Pak Alex

2277 Kata
Mataku menengadah menatap langit, hitam mengabu. Sedikit aku berharap jangan dulu hujan turun sebelum aku pulang dan sampai di asramaku. Ingin aku tinggalkan saja stand bazar yang diadakan organisasi kemahasiswaan ini. Tangan yang tiba-tiba memayungi arah pandangku, membuatku berteduh karenanya. Kutatap siapa pemiliknya. “Pak Alex” Sapaku, iapun menurunkan tangannya. “Sedang apa melamun sore-sore begini?” Tanyanya padaku, “Ah, karena standnya sepi jadi tak ada yang dapat kukerjakan. Melamun aku jadinya” Jawabku santai, “Sudah tutup saja standnya, malam ini akan hujan” Mendengar perkataannya, sedikit menimbang-nimbang haruskah aku menutupnya lebih awal dari agenda yang sudah dijadwalkan semula. Tanganku bergerak gelisah. “Cepat minta bantuan yang lain untuk sudahi acara bazarnya, keburu hujan nanti. Oh iya, malam ini jurnal biar saya sendiri yang kerjakan, kau urus saja acara bazarnya” Lanjut pembicaraannya padaku, tak sadar tangannya menggenggam tanganku yang sejak tadi tak bisa diam, mungkin gemas ia melihatnya. Mataku tertuju pada tangannya yang masih bertumpu diatas tanganku. Sadar itu, buru-buru Pak Alex menurunkannya, menyembunyikannya dibelakang tubuhnya. “Gadis!” Panggil seseorang padaku dengan sedikit berteriak. memecahkan kecanggungan diantara kami. “sepertinya kita lanjut besok saja bersamaan dengan pembukaan donasi, hari ini kita sudahi saja” Beritahunya padaku, namun aku yang masih berada dalam gangguan otak setelah sentuhan dosen tampan itu, terpaku, mematung sebentar. Tak merespon perkataannya. “ayo tunggu apa lagi, kita bereskan semua dan masukan kedalam ruang BEM” Ucap Kenan lagi padaku, ia adalah ketua acara bazar selama sepekan ini. selalu menjadi patner kerjaku di setiap acara kampus, membuatku cukup dekat dengannya. “i-iya” Jawabku terbata-bata, mataku kembali pada Pak Alex yang masih berdiri didepanku, melihatku kikuk karena perbuatannya. “saya tinggal kalian, ya. Semangat” Pamitnya meninggalkanku dengan Kenan yang mulai sibuk melipat baner dan memindahkan kursi. “ya, Pak. Selamat sore” Balas Kenan, sementara aku yang sedang berpura-pura tak melihatnya, sedikit menghindari tatapannya karena aku yang merasa sangat berantakan dibuatnya, hatiku berubah bercampuraduk tak jelas didalam sana. “Dis, ada apa dengan dosen itu, tingkahnya sok manis sekali padamu” Jujur Kenan padaku. Kutebak Kenan juga merasakan kejanggalan yang kurasakan. Kutatap dirinya, sedikit berharap ada pencerahan atas kesembrawutan hatiku. “ah Kenan aku juga tak tahu, ingin aku menghilang saja, rasanya sangat aneh” Ungkapku, berusaha jujur atas apa yang kurasakan kini, akupun bersandar pada tubuhnya yang tinggi, memukul-mukul pelan perut Kenan yang tidak memiliki salah apapun namun menjadi pelampiasanku. “Ya ampun ada apa dengan anak ini” Ucapnya, tangannya memelukku, melangkah kekanan dan kekiri seperti beruang yang sedang berdansa saja. “Hey! cepat bereskan sebelum hujan, malah pelukan begitu. Cari kamar saja sana!” Protes louis, salah satu teman, melihat tingkah kami “haruskah kita pergi kehotel saja ehm?” Tanyaku jahil pada Kenan. “ihhg, gadis kau itu seperti adikku, aku tak bisa bercinta denganmu” Jawabnya, tangannya menjitak kepalaku pelan, tiba-tiba saja ia begitu frontal menolak bercinta denganku. “bukankah menyenangkan, dan menegangkan ya memiliki hubungan terlarang” Balasku melantur sudah, sepertinya aku mulai menggila, melupakan akal sehatku dan menjaga tingkahku untuk tak asal bicara. “haha, bisa juga seorang gadis berpikir begitu, jadi kau tertarik dengan hubungan terlarang seperti bercinta sesama saudara?” Tanyanya terdengar menantang ditelingaku. Sempat saja terbesit untuk memiliki hubungan dengan dosen tadi dan bukan dengannya. “tidak juga, tapi jika kau mau, mengapa tidak?” Santai kujawab, semakin jauh candaku. Kenan hanya kembali memelukku dari belakang dengan gemas, tangannya menggelitikiku. Aku kemudian berlari menjauhinya dan ia mengejarku dari belakang. Sedekat itu hubunganku dengan Kenan. Bukan hubungan romantic yang bermula dari teman lalu berubah jadi kekasih, kupastikan tak ada cerita seperti itu antara aku dengannya. Sejak tiga bulan lalu, saat aku ketahuan tengah kesulitan membawa setumpuk materi presentasi yang telah kufotokopi dan akan kubagikan pada semua anggota kelompokku. aku ketetran membawanya karena itu cukup banyak, hingga terjatuh berantakan ditanah. Kotor sudah semuanya, dan Kenan disana membantuku. Kupikir tadinya ia akan menyalahkanku karena tidak becus membawa tumpukan kertas itu. “bagaimana sih, menyuruh mahasiswa perempuan untuk membawa fotokopian sebanyak ini” Ia malah marah-marah tak jelas menyalahkan anggota kelompokku. Aku tertegun kaget atas sikapnya. selama ini aku selalu tertutup dengan semua mahasiswa dan hanya bertanya atau berbicara seperti diskusi saja. ya, sebatas persoalan mata kuliah saja. Sebisa mungkin aku menghindari gossip, atau pembicaraan yang mengarah pada persoalan pribadi. Aku terlatih menjadi seseorang yang pandai berbohong dan mencari-cari alasan untuk menghindari semua orang. Namun saat aku bertemu dengan Kenan rasanya berbeda. Selalu saja ada sikapnya membuatku terkejut, tak mengerti. Tak seperti kebanyakan orang, ia selalu bertanya padaku alih-alih menghujaniku dengan cerita tentang dirinya, mendorongku untuk bercerita, hingga tumpahlah semua kegondokan dalam hatiku sejak pertama aku bertemu dengannya. Meski sedikit ku tutupi, kuringkas dan kubatasi ini ceritaku, namun tetap sedikit aku merasakan kebebasan dari kekesalan yang selalu kupendam. # “jujur padaku, sejauh apa hubunganmu dengan dosen itu” Tiba-tiba ia mengajukan pertanyaan seperti itu. membuatku teringat kembali akan sosok yang membuatku selalu terlihat seperti wanita gila. Raguku untuk bercerita. “wajarkah bila ia tiba-tiba membelai wajahku dengan maksud mengusap air hujan diwajahku” Tanyaku padanya “hah? Kapan itu? lalu setelah itu bagaimana?” Bukannya menjawab pertanyaanku ia malah balik bertanya padaku dengan rasa penasarannya. “ia mempersempit jarak tubuhnya denganku, dan merangkulku, sungguh sampai disitu saja malam itu” Bohongku padanya, aku menyesal mengatakannya. Karena sesungguhnya tak sampai disitu ceritanya. “Gadis kau tahu, itu sudah melewati batas, bagaimana jika melakukan lebih, menciummu atau bahkan lebih jauh menidurimu” Dengan nada meninggi ia mengatakannya, sontak saja kubungkam mulutnya, seisi kafe melihat kearahnya sumber suara dan ember bocor itu. “mengapa tidak sekalian kau pakai pengeras suara dipanggung band music itu saja” Kesalku padanya. Dengan tangan yang kutunjukan pada panggung untuk live music band kafe. “itu sama saja dengan pelecehan seksual kau tahu itu” Mendengar kalimat itu, membuatku berpikir benarkah bahwa aku telah dilecehkan? maksudku, sesungguhnya karena malam itu hujan, dan keadaan sangat mendukung untuk melakukan hal-hal seperti.. ah itu adegan film romantic. Malam itu, aku diciumnnya bahkan gilanya aku tidur nyenyak sampai pagi dalam hangat peluknya. Tapi kau tahu? Bukan perasaan ia telah melecehkanku yang kurasakan lebih pada ia berusaha menjagaku. Aku tahu aku mulai gila # Setelah itu Kenan mengantarku sampai kedepan asramaku, melepaskan helm yang selalu kupakai saat diboncengi sepeda motornya. “dis, jika memang kau memiliki sedikit perasaan pada dosen itu, kuharap … emm (Lama ia terdiam, kutunggu kelanjutannya) itu akan jadi cerita cinta yang bahagia” Pungkasnya juga harapnya atas diriku. hatiku akhirnya sedikit mengendur setelah tertarik sana sini, bergelut seperti benang kusut mendengar perkataannya baru saja. Kupeluk Kenan dengan rasa terimakasih sudah mengatakan itu. “Kenan, terimakasih kau sudah selalu ada untukku, mendengarkan ceritaku, beruntung sekali Devan memilikimu” Jujurku padanya. Tak ada jawaban darinya, namun ia balas memelukku, mengusap pelan lenganku. Jangan salah, benar adanya kekasihnya bernama Devan, dan dia seorang pria sama seperti Kenan. Ceritanya panjang, bahkan aku masih belum selesai mendengar kisah cinta mereka. Terkejut? mungkin tidak. Aku bisa jauh lebih cepat memahami hal-hal berbau illegal, tak normal, dari pada mereka yang sesuai dengan tatanan kehidupan yang normal. Mungkin itu juga jadi salah satu kelebihanku dalam fakutas yang kupilih kini, masalah psikologi, mental yang sedikit nyeleneh, berbeda, berpikir criminal, dalam dunia yang gelap banyak yang menganggapnya sesuatu yang tak lazim. Aku lebih memahami itu. akupun tak mengerti diriku ini. atau mungkin karena aku bagian dari dunia itu. Kenan pergi setelah memastikan aku naik dan masuk kedalam asramaku. Tak lama kudapati pesan From Pak alex Jadi kau sudah berkencan dengan Kenan? Apa maksudnya pak alex mengirimiku pesan demikian. Kubalas saja Aku tidak sedang berkencan denga siapapun, kalaupun aku sedang berkencan bukankah besar kemungkinan harusnya dengan Pak Alex? Setelah kita bermalam bersama, pak alex tak ingat itu. Setelah kukirim pesan itu, terpikir mungkin besok aku akan menyesalinya, namun masa bodo. Satu panggilan masuk tiba-tiba kulihat dari ponselku, Pak Alex menghubungiku. sedang tak ingin dingganggu dengan dramanya, kumatikan saja ponsel itu. lagi pula selama dua hari kedapan aku tak memiliki alasan untuk bertemu dengannya. Jadi biar nanti saja kupikirkan cara untuk menghadapinya. Selamat malam. # Kulirik jam disamping ranjang tidurku, sudah pukul satu malam. Otakku melayang kesana kemari membayangkan bagaimana hubunganku dengan Pak Alex selanjutnya. kuingat kembali malam-malam saat aku mengerjakan jurnalnya. bagaimana wajah lelahnya tengah membaca setumpuk buku referensi, hingga lengan kemeja yang mulai ia gulung memamerkan lengan kekarnya. Jangan lupakan bagaimana sentuhan-sentuhan tak sengaja yang kami lakukan. Tanganku saja kini mulai menyentuh kulit yang pernah disentuhnya itu, meninggalkan jejak rindu yang tak pernah terpikir olehku. Tanganku bahkan meraih bibirku yang pernah merasakan manis bibirnya. mendarat disini, tepat dimana tanganku mengusapnya kini. Semua itu tak akan terjadi jika ia tak menjemputku saat hujan malam itu, seharusnya aku mengenakan pakaian yang lebih baik, bukan kemeja tipis yang kukenakan hari itu, hingga air hujan bisa membuatnya tampak sangat transparan menampilkan sempurna lekuk tubuhku seolah aku tengah menggodanya. Jangan lupakan soal aku yang jadi menggigil kedinginan hinggga akhirnya Pak Alex memelukku dan tergoda mencumbu bibirku. Diapartemennya, melupakan deadline waktu penerbitan jurnal malah tertidur saling mengeratkan tubuh, memeluk satu sama lain. Masih beruntung tidak terjadi yang lebih jauh. Atau ada sedikit harapku mungkin bisa merasakan sentuhannya lebih jauh. Ya ampun aku sudah gila, masa iya aku ingin disentuh dosenku sendiri. Tapi aku juga sudah terlanjur gila, jujur saja setelah malam itu, jejak sentuhannya sensasi ketika kulit kami bertemu, masih kurasa dan kepalang gilanya aku merindukan itu. Haah hempas berat napasku, mendudukan tubuhku dan menyalakan ponsel yang sempat kumatikan itu. banyak panggilan tak terjawab juga pesan dari Pak Alex. Kubuka pesan teratas yang kuterima darinya Pak alex Gadis maafkan saya, malam itu kesalahan saya, maaf telah mencium dan memelukmu. Maafkan sikap lancang saya. Membaca pesan darinya, hatiku tertusuk-tusuk rasanya. Jadi baginya ciuman itu hanya sebuah kesalahan, begitu? Pelukannya padaku malam itu tak ubahnya hanya salah satu sikap lancang. Apakah disini hanya aku yang menempatkan perasaan pada malam itu. ingin aku menangis. Dan ya aku menangis, “dasar dosen psikopat! Awas kau tak akan ku bantu lagi soal jurnal itu” # Rabu/ 10.00 am Dengan malas aku berjalan diarah koridor, hari ini jadwal berubah karena perubahan KRS rupanya. banyak mahasiswa berkerumun disana untuk melihat jadwal baru yang dipampang. Aku menjadi salah satu yang berada diantara kerumunan itu. mataku mencari-cari nama dosen pengajarku hari ini. Tiba-tiba saja seseorang memegang tangaku, mataku tertunduk karenanya, mencari siapa pemilk tangan itu. kudapati wajah yang tak asing lagi bagiku. Ditariknya diriku, tanpa ada satu orangpun menyadari itu. Disinilah aku berdiri, diruangannya. Berdua hanya bersama Pak Alex. Mata yang semula menatapnya, tak mampu lebih lama disana, kupalingkan kesamping. “Gadis, jangan diamkan aku seperti ini, kumohon padamu” Kalimat yang kudengar dari mulutnya setelah berhari-hari tak bercara dengannya. “saya maafkan kesalahan Pak Alex, ciuman dan pelukan malam itu, saya maafkan kesalalahan bapak itu” Jawabku langsung pada intinya. “lalu mengapa kau masih mendiamkanku seperti ini?” Tanyanya kembali padaku “malam itu hanya sebuah kesalahan cukup untuk menjelaskan segalanya, bahwa aku juga merupakan sebuah kesalahan bagi Pak Alex bukan begitu?” Lanjutku, matanya kini membulat, mungkin tersadar apa yang telah ia lakukan hingga aku bertingkah seperti ini. “Gad-“ Kata-katanya terputus saat seorang mahasiswa membuka pintu ruangan Pak Alex, “Gadis ayo kita masuk kelas, kau dicari dosen PSD” Joseph mencariku rupanya, (mahasiswa yang selalu bersamaku selain Kenan) menghentikan pembicaraanku dengan pak alex pagi itu diruangannya, “kalau begitu, permisi Pak” Ucapku berakting seolah tak terjadi apapun atara aku dengannya. Pak alex hanya menatapku dengan tatapan kosong. kutebak ingin sekali dirinya menghentikanku, membuatku lebih lama bersamanya. Bahkan saat Joseph berbalik melangkah lebih dulu didepanku, tangan Pak Alex meraih tanganku lemah, dan terlepas dengan mudah saat aku melangkah berjalan keluar meninggalkan ruangannya. Kelas dimulai, duduk disudut ruang kelas, dengan hati tak karuan kuikuti kelas pagi ini. mataku menatap jauh keluar jendela, menampilkan pemandangan parkiran kampus yang sepi mahasiswa. mataku tertuju pada sosok biang kerok kegundahan hatiku, Pak Alex berdiri disana menatapku, pasti itu. Pak Alex Gadis keluar kelas sekarang, kutunggu dimobilku Isi pesan tergila darinya, dosen ini menyuruhku bolos kelas hanya untuk menemuinya. Haruskah? Jangan gila gadis, lupakan dia, setidaknya duduk satu SKS saja lagi disini. Kelas berlangsung sangat lama dari biasanya, bukan karena ada penambahan waktu, namun aku yang merasa waktu melambat dari biasanya. Berjalan keluar kelas dan menuruni tangga, kudapati Pak Alex disana. lagi. Dia berdiri dilobi kutebak ia menungguku. Kemudian ia melangkah, akan berjalan kearahku, namun sedikit kugelengkan kepalaku dengan raut resah diwajahku, kuberi sinyal padanya untuk berhenti. Mengerti itu Pak Alex Mobilku terparkir didekat satpam diluar, temui aku disana Tahu maksudnya, ia berjalan lebih dulu dan aku menunggu memberikan jarak waktu kepergianku agar tak ada seorangpun yang menyadari itu. sudah seperti kekasih gelapnya saja diriku. Sampai dimobilnya, kunaiki dan kututup pintu mobilnya. Tanpa babibu ia mendekatkan tubuhnya padaku, bermaksud memasangkan sabuk penagaman padaku. Dan langsung manancap gas pergi membawaku jauh dari area kampus. Sedikit ngebut, bahkan benar ia membawaku dengan kecepatan lebih dari biasanya. kutatap dirinya, matanya seperti terbakar, aku takut. Hingga tanganku meraih tangannya. tahu itu maksudku, ketakutan yang kurasakan karena perbuatannya. Ia meraih balik tanganku dan memarkir mobil menyamping jalan dengan sembarang. Dan memelukku. “bukan begitu, sungguh perasaanku padamu, bukan sebuah kesalahan atau permainan, hatiku benar-benar telah jatuh padamu, kau tahu? kau sungguh menggangguku dan aku tak tahan dengan itu, aku menyukaimu gadis, sungguh. I’m falling in love with you” Ucapnya dengan terburu-buru, entah apa yang memburu, dengan masih memelukku. aku yang membeku. bahkan membuatnya tersadar karena lama menunggu reaksiku, namun masih tak ada jawab dariku. Bermaksud untuk melepaskan pelukannya itu, tanganku naik, mengusap ragu punggung itu, balas memeluknya. dalam hati aku tak tahu pasti bagaimana perasaan yang kurasakan saat ini. namun aku menyukai pelukan ini. Begitulah hari itu berkhir.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN