Gadis sayang

2440 Kata
Kantin kampus Aku duduk memainkan minumanku, mengaduk-aduknya melihat es didalam gelas itu saling beradu. “wah ada kak gadis Ashleey. Momen langka melihat kakak duduk dikantin seperti sekarang ini” Sapa salah satu mahasiswa baru, sepertinya yang tak tahu itu siapa. Mereka perempuan yang datang bersama, ah aku mengingatnya, salah satunya adalah subjekku semester lalu untuk salah satu mata kuliahku. Aku hanya melempar senyum pada para mahasiswa itu. Aku yang sendiri saat itu, kantin masih sepi dijam 10 karena biasanya para mahasiwa mengambil jam-jam itu untuk menghindari jam pertama yang dimulai saat pukul 8. Takut kesiangan selalu jadi alasan andalan. Mereka duduk dimeja yang sama denganku. saling cekikikan setelah membicarakan ini dan itu. dengan beberapa makanan yang mereka pesan, itu hanya makanan ringan jajanan mahasiswa. “kak untuk dosen filsafat baiknya aku mengambil dosen ini atau ini ya?” Tanya salah satu mahaswa itu padaku. Menunjukan page system informasi akademik dilayar laptopnya. “semuanya juga baik, memangnya kenapa harus pilih-pilih begitu?” Tanyaku balik padanya, heran dengan tingkahnya memilih-milih dosen padahal jadwal dirinya sudah ditetapkan meski perubahan jadwal masih bisa dilakukan karena masih ada kesempatan untuk mengganti jadwal diawal perkuliahan. “katanya dosen yang kupilih saat ini, cukup sulit untuk mendapat nilai baik. Jadi aku tertarik untuk mencari dosen lain?” Jawabnya. “belum lagi selalu memberikan tugas yang tak tanggung-tanggung, ditambah kuis yang materinya taka da dalam pembahasan sebelumnya” Timpal lainnya. “ah, kalau itu pintar-pintarnya mahasiswa, coba baca beberapa referensi dari beberapa buku yang direkomendasikan di awal pertemuan, atau coba tanyakan buku pendampingnya yang selalu dipakainya untuk mengembangkan pembahasan?” Usulku pada mereka, berharap bisa menawarkan solusi. “wah, jawaban mahasiswa pintar dan rajin memang seperti ini ya, berbeda” Jawabnya. Terperanga mendengar jawabanku. “membaca materi saja sudah malas, materi yang dibagikan dalam bentuk power point saja selalu k****a saat menit-menit terakhir waktu ujian, kakak malah menyarankan untuk aku mencari buku referensi lainnya” Jawaban lainnya, yang membuatku teringat pada beberapa mahasiswa yang sekelas denganku. ternyata itu memang sudah jadi kebiasaan mahasiswa rupanya. Aku yang hanya menaikan alisku, tak menyangka akan mendengar kejujurannya. Alex pov Kelas pagiku selesai lebih awal, dan aku berjalan keluar menuju parkiran untuk pulang lebih awal bersama gadis. Namun dari kejauhan kulihat gadis tengah mengobrol bersama beberapa mahasiswa perempuan, tengah asik sepertinya. Kuputuskan untuk menghampirinya dan ikut dalam pembicarannya. “kalian ini terlihat asik sekali sedang membiacarakan dosen ya, atau menggosipkan saya” Tanyaku, sedikit narsis berkata begitu pada mereka. Gadis yang sepertinya kaget akan keberadaanku yang tiba-tiba datang kemudian berkata demikian, hanya menyiritkan dahi tak percaya dengan yang kulakukan. “aduh pak alex ini, tahu saja kelakuan mahasiswanya” Canda salah satu mahasiswa, lidya namanya yang duduk didepan gadis, hanya dirinya yang kutahu karena sering kali dirinya ikut beberapa kegiatan kemahasiswaan, dan bulak balik ruangan dosen untuk meminta persetujuan ini dan itu. Lantas aku duduk disamping gadis, kekasihku. menatapnya sekilas, namun yang ditatap sepertinya malu, menepuk pahaku pelan, memberikan peringatan agar jangan sampai ketahuan. “jadi saya kenapa, dosen yang baik dan tampan ya” Tanyaku, membuat mereka tersenyum geli mendengar kenarsisanku. Bahkan gadis menahan senyumnya, memalingkan wajahnya. “bapak itu justru sebaliknya, bisakah memberi kami tugas yang lebih sedikit, kurangi jumlah jurnal yang harus kami baca sebagai referensi” Pinta salah satu mahasiswa, “memangnya kenapa, Gadis saja tidak protes saat mengambil kuliah saya, malah ketagihan membaca jurnal hingga menjadi asisten saya” Balasku pada mereka, “itu sih, karena tak ada mahasiswa lain lagi yang mau membantu bapak, makanya kak Gadis bersedia jadi asisten bapak” Jawab salah satu dari mereka begitu saja. Membuat gadis tersipu, dan mengacungkan ibu jarinya menyetujui apa yang baru saja didengarnya itu. Merasa menang gadis tertawa bahagia dibuatnya. Meski sedikit kesal. “benarkah itu nona gadis ashleey?” Tanyaku pada gadis, menatapnya lekat, menjahilinya. Namun ia hanya balas tersenyum atas diriku. Tawa mereka pecah begitu saja melihat tingkah konyol dosen mudanya ini. Kulihat dirinya begitu menikmati waktu santainya ini. Senyum bibirnya, rambut yang terurai, melambai ikut tertiup bersama angin. Cantic wajahnya bersama, tawa renyahnya membuatku ikut bahagia mendengarnya, bahkan bibirku menirukan lengkungan senyum diwajahnya. Aku ingin membuatnya selalu seperti itu. membuatnya selalu tertawa bahagia setiap saat. Lama mereka saling bercerita, keluhannya banyak kudengarkan, dan hanya kutanggapi dengan candaan, begitupun dengan gadis yang hanya menimpali dengan senyuman tak banyak perkataan yang keluar dari mulutnya. Mereka kemudian pergi, meninggalkan kami berdua karena ada kelas yang harus mereka ikuti. Memandangi gadis, yang tak pernah membuatku bosan dengan paras cantiknya. “ada apa? Ada sesuatu diwajahku” Tanya gadis terheran saat aku hanya menatapnya, dengan sedikit mengulum senyum. “tak ada, ayo kita pulang dan makan siang” Jawabku padanya. Kemudian meraih tangannya. “Pak Alex, ini dikampus bagaimana kalau ada yang lihat?” Balasnya, yang kemudian ingin melepaskan tanganku dari atas tangannya. “tak apa, tak ada siapa-siapa, jadi kita bisa seperti ini” Jawabku, menghentikan kekhawatirannya. “ayo kita pergi” Ajakku, kemudian menarik tangannya untuk ikut bangkit dari duduknya. Berjalan beriringan, matanya yang tak bisa diam, mengedarkan kesekeliling merasa awas, “sudahlah tak usah begitu, tak ada siapa-siapa disini” Kataku lagi, bahkan kini lebih berani dengan tanganku yang meraih pinggan rampingnya untuk berjalan lebih dekat. “ih, Pak Alex” Geramnya dengan sikap manjaku, ia mengehntikan langkahnya, wajahnya yang sedikit ditekuknya, lucu sekali dirinya saat sedang begini. “iya-iya tidak lagi” Kataku padanya, berjanji tak akan bersikap begitu lagi disini, karena saat berdua nanti aku akan segera memeluknya, mendekapnya dan tak mau berjauh-jauh darinya. Sampai disebuah restoran, karena aku ingin mengajaknya memakan sesuatu yang baru, dan berakhirlah kami disini. Bergaya classic, sangat cocok untuk menikmati makan siang setelah penat jadwal mengajar yang untunglah hari ini tak cukup padat. Kami memutuskan untuk memilih meja diluar, sayang jika tak menikmati pemandangan yang sudah disajikan. Memesan menu special yang menjadi menu andalan restoran, karena tahu dirinya hanya akan ikut saja menu yang kupesankan, sangat tak ingin ambil pusing dirinya itu. Sepi disini tak banyak pengunjung, beruntung diriku untuk bisa menikmati makan siang ini hanya berdua dengannya. “Pak Alex” Panggilnya padaku, kuacuhkan dirinya. sengaja. “Pak Alex, dengar aku” Lagi, kali ini minta untuk didengarkan. Aku hanya masih sibuk memandang kekanan. Entah apa yang kulihat sebenarnya, disana hanya ada bukit hijau, danau disebelahnya yang kontras warnanya dengan biru langit cerah hari ini. “Pak Alex, sayang” Ujungnya, akhirnya kata itu panggilan itu yang ingin aku dengar darinya. Barulah aku menoleh, mengalihkan pandangku padanya, dengan senyum yang sedari tadi kukulum, menahannya, gemas sekali jika aku tak menjahilinya. “apa, Gadis sayang?” Jawabku padanya. Kulihat wajah datarnya, tak percaya mungkin dengan sikap kekanak-kanakanku. “Pak Alex ada apa denganmu hari ini, aneh. Seperti anak kecil” Ucapnya, padaku mengataiku. “sampai kapan kau akan memanggilku dengan sebutan itu? aku ingin yang lebih manis dari sebutanmu padaku, memangnya aku setua itu untuk dipanggil pak” Jawabku padanya, mengungkapkan inginku. Aku ingin hubungan ini berjalan lebih, maksudku tak ingin lagi seperti sebelumnya, aku ingin memilikinya, mendapatkan dan memberikan cinta yang lebih dari sebelumnya. “hahaha, ada-ada saja, jadi pak alex mau aku panggil apa? Kakak?” Timpalnya, dengan tawa yang tampak sangat puas. sangat tidak peka sekali dirinya. aku berharap sesuatu yang lebih membuatku tergugah menatapnya saat ia memanggil namaku. “Gadis, serius. Aku tak ingin di panggil Pak Alex lagi olehmu” Kataku padanya, sedikit menegaskan kembali apa yang jadi inginku. “bukankah sudah sering ku panggil sayang, apa itu tak cukup? Lagi pula akan celaka jika aku tiba-tiba tanpa sadar memanggil Pak Alex sayang dikampus?” Balasnya, oh rupanya ia masih khawatir akan hubungan ini, takut jika ada yang mengetahui ada apa antara aku dengannya. Padahal itu bukan apa-apa. Aku hanya diam. Tahu itu aku tak suka. Dirinya kemudian menggeserkan kursinya untuk duduk disampingku. “baiklah jika itu maumu. Aku hanya akan memanggilmu Mas Alex, suka?” Ucapnya, dengan nada yang pelan, menenangkan aku yang semula terdiam, merajuk karena ulahnya. Mendengar panggilan itu darinya, lucu, bahkan suaranya memanggilku masih terngiang ditelingaku, menggelitikiku. “lagi” Pintaku, ingin aku dengar lagi panggilan barunya untukku. “Mas Alex” Panggilnya padaku, aku tersipu, hanya tersenyum puas permintaanku diindahkannya. “apa sayang” Jawabanku atas panggilnya. Aku bahagia tak terkirakan. Kami berdua tanpa sadar tertawa, menertawakan tingkah konyol kami. Tak lama pesanan kami datang bersama pelayan, yang terlihat canggung mengganggu momen bahagia kami, ikut melemparkan senyum padaku juga gadis. “sayang, selamat makan” Jahilku lagi padanya, penasaran apa balasan yang akan dikatakannya. Uhuk Suaranya sedikit terbatuk saat sedang meneguk minumannya, bukan karena gatal tenggorokannya, namun gatal telinganya mungkin atas apa yang baru saja kukatakan. “iya, Mas Alex sayang” Yes, aku sangat puas, rupanya ia mengerti apa yang ingin kudengar. Tersenyum malu ia kemudian. Menahan malu sepertinya bahkan disamping masih ada pelayan yang masih menyajikan makanan. Setelah pelayan itu pergi, tiba-tiba saja ia memukul pelan dadaku, mudah baginya untuk melakukan itu, karena tak berpindah posisi dan tetap duduk berencana menyantap makanannya disampingku. “ah sakit sayang” Ucapku lagi, keasyikan mengucapkan kata itu. sepertinya aku mulai menggila, atau mungkin mengalami puber kedua diusiaku yang sudah 34 tahun ini. Setelah acara makan siang yang sangat menyenangkan itu selesai, tak memiliki rencana apapun lagi. hanya ingin pulang dan menikmati waktu bersamanya selagi bisa. sangat jarang dihari-hari biasa kami, baik gadis maupun diriku memilki waktu luang seperti hari ini. karenanya aku ingin memanfaatkannya sebaik mungkin. Gadis pergi ketoilet, sebentar katanya. namun sejak ia pergi melangkah kesana, padahal baru sebentar saja aku jauh darinya. Mataku sudah uring-uringan tak sabar untuk melihat kembali sosoknya. Mungkin aku tengah berada dipuncak perasaanku padanya. Bahkan kini jauh lebih besar inginku untuk selalu bersamanya jika dibandingkan saat awal hubunganku dengannya. Getar ponselnya mengalihkan perhatianku, memunculkan sebuah notifikasi pesan disana. Dengan nama pengirim kak Gerald, disana isinya hanya sepenggal kalimat Gadis, kau baik-baik saja? kakak khawatir sekali padamu. Besok pagi.. Hanya itu yag bisa k****a, seluruh isinya tak tampil semua dilayar ponselnya. Penasaran dengan si pengirim pesan. Besar pikirku itu adalah kakak laki-lakinya. Gadis sangat jarang sekali membicarakan mengenai keluarganya, bahkan hampir tak pernah bercerita seingatku. Dan baru kutahu dirinya memiliki seorang kakak laki-laki juga. Pesan yang diterimannya baru saja mengingatkanku pada hari dimana ia pulang dari liburannya, ia tampak sangat berbeda hari itu. meski hanya beralasan sangat merindukanku namun rasanya ia lebih pada mencari pengobatan, penenangan juga perlindungan dariku malam itu, bahkan bercinta seolah melampiaskan sesuatu padaku. Belakangan inipun aku tahu jika tak ada pembicaraan denganku ia hanya selalu terdiam, melamunkan sesuatu. Apa ia menyembunyikan sesuatu dariku, dan ada apa dengan besok pagi Alex pov end- Tak ingin berlama-lama meninggalkan dirinya, segera aku keluar dengan melemparkan senyum pada dirinya yang masih dengan posisi seperti semula saat kutinggal pergi ketoilet sebentar saja. tak duduk lagi dikursi dan ingin langsung saja pergi. Akhirnya kutarik tangannya untuk bangkit dan berjalan pergi keluar restoran. 10 menit kami berkendara hingga sampai diapartemennya. Pak Alex yang langsung saja merebahkan diri ranjangnya, aku yang bermaksud mengikutinya, berhenti sejenak saat kudapati pesan dari kakakku. Gadis, kau baik-baik saja? kakak khawatir sekali padamu. Besok pagi kakak akan pergi menemuimu memastikan keadaanmu. Kakak menyayangimu Kakak akan datang menemuiku besok pagi. Ada sedikit perasaan khawatir namun aku banyak bersyukur bisa bertemu kembali dengannya. Sejak liburan hari itu, aku memblokir kontak ibu dan ayahku. Masih tak bisa menerima mereka, tahuku, seharusnya aku mendengarkan penjelasan mereka lebih dulu. Namun aku belum siap dengan itu. “gadis” Panggil Pak Alex, atau harus kupanggil Mas sesuai pintanya mulai saat ini. menyadarkan lamunanku yang masih menatap pesan dilayar ponselku. Aku hanya menatap dirinya, haruskah aku bercerita padanya. “ada apa?” Lanjutnya bertanya padaku, aku hanya tertunduk memandangi jari-jari kakiku yang kini bergerak dengan gelisah dibawah. “kau bisa berbagi masalahmu padaku, meski aku tak tahu dapat membantumu, namun setidaknya dapat meringankan sedikit pikiranmu” Tawarnya padaku. Mendekat dan meletakan tangannya dibahuku. “aku harus bagaimana sekarang?” Tanyaku dengan suara yang sedikit parau, teringat kembali masalah apa yang baru saja kudapatkan. “tak apa, semua akan baik-baik saja” Ucapnya lagi, menenangkan, memberiku kekuatan, dan sebuah kepercayaan bahwa keadaan akan baik-baik saja. begitulah yang kudapati setelah mendengar ucapannya. Hingga kepalaku kubiarkan bersandar didadanya. “jadi apa yang membuatmu sedih seperti ini” Tanyannya, setelah membuatku terduduk di tempat tidur begitupun dengan dirinya. Raguku, entah harus kumulai dari mana cerita kekacauan keluargaku. “apakah semua bentuk cinta itu bisa dibenarkan?” Tanyaku padanya, sedikit berpikir dirinya terheran dengan apa yang kutanyakan. “jatuh cinta bukan sebuah kejahatan, meski itu diekspresikan dengan banyak cara entah itu yang biasa atau dengan cara yang tak biasa, tetap saja itu namanya cinta” Jawabnya, sangat bijak. “termasuk kembali jatuh cinta setelah kau dilimpahi banyak cinta sebelumnya. Memutuskan untuk meninggalkan cinta yang lama untuk bersama cinta yang baru ditemukannya” Tanyaku lagi. membuatnya mendapat sedikit garis besar masalah yang menggangguku. Ia hanya menatapku, dan meraih tanganku. “ayahku, ibuku mereka masing-masing memiliki hubungan dibelakangku, bahkan aku tak tahu selama ini aku telah memiliki adik tiri dari simpanan ayahku, ibuku..” Tak mampu keselaikan, itu terlalu memalukan, aibnya sungguh tak bisa kumaafkan, bermain dengan pria-pria muda yang dibayarnya. “gadis, kita semua manusia. Memilih jalan hidup seperti ini dan seperti itu, sudah pasti menjadi bagian dari hidup seseorang, meski pada akhirnya harus ada yang menyakitkan untuk kita terima sebagai kanyataan, namun mereka memiliki hak untuk itu, berikut dengan tanggung jawab atas apa yang telah mereka pilih itu. karena itu, sedikit berpikir bahwa kita semua hanya manusia biasa, yang terkadang memilki keinginan, atau memutuskan sebuah jalan hidup tak sesuai seperti yang kita harapkan, bahkan banyaknya mengecewakan. Jangan kau biarkan semua itu menghentikanmu, jadikan itu sebuah pembelajaran yang mendewasakanmu” Panjangnya, kata-katanya. tak seperti biasanya yang dengan mudah kucerna, namun kali ini sulit kuterima. “mudah bagimu berkata demikian, karena tak merasakan. Sulit bagiku bahkan hari ini untuk melupakan semua yang telah mereka lakukan” Kesalku, kulimpahkan padanya yang kusadar tak seharusnya menjadi pelampiasan perasaanku. “aku tahu itu. aku mungkin hanya berusaha memahamimu, atau bahkan jauh dari itu karena akupun tak tahu persis apa yang menimpa dirimu, apalagi merasakan rasa sakit dihatimu, hanya bisa mengira-ngira apa yang kau rasakan. Namun aku harap kau bisa kuat dan bertahan melewati semua ini, perubahan yang perlahan terjadi, keadaan yang kemudian juga ikut memuakan dan jauh dari harapan malah berubah menjadi sebuah kesedihan, ku harap kau bisa menerima semua perasaan itu, dan menemukan jalan keluarnya atas semuanya. Dan kuharap suatu hari nanti kau bisa melihatnya sebagai pengalaman luar biasa dihidupmu.” Lanjutnya lagi. banar semua perkataannya. Kini aku sudah dewasa untuk tahu semua itu. aku bukan lagi putri kecil ayah dan ibuku. Hak mereka untuk melakukan apapun itu dihidupnya. “bisakah aku..” Tanyaku meragu pada diriku, sanggupakah diriku menelan bulat-bulat semua kekecewaan dan kesedihanku. “kebahagiaanmu, adalah tanggung jawabmu. Yang harus dirimu perjuangkan sendiri seumur hidupmu Gadis” Lagi. ucapannya mengajarkanku bahwa aku hidup didunia yang kejam dan dingin. “kau, sayangku, aku ingin kau jadi bahagiaku, jadi kumohon padamu untuk tak pernah pergi atau menghianatiku” Ucapku, manatap dalam dirinya. menyentuh wajahnya. Cintaku padanya, dan cintanya padaku, aku tak ingin kehilangan lagi. kuharap tak akan ada lagi kata merelakan, dan kehilangan yang harus kudengar. Karena mulai detik ini, aku akan memperjuangkan semua orang yang kucintai, tak akan kubiarkan mereka pergi lagi untuk membiarkan cinta lain, karena akan kupastikan mereka mendapatkan seluruh cintaku, hatiku. Untuk Kakakku dan kekasihku. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN