Gadis yang palsu

2687 Kata
Hari ini setelah kelas Psikologi Perkembangan Manusia selesai, satu kelas dibagi menjadi beberapa grup untuk melakukan presentasi, membahas sub bab pembahasan. Beberapa wajah tersenyum padaku, saat tahu mereka satu kelompok presentasi denganku bahkan kini kami berlima tengah duduk bersama untuk mencari materi bersama. Satu dan dua diantaranya hanya memainkan ponsel sedari awal pertemuan kelompok, tak focus pada pembicaran materi. Hingga akhirnya aku dengan sedikit gemas mulai menanyakan pendapatnya. “bagaimana jika kau ambil materi pembukaan, sebagai pengantar berikut penjelasan sebelum pada tokoh yang menjelaskannya” Saranku padanya, ia hanya menatapku, dan ponselnya mulai diletakannya kini. Kutahu dan sempat kulihat apa yang tengah menyibukannya sedari tadi lama media social seorang artis. “sepertinya aku tak bisa, karena itu berarti aku harus menyelesaikannya diawal sebelum yang lainnya, bahkan kini sebenarnya aku harus pegi lebih dulu” Ungkapnya, dengan membenarkan tasnya kemudian berdiri, bermaksud untuk berpamitan. Aku dan yang lainnya hanya saling menatap kemudian. “baiklah aku yang akan mengambil bagian itu, bersama dengan bagianku menjelaskan perubahan psikologis social perubahan adolescence” Akhirnya, karena tak ada yang mau. Jadilah aku. “kalau begitu aku pamit ya” Berbicara begitu, lantas pergi berjalan meninggalkan pertemuan. “gadis, bagiankupun sepertinya terlalu sulit menjelaskannya, karena materi yang kudapat hanya sedikit dari buku referensi ini. bisa bantu mengerjakannya kan?” Ucap pria yang tengah duduk tepat disamping kananku. Aku hanya mengiyakan setidaknya hanya ia yang antusias pada materinya, maksudku setidaknya membaca materinya. “baiklah, nanti biarkan materi presentasinya tetap seperti ini, dan materi penjelasnnya aku print out untuk kau bahas” Ucapku, yang mendengarkan tampak begitu senang, dan berdiri “kalau begitu, karena bagianku sudah aman, aku sepertinya juga harus pergi” Lagi, seseorang harus pergi lagi ditengah pertemuan presentasi, Aku menatap seorang wanita disana yang tengah duduk santai memakan cemilannya. Berharap ia bisa membantu diriku “aku sepertinya sebagai moderator saja, biar pembukaan presentasi dan kesimpulan aku yang mengambilnya, jadi semua kesimpulan perpembahasan kirimkan padaku” Mendengarnya berbicara begitu mudahnya, aku sedikit kehilangan kesabaran, entah bagaimana aku yang seperti sendirian merasakan kesulitan untuk presentasi kelompok. Dan entah bagaimana pula semuanya terasa aku yang memimpin disini, seolah akulah yang harus bertanggung jawab atas manusia-manusia ini. “bagaimana ini gadis” Tanya Kenan padaku, untunglah masih ada dirinya dikelompok ini. “devan menelponku” Tiba-tiba ia berkata begitu, memegang posel ditangannya “ohh Kenan jangan kau juga, kumohon hari ini saja bantu aku” Pintaku, menghentikan dirinya untuk tak pergi dari tanggung jawabnya seperti yang dilakukan temanku yang lain. “hahah aku hanya bercanda, bagaimana mungkin lagi pula mengapa kau mau-manya bersikap begitu pada mereka, maksudku sudah sepantasnya mereka sendiri yang mengerjakan, mengapa harus kau yang ambil alih tugas mereka” Ucap Kenan padaku, yang ada benarnya juga. “biarkanlah, setidaknya aku jadi lebih menguasai meterinya jika k****a secara menyeluruh berikut bagian mereka” Ucapku santai, kuharap bisa. karena kupikir ini akan menjadi sangat berat jika dilihat materinya yang sangat banyak. “memangnya kenapa jika kau tak menguasainya, aku saja santai-santai saja bahkan aku tak mengerti materinya, bukankah nanti dosenpun sedikit banyak menjelaskan kembali materinya, kupikir kau terlalu berusaha” Kalimatnya barusan, membuatku berkaca, memang benar aku demikian. hanya saja, jika aku tidak berusaha, jika aku tak tahu materinya aku takut akan sangat tidak aman, bagaimana jika nanti aku ditanya dan sial tak tahu jawabannya. “memang aku berusaha, aku tak ingin membuat semua kecewa” Jawabku, jujur. “kau selalu ingin lakukan yang terbaik, aku tahu. Tapi apa itu tak menyiksamu, bahkan aku sedikit berpikir tentang dirimu diawal apakah kau tipikal orang yang selalu ingin diakui, dari sisi kecerdasan, maupun kebaikan” Ungkapnya tentang kesan yang ia dapatkan dari diriku, benarkah aku demikian, benarkah kebaikan dan usahku hanya mereka nilai seperti itu, apa kini topengku telah sedikitnya mulai luntur, sehingga mereka bisa melihat wujud asliku. Yang selalu berusaha untuk menjadi baik. “tapi memang begitu adanya dirimu, kau itu selalu berusaha untuk menjadi yang terbaik” Lagi, tutupnya. Melemparkan senyum padaku. “apakah kau risih dengan sikapku yang seperti itu” Tanyaku, penasaran bagaimana dirinya menanggapi sikapku. “tidak, hanya saja aku berpikir kau ini akan sangat mudah untuk kumanfaatkan karena menjadi terlalu baik hahah” Jawabnya, dengan tawa diakhirnya. Aku langsung memukulnya pelan “kau ini, jahat sekali padaku” Ucapku padanya, dengan wajah yang kupasang sedikit kesal atas kata-katanya. Masih terpikir, jujur aku merasa terganggu tentang apa yang tadi dikatakannya, bagaimana jika semua orang kini mulai membenci sikap baikku, dan malah berbalik marah, menyadari apa yang menjadi tabiatku. Bagaimana jika sikap baik yang selalu kupaksakan itu malah menjadi boomerang pada diriku. Pertemuan itu diakhiri setelah materi semua sudah selesai kukumpulkan dan beberapa telah kutemukan setiap poin pembahasannya untuk dimasukan pada materi presentasi yang akan ditampilkan. Tak langsung pulang aku hanya berjalan ditaman kompleks apartemen, menunggu Pak Alex selesai dengan urusannya disekitar lokasi tempatku berjalan kini. Cuaca dibulan februari ini, cukup hangat dan tidak terlalu panas. Sore hari, matahari sudah hampir terbenam pergi, duduk dibangku taman disuguhkan pemandangan danau dengan angsa-angsa yang tengah berendam disana. berlatar orange senja, pria itu berjalan kearahku dengan membawa dua cup kopi, senyumnya yang mengembang. “ini untukmu, masih panas hati-hati” Ucapnya setelah duduk, kuraih kopi dari tangannya dan kusandarkan kepalaku dibahunya, tangannya yang menganggur setelah yang satunya ia gunakan untuk memegang cup kopi yang pada akhirnya ia letakan disamping tempat aku dengannya duduk, kini merangkulku, menggenggam tanganku. “ingin sekali kuminta pada tuhan untuk menghentikan waktu. berhenti didetik ini, momen ini” Kata-tanya, kepalaku bergerak gelisah didadanya, setelah Lelah dengan hariku mencari kenyamanan disana. “ah kita ambil foto dengan ponselku, ini akan sangat cantic” Tiba-tiba usulnya, dengan mengeluarkan ponsel dari sakunya, dan dilihatnya aku yang dirangkulnya kini dari layar ponselnya, tersenyum kami dalam layar yang tertangkap itu. diciumnya pipiku dan kamera itupun memotretnya dengan baik, banyak foto yang kami ambil, setelah selesaipun ia membuka galerinya untuk melihat hasil jepretannya baru saja. “cantiknya, kekasihku ini” Pujinya padaku. Kemudian ia mengarahkan kamera ponselnya lagi pada angsa-angsa yang tengah berendam di danau itu. “terkadang aku merasa iri pada angsa-angsa itu” Ucapku, melantur terbawa suasana, ia hanya memandangku sedekit menyiritkan dahi terheran dengan ucapanku. “kupikir mereka hidup apa adanya, tanpa memikirkan beban hidupnya, mengepakan sayap mereka dengan ringan, maksudku tanpa basi-basi, tanpa takut harus menjadi seseorang yang seperti apa, hanya menjalani hidup mereka mengepakan sayapnya, mengeskpresikan dirinya tanpa takut dipandang buruk oleh yang lainnya. Tak ada keinginan untuk menjadi hewan lainnya, hanya menjadi angsa. tak perlu pura-pura baik seperti diriku” ungkapku, tak sadar untuk pertama kalinya kukatakan isi perasaanku yang sesungguhnya padanya, ia menatapku, mencari maksud dari perkataaku. “bagaimana jika aku tidak sebaik diriku yang Pak Alex kenal, bagaimana jika aku mengecewakan dengan aku melakukan kesalahan dan tidak menjadi baik, tidak dalam perasaan yang baik dan kondisi juga situasi yang baik, seperti aku tiba-tiba menangis sejadinya, marah mengamuk dan meledak-“ Lanjutku yang tak selesai karena bibirnya tiba-tiba membungkamku, menghentikan racauanku. Mencium singkat bibirku. “aku mencintai dirimu dengan apa adanya dirimu, baiknya dirimu itu selalu ada dalam dirimu, begitu juga kurangmu, sedihmu, kesalmu, juga amarahmu, kesalahan yang mungkin sesekali kau lakukan, semua itu hal yang wajar karena kita hanyalah manusia biasa, sudah kukatakan padamu untuk tak memaksakan menjadi baik-baik saja saat dirimu memang tidak baik-baik saja, bahuku selalu ada untukmu bersandar saat sedih itu datang, pelukku selalu ada untuk menenangkanmu saat kesal dan amarah memenuhi perasaanmu, percayalah akan selalu ada orang yang selalu mencintaimu bagaimapun adanya dirimu” Air mataku jatuh begitu saja, hatiku luruh karena ucapannya, tak bisa lagi aku berkata, setelah semua perkataanya, “I love you, so much” Tak ada lagi kata yang bisa mewakili perasaanku, mengahamburkan diriku dalam peluknya, dalam dekapannya, senja itu menjadi saksinya, cintaku dengannya. # Hari presentasi Hampir berjalan 20 menit sejak moderator membuka presentasi, perasaanku tak baik soal ini. pemateri yang kini tengah membahas materi, terlihat gelagapan membawakan materi, seolah baru membaca apa yang telah kuberikan padanya. Memang materi pada akhirnya aku sendiri yang menyiapkan dan membagikannya di grup online. “jadi penjelasanmu ini merujuk pada teori siapa?” Tiba-tiba saja, dosen kami mengajar mengintrupsi begitu saja. Tahu itu, ketahuan sudah kalau kelompok presentasiku ini tak mempelajari materi sebelumnya. Dan yang ditanya sibuk membulak-balikan halaman mencari jawaban dari pertanyaan. Aduh bodohnya, padahal diawal ia menyebutkan sebagai pengantar. “ooh ..itu” Hanya dijawab seperti itu, kemudian matanya menatapku. Diikuti tatapan dosennya yang juga saat ini tengah menatap tajam diriku. “nona ashleey jawab pertanyaan itu” Perintahnya padaku. “penjelasan kondisi fluktuasi emosi atau ketidakstabilan emosi pada remaja mengacu pada Hurlock 1980” Jawabku kemudian, suaraku sedikit bergetar terdengar. Suasana berubah menjadi tegang. “jujur pada saya, siapa yang membuat materi presntasi siang ini?” Tanyanya, yang tepat sasaran, langsung ke titik dimana semuanya terasa seperti tertangkap basah sudah. “nona Gadis Ashleey, dari 3 pemateri sepertinya masih asing dengan materi presentasi kalian, bahkan seperti yang baru membaca materinya. Apakah anda sendiri yang membuat materi presentasi siang ini?” Lanjutnya. Aku hanya menghela napas berat, tak sanggup lagi aku berkata. Sepertinya aku akan mati siang ini. “Ahsleey, saya tahu anda sangat pintar dan baik. tapi kepintaran dan kebaikan anda kali ini tidak dapat dibenarkan. Tujuan dari pembentukan kelompok diawal adalah supaya anda bisa bekerja sama, bukan menelan semua tugas sendiri saja” Terdengar sangat menyakitkan dihatiku. Aku menelan ludah tak percaya semua kata-kata yang ia tujukan padaku. “maaf buk saya-“ Belum selesai kuucapkan kata maafku, dan mengutarakan alasanku, langsung saja ia menutup bukunya kasar. Aku sangat takut, tanganku mulai bergetar hebat. “kelas selesai sampai disini, kelompok ini saya beri F. selamat siang” Tuhan apa katanya, F. semua mata tertuju padaku. Seolah semua yang terjadi ini adalah salahku. “puas setelah membuat kami mendapat nilai F” Ucap Abel, salah satu anggota kelompokku, berjalan pergi meinggalkan kelas “kukira kau ini benar-benar baik, nyatanya ini dibalik sikapmu, hanya ingin dinilai paling pintar. Baikmu itu palsu” Ucap kasar anggota kelompok yang lainnya, lantas menambrak diriku dan melangkah pergi keluar. Aku yang hanya diam, tak bergeming setelah semua yang terjadi baru saja. tak sadar kelas sudah kosong menyisakan diriku yang masih memegang lembaran materi yang sudah susah payah kubuat. Bahkan laptop dan layar masih menyala menampilkan point materi yang seharusnya baru selesai kujelaskan. Kenan juga dengan sialnya hari ini tak datang karena ada acara diluar kota. Aku menunduk, menghentak-hentakan kakiku pada lantai yang kupijak. Tetes air mataku jatuh kelantai, dan kuhapus dengan sepatu yang kupakai. Kesalku, tak tahan. “permisi, gadis apa kelas ini masih akan dipakai” Tanya seorang mahasiswa padaku, kuhapus jejak air mata dipipiku, bertindak seolah semua baik-baik saja. “oh ya, aku selesai hanya tinggal kuberesakan” Ucapku padanya, langsung saja buru-buru kulipat laptoku dan kuambil remote infokus untuk kumatikan. Tak lupa mengatur suhu AC dan lampu kemode awal, dan siap untuk kutinggalkan. Berjalan keluar, dan menutup pintu, berbalik dan siapa yang tengah berdiri disana. “Pak Alex” Sapaku, oh terimakasih tuhan, setelah badai itu aku merasa seperti menemukan pelangi dihadapanku. “kau mengapa masih disini, sendiri” Tanyannya padaku, kulihat sekeliling, koridor dan kelas lainnya memang sudah sepi, “bolehkah aku memintamu untuk memelukku” Pintaku, dan yang diminta hanya meyiritkan dahi dan tersenyum “apa mata kuliahmu hari ini melelahkan” Tanyanya, dengan tangannya yang langsung memelukku, membawaku berada dalam dekapannya. “ehm aku lelah sangat lelah, ayo pulang aku ingin istirahat dan langsung tidur saja” Jawabku, menenggelamkan diriku didadanya. “haha baiklah baiklah kita langsung pulang, kita ambil jalan gerbang selatan, ayo” Ucapnya, mengiyakan dan berjalan bergandengan tanpa takut ketahuan. Dan pulang bersama. # Kamar Apartemen Duduk dalam lamunan menghadap cermin besar. “hey, apa yang kau pikirkan ehm?” Tanya pak alex menyadarkanku dari lamunanku, masih menghadap cermin, memandangi pantulan bayangan tubuhku yang masih terduduk namun kini sedang dalam peluknya Cup Kecupan ringan mendarat dipipiku, ia menunduk untuk melakukan ciuman singakat itu. Tubuhku yang semula duduk dikursi, diangkatnya kemudian diambil alihnya kursi itu, duduk diatasnya dan terakhir ia membuatku duduk dipangkuannya. Mata kami memandang lurus kedepan, tersenyum melihat bayangan kami dalam cermin. “jadi apa yang kau pikirkan sampai melamun seperti itu” Tanyanya, jari-jari tangannya perlahan menyentuh wajahku, mengusap lembut pipiku. “ajari aku untuk mencinta” Jawabku sekaligus pintaku, “memangnya kau tidak mencintaiku?” Tanyanya, sedikit terheran mungkin dengan permintaanku. “Pak Alex tahu, sesungguhnya aku tak mengerti soal perasaan, dan percayalah aku yang pak alex tahu adalah aku yang palsu” Jujurku, menunduk takut dan sangat kubenci kenyataan itu. teringat pada anggota kelompokku tadi yang juga mengatakan aku ini palsu. “jadi cintamu juga palsu begitu maksudmu” Jawabnya atas pengakuanku, mendengar pertanyaannya itu membuatku kembali berpikir tentang perasaanku padanya, lama aku terdiam. Hingga akhirnya kubuka mulutku dan mulai menceritakan perasaanku. “dulu aku sangat dingin dan tak berperasaan, mungkin hingga kini aku masih begitu. Hanya saja aku menyembunyikannya dengan memasang topeng menjadi gadis yang baik, hingga Pak Alexpun sampai menaruh perasaan padaku” Jelasku, ia hanya menaikan alisnya, “bagaimana bisa?” tanyanya kembali “sesungguhnya aku tak tahu pasti apa itu sedih, senang, ataupun perasaan lainnya, bahkan ketika aku mendapat nilai tinggi aku hanya merasa kosong, dan selalu hampa. separuhnya lagi yang kurasakan dalam hatiku adalah takut. Takut akan dunia, manusia, dan semuanya. Karenanya aku selalu bersikap baik. semua itu semata-mata karena aku takut, sangat takut pada dunia yang katanya sangat kejam ini” Ceritaku, mendengar itu ia menaikan wajahku yang menunduk dan membuatku bertemu matanya. Mencari sesuatu disana. “apa yang telah dunia lakukan padamu hingga membuatmu berpikir begitu?” Tanyanya, membuatku berpikir dan mengingat semua, dan aku tak mampu menemukan jawabnya. Apa yang telah dunia perbuat padaku hingga aku selalu begitu ketakutan. Manusia, amarahnya, hatinya, perbuatannya yang mungkin bisa saja melukaiku. Mungkin itu, tetapi akupun tak yakin. “aku tak tahu, mungkin memang inilah aku, pengecut yang takut pada dunia, bersembunyi dibalik topeng palsunya” Jawabku. “dirimu yang tertidur lelap disampingku, makan dengan bahagia bersamaku, melakukan banyak hal dan tugas bersamaku. Ada hal lain yang kau sembunyikan dariku, seperti sebuah kejahatan misalnya” Tanyanya memastikan bahwa kekasihnya ini criminal atau bukan pikirku “tak satupun aku berani melakukan semua hal yang bisa membuatku terlibat sebuah kejahatan. bahkan memikirkannya saja sungguh tak berani, karena dapat menghapus topeng “baik”, dan membuat semua kerja keras juga usahaku untuk membangun lebel “baik” itu sia-sia. Dosaku, yang selalu menjebakku dalam perasaan takut juga bersalah adalah telah berbohong pada dunia, bahwa aku sesungguhnya tidak sebaik yang mereka kira. aku membantu, bersikap ramah hanya untuk mendapat predikat baik dan takut mereka akan marah hingga melukaiku jika aku tak berbuat begitu” Mendengar panjangnya kejujuran isi hatiku Pak Alex hanya terdiam untuk beberapa saat, dan mengecup keningku, membawa kepalaku bersandar didadanya. “bukan sebuah kesalahan ataupun dosa, semua orang melakukan hal yang sama untuk bisa menjadi versi diri mereka yang terbaik, Gadis. Tak apa jika pada akhrinya kau melakukan kesalahan, hingga melukai karena kita juga bukanlah malaikat yang selalu diliputi oleh kebaikan. Soal ketakutanmu, aku tak bisa berjanji akan menghilangkannya, namun aku pastikan selalu ada disampingmu, menjagamu saat rasa takut itu datang menghampirimu, dunia memang begitu. sedikit kejam, namun harus tetap bertemu dengan itu. satu hal yang harus kau ingat ada aku yang selalu ada untukmu” Seperti mendengar kuliah darinya, kata-katanya hangat dan menyentuh, sedikit mengusik namun dengan pasti menendang semua rasa takutku. “masih mau menjadi kekasihku, setelah tau begaimana palsunya diriku” Tanyaku, mengusap dadanya yang kokoh dan bidang, tempat teraman didunia ini. “kau itu tidak palsu, berhenti memanggil dirimu begitu. Aku bahkan sudah melihat dirimu, cantic wajahmu, bahkan indah tubuhmu yang tanpa busana apapun, aku sudah menyaksikannya. kau itu nyata dan akan tetap jadi Gadis yang kucinta” Lagi. dan lagi. Kali ini membuatku berpikir bagaimana ia bisa begitu hebat merangkai kata, apa ia sudah melakukan dan mengatakan semua itu pada semua wanita. “jangan berpikir yang macam-macam. Aku hanya ingin kau tahu bahwa aku hanya mencintaimu, selama ini hanya dirimu yang mendengar aku berkata begitu” Tercengang aku, bagaimana ia bisa membaca pikiranku. “menjadi psikolog sungguh bisa membaca pikiranku ya? Bagaimana pak alex tahu pikiranku” Mendengar pertanyaan konyolku, ia hanya terkehkeh, sebentar menjauhkan tubuhku untuk membuatnya berhadapan dan kini memeluk erat dalam dekap hangat tubuh itu. “ya benar seperti itu, jadi tak perlu berbohong padaku, atau berusaha jujur padaku. aku tahu dirimu, sangat tahu. Bahkan kini aku tahu kau sedang ingin kucumbu, bukan begitu?” Candanya padaku, memanfaatkan kesempatannya padaku yang tengah dilanda ragu. namun tetap aku tahu, ia mencintaiku dengan sikapnya yang begitu padaku. Kucubiti perutnya, ia sedikit meringis “aw, berhenti melakukan itu, atau kau akan habis olehku” Katanya dengan nada yang sedikit mengancam, kupikir, tanganku yang kupakai mencubiti dirinya kini ditahannya, membuatku tak bisa bergerak, aku tersenyum dibuatnya. Bahagia dengan semua canda dan tingkahnya. Kumajukan bibirku, meraih bibirnya, mengulum bibir yang selalu berhasil menciptakan kata-kata manis untuku. Lama ciuman itu, menikmati semua sentuhan ditubuhku. Hingga ia mengangkat tubuhku, tertidur siap melewati malam indah b******u cinta dan nafsu yang memburu. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN