Sabtu sore
Hari ini kampus merayakan diesnatalisnya, kelas ditiadakan meski gantinya bearti dengan e-learning yang harus kami para mahasiswa lakukan. Kelas kosong dan semua mahasiswa sibukan dengan berbagai kegiatan dilingkungan kampus, beberapa penampilan band kampus dan guestar yang sengaja didatangkan untuk memeriahkan acara dari pagi hingga dipuncaknya malam nanti.
Menjadi seorang panitia, aku harus berada disini mengatur jadwal acara serta menyambut beberapa tamu penting universitas. Padahal aku sangat ingin hanya merebahkan diriku diapartemen.
Mas Alex, kekasihku, dengan terpaksa iapun ikut hadir disini. Menjaga jarak dariku, namun pandangannya selalu saja padaku, mengirimiku beberapa teks jika ada kata yang ingin dibicarakannya padaku.
From: Mas Alex
Sedang apa?
Memikirkanmu,
Send
Aku tersenyum begitupun dirinya, saling berbalas pesan padahal hanya berjarak kurang dari lima langkah dari tempatku saat ini.
Oh lucu sekali hubungan ini.
Pikirku
Jeda istirahat, beberapa panitia memutuskan untuk makan bersama. Aku dengan dalih masih belum merasa lapar pergi menuju parkiran kampus untuk menemui kekasihku,
“mas”
Panggilku pada dirinya, bergaya santai hari ini, tanpa kemejanya yang seperti sudah menjadi seragam kampusnya untuk mengajar,
“sayang, selesai?”
Tanyannya dengan tatapan yang sangat hangat diimatanya, senang akhirnya bisa melihatnya dan mendengarnya memanggilku dengan panggilan itu, setelah seharian menjaga jarak antara aku dengannya.
“aku izin pergi, jadi kupikir tak aka nada masalah jika kusudahi”
Jawabku, aku memang izin pada panitia lainnya, dan telah wanti-wanti jika aku tak kembali carikan pengganti untuk menghendle tugasku. Sebagai coordinator acara, untunglah bukan ketua, jadi dengan mudah bisa kuserahkan tugasku.
Mataku melihat awas kesekitar.
“masuk mobil sepertinya lebih baik”
Ajuku padanya, takut aku ada yang melihat terlebih karena suara gaduh music, aku mungkin tak akan sadar jika disini bukan hanya ada kami berdua.
“baiklah”
Ucapnya padaku, Aku berjalan lebih dulu menuju mobil dan mas alex hanya berjalan mengikuti dari belakang
Tanpa memberitahuku, dirinya menciumi pipiku, memelukku dengan posisi aku yang membelakangi dirinya, bibirnya mencari leherku dan mengecupku lembut disana.
Sedetik kemudian
Buk
Lengan yang dilingkarkan pada pinggangku terlepas dengan paksa, saat seseorang dengan kuatnya menarik tubuh mas Alex dan memberikannya sebuah pukulan keras tepat dipipinya. Sontak aku terkaget dan membalikan tubuhku untuk melihat apa yang terjadi.
Kulihat wajah pelaku pemukul itu
“kak gerald”
Ucapku, tak percaya akan keberadaannya. Menghampriri kak Gerald memegang tangannya, berharap ia bisa menghentikan aksinya.
“kak ini salah paham”
Kakakku tak mendengarku, bahkan kini berada diatas tubuh kekasihku, melayangkan kembali pukulannya disana.
“kak hentikan, dia dosenku”
Kataku lagi, dan akhirinya ia berhenti.
Kakakku lantas bangkit dan menarikku dalam peluknnya. Menatap wajahku, turun ketubuhku, dan kemudian memastikan sisi tubuhku,
“kau tak apa? dia tak melakukan apapun lagi bukan? selain yang tadi kakak saksikan? b******k ini tak melecehkanmu lebih jauh bukan?”
Aku dihujani semua pertanyaannya, raut takut dan khawatir jelas tergambar diwajahnya.
“kak hentikan, aku-“
Tak sempat ku selesaikan, aku sudah ditenggelamkan dalam pelukannya, tak sadar sudah banyak orang yang menyaksikan kegaduhan ini.
Kulihat sekitar, banyak dari mereka menampilkan waut wajah tak percaya, saling berbisik. aku tahu pasti itu sesuatu yang tidak-tidak. Menunduk aku, kakakku melepaskan jaket dan topi hitamnya dan dipakaikannya untuk menutupiku dan melindungiku.
Tak bisa berbuat apa, aku yang dibawa kakakku dengan paksa tak bisa ku menolak, sementara disana kekasihku yang taka da satupun yang tahu, masih terkapar, dengan luka memar diwajahnya. Menatapku.
Aku menagis, inginku melompat padanya dan berteriak itu tak seperti yang mereka semua pikir. Namun kakakku dengan semua kekuatannya langsung menarikku paksa masuk kedalam mobil.
Membawaku pergi jauh.
Sampai dihotel tempat kakakku menginap, taka da kata yang kuucapkan selama perjalanan tadi, aku hanya menangis dan menangis, kakakku bertanya ini dan itu taka da satupun jawaban yang bisa keluar dari mulutku.
“kak ini tidak benar, kakak salah paham, ia dosenku, dan aku mencintainya, dan iapun mencintaiku makanya ia begitu, memelukku-“
Tak terselesaikan kata-kataku
“dan melecehkanmu begitu? Gadis dia yang mencintaimu, akan menghormatimu dan bukan melakukan hal tercela dengan berani menyentuhmu seperti itu”
Mendengar kata-katanya hanya membuatku semakin menangis keras,
“kakak kumohon padamu, pertemukan aku dengannya aku takut dirinya terluka, kumohon aku sangat mencintainya”
Pintakku, berlutut dan memohon dikaki kakakku, air mataku yang berurai diwajahku.
“gadis jangan seperti ini, kau membuat kakak tampak seperti orang kejam tengah memisahkanmu dari cintamu itu, bukan itu maksud kakak, kakak hanya ingin menjagamu, itu saja”
Ucap kakakku menunduk dan memegang bahuku, menghapus air mataku
“kakak aku mencintanya ak-“
Masih dengan kata itu, aku ingin bertemu dengannya, memastikan keadaannya.
“besok, kakak akan membawamu padanya besok, sekarang pergi tidur”
Perintah kakakku, membawaku pada tempat tidur,
namun bagaimana aku bisa pergi tidur jika aku masih saja ingin lari untuk menemuinya.
Kakakku mengecup keningku, dan menyelimutiku. Lantas pegi menutup pintu menuju kamar tengah. kamar ini cukup luas hingga ada kamar tidur didalam dan ruang tengah ditambah ruang lainnya yang terpisah.
Kuambil ponselku berniat untuk menghubunginya, menanyakan keadaannya. Kuhubungi dirinya berkali-kali namun selalu taka da jawab. Kukirimi pesan taka da balas juga darinya.
ada banyak sekali pesan yang kuterima, banyak dari mereka yang menanyakan keadaanku, memintaku untuk kuat dan mencaci bahkan mengutuk kekasihku yang mereka anggap dosen c***l yang ingin melecehkanku.
Oh mengapa jadi serumit ini keadaannya, bagaimana bisa ia dijadikannya tak berbeda dengan b******n gila yang hampir melukaiku.
Mas alex maafkan aku, harus bagaimana aku sekarang,
Dan tak lama ada pemberitaan dengan headline
sorang mahasiswa universitas ternama telah dilecehkan dosennya.
Kubaca isinya, komentarnya dan pemberitaannya kian menyudutkan kekasihku,
Pemberitaan media cepat menyebar, satu jam kuhabiskan untuk memantengi perkembangan, dataku sudah mereka temukan dan pemberitaan terbaru adalah
Putri seorang gubernur daerah mendapat pelecehan s****l dari dosen dikampusnya.
Oh ini semakin menggila, bagaimana jika ayah, dan sudah pasti ayah akan tahu beritanya.
Ponselku mendapat panggilan tiba-tiba. Ayah disana.
Kupegangi kepalaku yang hampir meledak ini. aku frustasi dan hampir gila. Aku harus apa sekarang.
Tak bisa diam saja, aku akhirnya bangun dari tempat tidur, mengambil jaket bersiap untuk keluar. Kak Gerald sedang berdiri menelpon disana, melihat diriku yang berjalan kearah pintu,
“gadis, kau mau kemana?”
Tanya kakakku, memegang tanganku, berusaha menghentikanku.
“lepas kak, aku akan menemuinya”
Ucapku, dengan berusaha menarik tanganku dari cengkraman tangannya.
“sakit, lepas”
Ucapku, meringis kesakitan, karena cengkraman yang semakin kuat.
“maafkan kakak sayang, kakak tak bermaksud begitu”
Ucap kakaku, kini tangannya malah melingkar ditubuhku, memelukku erat.
“kakak lepas”
Dan akhirnya, aku bisa lepas darinya dan pergi, dengan berlari aku membuka pintu.
Namun aku menambrak seseorang yang tengah berdiri disana. Mendongak dan kulihat wajah yang taka sing disana.
Ayahku datang menemuiku.
“gadis, kau tak apa? Kau baik-baik saja bukan?”
Ucapnya memelukku sama eratnya seperti yang telah dilakukan kak Gerald.
Ada apa dengan semua orang, bersikap bahwa disini aku adalah seorang korban. Bahkan jauh dari posisi itu, dirinyalah korban atas kesalah pahaman ini, bagaimana bisa keadaaan berputar seperti ini.
“ayah kumohon padamu, dia adalah kekasihku, aku harus mengatakan pada semua orang dirinya tak akan melakukan hal seburuk itu padaku”
Pintaku memohon berlutut padanya.
“gadis, kau itu hanya terlalu baik, ayah tahu itu, kau pasti hanya merasa kasihan dirinya disalahkan banyak orang”
Balas ayahku yang seperti tak mendengarkan pintaku, kesalku, aku bangkit dari sikap Berlututku
“aku mencintainya ayah, aku mencintai dosen b***t itu, aku mencintainya”
Teriakku padanya, pada ayahku, mendengar anaknya ini tengah menyatakan cintanya pada pria yang baru saja didengarnya telah melakukan pelecehan padaku. Hanya bisa memandang kosong tak percaya diriku.
“gadis, dia tak mencintaimu, dia hanya ingin mempermainkanmu, menidurimu dan melukaimu”
Balas ayahku, berteriak tak kalah kerasnya dariku sebelumnya. Tangisku pecah. Mengapa semua orang tak mengerti, mengapa taka da satu orangpun yang mau mendengarkan,
“ayah aku mencintainya, aku sangat mencintainya, mengapa kalian tak mengerti itu.”
Tangisku semakin menjadi dan kini aku jatuh bersimpuh, tak tahan lagi dengan semua orang yang beranggapan salah atas hubunganku dengan kekasihku.
Ayahku yang sama menggilanya, hanya bisa menatapku yang kini tengah berada dalam peluk kakakku. Masih menangis dan tak mau berhenti.
“gadis ayah mohon padamu, mengertilah. Kau harus tak hanya memikirkan dirimu sendiri, dengan menjadi egois atas cintamu sendiri, ayah masih dalam proses pemeriksaan pelepasan jabatan, jika ini dibiarkan hanya akan menjadi skandal ayah kedepan, tak bisakah kau memikirkan itu”
Pinta ayahku, kini aku tahu mengapa keberadaannya bisa disini bersamaku, baru 4 jam lamanya sejak kejadian itu, dan ayahku dengan cepatnya mendatangiku, ah reputasinya lebih berharga dariku. Seharusnya aku tahu itu.
“memang kenapa jika aku egois atas cintaku, bukankah akan sama egoisnya jika aku mengikuti perintahmu, dengan bersikap seperti korban dari kekasihku yang tak melakukan apapun padaku, aku hanya akan menjadi penjahatnya disini ayah tahu itu”
Balasku padanya, mendengar perkataanku ayahku hanya memalingkan wajahnya seolah tak mau mengerti dengan keadaanku.
“besok kau pergi dengan kakakmu ke singapure biarkan ayah yang mengurus semua ini”
Ucapnya lantas pergi meninggalkanku.
Kakakku membangunkanku, dan berusaha menahan tubuhku dan akan memapahku namun dengan kasar kulepaskan tangannya dari tubuhku.
“tinggalkan aku, kakak sama saja dengan ayah,”
Ucapku lantas pergi kekamar, membanting pintu.
Masih tak bisa lapas dari dirinya, memegang ponsel dan berusaha menghubunginya.
Dan ya, setelah sekian kalinya kucoba, akhirnya aku bisa terhubung padanya
“mas, mas sayang kau dengar aku”
Hanya suara napasnya yang kudengar
“mas, kau tak apa bukan? maafkan aku semua salahku”
“mas..”
Masih tak ada jawab darinya, apa ia sangat terluka.
“gadis”
Ucapnya, akhirnya memanggil namaku.
“maafkan aku, maafkan semua kesalahanku, ku tahu seharusnya aku lebih baik lagi dalam mencintaimu”
Ucapnya,
“apa maksudmu, mas, aku mencintaimu, kau tahu itu dan aku tahu betapa besarnya cintamu untukku, jadi-“
“gadis maafkan aku, maaf”
Ia memotong perkataanku dan menutup sambungannya.
Aku balik menghubunginya, lagi, dan lagi namun sayang ia tak mengangakat telponku.
Aku harus bagaimana
Aku menangis kembali, runtuh diriku, terduduk dilantai, hatiku sakit terasa dijatuhi sesuatu beribu-ribu ton beratnya, langit seperti menimpa diriku, cintaku, aku tak bisa menyelamatkannya. Namun ayah,
Aku ingin mati saja tuhan! Tolong aku,
-
Author pov
Pemberitaan semakin liar, bahkan menjadi berita utama disemua saluran media, ayah Gadis tengah menjadi pencarian utama media online, bulan-bulanan media, begitu juga dengan Alex.
Gadis tak mampu berbuat apa-apa, dirinya tak mungkin menentang ayahnya, dan terlalu tak berdaya untuk mengungkapkan kebenaran yang ada.
Malam terasa panjang baginya, tak ada keinginan untuknya merebahkan diri dan pergi tidur. Sepanjang malam dirinya terjaga duduk menangis memeluk lututnya.
Hingga matahari mulai memperlihatkan dirinya, matanya melihat sudah pukul 7 saat ini.
Ponselnya kembali bergetar notifikasi disana, link siaran langsung konfrensi pers yang akan dilakukan ayahnya. Langsung saja ia menekannya dan menonton siaran itu.
Ayahnya membungkuk meminta maaf diawal, dan terus meminta maaf karena tak bisa menjaga putrinya, dan membuat kekhawatiran banyak orang atas apa yang menimpa gadis, beberapa pernyataan dikatakannya bahwa pelaku pelecehan putrinya sudah dalam penanganan kepolisian, dan ia pun menyayangkan apa yang telah dilakukan dosen putrinya itu.
“Apa yang barus saja kudengar, jadi kekasihku dipolisikannya, dijadikannya kambing hitam.”
Ucap gadis tak percaya, kebohongan yang dikatakan ayahnnya, tangannya menutup mulutnya dan air matanya jatuh sangat kecewa. Sesal dan amarah menghampiri hatinya, kekasihnya yang tak bersalah kini harus menanggung hukuman yang tak dilakukannya.
Dan pernyataan ayahnya diakhiri bahwa gadis akan menjalani rehabilitasi karena trauma, mendapat penanganan psikologis dan istirahat yang cukup untuk sementara.
“Ini gila, ini gilaaaa!”
Teriak gadis, hingga kakaknya membuka paksa pintu kamarnya, menghampiri gadis.
“gadis”
Panggilnya, memeluknya, berusaha menenangkannya.
“kakak ini tak benar, dia bukan penjahat, bagaimana kau bisa membuatnya berakhir dikepolisian, ini tak benar! kalian jahat, ini tak benar”
Ucapku, memukulinya dengan tangis yang masih terus saja kulakukan.
“gadis, jangan seperti ini, kau pergi ke singapure penerbanganmu satu jam lagi, jadi cepat pergi sebelum wartawan mengetahui keberadaanmu”
Ucap ibunya tiba-tiba, yang tanpa gadis ketahui ibunya telah datang semalam setelah mendengar pemberitaan putrinya.
“Bagaimana bisa...”
Ucap gadis masih tak percaya, air mata Yang terus berurai. Kesal karena tak berdaya memperjuangkan cintanya.
Bagaimana kalian bisa begitu abai pada cintaku untuknya, ini hanya sebuah kesalah pahaman.
Gadis
To be continue-