Berada di Singapura, sudah tiga hari namun terasa tiga tahun lamanya.
“Gadis makan ini”
Kata kakakku tiba-tiba masuk membuka pintu kamarku. Tak ada jawabku. Sejak hari itu aku sudah berhenti melakukan hal-hal dalam hidup, aku berhenti berbicara, tidur, makan bahkan sampai hari ini, sedari kedatanganku kenegara ini. hanya diam dikasur ini menjadi tempatku melewati hari.
“Gadis, sadarlah. Kakak mohon jangan seperti ini. Kau bisa jatuh sakit”
Lagi, kesekian kalinya kakakku berkata begitu. Tangannya membelai wajahku, namun aku memalingkan wajahku.
Terdengar isakan, kakakku belakangan memang selalu berurai air mata saat melihatku, mungkin karena mirisnya keadaanku. Dan selalu bersembunyi kemudian, meski tangisannya selalu kutahu dan dapat kudengar.
Kulitku pucat seperti mayat, sayang aku masih bernyawa, aku masih hidup tapi kehilangan hidupku. Karena telah kutinggalkan bersama kekasihku yang bernasib malang harus menanggung apa yang tak seharusnya ditanggungnya.
Aku jadi seperti orang depresi, sudah sepantasnya aku mengalami depresi setelah semua yang terjadi padaku. Aku depresi karena merasa bersalah dan selalu merindu pada kekasihku.
Memandang keluar, remaja berkulit putih bermain disana. Apartemen yang kutinggali dinegara yang tak asing lagi bagiku, karena semasa sekolah dasar hingga sekolah menengah pertama aku sudah tinggal disini. Pemandangannya masih sama. Dirooftop apartemen sebelah yang tak terlalu tinggi, dijadikanya lapangan untuk para penghuninya mengadakan pesta dan bermain-main mengahabiskan waktu bersama.
“akupun pernah mengalami momen indah seperti itu, saat itu”
Kataku dalam hati.
Flashback
“Gadis, ayo. Sekali aja, ya. Ayo kita bermain”
Kata Pak Alex merengek meminta padaku.
“tapi aku tak bisa, dan lagi masa disini. Pak Alex ini ada-ada saja”
Jawabku,
“ayolah Gadis, aku sedang ingin. Sudah sejak kemarin aku ingin bermain bersamamu”
Kata Pak Alex, kali ini ia memegang tanganku, seperti seseorang yang memohon.
“Pak, aku malu ini ditempat umum, dan lagi pakaianku yang seperti ini, aku tak bisa”
Kutolak pintanya. Beralasan pakaianku akan sangat tak nyaman jika harus memenuhi pintanya. Namun Pak Alex malah menyenderkan kepalanya dibahuku, dengan nada cemberut kini ia mulai merajuk.
“kemarin alasannya sedang datang bulan, sekarang pakaian. Apa kau benar-benar cinta padaku”
Ungkitnya, pada hari-hari sebelumnya yang sempat kutolak juga inginnya yang satu ini.
“Pak Alex meragukan cintaku, hanya karena aku tak mau bermain itu ditempat umum? Wah, gila sekali dosenku ini”
Balasku pada perkataannya.
“jika kau benar-benar mencintaiku seharusnya kau mau melakukan itu, karena aku sangat ingin melakukannya bersamamu. Ayolah Gadis aku benar-benar sangat bermain itu denganmu”
Katanya lagi. seperti anak kecil yang merengek ingin dibelikan mainan saja Pak Alex jika sedang seperti ini.
“aku malu, bagaimana jika ada yang memperhatikan. Aku tak bisa, aku terlalu malu melakukan itu”
Jawabku.
“tak apa. Ada aku, aku akan menutupimu jika kau malu nanti, kau bisa memelukku atau bersembunyi dibelakangku saat sudah selesai”
Katanya, dengan sangat meyakinkanku ia berbicara.
Dan akhirnya aku berdiri dan ditariknya. Pak Alex mulai menyalakan kamera didepan yang mengarah padaku dan Pak Alex siap merekam.
Aku dan Pak Alex mulai berhadapan, saling menatap. Aku malu.
- Zico - any song
Lagu itu mulai diputar. Dan liriknya mulai dinyanyikan. Aku mengikuti gerakannya, dengan senyum yang kukulum, bahkan kini sampai ditengah video singkat itu aku mulai ingin tertawa melihat tingkah kekasihku itu. ada-ada saja inginnya, challenge t****k itu membuatnya selalu mendorongku, mengajakku, bahkan untuk beberapa kali sangat menggangguku.
Dan sampai dipose terakhir, aku malu sekali. Meski tak banyak orang yang melihat, karena mungkin ini hal biasa dilakukan, bahkan banyak orang sudah melakukannya.
“ih, Pak Alex. Aku malu. Aku ingin pulang atau menghilang saja”
Kataku, bersembunyi dibelakang tubuhnya dan memeluknya berharap bisa tenggelam dalam tubuhnya.
“hahah. Ini lucu sekali”
Puas sekali dirinya, saat melihat hasil video yang diambilnya itu. tertawa sangat lepas, kulihat wajahnya yang begitu merekah, rupanya Pak Alex sangat bahagia karena momen sederhana seperti itu saja.
“suka? Jadi puas sekarang?”
Kataku, bertanya padanya.
“ya, akhirnya aku bisa bermain ini bersamamu”
Jawabnya dengan nada yang sangat riang. Aku hanya ikut senang dengan melihat wajah dan mendengar suaranya saja.
“ayo makan”
Ajaknya.
“chicken, pedas manis, Colla”
Langsung kusebutkan inginku, karena menu itu yang belakang menjadi favoritku dengan Pak Alex. Delivery, makanan cepat saji, yang selalu menemani waktu-waktu disaat sibuk karena tugas atau santai hanya untuk menonton dan menghabiskan malam”
@Apartemen
Ting.
Bunyi bel, kutahu pesananku sudah datang.
“Gadis, jangan dulu dimakan tunggu aku sebentar”
Pak Alex selalu saja memberi peringatan padaku, tak ingin dirinya ditinggal makan lebih dulu, selalu saja ingin makan suapan pertama bersamaku.
“okey”
Kataku, dan kumainkan ponselku untuk menunggunya.
“ayo makan”
Ucapnya, dan langsung kuambil bagian paha yang selalu jadi favoritku.
Makan didepan televisi selalu menjadi spot terbaik untuk menikmati makan chicken seperti ini. aku tak duduk disofa, karena lebih enak duduk dibawah. sementara Pak Alex duduk diatas sofa tepat dibelakangku. Nyaman untuk kujadikan sandaran pahanya itu.
Pak Alex selalu tak langsung makan apa yang sudah ada didepannya. Ini adalah salah satu kebiasaannya.
Tangannya mulai mengambil karet bungkus makanan dan mengikatkan rambut panjangku yang selalu kubiarkan terurai.
Dan untuk kebiasaannya ini, selalu menyisakan hal yang selalu membuatku jatuh cinta, lagi, dan lagi. bagaimana tangannya yang mulai mengambil helaian rambutku, saat tangannya kurasakan menyentuh kulit leherku, membuat bergidik, dan jantungku berdebar kencang tak karuan.
“karet ini memang ada gunanya, seharusnya para Mahasiswa yang sedang makan nasi padang bersama gebetannya bisa melakukan hal yang sama, mengikatkan rambut wanitanya dengan karet pembungkus seperti ini. sedikit menyentuh area lehernya, sudah pasti menumbuhkan benih cinta”
Katanya. membuatku berhenti memakan paha ayam itu dan berbalik mengadapnya.
“jadi Pak Alex selalu mengikatkan rambutku dengan karet pembungkus makanan itu sengaja untuk menggodaku, untuk membuatku jatuh hati. Penuh trik sekali kekasihku ini”
Protesku.
“tahu psikologi cinta, yah sayang sekali jika tidak digunakan”
Jawabnya santai, dan baru mulai mengambil potongan ayam dimeja. Ah, Aku baru ingat jika profesinya yang seorang dosen psikologi dan juga psikolog itu.
“tapi, masa lagi pakai karet pembungkus makanan, yang lebih berkelas gitu. Momennya juga yang lebih romantic”
Kataku.
“tak perlu yang rumit, dan sulit. Yang penting menyisakan momen, kenangan yang bisa dibayangkan saat malam, dan sedikit sentuhan yang membekas. Seperti ini”
Katanya. wajahnya dimajukan mendekat padaku dan menggigit potongan ayam yang sedang kumakan tepat didepan mulutku. Mataku terbelalak, kaget saat Pak Alex sangat begitu dekat. Bahkan aku sempat menahan napas sejenak.
Aku jadi sangat kikuk tak tahu harus bertingkah apa dihadapannya. Pak Alex menatapku yang dibuatnya memaku itu.
“kenapa? Jangan bilang kau..”
Tak menyelesaikan kalimatnya. Pak Alex langsung memelukku. Mengacak-acak rambutku.
“hahah. Kau ini lucu sekali Gadis, masih saja tersipu saat aku bersikap begitu”
Ia menertawakanku, yang kutahu kini pasti wajahku semerah sambal ayam yang sedang kumakan itu.
“Pak Alex, berhenti bersikap begitu padaku.”
Pintaku.
“lalu aku harus bagaimana? Bagaimana jika aku ingin ini”
Balasnya. Dan.
Cup.
Ia mengecup bibirku singkat, dan tersenyum sangat puas.
Cup.cup.cup.
Terus saja ia mengecup bibirku. Tak bisa lagi aku protes akan sikapnya itu, karena jujur aku menyukainya. Aku bisa merasakan bagaimana ia mencintaiku dari caranya yang seperti itu. sangat manis sekali dimataku.
Flashback end-
Air mataku jatuh, segala hal yang kulihat didepan mataku, selalu saja mengingatkanku padanya.
Tubuhku tumbang, kubiarkan terbaring terlentang dikasur ini. bergerak gelisah berharap bisa menemukan rasa yang selalu kurindukan.
Tanganku meraba selimutku, mencari aroma tubuhnya yang tidak bisa kuhirup lagi, hatiku sakit. Dadaku terasa terpukuli ribuan palu, sesak sekali.
“jadi seperti ini keadaanmu, setelah selalu menginginkan cinta terlarang, Gadis yang ingin jadi wanita simpanan?”
Ucap seseorang padaku, nadanya dan suaranya aku tahu siapa itu. aku bangun dan berbalik untuk melihatnya.
“Kenan”
Panggilku. dan yang kupanggil tersenyum diambang pintu kamarku. Berjalan memelukku kemudian.
Kenan datang menemuiku.