku sampai seperti ini, di kampus pula lagi..hhhffttt…’ gerutuku saat itu. Jadilah aku pergi keruangannya dan ia kembali kekelas. … “waahh.. jadi itu yang terjadi.. jadi hukuman untuk mahasiswa yang membawa makanan atau minuman ke kelas itu di berikan ciuman begitu? Waahh tak adil.. ini benar-benar tak adil” “kenapa tak adil?” “yaa tentu itu tak adil... aku sempat bangun kesiangan, saat itu aku sampai memakai hanya sebelah sepatuku saja dan sebelah lagi aku malah memakai sandal. Dan pacarmu itu suruh aku lari keliling lapangan kau tahu ituu.. terus kau tau si Dony? dia tak sengaja mengenakan Jeans saat kelasnya dan malah disuruh balik lagi untuk ganti celana agar bisa mengikuti kelasnya…” "hihihi.." Aku hanya tersenyum saja mendengarnya, mungkin itu spesialnya menjadi kekasih dosen. ….
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN