Semester baru dimulai dalam kurang dari satu minggu lagi, setelah apa yang menimpa keluargaku, berada dirumah tak membuat semuanya baik-baik saja, bahkan sebaliknya hanya membuatku semakin tersiksa dengan harus menghadapi kenyataan menyedihkan itu.
Kembali kekota dimana aku berkuliah, hal yang ingin kulakukan adalah memeluk kekasihku, merasakan hangat cintanya. Karenanya kini aku berdiri didepan pintu apartemen Pak Alex.
“oh”
Kagetnya, saat dibuka pintu olehnya, aku yang tiba-tiba langsung memeluknya. harum tubuhnya, aroma shampoo kutebak dirinya baru saja mandi setelah pulang dari kampus, karena ini sudah pukul 8 malam.
“sebegitu merindukannya diriku ini, hingga langsung kau peluk engh?”
Ucapnya, tangannya memegang handuk untuk mengeringkan rambutnya yang masih basah itu, ia rangkulkan dan menepuk-nepuk pelan punggungku. Melupakan dimana kami berdiri berpelukan kini, sedikit menyeretku masuk kedalam dan menutup pintu dengan kakinya. Suara pintu tertutup itu membuatku sedikit mendongak untuk melihat wajah yang kurindukan. Masih tampan, dan akan selalu tampan. Tanganku mengelus rahang tegasnya, halus kulitnya, selalu membuatku tersenyum dan melupakan semua hal buruk dalam hatiku. sudah menjadi penawar hatiku rupanya.
Sedikit mengangkat tubuhku, wajah kami sejajar kini, tangannya menuntunku untuk dikalungkan dilehernya. Hanya diam, saling menatap, lama keheningan itu, dalam hati kubersyukur masih ada dirinya yang kumiliki saat ini. aku sungguh berterimakasih atas kehadirannya juga cinta untukku. Aku tahu ia bertanya dari matanya, tatapannya kini turun pada bibirku, dan mengecupnya. Manis bibirnya, aku merindukan itu, bibir yang selama berminggu-minggu ini terasa sangat pahit, hanya kupakai untuk menangis dan merintih. Kini bisa tersenyum, betapa ajaib cintanya untukku.
Kecupan manis itu, kubalas dengan mengulum lembut bibirnya, kuharap bisa menyalurkan cintaku dan menunjukan perasaanku betapa aku sangat mencintainya. aku sungguh tak ingin kehilangan dirinya.
Tak ada suara lain selain decakan bibir kami yang saling memagut, melumat, mabuk antara cinta dan kerinduan. Tangannya yang mengelus punggungku lembut, membuatku tak tahan dengan ciuman ini, kukaitkan kakiku dipinggangnya. Sedikit terkejut dirinya kubuat, hingga saat kumiringkan kepalaku untuk mengambil sedikit oksigen, senyum tergaris dibibirnya, tangan yang semula mengelus punggungku, kini naik ketengukku, sedikit menekannya untuk memperdalam ciuman kami.
Lidahnya menyapa lidahku, bertautan didalam mulutku, salivanya kurasakan bercampur dengan milikku. Mata yang sedari tadi kubiarkan terpejam menikmati ciuman ini, hingga disudahinya. kubuka mataku perlahan dan kulihat sekeliling ruangan yang tak asing bagiku, dan telah kutinggalkan untuk beberapa waktu, kamar tidurku dengannya. Pak Alex mendudukanku diranjang tidur kami, berlutut dihadapanku.
“jadi bagaimana liburanmu?” tanyanya.
“tidak menyenangkan”
Jawabku singkat, dan menjadi kalimat pertama yang keluar dari mulutku setelah bertemu dengannya. Dahinya sedikit mengerut,
“kenapa?”
“pak alex menggangguku, wajah ini..”
Jawabku, mendekatkan wajahku pada wajahnya Kuperhatikan dari dekat, tanganku menagkup wajah itu, membelainya.
“selalu menggangguku, aku selalu merindukan pak alex setiap saat hingga tak bisa menikmati waktuku”
Lanjutku, membuat senyum manisnya mengembang, ia terkehkeh mendengar perkataanku, pandangannya turun, sedikit menunduk malu atas tingkahku. Tangannya meraih tanganku yang masih menempel diwajahnya, mengenggamnya dan diciumnya tanganku. Dihirupnya kulit tanganku yang sangat kecil itu dalam genggaman tangannya yang besar, ia selalu membuatku merasa dipuja oleh sikapnya.
“sepertinya rinduku sampai pada pemiliknya, kau tahu seberapa dinginnya kamar ini tanpa dirimu Gadis, bahkan tanganku selalu meraba-raba, mencari tubuhmu untuk kupeluk, hingga aku terbangun dan sadar kau memang sedang tak tidur disampingku”
Ceritanya padaku, sedikit terlintas dipikiranku seharusnya aku tetap disampingnya saja tak perlu pulang ke rumah dan mendengar berita kehancuran keluargaku.
“kalau begitu, haruskah aku selalu tidur disini selamanya?”
Tanyaku, penasaran bagaimana jika aku ingin menjadi pemilik tempat disampngnya disetiap malam.
“tentu saja, itu akan selalu jadi tempatmu, dan tak akan kubiarkan kau tidur dimanapun selain disisiku”
Jawabannya, sangat membuat hatiku luluh, kini aku merasa seperti diberi tahu bahwa aku memilki rumah tempatku selalu pulang dan kembali, ada seseorang yang menunggu kehadiranku. Terlalu hanyut, emosiku yang selama ini terobang ambing, dan kini kudapati seseorang yang begitu mencintaiku, berada dihadapanku, ada untukku, peluk hangatnya, lembut sentuhnya, tak terasa air mataku jatuh, menyadari hal itu, kupalingkan wajahku kesamping,
“ada apa denganmu, kau baik-baik saja bukan?”
Tanyanya mengahwatirkanku, tangannya diletakan dipipiku dan mengusap air mataku.
“pak alex selalu membuatku menangis padahal aku senang mendengar semua kata-kata manis itu, jangan mengingkari semua perkataan itu, karena aku terlanjur sangat mencintai pak alex dan ingin selalu berada disini”
Jawabku, mendengar itu ia tersenyum namun raut khawatirpun terlukis diwajahnya,
“sungguh tak terjadi apapun, maksudku benar bahwa kau baik-baik saja”
Pertanyaannya membuatku sadar betapa ia sudah mengenalku, aku tahu ia menyadari sesuatu telah terjadi padaku, bukan berniat untuk menyembunyikan mengenai apa yang terjadi. namun saat ini bukan waktu yang tepat. hatiku masih terlalu berat untuk mengatakannya, seolah mengorek-orek lukaku saja, kubenamkan wajahku dipundaknya, menghirup lehernya, sedikit menghisapnya lembut dengan bibirku yang sudah menjadikannya candu, aroma itu, sentuhan dan tubuh yang kini dihadapanku, aku hanya ingin itu.
“tidak, aku tidak baik-baik saja, pak alex harus bertanggung jawab! sepertinya aku tidak bisa hidup tanpa Pak Alex”
Dengan kepala yang gelisah, terus bergerak dipundak dan area lehernya, membuat Pak Alex membangunkan tubuhku yang bersandar dari tubuhnya, sedikit mencengkram bahuku dengan kedua tangannya, memandang lekat wajahku, sungguh aku tak ingin membicarakan itu sekarang, ungkapku dalam hati. Kubuang tangannya dari pundakku, bibirku kudaratkan kembali dibibirnya dan kutatap wajahnya begitu kulepaskan
“aku hanya ingin dirimu”
Ungkapku singkat
“jika kau terus seperti ini, malam ini kau benar-benar tak bisa istirahat”
Jawabnya, rupanya aku membuatnya terbangun membangakitkan nafsu dalam dirinya untuk menyentuh tubuhku.
Kupagut bibirnya, mengulum bibir bawahnya, bukan lagi ciuman lembut namun ciuman dengan api, nafsu, ingin bergelut dan bercinta. Bibirku sedikit digigitnya, hingga aku mengerang dibuatnya,
“arghh”
Mulutku terbuka, tak menyia-nyiakan kesempatan dirinya untuk mengisi mulutku dengan meraih lidahku, dituntunnya diriku untuk sedikit mundur dan berbaring. Tubuhnya kini berada diatasku, tanganku nakal menyingkapkan kaus abu yang dikenakannya, membelai lembut perut ratanya, menggoda dadanya,
“kau benar-benar membuatku gila Gadis”
Ucapnya sembari membuka kausnya dibuat frustasi karena nafsunya. Bibirnya kini beringas mencumbu leherku dan turun hingga kepundakku turun kearah dadaku, tangannya kini sibuk membuka kancing bajuku, dan menyapa yang ada didalamnya. Sentuhan ini, membuatku lupa bahwa aku tidak sedang baik-baik saja, lupa bahwa aku tak seharusnya bercinta dengannya, menjadi wanita gila yang terangsang tengah dimabukan oleh perlakuannya.
Bajuku taggal sudah begitupun dengan dirinya. tanganku sendiri yang membukakan resleting dan celana dalamnya.
kulit kami bersentuhan, saling menggesek, menggoda, menikmati sensasi yang kami ciptakan satu sama lain
saat pusat tubuh kami bertemu,
desahan demi desahan tak hentinya beradu
bersamaan dengan tubuh kami yang menyatu,
cumbu tanda rindu,
didada, perut, bahu disetiap jengakal tubuhku,
dia memilikiku, menyetubuhiku, mengahantamku dengan segala cintanya untukku,
tuhan aku tak akan berhenti berterimakasih untuk itu,
dan aku yang tak tahu malu,
berzina tak bisa menahan nafsu
tak mampu membendung hasrat ingin bercinta dan b******u atas nama cintaku.
Inilah puisi cintaku
Gadis Ashleey-
#
Malam-malam panas bersamanya sungguh tak pernah kubayangkan sebelumnya, tak pernah kupikir diriku akan berakhir dalam dekapannya setiap malam, bahkan melakukannya sebelum pernikahan dilangsungkan. Sempat terpikir bagaimana jika ia pada akhirnya akan meninggalkanku setelah menodai diriku, meniduriku hampir disetiap malam.
Ketakutan akan kehilangan tumbuh semakin tak bisa kukendalikan, setelah penghianatan yang dilakukan ayah juga ibuku, aku jadi meragu dalam segala hal, ketakutan akan dicampkan. Namun kasus berbeda untuk kekasihku, janjiku untuk tak seperti kedua orang tuaku yang b***t aku tak ingin seperti mereka, sumpahku akan menjaga cintaku untuknya seorang, hidupku akan hanya kuberikan untuknya. Meski tak ada kepastian bagaimana akhir dari cerita cintaku dengannya, namun hatiku jelas kini hanya untuknya.
Ceklek
Pintu kamar mandi terbuka, Pak Alex keluar dibaliknya hanya mengenakan celana boxernya saja, menampakan tubuh indahnya, otot-otot tubuhnya yang membuatnya semakin gagah.
“lama sekali didalam, jangan bilang Pak Alex bermain lagi sendiri didalam”
Sindirku padanya, duduk bertopang pada satu tanganku kebelakang dengan sedikit memiringkan kepala dan mata yang kubuat memicing, seolah menyelidiki apa yang telah dilakukannya. Dadaku yang terbusungkan karena posisi dudukku, beberapa kali kubenarkan selimut yang kupakai untuk menutupinya, meski itu tak berguna.
“yang benar saja, ada dirimu yang selalu bisa memuaskanku untuk apa aku melakukannya sendiri”
Balasnya dengan langkah kaki besar hingga kini sudah duduk dihadapanku, tangannya meremas payudaraku, menenggelamkan kepalanya disana, menciuminya. aku yang masih belum mengenakan pakaian dan hanya terbungkus oleh selimut, yang kini telah diturunkannya. membuatnya bebas menyentuh tubuhku.
“sabtu sore ayo kita pergi kebioskop bagaimana?”
Ajaknya padaku, sudah beberapa kali rencana kami untuk pergi nonton itu gagal karena banyak mahasiswa yang juga menonton film disana, karena itu kami selalu mengurungkan semua rencana kencan yang ingin kami lakukan di tempat umum.
“yakin? Kalau ada mahasiswa yang lihat gimana?”
Tanyaku padanya,
“abaikan itu, lagi pula tak akan terjadi apapun jika sampai satu kampus tahu, lagi pula kita tidak sedang berselingkuh juga”
Jawabnya santai, benar apa yang dikatakannya. Aku memang tidak sedang berselingkuh ataupun menjalin hubungan terlarang karena pak alex juga belum beristri, hanya saja ini bukan sebuah hubungan yang pantas pikirku, aku banyak berpikir apa dan bagaimana dampak dari hubungan ini.
“tapi aku belum siap untuk itu, maksudku hubungan ini, dan reaksi banyak orang, aku takut akan mengahancurkan image juga karir pak alex”
Balasku, ia hanya menatapku, mengangguk mengerti apa yang menjadi ketakutanku,
“lagi pula menjalani hubungan seperti ini, sembunyi-sembunyi bukankah lebih menantang, sensasinya berbeda”
Ungkapku yang berhasil membuatnya membulatkan mata
“jadi kau menikmati saat-saat aku begitu kesal saat ada pria lancang yang menggodamu karena tak tahu kau sudah dimilki, betapa kesalnya aku sampai ingin mengumumkan pada satu dunia bahwa kau itu miliku, tahu itu?”
Perkataanya berhasil membuatku tertawa, begitu menggemaskan dirinya saat sedang kesal itu.
“bukan itu maksudku, api cinta saat diam-diam memperhatikan, memikirkan, merindukan tak terbendung hingga kita selalu bisa mencuri waktu kapanpun, dimanapun kita bisa saling mencumbu dikuasai nafsu”
Sekali lagi perkataanku membuatnya terperanga tak percaya
“bagaimana kau bisa seliar ini, gadis lihat aku, kau sungguh ingin menjadi seperti seorang kekasih gelapku”
Ungkapnya tak percaya dan aku hanya terkehkeh
“dengarkan penjelasanku, menjadi seseorang yang tergila-gila dimabuk cinta yang tak peduli resiko dan kerugiannya, terdengar seperti berselingkuh. tapi disitulah menariknya. ketika kita hanya memiliki waktu sepuluh menit untuk bersama dan ruangan sempit yang ada, kita akan tetap mengejarnya. Diam-diam menghubungiku, mencuri-curi pandang dikelas untuk melihatku, melewatkan jam makan hanya untuk menemuiku, melakukan apa saja menerobos semua rintangan hanya untuk bersama denganku, seperti terobesesi, bukankah pak alex juga menikmati itu?”
Mendengar ceritaku, senyumnya mengembang seperti kegelian sendiri teringat akan ulahnya,
“benar, terdengar salah tapi ketika aku berbohong mengenai menghilang saat makan siang atau saat kelas hanya untuk menemuimu, berkata ada agenda seminar hanya untuk bercinta dengamu, diam-diam memegang tanganmu ditengah kerumunan dan mencari ruang tersembunyi untuk sekedar mencium bibirmu, aku sangat sadar semua yang kulakukan karena aku begitu menginginkan dirimu dan kau sungguh berharga untukku gadis”
Pengakuannya membuatku mencubit pipinya itu,
Jujurku, terkadang terlintas dipikiranku bahwa dicintai sebagai seorang wanita simpanan jauh lebih membuatku nyaman, dari pada telah disahkan menjadi wanita seseorang dari sebuah status pernikahan. Bahkan banyak cerita yang diagungkan karena sebuah cerita cinta yang tak lazim, terlarang, menegangkan, namun pada akhirnya mangharukan setelah melalui semua pengorbanan.
Seorang perempuan dari kekasih seorang pria, istri dari seorang suami memang sudah tertera hak disana untuk dicintai. Namun jika itu adalah sebuah perasaan yang tak terkendali, begitu saja terjadi, tak peduli seberapa buruk hal yang menanti, namun tetap ingin memiliki, bersama sepanjang hari, tanpa syarat yang menjadi ciri, mengganggu hati, mengganggu tidur disetiap malam, tak tahan untuk menghampiri, melupakan dunia yang kau miliki, hanya untuk cinta seseorang yang tak kau ketahui.
Cerita cinta seperti itu selalu membuatku tertarik, terdengar kotor untuk dicintai seperti wanita simpanan tak terhormat seperti wanita bangsawan. Aneh, kutahu mungkin jadi bahan kritik, namun disatu titik aku menyadari aku hanya ingin sebuah cinta, cinta yang nyata tanpa sebuah pembicaraan, perencanaan, kebohongan, hanya menjadi tergila-gila untuk mencintai, membiarkan semua perasaan dihati tumpah, apa adanya. Mungkin karena itu pula selingkuh itu ada digilai banyak manusia dan tak pernah tiada dari dunia.
“kuakui aku sangat terobsesi padamu, selalu menginginkanmu lagi dan lagi”
Lanjutnya, kepalanya ia sandarkan didadaku, hidungnya menghirup dalam kulitku, mencium kecil-kecil disana, dan itu selalu berhasil membuatku geli. Sungguh.
“termasuk membuat kismark didadaku, emh? Hentikan itu aku geli”
Protesku, tanyaku atas aksinya yang tengah bermain-main didadaku.
“ini adalah hobi baruku, aku sangat menyukainya, wangi tubuhmu, d**a ini, lembut dan kenyal kulitmu, ini sangat candu, gadis”
Mendengar jawabannya, tawaku pecah bagaimana itu bisa dijadikan sebuah hobi,
“ada-ada saja, bagaimana itu bisa jadi hobi”
Balasku,
“jangan menertawakanku, lagi pula salahmu memiliki d**a seindah ini. bagiku ini adalah hobi paling menyenangkan dan ekonomis, tak sulit dan membuatku bahagia, itu alasan yang cukup untuk dijadikan hobi favoritku”
Mendengarnya aku tercengang, kucubit kucil perutnya, membuat ia bangun terduduk didepanku,
“apa, sakit tahu kau cubiti aku seperti itu”
Ia merajuk rupanya, tangannya balas menggelitiku, mendorongku untuk tertidur, menindihi tubuhku memelukku erat,
Bibirnya mengecup ringan mataku, mengusap lembut puncak kepalaku,
“I love you, I love you so much gadis, you’re my everything”
Manisnya perketaannya, membuatku semakin mengeratkan pelukanku padanya. Sudah pukul 2 dini hari tak terasa, malam semakin dingin selimut ia naikkan hingga menutupi tubuh kami.