Perasaan Gadis

1823 Kata
“OH? Accepted? Ini- ini serius sudah dapat accepted dari penerbit?” Kagetku, tak percaya saat kulihat email pemberitahuan kalau jurnal yang seminggu yang lalu di submit oleh aku dan Pak Alex rupanya di terima dan di nyatakan bisa terbit oleh ridwan institute yang mengelola jurnal skala internasional itu. “Wahh...” Aku menutup mulutku tak percaya, hasil kerja kerasku bersama Pak Alex selama satu semester ini akhirnya bisa berbuah juga. Mataku bahkan berkaca, tangangku bergetar memegangi handphoneku yang masih memperlihatkan email pemberitahuan bahwa jurnal Pak Alex bisa terbit. “Gadis” Aku menoleh mendengar suara yang tak asing lagi bagiku itu. “Pak Alex... Hhhh” Aku menitikan air mata sambil memandangi wajahnya kini, jelas ia heran dan tak mengerti dengan sikapku yang mendadak seperti ini. “Ada apa? kenapa?” “Pak Alex Abraham Pamono” Ucapku, memanggil namanya. “Iya, kenapa?” Mulutku kalah cepat oleh air mataku yang kini mulai mengeluarkan tangis haru, bahagia karena keberhasilannya. Aku tahu sikapku ini berlebihan, tapi rasanya sangat luar biasa sekali menerima kabar di terimanya jurnal penelitiannya itu. “Ahh...” “Gadis, katakan ada apa?” Pak Alex mulai panik melihat aku malah memecah tangis saat ini. Ia bahkan menarikku untuk duduk di kursi, sementara Pak Alex berlutu dan mulai mengusapi air mata di pipiku. “Gadis...” “Pak Alex, ini....” Akhirnya karena mulutku tak mampu mengatakannnya, jadi kuperlihatkan saja email yang kuterima itu padanya. “Apa in-... Kita, jurnal kita- jurnal kita bisa terbit?? di Accepted?” Aku mengangguk sambil masih berderai air mata. Aku dengan Pak Alex kini bertemu pandang, lama bertatap, dalam sorot haru bahagia. “Gadis!!!” Cukup keras ia memanggilku, sebelum tangannya membawaku ke dalam peluknya erat. Aku kembali melanjutkan tangisku di dadanya. “Kenapa kau menangis sampai seperti ini di saat menemukan kabar bahagia sih?” Tanyanya sambil terkehkeh, Aku menggelengkan kepalaku masih dalam dekapnya. “Aiguuu, cup cup cup” Pak Alex mengusapi lembut punggung juga puncak kepalaku, berusaha menghentikan tangisku ini. Sampai kemudian kujauhkan tubuhku darinya, Pak Alex terlihat mengulum senyumnya pada wajahku yang basah karena air mata bahagiaku untuknya. “Lihat ini, wajahmu jadi jelek sekali saat menangis tahu...” Pak Alex bisa-bisanya berkata begitu, padahal aku seperti ini karena ikut bahagia untuknya. Kemudian tangannya merogoh sesuatu dari sakunya, dan di keluarkannya sapu tangan yang langsung di usapkannya lembut pada pipi juga hidungku yang sedikit berair. “Seharusnya jangan dulu menangis seperti ini, kita ini belum benar-benar menyelesaikannya Gadis, jurnalnya saja belum di terbitkan, belum lagi pasti nanti ada revisi bahasa, bahkan saya belum membayar administrasinya...” Seketika aku menyesali semua air mata yang kujatuhkan, saat tahu rupanya pekerjaanku yang melelahkan ini belum menemukan akhirnya. “Itu artinya aku masih harus berkutat dengan grammar dan penyesuaian standar data kembali? begitu?” Tanyaku memastikan. “Tentus saja, ini jurnal internasional jadi kita harus bisa memberikan pekerjaan yang maksimal” Rasanya aku ingin menangis kembali, sayangnya bukan tangis haru, tapi tangis ingin melarikan diri, enek, dan tak tahan dengan semua data-data yang memuatku muak itu. “Kenapa mau kabur?” Dan sialnya Pak Alex selalu saja menebak isi kepalaku dengan benar, aku sudah merasa di telanjangi saja olehnya. Kepalaku ini seolah transparan, sampai isinya bisa terlihat semua olehnya. Aku menunduk saja, mau berbohong pun rasanya percuma saja. “Ya sudah, setelah selesai administrasi kita makan malam” “Makan malam?” Tanyaku, dengan kedua mataku yang kubuka lebih lebar dari sebelumnya. “Iya, bukan burger king lagi, tapi kita makan malam di restoran yang cukup bagus, mau?” Siapa yang mau menolak ajakan seperti itu. Tentu saja aku mau. “Kalau begitu, saya jemput nanti pukul 7 malam” Ucapnya sambil berdiri dari posisi berlututnya seperti siap untuk pergi. Dan benar saja ia melangkah mundur mulai berjalan saat ini. “Pak” Tahanku, entah keberanian dari mana ku pegang tangannya untuk menghentikan langkahnya. “Apa?” “Mau pergi?” “Ehm, saya harus membayar administrasinya dulu” “Ah, begitu ya...” Entah kenapa rasanya ada yang tak enak di hatiku, kenapa aku tak di ajaknya kali ini. Biasanya kemanapun Pak Alex pergi selalu meminta untuk di temani. ‘Tunggu ada apa denganku, kenapa aku berharap selalu di bawanya? Ah! Aku pasti sudah gila karena jurnal penelitian ini’ Gerutuku dalam hati. “Gadis” “Iya?” “Saya mau pergi” Ucapnya, padahal tinggal pergi saja, atau ia berniat mengajakkku, mungkin begitu sampai aku jadi bangun, bersemangat siap ikut bersamanya. “Kok berdiri?” “Pak Alex kan mau pergi” Balasku, kenapa suasananya jadi penuh tanya seperti ini sih, heranku. “Iya saya mau pergi, ini tanganmu di lepas dulu” “Ahh...” Aku hanya bisa bersuara begitu, malu, kenapa tanganku masih menempelinya seperti itu, kegeeran pula lagi. Sepertinya selalu mengerjakan jurnal bersamanya membuatku sampai kehilangan kewarasanku. “Ya sudah, hati-hati, nanti kujemput pukul 7 malam” Ucapnya sebelum melangkah pergi dan benar-benar meninggalkanku sendiri kini. *** @ Asrama Pukul 5 sore Kutatapi seisi lemariku dengan tatapan kosong saat ini. “Kenapa rasanya tak ada satupun yang bisa kupakai?” Tak tahu kenapa rasanya aku tak memiliki pakaian yang bisa kupakai untuk pergi bersama Pak Alex malam ini. Tapi kalau ku pikir lagi, lalu semua yang ada di depanku ini apa? Jelas pakaian yang bisa kupakai? Tapi kenapa... Ah, kenapa aku jadi aneh seperti ini. Kemudian mataku tertuju pada dress putih yang sempat ku pakai untuk perayaan keberhasilan ayahku yang menjadi gubernur tahun lalu. “Tapi... bukankah ini akan terlalu mencolok?” “AHHH!! Yang benar saja, kenapa aku harus repot begini hanya untuk sebuah makan malam” Aku jadi frustasi sendiri, tapi memang tak bis aku bohongi diri sendiri, kalau aku ingin tampil cantik di depannya malam nanti. “Aku- kenapa aku-“ Tok tok tok Terdengar suara pintu kamar asramaku yang tengah di ketuk seseorang. Aku langsung berjalan untuk membukanya. “Paket” Singkat penjaga asrama sambil menyerahkan sebuah kotak putih padaku, “Dari?” Tanyaku hanya di jawab dengan gelengan kepalanya saja, ia kemudian pergi meninggalku dengan paket yang entah dari siapa pengirimnya itu. Karena penasaran, sambil kututup pintu asrama dengan kakiku, ku buka kotak itu. Dan betapa kagetnya aku, begitu kutemukan dress peach yang terlihat sangat cantic dan anggun sekali. “Oh? Ada sepatunya juga...” Ku keluarkan semua isinya, untuk menemukan jejak pemiliknya. Dan benar saja ada surat terselip di dalam kotak itu. Cepat kubuka itu. “Pak Alex?” Gadis, Terimakasih untuk enam bulan ini, kau benar-benar berjasa sekali untukku, kau selalu kesulitan karena semua tugas yang kuberikan, tapi kau tetap berusaha yang terbaik untuk jurnalku. Tadi bahkan kau menangis, terlihat lebih bahagia dari aku, pemilik jurnal itu, dasar kau ini... Ini hanya hadiah kecil yang ingin kuberikan padamu, aku pikir kau akan cantik sekali saat memakainya. Pakailah, aku harap kau suka -Alex “Wah, aku tak percaya...” Tapi yang kemudian kusadari adalah... “Aku? dia- kenapa tiba-tiba memakai kata aku di surat ini? Tuhan, apa ini bisa di katakan surat cinta?” Tiba-tiba saja sekujur tubuhku terasa di gerayangi sesuatu yang amat menggelikan, sampai aku giggle-giggle sendiri di buatnya. Kakiku bahkan melompat-lompat kecil, kegirangan, tak sabar ingin segera memakai dress pemberian Pak Alex itu. Dan voilaaa, aku suka sekali bagaimana dress selutut itu jatuh dan melambai indah saat aku berputar. Bolehkah aku merasa jadi perempuan paling cantik malam ini. Rasanya bahagia sekali. “Ah, jantung, jangan terlalu ribut, nanti terdengar Pak Alex bagaimana” Ucapku sambil ku pegangi dadaku, yang tak bisa diam dan berdetak sangat kencang itu. Dengan senyum yang terus mengembang kini aku mulai bercermin siap untuk kuoleskan beberapa make up di wajahku. Aku tak pandai merias diri, bahkan tak biasanya aku ingin mengoleskan beberapa warna cerah di area mataku. “Ini bukan kencan Gadis, kenapa kau seperti ini???” Aku bingung sekali sampai merasa frustasi dengan diriku sendiri. “Tapi rasanya aneh sekali kalau aku di jemput Pak Alex, sebaiknya aku berangkat sendiri saja” Jujur entah kenapa aku bisa sampai segugup ini, lebih gugup saat akan di nyatakan lulus atau tidaknya saat aku akan berkuliah dulu. Akhirnya ku batalkan saja soal rencana Pak Alex yang akan menjemputku, aku ingin pergi sendiri saja dan langsung bertemu dengannya di sana. Dan sesampainya direstoran, kini aku berdiri, gerogi, ragu. Kurapihkan pakaianku, dress peach yang kugunakan serasi dengan heels putih simple tanpa aksesoris apapun. Kubenarkan posisi anting-anting di kedua telingaku, sebelum berjalan masuk ke dalam. Kulihat beberapa mata tertuju ke arahku yang tengah melangkah melenggang masuk, dan disanalah kutemukan pria yang sudah mengajakku untuk bertemu malam ini. Dengan tangan yang di lambaikannya, tak lupa Pak Alex juga memasang senyum tampannya, dalam tatapnya yang terlihat cukup lekat padaku saat ini. Berjalan kearahnya, tak sedetik pun ia lepaskan pandangnya dariku, mengawasiku berjalan hingga kini berdiri didepannya. Pak Alex bangkit dari duduknya untuk menyambutku. Tanpa kata, hanya memandangku dalam diam, tapi terlihat senyumnya yang semakin mengembang di tampilkannya padaku. ‘Apakah penampilanku berlebihan hanya untuk sebuah makan malam bersamanya? Sampai sampai Pak Alex menatapku begitu...’ Tanyaku dalam hati Aku ikut tersenyum dan tersipu malu atas tingkahnya, ia berjalan ke arah kursiku yang berhadapan dengan kursinya, memundurkannya dan mempersilahkan aku untuk duduk. Sedikit kuusap leherku, sebelum kemudian dengan canggungnya aku duduk di kursiku itu. “Pak Alex tak perlu memperlakukanku seperti ini, aku jadi malu” Jujurku. Menunduk karena sungguh malu karena perlakuannya padaku. “Itu harga dan memang harus kulakukan untuk wanita cantik sekali sepertimu” Pujinya padaku tiba-tiba. Kaget iya, senang pasti, tapi aku bingung dan tak tahu harus menanggapinya seperti apa. Sampai lama kami terdiam, hening, larut dalam kecanggungan, aku menunggu apa yang harus kulakukan. “jadi gadis kamu suka apa?” Seketika otakku berpikir keras sekali, menimbang-nimbang apa yang harus kukatakan padanya. Padahal biasanya cepat saja ku jawab apa yang ingin kumakan. Tapi malam ini, entah kenapa aku merasa harus memilih makanan, yang bisa membuatku terlihat cantik saat memakannya, tak menganga lebar seperti saat memakan burger king yang biasa kumakan bersamanya. “bagaimana dengan rose pasta, ini menu special malam ini” Tawarnya padaku, sepertinya itu menu yang disukainya pikirku. Aku mengangguk saja, mendadak lidahku kelu, padahal biasanya aku paling bawel sekali soal makanan pada Pak Alex. Akhirnya dengan menyantap menu special malam ini, suasana cukup romantic. Meski terbesit juga olehku, benarkan apa yang sedang kulakukan ini bersama dosenku, situasi ini? Dan perasaan ini? bolehkah? aku ragu... Kugelengkan kepalaku berusaha hanya menikmati momen kebersamaan ini saja, yang sesungguhnya tak bisa kumenapik, bahwa aku menyukainya, sangat-sangat menyukai mendapat perlakuan manis seperti ini. Beberapa kali kutatap wajahnya diantara remang cahaya indah lilin diatas meja, ia melemparkan senyumnya padaku. Tampan. Tampan sekali. Bagaimana perasaanku? Nyaman. Rasa itu yang mungkin tumbuh seiring berjalannya waktu yang kuhabiskan bersamanya. Caranya menghubungiku, mungkin cukup mengganggu disetiap malam, selalu memintaku melakukan ini dan itu untuk jurnalnya itu. Namun semua itu lebih dari cukup untuk menanamkan rindu, jika dirinya absen menghubungiku. Bahkan dengan bodohnya sempat kutunggu telpon darinya hingga subuh. Aku harus bagaimana ini? Sepertinya aku mulai menyukai dosenku itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN