“tak ada hubungan atau perasaan apapun antara aku dengannya, sungguh”
Ucapku padanya, memegang tangannya. berusaha membuatnya percaya.
“kau ini tak mengerti soal pria rupanya”
Balasnya padaku, berdiri dari duduknya mengambil cangkir dan menaruh kantung teh didalamnya, mataku tak teralihkan dari setiap gerak yang ia lakukan, dengan perlahan ia tuangkan air panas. masih kutunggu kelanjutan dari kalimatnya. dan sangat membuatku tak sabar.
“maksudnya? Jelaskan padaku agar aku mengerti”
Tanya sekaligus pintaku padanya. pandangan yang semula ia fokuskan pada tehnya, ia alihkan padaku, menatapku sedikit senyum ia kulum dan meneguk tehnya. Membuatku geram saja. akhirnya aku bangkit dari dudukku, berdiri didepannya, mendongak menatapnya, masih tak ada jawab.
“oh ayolah, jangan membuatku seperti gadis konyol seperti ini, aku sungguh tak mengerti”
Rajukku dengan menarik-narik kemeja putih yang dikenakannya, kuambil cangkir dari tangannya dan kutaruh dimeja dapur tempatnya sedikit duduk menahan tubuhnya itu. kutatap kembali pemilik tehnya yang sudah kurebut. Bukannya membalas pertanyaanku, ia malah tersenyum geli melihat tingkahku dan mencubit gemas hidungku.
Memiringkan kepalaku, tak mengerti atas sikapnya, sesungguhnya Pak Alex ini marah cemburu padaku atau apa sih sebenarnya, raut wajahnya yang semula dingin kini berubah seperti menikmati sikap bodohku didepannya.
Kusadandarkan tubuhku padanya, dihadapannya tubuhku merapat padanya. Kepalaku yang masih harus mendongak untuk menatapnya, kukerutkan bibirku, berharap ia sedikit saja mau bicara. Namun yang kudapat adalah ciuman singkat darinya, tangannya dilingkarkannya pada pinggangku kemudian.
Hanya terengeh, mewakili tanyaku atas tingkahnya yang membuatku terjebak dalam tingkahnya yang semakin tak kumengerti. Dimajukannya kembali wajahnya untuk menecup singkat bibirku.
“jawab pert”
Tak sempat keselesaikan kalimatku, bibirnya membungkam bibirku, mengulum lembut bibirku, tangannya mendorong tengukku untuk memperdalam ciumannya, lidahnya menerobos masuk kedalam mulutku memagut dan menyapa lidahku disana, mengabsen satu-persatu gigiku. Kepalanya dimiringkan dan sedikit memberi jarak membiarkanku mengambil sedikit oksigen. Lama ciuman ini berlangsung, tiba-tiba tangannya mengangkat tubuhku, memangkunya. Mataku melebar, kaget aku dibuatnya. setelah bibirku lepas dari miliknya, dibalikannya posisi kami berhadapan dan kini didudukannya aku di meja dapur, cukup tinggi hingga wajah kami bisa sejajar, menatap dengan jelas satu sama lain.
Masih terengah-engah karena ulahnya, tangan yang semula kukalungkan pada lehernya, perlahan ku usap dan kubelai wajahnya.
“aku hanya menyukaimu, dan perasaanku tak bersisa untuk diberikan pada pria lain”
Ungkapku menyakinkan dirinya.
“aku tahu itu Gadis”
Suaranya akhirnya keluar dari mulutnya,
“lalu mengapa-”
“percayalah aku ini hanya seorang pria yang tengah jatuh cinta, pria biasa yang bisa tiba-tiba cemburu saat matamu menatap pria lain dengan cara yang sama, nada yang sama saat bicara, yang keluar dari bibir ini. saat inginku, hanya harus aku seorang yang mendengarnya, tangan yang kugenggam ini disentuh tangan lain selain diriku, saat disisimu bukan diriku melainkan pria lain. Aku, pria yang seketika bisa berubah menjadi seorang egois sejati jika miliknya diganggu oleh manusia manapun”
Jelasnya padaku dengan nada pelan ia mengungkapkan perasaannya, memenuhi pintaku atas rasa penasaranku. Mendengar semua kalimat itu dari mulutnya, aku tak tahu harus apa, tak mungkin pula aku memutuskan hubungan dengan semua pria didunia ini bukan?
berusaha mengingat kembali bagaimana sikapku pada teman mahasiswa priaku.
“kupikir aku melakukan hal yang biasa pada eras tadi, maksudku seperti pada teman perempuanku”
Ungkapku. Benar karena pria bernama Eras itu membuatku kebingungan seharian karena sikap Pak Alex yang mendadak dingin dan tak seperti biasanya. Sebetulnya ini sudah kejadian yang kesekian kalinya ia tiba-tiba merengek, atau menjadi overacting sebagai kekasih mahasiswanya ini. Maksudku tak ada orang yang tahu mengenai hubunganku dengannya, hingga beberapa mahasiswa laki-laki yang menunjukan ketertarikannya padaku tak ada sesuatu seperti peringatan plang atau warning bahwa aku sudah dimilikinya. Meski aku menjauh dan mencoba untuk memberikan jarak dengan mereka, tugas kelompok dan beberapa kegiatan kemahasiswaan selalu membuatku terlibat dengan mereka.
Hingga hari tadi, eras sepertinya memang sudah melewati batasannya dan menunjukan perasaannya dengan begitu ketara padaku. Sialnya itu berlangsung saat kelas Pak Alex mengajar teori-teori kepribadian II tepat sebelum kelas berlangsung, ia tiba-tiba memegang tanganku, memintaku untuk tetap seperti itu sejenak, kemudian ia berjongkok bertahan satu kaki dihadapanku, tahu apa yang selanjutnya akan ia lakukan.
“Eras Budi Raharjdo, jika ingin berpacaran silahkan keluar jangan anda lakukan dikelas saya”
Suara rendah yang sudah tak asing itu menggagalkan rencananya. kekasihku, dosenku, ia menyelamatkan kekasihnya ini dari pernyataan cinta pria lain.
Terlihat seperti acara komedi, raut wajah kesal terlihat dari wajah eras, yang kini masih berdiri didepanku dan melangkah kembali pada kursi tempat dirinya duduk untuk mengikuti kelas. Seluruh kelas tampaknya menahan tawa karena rencana pernyataan cinta yang gagal total itu.
bagaimana dengan raut dosenku hari ini, oh jangan tanya itu. selama kelas berlangsung, tatapannya tak bisa lepas dari pria yang memiliki perasaan pada kekasihnya ini. sepertinya ia siap memakannya.
Sampai makan malamku tadi, setelah ia menjemputku dari perpustakaan daerah yang tak berjarak jauh dari apatemennya. aku diacuhkannya selama itu.
“terkadang aku ingin menjadikanmu preman diluar dan malaikat hanya dihadapanku”
Pintanya yang kekanak-kanakan membuat tawaku lepas begitu saja, aku menenggelamkan wajahku didadanya yang tergelitik geli akan tingkahnya seperti anak kecil saja yang begitu takut kehilangan mainannnya.
“oh sungguh, haruskah aku? Maksudku jikapun Eras sampai menyatakan cintanya padaku, jawabku sudah pasti tidak, Pak Alex pasti tahu itukan”
Ucapku padanya.
“namun sikap baikmu, yang kepalang baik, aku seharusnya tahu semua itu adalah resiko memiliki kekasih cantik, baik juga pintar seperti dirimu, siapapun itu sudah pasti ingin memilkimu”
Kata-katanya semakin membuatku terheran-heran saja
“kurangi perhatianmu pada orang lain”
Lanjutnya, terdengar perintah. Ya perintah teraneh yang pernah kudengar. Bisa gila aku dibuatnya, serumit inikah menjalin sebuah hubungan. Kutanggup wajahnya, tampan dan semakin tampan, kutarik dan kukecup bibir yang menjadi bawel sekali malam ini.
“jangan pernah kau gunakan tangan ini untuk membelai pria manapun selain diriku, mengerti”
Pintanya. Lagi. menahan tanganku tetap diwajahnya.
“iya siap, sayangku, dosen tercintaku Bapak Alex Abraham Pramono”
Kupeluk dirinya, terkehkeh lucu tingkahnya, tiba-tiba ia mengangkat tubuhku dengan menggunakan kedua tangan kokohnya, ala bridal ia membawaku melangkah memasuki kamarnya, mendudukanku diranjang yang sudah berbulan-bulan ini menjadi tempatku tidur bersamanya. Berada tepat diatas tubuhku. kini kubelai tampan kekasihku, terlebih dari bawah sini saat dibaringkannya diriku, cahaya remang membuatku bertanya nyatakah apa yang kini ada dihadapanku.
Tangannya mengentikanku untuk tetap memegang wajahnya, mencium tanganku. Selama ini tak pernah lebih dari sebuah ciuman dan pelukan, namun malam ini aku tak yakin akan berhenti disana. Kecupan ringan mendarat dikeningku, kemudian mataku, menatap dalam mataku, binar indah matanya, aku luluh dan pasrah dibuatnya.
Hening sesaat, ada keraguan dalam gerakan tangannya yang berjalan dari lengan dan kini tepat berada diatas dadaku.
Gemasku, jujurku ingin dirinya menyentuhku lebih dari apa yang ia lakukan kini, hingga aku terlebih dulu menggerakan tanganku, menyelusup kedalam kemeja yang dipakainya, membelai kulit dadanya didalam. Aku menatapnya penuh harap, inginku dirinya juga melakukan hal yang sama bahkan lebih dari sentuhan yang kuberikan padanya. Hingga ia mulai memiliki kebberanian untuk membuka kancing bajuku, menyentuh dadaku yang masih terbungkus braku, meremasnya perlahan,
“ahhh”
Desahku, setelah mendapat perlakuannya, mendengar itu ia semakin terpancing unutk melakuknn lebih, menatap wajahku yang tengah menikmati aksinya. Bibirnya mengecup setiap inci kulitku, menghisap dan mengggigiti kecil dileher dan dadaku,
Aku yang semakin menggila dibuatnya, dan dirinya yang sepertinya semakin tak tahan untuk melakukan lebih dan lebih, membuka paksa baju yang masih terkait dilenganku, membuka pengat braku, dan dilihatnya kini payudaraku yang sudah tak tertutup apapun, tersenyum dirinya, matanya semakin terbuka memandangi apa yang ada dihadapannya.
“jangan dipandangi seperti itu, aku malu”
Ucapku padanya, pipiku memanas seketika, mendengar perkataanku dirinya hanya mengulum senyum. Menatapku, meminta izin dariku dari tatapnya itu, aku hanya mengangguk. Ia kemudian mencium bibirku sebelum membenamkan wajahnya didadaku, menciumi memainkan milikku.
Desahan dan erangan memenuhi ruangan sepanjang malam, melampiaskan cinta dan keinginan untuk saling menyentuh, menyalurkan cinta satu sama lain. Tubuhku dijamahnya dengan lembut dan penuh cinta, kuharap ini tak akan menjadi sesuatu yang sia-sia karena memberinya bukti cintaku yang nyata, dan tak akan menjadi sebuah dosa karena cintaku yang sungguh murni untuknya.
#
Dalam peluknya, tubuh polos kami yang hanya terbungkus selumut ini, hangat tubuhnya kurasakan disetiap senti kulitku, usapan lembut tangannya, jari-jarinya yang menari bebas dipunggungku, sentuhannya yang membuatku merasakan hangat cintanya malam ini.
“kau tahu, predikat jarang dibelai itu tak seharusnya dimiliki wanita, karena kamilah para pria yang selalu merasakan dinginnya malam tanpa lembutnya belaian”
Satu lagi kata-katanya yang membuatku tertawa, ada apa dengannya hari ini.
“benarkah, jika begitu tangan ini akan kuberi lem untuk salalu berada disini”
Balasku atas pernyatannya itu, sentuhku pada wajahnya, lehernya hingga dadanya kini, kuusapkan jari-jariku disana.
“ketahuilah bahwa pria dengan tekanan menjadi manusia yang kuat, tegar, jauh didalam diri kami, sangat merindukan sentuhan, pujian yang membuat kami meninggi dan berarti. hari dimana tangan ini menyentuh lengan dan dadaku, juga saat kau memuji tampannya diriku, kau sudah mengganggu pikiranku, menghantui disetiap malamku dan tak bisa berhenti untuk menginginkanmu. Membayangkan waktu yang kuhabiskan bersamamu dalam pelukku seperti ini, untuk berbulan-bulan menyiksaku sebelum akhirnya aku mendapatkanmu”
Sekali lagi kuketahui, cukup membuatku terkejut dibuatnya, pernyatannya, aku menyadari bahwa kita semua manusia biasa dan disinilah kita sebagai mahluk yang selalu mendambakan cinta. Senaif inikah manusia.
Jika kupikir benar pula adanya, jika para wanita akan sangat bebas saling berkata manis, memeluk, berpegangan antar sesama, hingga ketoiletpun harus bersama. Pandangan aneh jika pria melakukan semua itu,
ah rupanya disinilah maksudnya.
“aku akan selalu disini, dalam pelukmu, dan menjadi milikmu”
Malam ini terasa sangat panjang, lebih dingin atas kenyataan kehidupan yang baru kudapat dan lebih hangat atas perlakuannya yang juga kudapat. Malam ini, dalam erat peluknya aku meminta pada tuhan untuk menjaganya tetap bersamaku, selalu hingga akhir waktu.
#
Pagi menyambut kami setelah menghabiskan malam penuh cinta, sedikit menggangguku mungkin matahari iri padaku yang terlalu nyaman untuk tetap tidur lelap dalam peluk lelaki disampingku ini. mungkin juga tidak, aku terlalu berlebihan, ia hanya mencoba membangunkanku untuk mengingatkanku bahwa aku masih memilki hari untuk dijalani selain bercinta dengan kekasihku ini.
“engh”
Lenguhku membalikan tubuhku menghadap tubuh Pak Alex, mencoba menghindari silaunya matahari,
“tidurlah lagi, tak usah ikut kelas pagi hari ini”
Suara pertama dipagi ini, serak dan jangan lupakan peluknya yang tak pernah ia lepaskan dari tubuhku.
“karena ini perintah dosen, mahasiswa akan dengan senang hati mengikutinya”
Balasku, dengan sedikit menyindirnya. Gemas ia tersenyum mengusap pelan rambutku dan mengecup keningku, ditatapnya lekat wajahku,
“Gadis seperti inikah wajahmu dipagi hari, bibir ini sepertinya sudah menjadi canduku”
Gombalan pria ini dipagi hari, membuatku merasa panas saja, tangannya yang semula membelai lembut wajahku, memainkan bibirku dengan jari-jarinya, hingga dipagutnya lembut.
“manis, dan semakin manis saja bibir ini”
Pujinya padaku, aku benar-benar dibuatnya malu. Tak tahan dengan perlakuannya, kupu-kupu diperutku terus saja berterbangan,
oh ayolah bahkan semalam aku melakukan hal yang lebih jauh dari ini dengannya, namun mengapa rasanya kini aku, aku, bagaimana ya entahlah sulit kujelaskan perasaan tak menentu memenuhi hatiku.
Meski enggan aku untuk bangun dari posisiku kini, terlalu amat teramat sangat nyaman. Namun aku berhasil duduk, dengan malu-malu, cepat kubalikan posisiku memunggungi tubuhnya, menghadap jendela dengan pemandangan kota yang disinari matahari pagi meski belum meninggi.
Kupungut kemeja putih milik pak alex dengan cepat ku pakai, dan kini tengah mengancinginya satu-persatu. Kebesaran. Belum semua terkancing, pemilik kemeja itu sepertinya tak senang jika aku memakai bajunya. Tangan besarnya melingkari tubuku, mengangkatku untuk duduk dipangkuannya. Menghentikan aktifitasku mengancingi kemejanya ini.
“bukankah sudah kubilang tak usah ikut kelas pagi”
Ucapnya, tanganku yang digenggamnya kulepas dan kupukul ringan tangan kekar itu,
“dosen nakal, iya Gadis Ashleey kelas 11b2 akan bolos hari ini”
Jawabku,
“lalu mengapa kamu bangun dan mengenakan bajuku”
Timpalnya, oh sungguh mau sampai kapan ia ingin aku tetap bugil seperti dirinya saat ini.
“Pak Alex kita harus sarapan pagi dan tidak akan terus telanjang bulat seperti ini sepenjang hari bukan”
Tanyaku, sambil melirik tubuhnya, yang jujur saja jika ia memutuskan tetap menampakan tubuh indahnyapun aku tak keberatan, tak akan merusak mataku justru merupakan pemandangan indah, lebih indah dari lukisan yang selalu terpajang dimusium manapun. kau tahu itu.
Bibirnya mengecupku ringan, itukah balasan atas pertanyaanku, membuat aku mengerutkan dahi,
“jika aku ingin bagaimana, sepertinya aku ingin melanjutkan yang semalam”
Godanya padaku, tangannya membuka satu kancing yang belum juga tuntas ku kancingkan seluruhnya, dimajukannya tubuhnya, mendorong tubuhku untuk tertidur kembali.
“ah sudah, aku butuh energy dan lelah setelah semalam”
Kataku dengan sedikit mendorongnya, kuturunkan kakiku dari ranjang ini, dan berdiri, tangannya masih menggenggam tanganku, kutarik dan akhirnya iapun sedikit bangun, tahu ia masih tak memakai sehelai benangpun, cekatan mataku melihat gaun tidurnya dikursi dan kulempar padanya.
“pakai itu”
Singkat, langsung kualihkan pandanganku dan melarikan diri ke kamar mandi, wajahku terasa panas, malu sekali tuhan.
“Gadis, ada apa denganmu, kau sudah melihat semuanya semalam, mengapa kau seperti ini pagi ini haha”
Sedikit berteriak ditengah pelarianku darinya, ia terkehkeh didalam kamar setelah puas membuatku tersipu pagi ini.
Selesai membersihkan tubuhku, karena semua skincareku ada disini dikamar mandinya dan berbagi ruang dengan milik pak alex yang juga tak begitu banyak. terkadang aku bertanya pada diriku, melihat pantulan bayangku dicermin. akan sampai sejauh mana hubungan aku dengannya, seberapa dalam lagi perasaanku untuknya dan seberapa banyak lagi cinta yang akan dirinya berikan untuku, bagaimana jika pada akhirnya semua ini harus berakahir dan ia pergi dariku, bayangan kehilangan dirinya bagaimana ia meninggalkanku, aku takut, sepertinya perasaanku sudah terlampau jauh padanya.
Sebuah kepala menyembul, membuyarkan lamunanku, wajah manisnya kini yang seperti bocah membuatku tersenyum karena tinggkahnya itu.
“jadi mau sampai kapan berdiri disitu”
Ucapnya padaku, kuulurkan kedua tanganku,
“gendong aku sampai meja makan”
Pintaku bermanja padanya, tiba-tiba, pada seseorang yang sangat kutakuti kepergiannya.
Ia hanya tersenyum, meraih tanganku, pinggangku dan mengangkat tubuhku, kakiku yang kulingkarkan pada tubuhnya kemudian. sedikit raut terkejut darinya, tangan yang kukalungkan pada lehernya, kucium singkat bibir sipemiliknya.
“kau ini Gadis, bangun tadi kau malu-malu dan kini begitu manja hingga memintaku menggendongmu seperti bayi”
Ucapnya padaku,
“ulah siapa kakiku hingga jadi sakit seperti ini”
Sindirku padanya,
“sesakit itukah kakimu”
Tanyanya setelah kami sampai diruang makan, didudukannya aku dimeja. ia berjongkok dengan satu kaki untuk menahan tubuhnya. Wajah khawatir seketika muncul, teduh matanya, tebal alisnya, mancung hidungnya, dan sentuh usapan tangannya dipahaku kini,
“apa aku terlalu bersemangat sampai menyakitimu, maaf aku terlalu bernafsu semalam”
Mendengar ucapanya, membuatku mengulum senyum, kudekatkan wajahku pada daun telinganya, dan berbisik
“tapi aku menyukainya”
Pelan, singkat ucapanku. namun cukup membuat air wajahnya berubah 180 derajat, raut bahagia kini tampak jelas. Saat giliran wajahnya yang ia dekatkan padaku mencari bibirku,
“ah, perutku lapar”
Ucapku menggagalkan aksinya. turun dari meja dan kini aku berbalik duduk dikursi menghadap meja makan. kusadari ia sedikit merasa kupermainkan, dan kini tangannya mencoba mengeglitiki tubuhku. Kegelian, hingga tubuhku tak bisa diam mengelinjang.
“ahh, sudah cukup makan ini”
Ucapku kegelian, menghentikan tangan jahilnya dan memberikannya toast yang rupanya sudah ia siapkan dengan s**u, selai, juga telur mata sapi dimeja makan. Kusuapi dirinya, mengoleskan selai raspberi pada sepotong toast dan kuberikan padanya.
Momen ini, ingin aku memilkinya disetiap pagi, sepanjang hidupku bersamanya. apa aku terlalu serakah tuhan. Dalam hati sungguh aku sangat menginginkan pria yang tengah tersenyum bahagia menyantap sarapan sederhana bersamaku ini, aku ingin menjaganya, dan tak ingin kehilangannya.