#Kenan

1619 Kata
***   “Kenan bantu aku, tolong pertemukan aku dengan Mas Alex. Aku mohon padamu” Kataku pada Kenan, aku langsung menghamburkan diri dalam pelukannya, “hey, hey. Tenang Gadis” Kata Kenan padaku. Ia memelukku, menenangkanku yang sudah sangat berantakan. “kenapa kau jadi seperti ini, Gadis?” Tanya Kenan, ia melepaskan pelukannya dan memandangi tubuhku yang sudah seperti mayat. Pucat, hanya bersisa tulang-tulangku, wajahku jadi sangat tirus. “kumohon padamu, hanya kau yang bisa membawaku padanya” “tapi, tak mungkin lagi bagimu untuk bertemu dengannya, dan lihat dirimu?” Hahh Kenan menatapku sangat iba. Ia tak menyangka melihatku yang amat hancur karena kasusku itu. “kau harus kuat dulu Gadis” Kata Kenan, ia nanarik tangku ke ruang makan, membuatku duduk disana. Ia tampak sibuk, aku tak peduli. “apa kau bertemu dengannya? apa dia baik-baik saja?” Tanyaku, Kenan tak menjawabnya, “Kenan, ia baik bukan? dia lepas dari kasus itu bukan? Mas Alex mengganti nomornya aku tak bisa lagi menelponnya” “Kenan jawab aku!” Kataku, Kenan hanya menatapku, kini duduk di hadapanku membawa semangkuk sup yang telah di panaskannya. “Gadis, makan ini dulu” Kata Kenan, “buka mulutmu” Perintahnya, membawa sesendok sup itu ke depan mulutku. Aku menepiskan sendok itu hingga terlempar ke lantai. “aku bertanya apa dia baik-baik saja, itu mudah bagimu bukan? cukup jawab iya! Aku bahkan tak butuh kata tidak, Kenan. Katakan ia baik-baik saja meski itu sebuah kebohongan!!” Kataku meledak, aku benar-benar tak harus bagaimana lagi, aku sangat merindukan Mas Alex. “aku harus bagaimana? tentu saja ia tak akan baik-baik saja. semua itu karena aku, karena salahku, karena aku yang tak cukup kuat untuk membelanya dan mengatakan kebenarannya” Sesalku, berjongkok, aku menangis. Putus asa. “dia baik, Gadis, Pak Alex baik-baik saja. kasus itu tak di proses oleh kepolisian, Pak Alex tak di kenakan hukuman. Meski ia tak bisa lagi menjadi dosen, dan izin praktiknya sebagai psikolog harus di cabut. Tapi aku tahu ia baik-baik saja” Cerita Kenan, mendengar itu aku mendongak, Bagaimana bisa, aku telah… Aku telah menghancurkan hidupnya, Gadis Bodoh!!! “bangun, kau bisa mati jika terus seperti ini” Ucap Kenan, membangunkanku, mengusap air mataku dengan jari-jarinya. Tangannya hangat sekali di wajahku yang dingin. Ia memelukku erat. “jangan seperti ini, jika kau merasa bersalah padanya, jadilah lebih kuat untuk memperbaiki keadaan atau kau harus kuat untuk menanggung semua akibat dari kesalahanmu itu” Kata Kenan. “aku sudah sangat menderita Kenan, aku tak bisa lagi menanggung hal yang lebih menyakitkan” “bodoh, kau masih bisa makan, dan pergi tidur untuk hari ini, besokpun begitu. Hanya itu saja dulu, setelah itu, setelah kau lebih kuat aku akan membawamu pergi padanya”  Ucap Kenan, “janji?” Tanyaku, “tentu aku berjanji padamu, jadi sekarang kau habiskan supmu itu” Ucap Kenan, aku menurut padanya. Suapan demi suapan Kenan masuk kedalam mulutku. Setelah itu aku pergi kekamarku kembali, merebahkan diriku diatas kaki Kenan. Ia menemaniku tidur. “kapan kau sampai?” Tanyaku pada Kenan. “kemarin malam, hari sebelumnya saat aku pulang dari kampus beberapa orang berbadan hitam menculikku” Ceritanya. aku terbangun dan memperhatikan Kenan yang duduk disampingku. Kuperhatikan wajahnya, masih mulus tak ada lebam atau luka terkena pukul. “aku tak di apa-apakan, mereka hanya menyuruhku menemuimu dan membujukmu untuk makan” Lanjutnya. Aku menyipitkan mata menatap Kenan penuh curiga. “dengar, jika mereka tak menyuruhkupun aku akan pergi menemui setelah praktik Pak Hara selesai” “kau tak berbohong soal mempertemukanku dengan Mas Alex kan?” Tanyaku memastikan. “soal itu, sesungguhnya jika aku pertemukan denganmu aku tak yakin itu akan membuatmu baik-baik saja? Aku hanya takut kau jadi lebih buruk Gadis” Kata Kenan dengan nadanya yang Khawatir. “soal baik atau buruknya hanya aku yang bisa menentukannya, kau hanya harus memepertemukanku dengannya” Balas Gadis. aku kembali berbaring dengan kaki Kenan sebagai bantalannya. “aku harap kau tak mengahancurkan hidupmu Gadis” Ucap Kenan. Tangannya mengusap lembut rambutku. “aku rindu kau yang dulu” Kata Kenan. “memang bagaimana aku yang dulu?” Tanyaku pada Kenan. “kau yang selalu tampak manis, dan aku merindukan saat kau selalu tersipu tak jelas di kelas Pak Alex, wajahmu yang selalu memerah saat Pak Alex yang jahil diam-diam memegang tanganmu saat kelas” Cerita Kenan, “jadi kau melihatnya? Apa yang lain juga melihatnya?” Tanyaku, jadi mengingat suasana kelasnya. “mungkin hanya aku yang menyadari dan memperhatikan gelagat kalian berdua. Sekilas memang kalian ini pasangan yang sangat manis” Kata Kenan. Aku tersenyum mendengarnya, aku bahagia dari semua orang yang mengutuk aku dengan mas Alex ada satu orang yang menganggapnya sebagai hubungan yang manis. “tanganku jadi dingin seperti ini tanpa genggamannya” Kataku, meraba-raba tanganku sendiri. Kenan kemudian menaikan selimutku, membuatku terbungkus oleh selimut. “sabarlah, jika aku hanya membawa kabur dirimu hari ini tanpa rencana yang matang. Aku hanya akan mati babak belur telah menculik mentri Polhukam” Kata Kenan. “apa? Mentri apa?” Tanyaku tak mengerti. “reshuffle cabinet kemarin saat kau pergi ayahmu resmi menjabat mentri polhukam. Aku tak heran ketika semua kasus itu dilibatkan sepenuhnya pada Pak Alex. Mungkin untuk menghindarkan ayahmu dari reputasi buruk” Kata Kenan, aku yang anaknya masih tak percaya. “apa dia benar-benar ayahku? Aku semakin tak mengenalnya” Jujurku pada Kenan. “tenanglah, ada aku dan kakakmu” Kata Kenan. “apa dia baik-baik saja? Devan?” Kataku teringat pada kekasih prianya. “baik, hanya saja dia mulai menjauhiku” “kenapa? Terjadi sesuatu diantara kalian?” Tanyaku penasaran. “aku dan Devan ketahuan sedang bersama oleh ibunya” Ungkap Kenan. “lagi? itu salah kalian kenapa melakukannya dengan sangat berisik” Kataku sembarang. “kau, pernah memergokiku dengan Devan? Kapan?” Tanyanya “oh, saat itu aku akan mengambil buku PSD yang kau pinjam, tapi sampai di depan kamarmu aku mendengar kau mendesah” *Flashback “akhhh jangan terlalu dalam akhhh” “tahan, aku tak akan menyakitimu” Kata Devan, “sedikit lagi, tahann” “akhh akhh jangan menggerakannya seperti itu” Kata Kenan, “akhhh” Sekali lagi dia mendesah. Flashback end.   “PSD (psikodiagnosa)? Itu berarti awal hubunganku dengannya, aku masih belum melakukan hal sejauh itu Gadis” Ucapnya “lalu apa yang kalian lakukan? Dan kenapa juga aku langsung pergi waktu itu ya?” Tanyaku “ah! Itu hari pertama aku jatuh cinta padanya!!” Kata Kenan, tiba-tiba ia mengatakannya dengan sangat bersemangat. “kau mengagetkanku saja, ingat aku ini tidur di kakimu Kenan” Protesku pada Kenan. “maaf, jadi waktu itu Devan membantuku membersihkan telingaku dengan cotton bud, karena aku selalu memakai earphone seharian makanya ia membantuku membersihkannya” “tapi masa sampai seperti itu?” “cobalah, aku saja langsung jatuh cinta padanya. Sikapnya yang seperti itu mengingatkanku pada kasih sayang ibu yang tak pernah kudapatkan” Cerita Kenan. “apa? Ibu?” “ehm, aku belum pernah tidur sepertimu di paha ibuku, apalagi sampai dibersihkan telingaku seperti yang devan lakukan untukku, ibuku menyiksaku sampai sebelum akhirnya aku pergi dan tinggal bersama pamanku” Ucap Kenan. “maaf aku tak tahu Kenan, aku tak tahu ternyata hidupmu pernah seperti itu” “tak apa, akupun jadi bisa menceritakannya padamu, dan setelah itu aku malah mendapat pelecehan dari bibiku. umurku baru 10 tahu saat itu, tapi aku sudah di jadikan b***k s****l oleh bibiku dan teman-temannya. karenanya aku sangat membenci wanita dan memacari devan” Lanjutnya. Aku bangun dan memeluk Kenan. “terimakasih sudah bertahan, aku senang kau tumbuh menjadi manusia yang baik” Ucapku pada Kenan. Meski ia berkata membenci wanita, tapi ia menjagaku dengan baik dan sering kali membantu banyak teman wanitanya. “aku penasaran, kenapa kamu membantuku saat aku selalu kesusahan?” Tanyaku akhirnya “karena aku tahu, kaupun sama menderitanya sepertiku, aku tahu tak ada yang mudah di hidupmu, aku tak pernah menganggapmu wanita, bagiku kau ini hanya anak kecil yang selalu ketakutan, mencari tempat aman, dan malah jatuh cinta seperti bocah SMA” Ungkapnya. “enak saja, aku sudah bukan bocah SMA tahu!” Balasku. “tapi pokoknya aku sangat berterimakasih padamu” Kataku pada Kenan. Jujur. “hey, sini aku bersihkan telingamu” Ucap Kenan, mengambil cotton bud dan membuatku tertidur kembali di pahanya. “ini akan enak sekali, kau bahkan bisa sampai tertidur saat sedang kubersihkan” “benarkah?” Kenan membenarkan rambut-rambutku yang menghalangi daun telingaku. Cutton bud itu mulai memasuki lubang telingaku. “ahhh” Desahku, “jangan terlalu dalam Kenan Akhhh” Saat kurasakan kepala cutton bud itu menyentuh sesuatu di dalam sana. “ahk, pelan!” Kataku sekali lagi “berisik, aku sudah pelan Gadis” “ahh, bagus seperti itu, enak ahh” Rasanya seperti terbebas dari sesuatu, aku tak ingat kapan aku membersihkannya. “ahhh” “enak bukan?” Tanya Kenan. "ehmm, kau hebat"  aku memejamkan mataku, itu sangat nyaman.  “kalian ini sedan-“ Suara Kak Gerald dengan kalimat yang tak diselesaikannya. Ia pasti mendengar suara-sura aneh dari mulutku.  “sttt” Itu yang kudengar, tak jelas. aku benar-benar mengantuk saat Kenan membersihkan telingaku. Dan aku tahu kak Gerald datang dan berdiri di depan pintu kamarku. Remang-remang aku melihatnya. “aku membersihkan telinganya dan sekarang dia sepertinya akan tidur setelah tadi makan sup” Ucap Kenan. Aku terlalu nyaman, dan terlalu berat juga untuk membuka mata. “hhhh, kukira kalian sedang melakukan hal aneh” Ucap Gerald, langkahnya kudengar mendekat. Tak lama tangan menyentuh pipiku lembut. “baguslah, Gadis jadi lebih baik setelah kedatanganmu, jagalah dia untuk beberapa minggu. Aku mohon bantuanmu” Kata Kak Gerald pada Kenan. “aku pasti akan menjaganya” Balas Kenan, setelah itu aku pasti tertidur lelap dan tak lagi mendengar percakapan mereka.        
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN