Setelah beberapa semester aku tidak mendapat kesempatan untuk pulang kerumah ayah dan ibu, akhirnya libur akhir semester setelah ujian selesai kuputuskan untuk menghabiskannya dikotaku.
Menelusuri jalan pulang menuju rumah, rasanya seperti menghidupkan kenangan lama. kuingat bagaimana aku selalu berjalan dengan malasnya menuju gerbang sekolah yang kulewati kini. toko kelontong tempatku menunggu kakakku menjemputku dan memebelikanku es loli disana, dan kini sampai dipagar rumah, banyak yang berubah kupikir. Terlihat jauh lebih mewah, dengan desain yang mengikuti mode rumah masa kini, bukankah itu pertanda bahwa keluargaku menuju kesejahteraan yang lebih baik lagi dari sebelumnya.
Kudapati berita bahwa ayahku akan memasuki akhir masa jabatannya sebagai gubernur kini, penyerahan jabatanpun akan dilakukan dalam beberapa minggu kedepan karenanya aku pulang untuk menemuinya, mungkin memberinya kata-kata seperti, “kerja bagus, ayah sudah melakukan yang terbaik dengan posisi itu”
Kubuka pintu, tahu semua orang sibuk namun sungguh rumah ini sepi sekali. aku bertanya dimana ibuku dan kakakku, tak bertanya dimana ayah karena memang kutahu ayah pasti dirumah dinasnya bersama para kolega tegah disibukan dengan setumpuk dokumennya. Kakiku yang sudah lelah setelah perjalanan panjang sebelum melangkah masuk menemui kamarku yang lama kutinggalkan, kupikir akan lebih baik menemui ibuku dahulu, menyapanya dan sampailah kini aku di depan pintu kamarnya, memegang pegangan pintu dan siap membukanya
“gadis, jangan masuk ibu sedang ada tamu”
Suara tenang dan berat itu mengehentikanku. Kubalikan tubuhku dan disanalah kakak tampan yang selama ini kurindukan.
“kak Gerald”
Panggilku, menghamburkan diri dalam peluknya, tak memperdulikan lagi siapa tamu yang malam-malam berada dalam kamar ibu.
“kukira kau melupakan rumah atau lupa cara pulang”
Sindirnya padaku.
“jangan bicara begitu padaku, kau tahu seberapa besar inginku untuk pergi menemuimu”
Balasku. ia membawaku berjalan menuju meja bar yang ada didapur. Duduk disana, kak Gerald lantas menuangkan segelas minuman berwarna oranye cerah dan diberikannya padaku.
“minum ini, tunggu akan kumasakan sesuatu untukmu”
Ucapnya padaku, dengan senyum dengan mata sendunya.
Berbalik memotong sesuatu disana. aku menyeruput jus jeruk yang disajikannya. Punggungnya yang kulihat begitu luas dan kokoh. Kuedarkan pandangan pada sekeliling. Bertanya kemana semua orang, dan meski tak banyak bertanya mengapa kak Gerald mau berepot diri memasakkan untukku. Mungkin ini service specialnya dariku
“kemana semua orang kak? Sepi sekali”
Tanyaku. Tetap keluar dan kutanyakan akhirnya karena sangat penasaran.
“ah ini sudah lewat dari jam 9. Sejak awal tahun kita membatasi jam kerja pembantu dirumah untuk bekerja hanya dari waktu persiapan sarapan dan berakhir setelah jam makan malam, belakangan ada isu sensitive soal PRT yang juga salah satu rancangan undang-undang yang sedang partai ayah ajukan”
Panjangnya, mendengar semua itu. aku baru sadar, dengan semua perubahan bahkan tak begitu lama sejak kutinggalkan, apakah masih ada yang lebih besar yang belum kuketahui.
“begitu ya, kak IPS ku kali ini sempurna lagi, belikan aku hadiah”
Pintaku padanya, membuatnya berbalik, dan mendelik.
“jadi kau mendapatkan nilai itu hanya untuk mendapat sebuah hadiah”
Balasnya. Akupun semakin bersemangat untuk meminta sesuatu darinya, meski belum tahu apa yang kuinginkan itu, hanya saja sudah lama rasanya tak mengahabiskan waktu dengannya untuk membeli sesuatu bersama.
Berjalan menghampirinya yang tengah disibukan dengan masakannya.
“oh ayolah, aku tak akan meminta yang mahal kok, hanya satu bingkisan saja ditambah dengan jalan-jalan ditaman hiburan ya”
Ajuku, menambah daftar inginku padanya. Memang hanya padanyalah aku bisa berlaku bebas demikian, ah jangan lupakan pria yang saat ini kutinggalkan. Aku beruntung dikelilingi oleh pria tampan yang tuhan ciptakan.
“baiklah, cicipi ini”
Mengiyakan, dan menyuapiku dengan sesendok sup untuk merasakan pas tidaknya masakannya.
“ehmm ini enak, beri keju yang banyak diatasnya”
Pintaku lagi. itu adalah sup kentang dengan parseli, yang disiapkan dengan roti kering. Ada juga pasta buatannya. Terlihat menggiurkan.
“kau ini pulang menjadi bawel dan banyak minta seperti ini”
Balasnya padaku, mungkin benar aku menjadi seperti itu, maklumilah selama ini aku menghemat uangku, hanya memebeli kebutuhan yang penting-penting saja, meski tak ada yang meminta, aku sedikitnya belajar mengatur keuanganku,
“apa uang yang ayah kirimkan kurang? Kakak bisa tambahkan untukmu”
Lanjutnya lagi. berbeda dengan apa yang dikatakannya ayah memberiku lebih, bahkan tanpa kumintai selalu memberiku lebih diakhir bulan, tak lupa juga selalu menghubungiku mengapa kartu kredit yang diberikannya tak pernah kugunakan.
“tidak, bahkan ayah memberiku lebih banyak akhir-akhir ini”
Jawabku, hanya mendapat anggukan membuat raut khawatirnya hilang. Belakangan kuperhatikan ayah memang lebih perhatian, selalu menghubungi dan memastikan aku hidup cukup dan menjaga kesehatan selain bagaimana perkembangan perkuliahan.
Hening kemudian, apa ada yang salah disini. Kupikir ada sesuatu dengan wajahnya, meski tersenyum dan berusaha menyambut hangat diriku, namun semuanya terasa dipaksakan.
Masih berusaha kuabaikan. Pura-pura saja tak menyadarinya, mungkin ia memilki hari yang berat.
Selesai makan malam, aku bermain dikamar kakakku. Semuannya tampak sama, tak ada perubahan yang begitu ketara laptop yang selalu dimeja, dengan berkas pekerjaannya, deretan buku yang tertata diatas rak buku, tempat tidur yang selalu rapi, dengan pilihan yang selalu warna hitam dan abu, memberikan kesan sejuk dan elegan yang entah bagaimana sekaligus menunjukan sisi pria dewasanya, maksudku terlihat lebih manly.
Dimejanya hanya ada fotoku dengan dirinya, ada satu foto yang terjatuh, tertutup itu. kunaikan rupanya foto keluarga yang kupikir tak sengaja terjatuhkannya.
“kakak masih sendiri ya? Maksudku tak sedang mengencani seseorang?”
Tanyaku, karena disini tak ada sesuatu berbau wanita lainnya, hanya tentang keluarga dan pekerjaan, ah disana ada tongkat pemukul baseboll dan bolanya yang ditandatangani oleh salah satu pemukul LG yang disukainya dan ayah.
“ehm, aku sibuk jadi tak sempat”
Jawabnya singkat. Dan mengeluarkan kotak dari laci meja kerjanya.
“ini untukmu”
Ucapnya kemudian padaku, warnanya putih dengan pita yang menghiasinya. Aku membulatkan mata, berhasil ia memberikan kejutannya untukku, hadiah yang tiba-tiba saja ia berikan untukku.
Langsung saja kubuka, semakin aku tersentuh dibuatnya, kalung dengan berhiaskan tetesan air berwarna bening disana, ada satu permata putih didalamnya, indah sekali. Refleksku menutup mulutku tak percaya dengan apa yang kulihat didalam kotak itu.
“ooh kak Gerald ini indah sekali, terimakasih”
Ucapku kemudian memeluk dirinya.
“jadilah anak baik, ingat itu, apapun itu dunia yang menunggumu didepan sana kuharap kamu akan bisa menghadapinya, dengan lebih dewasa”
Ucapnya, penuh harap didalamnya untukku,
Aku sangat terharu, tanpa sadar air mataku jatuh, tak menyangka akan mendapat hadiah istimewa seperti ini begitu aku pulang.
“jadilah gadis kuat, sayang”
Lagi, saat aku menatapnya, masih dalam peluknya. Jari-jarinya mengusap air mataku. Aku menangis namun senyum mengembang dibibirku.
Aku hanya balas mengangguk, namun air mataku tak kunjung surut, aku masih larut akan sikap manisnya,
“ah sepertinya aku salah memeberikan hadiah, kalung ini malah membuatmu menangis bukan bahagia kuambil lagi saja bagaimana?”
Perkataannya padaku, membuatku menggenggam gantungan cantik kalung pemberiannya. Takut-takut jika ia ambil kembali.
“istirahatlah kakak masih ada pekerjaan yang masih belum selesai”
Ucapnya, saat aku melepaskan pelukanku.
“aku ingin tidur disini, jadi temani hingga aku tidur”
Pintaku, kepalang. hari ini aku hanya ingin dimanjakannya hingga akhir aku menutup mata. mungkin juga sebuah kebiasaan, karena selama ini aku tak pernah lagi tidur sendiri, Pak Alex selalu menemani aku tidur.
“iya-iya, berbaring disana”
Balasnya, membawaku menaiki tempat tidurnya, membenarkan posisi bantalku, menyelimutiku, dan berbaring disampingku.
“tidurlah, kau pasti lelah”
Ucapnya, mengecup puncak kepalaku, kemudian mengusap-usapnya pelan.
Aku yang berbalik, tidur memiringkan tubuhku, menghadapnya. Menatap wajahnya yang kini sedang sama menatapku.
Perlahan akupun terlelap, disampingnya.
#
Nyenak aku tidur, tak sadar kulihat waktu diponselku sudah menunjukan pukul 9. Mataku mencari sosok yang semalam meninabobokanku. Kak Gerald sepertinya sudah sejak pagi berangkat. Bekerja sebagai pengacara untuk firma hukum ternama, membuat kakakku sibuk dengan sejumlah dokumen, sangat menyita waktunya bahkan dihari liburnya sekalipun.
Kuturunkan kakiku, memakai sandal rumah dan berjalan turun kelantai pertama untuk menyapa ibuku yang semalam tak sempat aku menemuinya.
Santai aku melangkah menuruni tangga. Ada yang janggal disana. Seorang pria membuka pintu kamar ibuku, keluar dari dalam. Perlahan, masih kuperhatikan dari kejauhan. Ibuku ternyata keluar pula dari sana. Telah berpakaian rapi.
“ibu”
Panggilku, seseorang yang sadar tengah kupanggil sebutannya itu, sedikit membelalakan mata, setelah dilihatnya siapa yang tengah turun menuruni anak tangga rumahnya.
“gadis, kapan kamu sampai”
Sapanya, langsung bertanya soal kedatanganku.
“ah semalam, karena lelah aku jadi baru bisa menyapa, maaf bu”
Bohongku, jelas karena ada alasan seorang yang mengganggu hingga mengurungkan niatku.
“oh begitu, kalau begitu makanlah lebih dulu, setelah itu istirahatlah lagi”
Ucapnya padaku, mataku kini melirik dirinya yang berada disisi ibuku, berdiri disana bersiap untuk pergi sepertinya, karena pakaian rapi yang juga ibu kenakan dan jangan lupakan tas yang tangah ditentengnya.
“oh ini, pengacara lee, Andy lee. Ada yang harus ibu selesaikan dengannya”
Aku hanya memberinya seulas senyum,
“sepertinya kita undur jadwalnya ke hari esok saja, karena gadis pulang jadi tak mungkin kubiarkan dia sendirian”
Ucap ibuku, sepertinya membatalkan janjinya.
“tak apa bu jika memang sudah ada rencana, aku bisa istirahat saja”
Ucapku, takut jika kepulanganku hanya mengganggu rencana yang dimilkinya.
Ibuku hanya balas menggelengkan kepala. Dan sepertinya pengacara itu juga patuh kepadanya, lantas pergi, mengangguk begitu saja.
Setelah jauh pergi, ibuku memelukku, mengecup pipiku, rindu sepertinya.
“Tunggulah diruang keluarga, ibu akan berganti pakaian sebentar.”
Ucapnya, Aku iya iya saja, senang akhirnya bisa bertemu kembali, seolah mendapati diriku yang lama, gadis kecil ibuku.
Menyalakan televisi, namun tak jelas apa yang ingin kutonton, masih terganggu pada pengacara muda tadi. Iya, kutebak dirinya masih sangat muda, bahkan mungkin saja berumur sama dengan kak Gerald.
Penasaran aku berjalan memasuki kamar ibuku. Kubuka pintu. Ibuku sudah siap rupanya, duduk didepan cermin riasnya, sedang melepas anting-antingnya.
Kulihat ada bercak merah dibawah daun telinganya. Tahu aku memperhatikan, langsung saja ibuku membenarkan rambutnya yang dibiarkan jatuh kedepan.
Mengganggu pikiranku karena aku mengenal tanda itu, pada titik itu pula karena belakangan akupun mendapatkan tanda seperti itu ditubuhku ulah kekasihku. namun ibuku, bukankah ayah akan sangat sibuk untuk melakukan itu, maksudku sudah lama ayah tinggal dirumah dinasnya bahkan kutahu dirinya hanya akan pulang saat semua pekerjaannya selesai.
Aku menggelengkan kepala berhenti untuk berpikir yang tidak-tidak.
Aku menghampirinya, memeluk dirinya yang masih terduduk. Sama mengahadap cermin didepan, menatap pantulan wajah masing-masing.
“ibu sudah berumur 40 tapi masih seperti berumur 20, bagaimana ibuku bisa secantik ini”
Pujiku akan kecantikannya, mendengar itu, yang dipujinya malah balas memukul tangan yang kulingkarkan dibahunya, pelan.
“ayo ibu buatkan sarapan untukmu, ini sudah siang apa kau selalu bangun telat dan makan tak teratur begini selama jauh dari rumah”
Ucapnya, curiganya padaku, bahwa aku tak hidup dengan teratur. Kembali “bangkitnya” diri ibuku, inilah sosok sipengatur hidupku.
Aku berdiri tegak kemudian, tegang seperti seseorang yang sedang diinvestigasi saja.
Buru-buru aku pergi lebih dulu sebelum aku mendapat lebih banyak lagi.
“gadis, jawab ibu”
Sedikit berteriak ibuku memanggil namaku, yang juga mengikutiku.
Sampai diruang keluarga, tebak siapa yang berdiri disana,
“ayah”
Panggilku padanya, baru sampai sepertinya, masih dengan setelannya dan tas yang belum diletakanya.
Direntangkan tangannya, siap menerima peluk rindu dari putrinya.
“kau ini, tak pernah rindu pada ayah? Sampai baru pulang”
Ucap ayahku ditengah berpelukan itu. ayahku masih tampan. Meski mulai ada kerutan diwajahnya. Matanya sepertinya sama kelelahan karena pekerjaan.
“miss you”
Ucapku, begitu.
“karena berkumpul begini, ayo kita makan bersama”
Usul ibuku, yang juga ikut kuraih tangannya untuk tak kubiarkan sendiri dan sama kurangkul.
Duduk bersama, menunggu makanan tiba.
“jadi bagaimana psikologi, ada kesulitan disana”
Tanya ayahku,
“tidak ada, aku baik-baik saja”
Jawabku, hanya ingin memutuskan pembicaraan masalah perkuliahan hingga disitu saja, tak ingin berpanjang-panjang aku bercerita, atau mulut ini akan kebablasan berbicara tentang dosen yang kukencani sejak lama.
Dan beruntunglah saat itu makanan tiba. Dan ponsel ayahku berdering, kak Gerald katanya.
“ehm, kami sedang makan bersama, jadi kenapa kau tak disini untuk ikut makan bersama juga”
Langsung saja percakapan anak dan ayah itu.
“oh, iya. Bagus kita bisa pesta berbeque nanti malam untuk merayakan kepulangannya”
“ya, biar ayah atur semuanya”
Begitulah telpon itu ditutupnya.
Aku yang sejak tadi mendengarkan, tahu dan sadar apa yang menjadi topik pembicaraan. Perayaan dan pesta kepulangan. Tentu saja itu semua untukku.
Ayahku melirikku, menatapku dengan senyum diwajahnya.
“kita rayakan nanti malam”
Ucap ayahku akhirnya.
Aku hanya tersenum bahagia, bertepuk tangan pelan bersemangat menyambut pesta nanti malam.
Seharian itu, aku hanya mengahabiskan waktu bersama ibu juga ayahku. Memotong buah sebagai penutup makanan bersama ibu, memabaca buku, bercanda bersama ayahku, hingga disore hari semua persiapan meski telah diurusi oleh para pembantu, namun aku, ayahku masih menunggu, mengawasi dan menyaksikan semua prosesnya.
“jadi, siap berpesta malam ini”
Ucap kak Gerald begitu sampai diambang pintu rumah, dengan beberapa botol wine ditangannya.
“wah, kakakmu memang tahu bagaimana caranya berpesta, malam ini kali pertamanya kau boleh meneguk wine, ini akan jadi sejarah untuk hidup gadis rupanya”
Ucap ayahku, akhirnya usiaku kini sudah 20 tahun tepatnya empat bulan lalu, namun tak berkempatan untuk meneguknya saja, makanya tak pernah aku mencoba meminumnya.
“oooh, aku antusias karena kalian”
Ucapku, sangat sangat antusias.
Dan waktu yang ditunggu akhirnya tiba, disanalah ayahku berdiri, memanggang beberapa daging dengan kakakku, aku dan ibuku hanya tertawa, sibuk memainkan kamera ingin mengabadikan momen langka ini. semua orang terlihat begitu bahagia.
“kak aku pinjam kameramu, punyaku analog sedikit rumit ibu tak bisa menggunkannya”
Ucapku, bermaksud meminjam kameranya.
“oh itu dibelakang meja kerja, ada lemari kamera disana, ambilah”
Balas kakakku, langsung saja aku berjalan memasuki rumah karena pestanya dihalaman depan rumah jadi lumayan jauh, akupun sedikit terburu-buru tak ingin meninggalkan pesta berlama-lama.
Sampai dikamarnya, kutemukan tempatnya disana, kubuka dan mulai kunyalakan.
Ada rasa penasaran apa saja isi jepretannya. banyak foto pemandangan, Hanya soal liburannya.
namun sejak kapan dirinya memiliki waktu senggang hingga pergi ke banyak tempat seperti ini. semakin jauh kulihat, ada yang tak beres dengan setiap gambarnya. Itu lebih seperti foto perjalanan seseorang yang dengan sengaja diabadikannya, terlebih bukan dirinya yang ada disetiap foto melainkan kegiatan seseorang yang tak kukenal sosoknya.
“sepertinya kamera yang satunya, ini mungkin yang sering digunakan untuk pekerjaannya”
Pikirku, namun aku tahu yang kutinggalkan didalam, lensanya tak terpasang.
Dan apa yang mengejutkanku digambar selanjutnya, adalah sosok wanita yang sepertinya aku mengenalnya, itu adalah foto guru pianoku dulu,
Mengapa banyak sekali foto-fotonya, bahkan dibanyak momen yang berbeda. Pikirku untuk apa ia menyimpannya.
Apa kakakku menyukainya.
Namun gadis muda itupun sepertinya difoto selalu dengan balitanya. Anaknya, kupikir, karena wajah keduanya terlihat sangat mirip.
Dan difoto terakhir yang membuatku tak habis pikir adalah apa yang ayahku lakukan disana, foto itu menunjukan ayahku keluar dari dalam mobil, semakin cepat aku memindahkan pada foto selanjutnya, terasa seperti rekaman kejadian.
Momen yang tak akan pernah kupercaya keberadaannya. Peluk ayahku pada wanita itu, juga tengah menggendong balita itu dengan raut bahagia, lalu masuk bersama kedalam rumah yang entah kuketahui siapa pemiliknya.
Ini gila.
Dan lagi semakin aku ingin mencari penjelasan atas apa yang baru saja kutemukan. Mencari-cari, dan kutemukan amplop didalam. Ada beberapa berkas disana, akta kelahiran disana, Fablo Dominic namanya, bersama nama ayah, Jhonatan Albert tertera jelas disana, berikut dengan beberapa foto lainnya, foto kebersamaan wanita itu dengan ayahku.
Ada apa ini, bagaimana ini bisa terjadi, aku tak mengerti. Bagaima kak Gerald bisa menyembunyikan ini semua dariku, bagimana jika ibu mengetahui semua ini.
Mataku memanas, ingin aku menjerit tak kuasa menahan kekecewaaan dihatiku.
Kucari beberapa tumpukan berkas dimejanya.
Tak bisa kutemukan apa yang kuinginkan pada berkas-berkas yang kini sudah kubuat berserakan. Berakhir pada laci-laci dimeja kerjanya. kubuka, hanya surat-surat biasa, dan berakhir pada satu terakhir yang ia kunci. Berpikir keras untuk mencari dimana kak Gerald biasa meletakan kunci. Dan kutahu karena sudah menjadi kebiasaan lamanya menaruh benda-benda kecil dikotak yang biasa ia simpan bersama dengan deretan koleksi jamnya.
Dan yah disana, kutemukan langsung saja kubuka. Dan kulihat didalam. Banyak foto, surat penyataan, bahkan tuntutan dan perjanjian disana.
Ada apa ini. bahkan terselip diantaranya, foto mabuk ibuku tengah bersama laki-laki lain, dan salah satunya yang terasa tak asing
“oh s**t ini pengacara tadi.”
Umpatku tak percaya
Tuhan apa yang harus kulakukan, tanpa tahu keluargaku sudah berantakan. Dan kini apa yang sedang mereka lakukan, bersandiwara dengan hebatnya seolah tak terjadi apa-apa dihadapanku.
“gadis, kenapa lama sekali”
Tanya kakakku, sontak terkejut kemudian atas apa yang telah kutemukan, dilihatnya diriku yang sedang memegang semua hal yang selama ini coba ia sembunyikan,
Kamarnya yang kubuat berantakan, kak Gerald sangat kaget dan langsung menghampiriku.
“jangan mendekat, tetap disitu”
Hentiku pada langkahnya, masih kupandangi semuanya berharap mendengar penjelasan yang masuk akal, lebih tepatnya sebuah penyangkalan.
Kumohon katakan ini tak benar.
“gadis-“
Panggilnya dengan nada lirih, dadaku terasa sakit berat, napasku tercekat.
“katakan semua ini hanya kebohongan”
Ucapku selanjutnya, padanya, kulempar semua lembaran foto beserta semua surat-surat yang berisikan kebejatan orang tuaku. tak kuasa untuk tak kuluapkan semua kemarahan dan kekecewaan harus mengetahui kenyataan pahit keadaan keluargaku.
“gadis”
Sekali lagi, kakakku tak bisa berkata hanya bisa memanggil namaku.
“berhenti memanggil namaku, jelaskan padaku apa yang terjadi sebenarnya, bagaimana kalian bisa setega ini padaku”
Pecah sudah tangisku, setelah berteriak padanya berkata begitu.
Kakakku yang tak kuasa melihatku, langsung saja memelukku,
Kesal, sangat. taka da kata yag bisa menggambarkan betapa sakit hati yang kini kurasa.
“kenapa, kak, kenapa..”
Kataku, tanyaku, disela-sela tangisku. Memukuli dadanya, mencoba berontak meski tahu tak dapat mengubah satupun yang sudah terjadi.
“gadis, maafkan kakak tak dapat menjaga keluarga kita tetap utuh, maafkan kakak”
Maaf kakakku, yang kutahu bukan salahnya, bukan pula maunya semua ini terjadi. Kakakku semakin mengeratkan peluknya padaku, mengusap punggung diriku yang menjadi sangat rapuh.
“gadis, hidupmu belum berakhir, kau harus kuat, ada kakak yang selalu ada untukmu”
Ucapnya mencoba menenangkan, getar dalam kata-katanya. Tak kuat lagi menahan tangis sedihnya, ditambah harus menyaksikan aku yang kini sangat terluka dalam peluknya.
tangisku yang malah semakin menjadi, tak ingin menerima semua kenyataan ini. aku tak ingin keluargaku hancur seperti ini.
tak tahu apa yang terjadi selanjutnya, aku yang sudah tak memilki tenaga, menangis dan memejamkan mataku. Kehilangan kesadaranku.
Saat kubuka mata, aroma disinfektan kuat dan tanganku terasa sedikit pegal dan kebas, ada selang yang terpasang kulihat.
“gadis kau sudah sadar?”
Ucap kakakku, begitu keluar dari balik pintu kemudian menghampiriku, memastikan keadaanku.
Air mataku jatuh, kembali.
“gadis, kau tak apa? ada yang sakit? dimana?”
Menghujaniku dengan banyak pertanyaan.
“kakak”
Panggilku padanya, dan lagi tangisku kembali.
Kakakkupun merespon hanya dengan memelukku, dan air matanya yang entah kenapa ikut jatuh. Tahu begitu, semua hal, kejadian, dan ingatan dalam pikiranku yang masih sedikit harapku itu hanya mimpi burukku.
“gadis, kau akan baik-baik saja, tak apa, semua akan baik-baik saja”
Ucapnya lagi padaku.
“kak ayah-“
Ucapku padanya, yang dihentikan oleh jari telunjuknya yang ia dekatkan pada bibirku.
“nanti, nanti saja kita bicara soal itu, kau harus kembali sehat dan kuat dulu untuk itu”
Ia hanya terus memelukku, menenangkanku, berharap bisa memberiku sedikit kekuatan disana, pikirnya.
Setelah itu dokter datang memeriksa keadaanku, aku mengalami syok berat, dan rupanya aku dilarikan ke ICU malam itu. tak sadarkan hingga 2 hari lamanya, dan hari ini baru aku terbangun, tak bisa melakukan apa-apa.
ibu ataupun ayahku sepertinya sudah tak memilki muka untuk menemuiku. tak peduliku, mungkin mereka terlalu sudah sibuk dengan hidupnya.
Namun, kutahu mereka ada diluar ruanganku. Masih kudengar suara mereka, jelas dan tegas bagaimana mereka bertanya mengenai keadaanku.
Segalanya tampak menjijikan, tak ada lagi ingin aku bertemu, aku butuh waktu untuk menerima semua ini. sangat memilukan.
Malam harinya aku keluar dari rumah sakit, meski semula tak dapat izin dokter, namun dengan memastikan aku mendapatkan cairan infus saat pulang, akhirnya aku bisa.
Tak kerumah ibu dan ayah. Aku dibawa ke apartemen kakak, yang selalu ia pakai saat-saat tertentu, terkait pekerjaan sepertinya.
Tak pernah jauh dari sisiku, kakakku selalu memegang tanganku, menjaga pandangnya selalu padaku, memastikan adiknya ini ada dalam penjagannya.
“kakak selalu berharap, kau jadi wanita yanga kuat”
Harap kakaku, kemudian
Aku menunduk, tak yakin bisa memenuhi harapnya itu. aku tak tahu apa aku bisa menerima dan memaafkan kedua orang tuaku.
Yang kutahu kakakku menjagaku dari kedua orang tuaku, sedikit menjauhkanku, memberikan sedikitnya ruang dan waktu untukku bisa menerima keadaanku.
“tak apa, jika sekarang kau marah dan sedih, tapi kakak harap itu tak lama, karena hidupmu masih panjang, dan kita selalu bisa melewati itu”
Lanjutnya. mengusap rambutku, memaksakan senyumnya padaku.
“bagaimana..
Bagaimana bisa kakak melalui semua itu..
Bagaimana kakak bisa menerima semua itu”
Tanyaku, dengan air mata yang selalu menyertai disetiap kata yang keluar dari mulutku.
“kakak masih memilikimu, karena itu kakak harus kuat menerima semua itu, untukmu, untuk menjagamu. Hanya dirimu yang kakak miliki saat ini, wanita yang masih sangat ingin kakak cintai, setelah ibu meruntuhkan semua rasa hormat kakak padanya, tak banyak yang tersisa untuknya. Kini hanya dirimu gadis,”
Jujurnya padaku, tahu itu tak hanya berat untukku, namun juga sangat menyiksa baginya.
“ayah sudah lama menikahi wanita itu, Sheril namanya kau ingat? Dia mengajarimu piano saat sekolah menengah, kupikir disanalah hubungan ayah dengannya juga berawal, dan ibupun kepalang kecewa dengan sikap ayah hingga hilang arah. depresi mulanya, ketergantungan obat penenang kemudian menjadi selalu mabuk dan menghabiskan malam dengan pria bayaran disebuah club dijadikannya pelampiasan. mereka tampaknya sangat..”
Tak menyelesaikan ceritanya. Hanya memandangku yang menatapnya tak percaya.
Bagaimana bisa
Air matanya jatuh seketika. Untuk pertama kalinya aku melihat dirinya, sisinya yang tampak sangat terluka.
Kuhapus air mata dipipinya.
“kak, jangan tinggalkan aku, karena akupun tak akan pernah meninggalkan kakak, hanya kakak yang tersisa dalam keluarga”
Pintaku padanya. Ia tersenyum padaku, mengangguk. Tanganku yang masih diwajahnya, digenggamnya erat, mengeluarkan jari kelingkingku, dan mengaitkan dengan miliknya.
“kakak janji padamu”
Aku kembali memeluknya.
Tidur selalu seperti itu setiap malam, tak ingin aku ditinggalkannya sendirian. Bahkan pekerjaannya yang selalu dikerjakannya dirumah, tak pernah sekalipun ia keluar, hanya selalu menemaniku sepanjang hari.
Semuanya berjalan sangat lambat, entah mengapa semuanya sangat buram, suram sama muramnya dengan hatiku.
Liburanku hanya tersisa dua minggu lagi, dan mau tak mau aku harus kembali kekota aku berkuliah.
Kakakku berkata akan mengurus semua kuliahku jika memang aku ingin pindah, atau mengambil cuti sementara. Namun semuanya hanya akan membuatnya semakin terasa. rasa hancurnya hatiku, kecewanya diriku, jika aku hanya berdiam diri terus menerus dirumah, taka da penyalur, atau pengalih semua rasa sakitku.
Hingga akhirnya, kakakku akan pindah bersamaku hingga pekerjaan terakhir, sidang kasus yang akan ia menangkan dalam pengadilan mendatang.
Aku hanya harus terus bersamanya.