Semakin dalam

3578 Kata
“Hhh... di mana dia?” Gumamku sambil menunggu Pak Alex yang sampai saat ini masih belum juga datang menjemputku. “Padahal sepuluh menit lagi pasti akan ada banyak mahasiswa yang keluar, bagaimana jika mereka melihatku masuk ke dalam mobil Pak Alex ya?” Jujur aku gelisah sekali. Hubunganku dengan Pak Alex memang sudah di putuskan untuk hanya aku dan dirinya saja yang tahu. Rasanya tak benar jika sampai hubungan ini di ketahui banyak orang. “Oh? Itu dia” Senang sekali rasanya mobil Pak Alex bisa sampai sebelum area parkiran ini ramai dengan mahasiswa yang selalu nongkrong setelah selesai kelas. Aku langsung berlari-lari kecil, ingin cepat-cepat masuk ke dalam mobilnya. “Ada apa? sedang di kejar seseorang? atau menghindari seseorang?” Tanya Pak Alex begitu aku masuk dan menurunkan kursiku ke belakang, tengah berusaha agar tak keliatan orang di luar sana. “Cepat jalan Pak, mumpung masih belum ramai” Ucapku, Pak Alex terlihat mengerutkan alisnya, mungkin sedikit heran karena sikapku ini. “Memangnya kenapa kalau ramai?” “Kalau ramai nanti mereka bisa melihat kita Pak Alex, ayoo cepat jalan dulu” Pintaku padanya, sampai akhirnya Pak Alex menuruti perkataanku untuk mulai melaju dan keluar dari lingkungan kampus. Setelah cukup jauh dan di rasa sudah tak ada lagi yang akan melihat, akhirnya kubenarkan kembali posisi dudukku “Hhh... akhirnya” Lega sekali rasanya seperti baru saja lolos dari sebuah ancaman besar. “Kau ini kenapa Gadis? memangnya kenapa kalau mereka melihat kita bersama di satu mobil ini?” “Kalau mereka melihat kita dan mereka bisa mencium soal hubungan kita bagaimana?” “Kita sudah selalu bersama sebelum kita resmi berpacaran kemarin, mereka tak akan curiga karena mereka tahu kau ini adalah asistenku” Benar juga apa kata Pak Alex. Apa aku terlalu mendalami peranku dalam hubungan rahasia ini, sampai benar-benar jadi bertingkah seolah harus melakukan apapun bersama Pak Alex dengan sembunyi-sembunyi, entahlah... aku tak mengerti. “Gadis!” “Aaah!!” Sedang sibuk dengan lamunanku, tiba-tiba saja tubuhku hampir terpental kedepan, saat Pak Alex menginjak rem tiba-tiba. Untung saja tangannya juga sabuk pengaman ada untuk menahan tubuhku, jadi kepalaku tak sampai membentur dashboard mobil Pak Alex. “Kau tak apa?” Pak Alex langsung membuka sabuk pengamanku dan membuatku menghadap ke arahnya. Kutemukan tatap khawatirnya yang kini mulai memeriksa keadaanku. “Gadis!” Aku masih syok atas apa yang baru saja terjadi, sampai aku hanya diam sambil meringis, karena rasa perih, ngilu mulai terasa di sekitar selangka kiriku. “AH!” Aku mengerang cukup keras saat tangan Pak Alex tak sengaja menyentuh sling bag bertali rantai yang kukenakan hari ini. “Oh maaf, ini...” Pak Alex kemudian perlahan menjauhkan tali rantai yang rupanya menekan tulang selangkaku saat rem mendadak tadi. Ia menurunkan sedikit blush yang ku kenakan untuk memeriksa kondisi di balik pakaianku itu. “Ah, kau terluka, aduh bagaimana ini? Pasti sakit sekali??” Pak Alex terlihat mulai panik kini, “Di lepas dulu” Perintahnya padaku kuturuti itu, namun saat akan kuangkat tangan kananku, rasanya nyeri sekali. Aku tak tahan sampai bukannya melepas tali tasku itu, aku malah menangis karenanya. “Pak sakitt... bagaimana ini? Tanganku tak bisa kugerakan.... hiks” “Tenang dulu, kita parkir dulu ya” Ucap Pak Alex, karena mobil Pak Alex ini memang jadi menahan laju kendaraan di belakang. Bahkan beberapa kali klakson terdengar, meminta Pak Alex untuk tak terus berhenti menghalu laju kendaraan. Dan begitu mobilnya sudah terparkir, Pak Alex cepat meraih tubuhku untuk kembali menghadapnya. “Kemari” Perlahan ia menaikan tali yang tas yang melingkar di tubuhku. “Ah!” Aku meringis, rasanya seperti terhantam sesuatu yang tajam, begitu bagian tasku itu tak sengaja menyentuh selangkaku yang baru saja mendapat luka karena rantainya itu. “Kenapa kau memakai tas seperti ini??” Ucapnya sambil melempar tasku kekursi belakang. “Kenapa Pak Alex lempar tasku seperti itu? Itu 6000 dolar, tak lihat logonya itu Chanel??” Mendadak aku kesal padanya, padahal aku saja selalu memperlakukan benda dengan brand ternama itu dengan sangat hati-hati, tapi Pak Alex malah dengan tak pedulinya main lempar-lempar begitu saja. “6000 dolarmu itu akan sangat sia-sia, jika malah membuatmu berakhir dengan luka seperti ini” Balasnya sambil memperlihatkan warna hijau keunguan yang kini seperti terlukis di tulang selangka kananku. “Lihat ini? Kau jadi seperti ini? Sakit bukan?” Aku menunduk, padahal aku yang sakit tapi kenapa aku juga yang malah di marahi seperti ini. Pak Alex kemudian mendekatkan wajah kearahku, ingin lebih memperhatikan lebih dekat bagaimana luka memarku itu. Gulp Mendadak aku jadi gerogi di buatnya. Kenapa Pak Alex sedekat ini padaku. Aku bahkan jadi menahan napasku karenanya. “Sakit?” Tanyanya sambil menongak dan menatapku lekat. “Oh, itu- itu sakit” “Kita ke rumah sakit saja” Ucapnya, Pak Alex kembali menjalankan mobilnya. Namun kali ini, ia menyetir dengan sangat pelan. Berulang kali matanya di lirikannya padaku, hanya ingin memeriksa dan memantau keadaanku. Bahkan tangannya pun di julurkannya tepat di depan dadaku, berniat ingin menjaga tubuhku, sebagai pengganti sabuk pengaman yang tak bisa kugunakan karena akan menekan lukaku ini. “Maafkan aku, karena aku, kau jadi seperti ini” “Bukan, bukan karena Pak Alex, tapi karena rantai tasku itu...” Balasku, sambil kuraih tangannya dan kugenggam saja. Ia pasti akan pegal sekali jika terus menjulurkan tangannya hanya untuk menjagaku. “Begini lebih baik Pak” Ucapku, kulihat sedikit senyum mulai tergambar dari wajahnya. .... “Cedera?” Kagetku saat kudengar diagnose dari dokter yang baru saja memeriksa dan merawat luka lebamku. Aku tak menyangka, padahal kecelakaan pun tak terjadi, aku hanya tertekan rantai tasku tapi kenapa bisa sampai mendapat cedera. “Ehm, untuk sementara jangan terlalu banyak bergerak, dan pastikan setelah ini routine untuk memeriksa perkembangannya, karena takut akan sampai terjadi pergesaran” Tambah dokter itu padaku. “Aku harus bagaimana? Kalau begini aku tak bisa berbuat apa-apa” Gumamku khawatir, karena tanganku yang mendadak jadi kehilangan fungsinya. “Tak usah khawatir, aku akan bertanggung jawab, aku akan menggantikan tanganmu” Ucapnya. Dan benar saja, setelah mendapat perawatan dari dokter kemudian pulang ke apartemen Pak Alex, tangan kekar nan kokohnya itu benar-benar menggantikan tanganku yang jadi tak bisa berfungsi ini. “Aaaa” Ia memintaku untuk membuka mulutku, ingin menyuapiku sesuap bubur yang sengaja di belikannya untukku. Dengan senang hati kulahap suapan dari tangannya itu. Entah kenapa tiba-tiba aku merasa senang bisa mendapat cederaku ini. “Bagaimana? Enak?” Aku mengangguk sambil tersenyum simpul padanya. Pak Alex perhatian sekali padaku. “Sampai sembuh, menginap saja dulu di sini” “Apa??? Tapi- aku- aku...” Mendadak jantungku tak bisa tenang, kencang sekali terasa detaknya. Aku bahkan sampai takut Pak Alex bisa mendengar suara dug dug dug di dadaku ini. “Sudah menurut saja, kau tak bisa melakukan apa-apa sekarang ini” “Tapi aku- bagaimana bisa aku tidur bersama Pak Al... ex...” Ucapku semakin pelan kuucapkan kalimat di ujungku itu. “Kau bisa tidur di kamarku, biar nanti aku tidur di sofa” Ucapnya, aku benar-benar jadi merasa tak enak sekali. Tanganku tak bisa diam, khawatir, apa ini akan baik-baik saja? Apa tak apa jika aku tidur dengannya di sini sampai aku sembuh? Itu artinya aku akan tidur di apartemennya selama seminggu? Bagaimana kalau sampai terjadi... ‘Bagaimana ini? Sejauh ini skinship yang kulakukan bersamanya hanya sebatas ciuman dan pelukan saja. Bagaimana jika nanti... Oh, bagaimana iniii...’ Aku jadi resah tahu akan tinggal dengannya. “Hey...” “Ehm?” “Ada apa? Bukankah kau juga sudah biasa tinggal di sini sampai pagi untuk mengerjakan jurnalku? Seharusnya bukan hal baru untukmu, bukan?” Benar juga apa kata Pak Alex. “Tapi- saat itu jelas sekali aku hanya asisten Pak Alex, kalau sekarang... aku- aku ini kan... Kekasih Pak Alex...” Jujurku. Ia malah terkehkeh sambil mencubit pipiku. Aku heran kenapa ia begitu, bukankah seharusnya ia juga khawatir akan sampai tergoda untuk meniduriku. Atau mungkin di sini hanya aku yang berpikir sampai pada hal itu. “Kau ini... memang kenapa kalau sekarang aku kekasihmu?” “Pak Alex tak akan sampai memelukku saat itu karena aku hanya sekedar asistenmu, tapi sekarang Pak Alex bisa langsung memeluk tubuhku dalam tidurku karena aku kekasihmu, bukan begitu?” Pak Alex malah tertawa lepas sekali mendengar perkataanku itu. Ia kemudian mendekatkan kursinya padaku, memutar posisi dudukku jadi menghadapnya. “Jadi... kau takut aku memelukmu saat kau tidur? begitu?” Tanyanya sambil menatapku lekat sekali, bahkan wajahnya perlahan mendekat, sampai jadi menyisakan jarak yang sedikit dengan wajahku ini. Gulp Gugup, gerogi aku di tatapinya seperti ini. “Bukankah waktu itu kita sempat saling memeluk, tertidur sampai pagi?” “Ooh itu- saat itu kan situasinya, oh maksudku karena keadaan saja jadi aku- aku sampai tidur dalam pelukan Pak Alex” Terbata-bata sekali aku berbicara. Entah kenapa aku bersikap seperti ini padanya, rasanya malu sekali, sampai tak berani ku tatap matanya. “Memangnya apa bedanya dengan sekarang? Ehm? Karena keadaan juga aku bisa memelukmu saat tubuhmu ini kesakitan bukan?” “Oh? Pak Alex! Cari-cari kesempatan sekali padaku” “Kenapa? Tak boleh?” “Aku ini kan kekasihmu? Memangnya kau tak ingin kupeluk?” “Ingin tapi- aku- ahh... kenapa aku aneh sekali” Pak Alex terlihat kembali terkehkeh dengan tangannya yang kini membelai lembut pipiku. “Sepertinya bawaan sakit di tulang selangkamu kau jadi aneh begini” Ucapnya. Tak masuk akal sekali, sampai kini giliranku yang jadi mengulum senyumku karenanya. “Kemari” “Ah!” Pak Alex tiba-tiba saja mengangkat tubuhku, dan membuatku duduk di atas pangkuannya. “Pak Turun aku, aku ini berat-“ Ucapku rasanya canggung sekali, harus duduk di atas paha dosen sekaligus kekasihku ini. “Tubuhmu ini sangat langsing jadi tak ada berat-beratnya, bahkan aku pikir tubuhmu ini terbuat dari kapas karena ringan sekali” Aku tertawa lepas sekali mendengar perkataan yang jelas di lebih-lebihkannya itu. Wanita mana yang tak senang di puji langsing begitu oleh kekasihnya. “Kulitmu juga halus dan putih sekali, sepertinya kita terbuat dari sesuatu yang berbeda...” Bisiknya begitu tepat pada daun telingaku. Darahku berdesir hebat karenanya, bahkan bulu di sekujur tubuhku jadi berdiri, bergidik dibuatnya. “Pak Alex, jangan menggodaku seperti ini” Protesku, tapi sepertinya Pak Alex tak mempedulikan itu. Ia malah meniupkan napasnya pada area belakang leherku. “Ahh Pak Alex berhenti” Ucapku sambil kumajukan tubuhku ingin menjauhinya. Tapi Pak Alex dengan cepat mendekap tubuhku, sampai kini aku terkunci dalam erat tubuhnya. “Gadis, aku suka begini... memelukmu seperti ini membuat hatiku hangat juga tenang sekali” Ungkapnya. “Aku... aku juga menyukainya” “Jadi... boleh aku memelukmu saat kau tidur nanti?” Aku pikir itu akan baik-baik saja, karena tak bisa kubohongi diriku sendiri, aku menyukai peluknya ini, mungkin aku akan mendadak jadi putri tidur jika selalu tidur dalam dekap nyamannya setiap malam. “Ooh... kenapa tak boleh? Pak Alex kan kekasihku...” Balasku. Tak terasa matahari mulai menyapaku, lengan kokoh tak asing lagi bagiku, kutahu siapa pemiliknya yang kini masih tertidur lelap disampingku, memelukku. Bagaimana bisa kujalani hal seperti ini, hubungan dengan dosenku ini. meski terpaut lima belas tahun namun secara penampilan tak akan ketara jarak yang cukup jauh itu. Lamunanku yang disadarkan oleh suara seraknya yang baru saja bangun namun dengan mata yang masih terpejam. “berhenti menatapku, aku bisa habis kau tatap Gadis” Matanya perlahan terbuka, diikuti senyumnya yang selalu tampan itu. Tangannya membelai wajahku, sedikit mempersempit jarak yang sudah tak ada sesungguhnya. ia kembali memelukku, aroma tubuh maskulinnya kuhirup, menjadi candu baru, pikirku. Dalam peluknya di pagi ini aku berbisik padanya “aku menyukai pelukan ini, hangat peluk ini, aku ingin terus selalu seperti ini” Jujurku. Aku berkata jujur pagi itu, tanpa merasa bersalah ataupun takut. Semalam adalah kedua kalinya aku tidur lelap dalam peluknya, sebelumnya saat kami belum resmi berpacaran, karena hujan, kali itu kami dijadikannya berakhir dalam pelukan sepanjang malam. “aku akan selalu berada disisimu Gadis, memelukmu erat seperti ini” Kutatap mata itu, mencari sebuah kebohongan atau setitik kepalsuan dari kata-katanya. Namun binar matanya menghalangiku, membutakanku dan aku tak bisa berhenti dengan tatapan hangat itu. Tak apa jika perkataannya sedikit palsu, atau hanya sekedar janji. jujur mendengar kalimat seperti itu bukankah merupakan sebuah anugrah bagi dirimu, jadi terimalah itu meski pada nantinya hanyalah kebohongan manis berupa janji palsu. Begitulah bisikan yang terdengar disudut hatiku. “I love you Gadis” Ungkapnya padaku, kalimat yang tak pernah kubayangkan akan kudengar dari pria yang kini dalam pelukku. terbaring diranjangnya dibalut selimutnya, setelah ini akan apa dan sejauh apa kami akan melangkah. Tak apa, pikirkan itu nanti, aku ingin menikmati yang seolah mimpi di pagi hari ini. # Setelah kejadian hari itu, aku tak jadi tinggal di asrama lagi melainkan selalu pulang dan menginap di apartemen Pak Alex. Dengan dalih memudahkanku mengerjakan semua tugasku sebagai asistennya agar tak usah susah payah bagiku bulak balik asrama dan apartemennya. “Jujur padaku, Pak Alex cemburu pada Kenan bukan?” Tanyaku padanya, sedikit mengganggunya yang sedang membaca buku. Tak bergeming, dari sikap duduk santainya dengan tangan yang masih saja sibuk membalikan halaman demi halaman bukunya itu. Dengan jahil akupun merangkak masuk diantara kedua tangannya, menatap lekat wajahnya, tanganku kulingkarkan ditubuhnya. “Apa buku itu lebih menarik dari pada aku?” Tanyaku, membuyarkan fokusnya. Kecupan singkat kemudian yang kudapat darinya. “Jawab, pertanyaanku dulu” Tanyaku masih penasaran dengan apa yang jadi tanyaku. “Apa?” Tanyanya kemudian “Jadi Pak Alex tidak mendengarkanku, benar buku ini sudah mengalahkanku rupanya” Kenanak-kanakan sekali aku padanya. Dengan bibir yang kukerutkan, tanganku merebut buku yang tengah dibacanya. Kutatap dirinya lagi. Dan sedang terkehkeh dirinya. “Kalau kujawab ya, apa kau akan menjauh darinya” Akhirnya jawabannya mengarah pada apa yang menjadi tema pembicaraanku diminggu pagi ini. Benar rupanya, sikapnya pada Kenan sedikit menggangguku. aku yang masih sering bersama Kenan untuk beberapa kegiatan, dan beberapa kali juga Kenan menunjukan sikap hangatnya padaku, tapi memang seperti sedari awal. Maksudku, rambutku yang selalu dimainkannya, diacak-acaknya, terkadang ia berleye-leye bersandar padaku, bahkan kami sudah biasa berpelukan reflex saat mendapat kabar yang menggembirakan. Tapi kau tahu itu Kenan tak menyukaiku, bahkan aku yang sebagai wanita. Kelainannya, maksudku selera dan tipikal yang ia sukai jelas bukan diriku, ia menyukai pria yang kini sedang digilainya. “Bukankah sudah kuberitahu mengenai kelainannya” Yah, hari saat ia merajuk dan mendiamkanku karena sikap Kenan yang tiba-tiba memeluk diriku dan tak sadar aku tengah diperhatikannya hari itu. karenanya, kuberitahu bahwa Kenan berbeda dari kebanyakan pria. Bukti hubungannya yang kupunyapun kutunjukan padanya. foto saat Kenan tengah bersama kekasih prianya, ‘Aduh mengapa aku menyimpannya ya?’ namun aku sungguh berterimakasih pula Kenan sempat membagikan momen itu denganku. Dan dengan sangat terpaksa pula kubeberkan pada kekasihku yang tengah cemburu buta padanya itu. Maafkan aku Kenan. “Gadis, bahkan semua orang mengira kau itu malah sedang menjalin hubungan dengan Kenan, tahu itu? bahkan sampai akupun ikut berpikir begitu sebelum kunyakatakan cintaku padamu, hari ketika kukirimi dirimu pesan dan bertanya kau tengah berkencan dengannya, ingat itu?” Benar perkataannya. Sepertinya selama ini aku tidak menjaga hatinya dengan baik. “Aku berjanji akan menghabiskan waktu bersama denganmu” “Janji. bahkan ketoiletpun akan kutemani” Janjiku padanya, ia malah mencubit pipiku pelan dengan senyumnya mengembang. “Tapi untuk Kenan tak bisakah, Pak Alex abaikan itu? Maksudku jangan berlebihan padanya, tatapan Pak Alex selalu seperti ingin mengajaknya naik ring tinju tahu. Kenan adalah satu-satunya temanku, teman baikku” Mohonku padanya “Baiklah jika itu maumu” Jawabnya, akhirnya mengabulkan pintaku. “Tapi aku masih ingin melakukan semua hal yang bisa kau lakukan dengan Kenan, dan tidak kau lakukan denganku, seperti kencan di taman hiburan, bermain-main di semua tempat” Ia masih mengiri rupanya. “Aku tidak sedang berkencan di taman bersamanya hari itu” Belaku “Aku tahu, dan itu juga bukan kalian lakukan berdua karena aku dan satu kelaspun juga di sana saat event kampus hari itu, tapi aku masih iri dengan semua waktu yang habiskan bersamamu” Tuturnya padaku, bahuku lelah turun merendah, dan napasku terhembus dengan berat mendengar itu. “Pak Alex tahu, kencan terindah yang selalu aku impikan dengan kekasihku adalah tidur seperti ini” Ucapku, lalu kuubah posisiku dari yang semula duduk menghadapnya dan bersandar dalam peluknya kini kuubah jadi merebahkan diri dengan menjadikan pahanya sebagai bantalanku. “Lalu mendengar suara Pak Alex membacakan buku untukku...” Lanjutku, dengan senyum penuh harap atas inginku ini. “Sesederhana itukah dirimu?” Ucapnya dengan tangan yang ia usapkan pada rambutku. Menciumku dengan menduk, sangat menunduk untuk dapat sampai dikeningku yang kini berada tepat dibawah, diatas pangkuannya itu. “Lagi, kau membuatku jatuh cinta lagi dan lagi... semakin besar saja inginku untuk memilikimu seorang diri saja” Ungkapnya padaku. Kubalikan tubuhku menyamping, tenggelam dalam perutnya itu. “jangan banyak bergerak disana, bisa kau bangunkan miliku dan kita akan berakhir bermain diranjang pagi ini” Peringatan ia layangkan padaku, saat aku telah bersikap gelisah karena malu. Aku yang hanya terdiam takut-takut benar ia akan meniduriku. Hal yang tak bisa kukendalikan, keadaan juga perasaan menjadikanku selalu terjebak dalam ketidakberdayaan. Tiga bulan sudah berlalu sejak pernyataan cinta Pak Alex padaku, tak bisa kupungkiri aku menyukainya, aku menyukai perhatian juga hangat sikapnya padaku. Penjagaannya yang tentu saja membuatku merasa aman namun juga sedikit perasaan tak nyaman, kebebasanku sedikit direnggutnya, bahkan kini ketakutanku bertambah, takut jika hubungan ini muncul kepermukaan dan menjadi bahan celaan. Setiap detik dikelas terasa sangat memabukan, sempat sekali aku meminta padanya untuk tidak terlalu menunjukan perasaannya padaku, bukan tak suka namun lebih kepada sensasi menegangkan ketika kulihat tatapannya yang penuh bara api itu seperti siap membakarku. Salahku dulu berkata jika melakukan hubungan terlarang atau diam-diam seperti ini akan sangat menantang, termakan omonganku sendiri jadinya. namun kini aku seperti terasa terjepit sesuatu, tegang setiap saat, namun semua sirna saat kutahu dirinya ada disampingku, menemaniku memberikan banyak perhatian dan cintanya untukku. # Hari ini aku bangun lebih awal karena kelas pagi dimulai pukul 8 tepat. Karenanya aku menyempatkan untuk membuat sarapan pagi untukku dengannya, kekasihku, dosenku. Berkutat di dapur sementara Pak Alex baru saja masuk kamar mandi, setelah aku selesai menggunakannnya. Namun karena kekasihku yang mendadak sedang malas, aku yang bahkan sudah lama keluar dari kamar mandi, dirinya masih saja berleha-leha dikasur dan menggulung tubuhnya dengan selimut. Selesai aku berpakaian dan bersiap, Pak Alex masih saja berguling-guling di kasur. Akhirnya kutarik dirinya untuk bangun. Setelah semua drama itu, di sinilah aku sekarang, memecahkan dua telur dan mengocoknya dalam wadah. Kutuangkan sedikit s**u kedalamnya. Setelah itu kuambil roti dan kulumuri dengan telur kocok itu. Memanaskan wajan kemudian kutaruh mentega diatasnya, roti yang sudah kusiapkan tadi dipanggang diatasnya. Suaranya mendesis memenuhi ruangan. aku suka itu seperti mendengar asmr, dan lagi wanginya cukup manis. “Wah, sepertinya kau sudah pantas menjadi istriku?” Suaranya tiba-tiba membuatku melirik dirinya yang masih berbalut handuk dan mengibas-ngibas rambutnya yang basah. Berjalan kearahku, wangi segar tubuhnya semerbak memenuhi lubang hidungku. “ehm, ini harum shampooku?” Ucapku, saat ia berdiri dibelakangku, menunduk menaruh wajahnya dibahuku, sangat dekat hinga bau shampoo yang tak asing karena itu miliku, jelas tercium olehku. “Karena aku menyukainya, jadi menggunakannya, hehe” Jujurnya, cengengesan tanpa merasa bersalah diwajahnya. Aku masih disibukan menyajikan roti yang sudah matang kini, dan sentuhan terakhirnya kutaburi gula. “Aaaa” Ia membuka mulutnya dan bersuara demikian, minta disuapi. Tanganku meraih selai stroberi tak jauh dari jangkauanku, lalu kuolesi diatas roti yang sudah kusiapkan. Dan menyuapinya. “Dasar bayi besar” Sindirku padanya, ia hanya tertawa dan mempererat pelukannya dipinggangku. “Cepat bersiap ini sudah setengah delapan” Lanjutku, menyuruhnya memakai pakaian, apa dia tidak kedinginan hanya mengenakan handuk seperti itu, bagaimana jika sampai handuk itu jatuh. Ah akan sangat panjang ceritanya. “Bantu aku berpakaian” Celetuknya padaku. sungguh. Ia ingin aku memakaikan baju untuknya. Yang benar saja, sejak kapan dirinya berubah jadi semanja ini. Aku berbalik menghadapnya. Mendorongnya masuk kembali kedalam kamar untuk berpakaian. “Jangan begini, cepat bersiap nanti kesiangan” Ucapku setelah sampai didepan pintu kamar tidur. “Iya iyaaaa, buatkan kopi untukku Gadis sayang” Pintanya, mungkin sebagai gantinya. “Akan kubuatkan, tapi cepat bersiap” Iya-ku padanya, akan kupenuhi pintanya itu. Kemudian ia berjalan kearah lemari dan memilih beberapa kemejanya disana. Aku kembali ke dapur, membuatkan kopi untuknya. Sesungguhnya tanpa pintanya memang aku selalu buatkan kopi untuk dibekalnya ke kampus. Membuka toples bubuk kopi, kusiuk tiga sendok saja, ada mesin ekspresso disini yang selalu kugunakan, jadi itu mempermudahku. Selagi aku menggambil mug tumblr take out yang biasa digunakannya, aku berpikir mungkin seharusnya aku membantunya berpakaian seperti keinginannya. Untuk sedikit saja menunjukan perhatianku. Masih menggangguku, akhirnya setelah kutambahkan beberapa es didalam mug dan kutunggu kopi itu keluar dari mesin ekspresso, gemas aku dibuatnya, kenapa lambat sekali. Oh Mungkin aku saja yang ingin cepat-cepat menyelesaikanya. Selsai. Kututup dan kutinggalkan dimeja. Masuk kedalam kamar, untunglah ia sudah mengenakan celananya, dan kini tengah mulai mengancingkan kemejanya, dengan berani aku berjalan kearahnya, memeluk tubuhnya dari belakang. “Ada apa emh?” Tanyanya dengan nada lembut, akupun berjalan memutarinya dan berdiri berhadapannya kini. “Biar aku saja” Ucapku. Tanganku meraih kancingnya dan mengaitkannya satu persatu, turun. Dapat kulihat perut ratanya yang tak tertutup, menjadi fokusku kini. Tanganku yang sesekali bersentuhan dengan kulitnya, membuatku sangat canggung saja. “Jadi, kau benar-benar sudah siap menjadi istriku, mengurusi semua kebutuhanku?” Godanya padaku. Bertanya dengan kedua alis yang diangkatnya, bahkan antuasias nada suaranya. Pipiku merona karenanya, ia hanya tersenyum melihat tingkahku kini. Menunduk dan mengecup bibirku. Tak ada kata yang terucap darinya. Entah dorongan dari mana, mungkin wajah tampannya yang begitu dekat denganku, bahkan deru napasnya kini dapat kurasakan diwajahku. Kumajukan wajahku dan kulumat bibirnya. Hadiah untuknya morning kiss dariku.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN