Suhu di ruang mesin kapal yang terlalu tinggi membuatku lemas. Aku memutuskan naik kembali ke geladak kapal setelah kapal bergerak menjauhi pelabuhan. Sebelum aku dehidrasi dan mati di ruang mesin.
Aku berhati-hati di setiap langkah yang kuambil. Meski kapal ini dijalankan tanpa awak, aku harus terus berhati-hati karena tempat ini dipenuhi kamera pengawas. Kamera-kamera pengawas itu dipasang untuk mengawasi kapal dari jauh. Jadi setiap kapal dimonitori dengan ketat oleh orang-orang yang ada di kantor pusat AlgaCan. Hal ini dilakukan untuk menghindari kecelakaan dan kerugian yang tak diinginkan. Atau penyusupan seperti yang sedang aku lakukan.
Aku akan amat sangat bersyukur kalau dianugerahi kemampuan teknologi yang mumpuni untuk meretas kamera-kamera itu. Sayangnya aku tidak bisa. Maka satu-satunya hal yang bisa kulakukan adalah berjalan menempel ke dinding sambil mencari titik buta.
Aku bisa saja memecahkan semua kamera yang ada di sini dengan benda keras sehingga aku bisa bergerak bebas. Hanya saja, pengawas kapal ini akan curiga nantinya dan malah menghentikan kapal atau memutar balik arah kembali ke pelabuhan.
Aku hanya perlu menggeser posisi satu kamera di tempat yang nyaman untuk aku tinggal sementara. Para pengawas itu tak akan menyadari kalau kameranya bergeser.
Aku mengambil kaleng AlgaCan bekas dari tasku. Lalu membidik salah satu kamera yang ada di bagian geladak kiri kapal.
Brak! Kamera itu bergeser posisinya. Menghadap dinding yang berlawanan dengan tempatku. Aku lalu duduk di tempat yang sekarang jadi titik buta itu sambil memeluk lutut sendiri. Menyadari bahwa aku sendiri di kapal ini membuatku sedih.
Kenangan tentang nenek dan ibu merasuki kepalaku lagi. Aku rindu momen-momen kecil kami. Makan bersama, saling menyapa saat pagi, menjemput ibu di stasiun sepulang sekolah, atau suara nenek yang pecah ketika menyanyikan lagu kesukaannya sepenuh hati.
Aku menatap liontin yang membuat perjalanan ini dimulai. Menatap baik-baik foto ibu yang ada di sana. Meski aku benci ayah, setidaknya ada ibu di foto itu. Kemudian memencet tombol merah yang ada di bagian atasnya untuk mendengarkan melodi Fur Elise sekali lagi. Lagu itu akhirnya kuputar berkali-kali, menemani perjalananku yang sepi ini.
***
Kapal adalalah alat transportasi paling buruk yang pernah kunaiki. Perutku mual akibat kapal yang bergerak terombang-ambing karena ombak besar. Ditambah lagi dengan bau sampah yang diakibatkan oleh kandungan asam dari air laut. Bau itu bahkan sampai ke hidung meski aku sudah melilitkan kain di area hidung dan mulutku.
Aku sungguh ingin muntah. Kepalaku berputar-putar dan tubuhku terasa ringan seketika seperti orang mabuk.
Aku bahkan tidak makan seharian akibat keadaan yang tidak memungkinkan. Mana mungkin aku bisa makan kalau membuka kepala saja membuat kepalaku pusing setengah mati.
Aku berpegangan erat pada salah satu peti kemas. Menyalurkan perasaan tidak enak yang mengalir di sekujur tubuhku.
Keadaan jadi makin parah karena air di botolku hanya tersisa sekitar seperempat, sementara di kapal ini tidak ada akses air bersih. Habislah aku. Entah apa yang akan kuminum beberapa hari ke depan. Aku mungkin saja mati di tengah-tengah perjalanan.
Aku tergeletak di lantai geladak dengan mata terpejam. Bahkan aku tak bisa merasakan lagi tubuhku seutuhnya. Rasanya seperti menyatu dengan lantai. Melebur jadi satu bagian tak terpisahkan.
Fungsi tubuhku rasanya berantakan semenjak aku naik kapal ini. Aku tidak buang air, aku tidak makan, dan bahkan tidak tau siang atau malam. Hidupku mendadak terbatas di area yang tak seberapa ini dengan suplai yang terbatas. Rasanya seperti berjalan di atas satu helai tali yang rapuh. Tapi mau bagaimanapun, aku tak akan mati semudah itu.
Ketika ombak tidak terlalu ganas, mual dan pusing yang kualami tidak separah itu. Aku bisa bangun dan menyadarkan diri. Bahkan aroma sampah yang berasal dari lautan sekarang tak tercium seburuk itu karena hidungku sudah terbiasa.
Aku memutuskan untuk mengisi perutku dengan AlgaCan yang tersimpan di dalam tas. Aku tak peduli lagi AlgaCan rasa apa yang kumakan, yang kutahu hanyalah fakta bahwa aku harus makan untuk bertahan hidup. Bahkan meskipun rasanya enak pun, akan terasa seperti sampah karena aku memakannya di tempat yang tidak tepat.
Aku makan tanpa repot-repot merasakan. Lidahku mati rasa karena semua saraf digunakan untuk merasakan mual dan pusing selama berjam-jam.
Setelah makan, aku memutuskan untuk berjalan-jalan. Mungkin dengan berjalan, mualku akan hilang.
Tepat di belakang tempat aku tidur terdapat pintu yang menuju keluar. Aku memang sengaja memilih lokasi yang dekat dengan akses pintu, sehingga setelah kapal berhenti, aku bisa keluar dengan mudah. Aku keluar dengan hati-hati.
Kamera pengawas di bagian luar kapal tidak sebanyak yang ada di dalam. Hanya ada dua di masing-masing sayap kapal sehingga aku tak perlu sewaspada itu.
Bukannya lebih baik, ternyata bagian luar kapal malah jauh lebih buruk dari bagian dalamnya. Aroma asam mirip sampah makin menyengat di luar sini.
Aku bergidik ngeri, warna air laut yang hijau kekuningan membuatku berimajinasi mengenai apa yang ada di dalamnya. Mungkin ada monster seperti di buku-buku dongeng. Atau mamalia laut raksasa yang ada di buku sejarah hayati. Tapi tampaknya tidak mungkin, karena satu-satunya makhluk hidup laut yang masih ada sampai sekarang hanyalah alga.
Bagiku dunia yang indah adalah dunia yang kulihat di buku sejarah. Bumi pada waktu perang dunia ketiga dan bencana alam besar belum ada. Laut yang biru, daratan yang hijau karena deretan pepohonan, lumba-lumba yang melompat dari dalam air dan sesekali tertangkap kamera, hewan bisa ditemukan dimana-mana, bisa makan apa saja, dan air bersih bukanlah masalah besar.
Aku jadi menerka-nerka, apakah rasanya hidup di dunia yang seperti itu? Apakah manusia kala itu lebih bahagia dibandingkan sekarang?
Para ilmuwan berkata bahwa apa yang bumi rasakan saat ini adalah akibat dari keserakahan umat manusia di masa lampau. Perilaku manusia yang tak kunjung merasa puas pada akhirnya merusak habitatnya sendiri. Kata mereka, ini hukuman bagi umat manusia. Hanya saja aku merasa bahwa pernyataan ini tidak adil. Mereka lah yang berbuat salah, jadi kenapa generasi sekarang yang harus menanggung dosa?
Kalau saja mesin waktu yang selalu muncul di cerita fiksi ilmiah itu sudah benar-benar ditemukan, manusia dari erw sekarang pasti sudah menyeberang ke waktu dulu. Melakukan perjalanan waktu, menembus batas-batas ruang dan relativitas untuk meminta pertanggungjawaban atas rusaknya bumi yang harus kami tinggali saat ini.
Guruku bilang kalau yang membedakan antara manusia dan makhluk lainnya adalah akal. Sayangnya, dengan akal yang dipunya, manusia malah menghancurkan apa yang sudah ada.
***
Aku akhirnya paham kenapa tak ada makhluk hidup yang bertahan di alam bebas selain manusia. Salah satu alasannya adalah karena tak ada makhluk hidup yang bisa mengubah air tidak layak pakai menjadi air bersih selain manusia.
Makhluk hidup tanpa air bersih hanyalah sebuah bencana. Awal kematian tak terencana. Karena nyatanya air adalah satu-satunya alasan kenapa bumi bisa ditinggali. Air adalah yang membedakan bumi dari planet-planet lainnya di tata surya. Tanpa air, bumi adalah tempat mati nan menyedihkan yang tak layak huni.
Mungkin begini perasaan hewan-hewan yang dulu mati karena dehidrasi; kesepian, tak berdaya, lemas, dan ingin semuanya berakhir saja secara cepat. Seperti yang kurasakan saat ini. Setelah terombang-ambing di lautan selama berhari-hari dan kehabisan stok air bersih, aku merasa tubuhku seringan kapas.
Semua sensor inderaku rasanya rusak, tak berfungsi lagi seperti sebagaimana mestinya. Tak ada lagi yang bisa kudengar dan kulihat selain potongan kejadian di masa lalu yang berputar di kepalaku bagai kilat cahaya.
Aku melihat ibu sedang tersenyum serta suara nenek sedang menyanyi lagu Euphoria kesukaannya. Untuk sesaat, aku merasa sangat senang. Kesenangan semu yang aku tau tak akan bertahan lama.
Apa ini tanda-tanda bahwa aku mau mati?
Aku mencubit kulitku sendiri. Berusaha tidak tertidur meski mataku mengantuk berat. Aku takut tak bisa terbangun apabila mataku terlelap sekarang juga. Keinginanku untuk hidup masih kuat karena nenek dan ibu yang membutuhkan bantuanku.
Kalau aku mati sia-sia di kapal ini, aku akan amat berdosa pada ibu dan nenekku.
"Take my hands now, you are the cause of my euphoria," lirihku.
Kesedihan mengalir ke seluruh tubuhku, menyelinap lewat celah-celah pembuluh.
Glegarrr! Suara menggelegar di luar sana menyadarkanku sepenuhnya. Itu suara petir, setidaknya menurut dugaanku. Petir tak pernah terdengar di domain tempatku berasal.
Kalau benar petir, maka sebentar lagi hujan. Hujan berarti air. Air adalah satu-satunya yang aku butuhkan untuk bertahan hidup.
Dengan sisa-sisa kekuatan, aku bangkit. Tangan dan kakiku bergetar hebat. Bahkan untuk meraih gagang pintu saja rasanya aku tidak mampu. Namun aku menekan batas kemampuanku sampai tidak terbatas.
Aku akhirnya berhasil sampai di bagian luar kapal. Ombak yang besar membuatku terhuyung. Aku berpegangan pada pilar kapal yang tak jauh dariku, kemudian menengok ke atas. Langit menghitam, benar-benar gelap berhiaskan kilat-kilat cahaya yang hanya pernah kulihat di materi pelajaran.
Aku terbaring lemas, lalu tersenyum sekenanya seperti orang mabuk. Merasa lega karena masih ada kemungkinan aku bertahan hidup.
Tak seberapa lama, hujan turun dengan derasnya. Bulir-bulir air mengalir, beradu dengan lautan yang dingin.
Air hujan bukanlah sesuatu yang boleh diminum. Padahal dulu air hujan adalah salah satu produk alam yang digunakan untuk apa saja oleh manusia. Namun air hujan di masa ini berbeda. Sifatnya yang asam nan korosif jelas jauh berbeda dengan air hujan di masa lalu.
Orang-orang di domain dengan curah hujan tinggi seperti Pasifik 1 harus berlindung di dalam rumah ketika hujan datang. Bahkan atap rumah mereka harus dilapisi oleh cat anti asam sebulan sekali.
Kadar asam berbeda-beda setiap harinya. Tergantung faktor-faktor lain yang mungkin mempengaruhi. Kalau hujan turun dengan kadar asam tinggi, kulit bisa saja terbakar apabila menyentuhnya. Itulah mengapa air hujan tak boleh dikonsumsi tanpa diolah terlebih dahulu oleh pemerintah pusat.
Tapi aku tak punya banyak pilihan. Apabila aku tidak minum, aku akan mati karena dehidrasi. Kalau aku minum, aku juga mungkin saja mati. Apapun yang kupilih, kematian tetap ada selangkah di depanku.
Ketika hujan mulai turun, aku otomatis membuka mulutku. Seketika aku terperanjat, lidah dan kulitku terasa panas terbakar. Segera aku merangkak masuk ke dalam geladak kapal.
Kulitku tampak melepuh. Begitu pula lidahku. Terkena air hujan yang korosif itu.
Namun tak begitu lama setelahnya, lepuhan di kulitku hilang, digantikan oleh kulit baru. Seiring dengan rasa nyeri serta terbakar di lidah yang juga hilang begitu saja. Kekuatan itu muncul lagi.
Meski bukan pertama kali, nyatanya aku selalu terkejut lagi dan lagi. Entahlah, hanya saja rasanya amat tidak nyata punya kekuatan seperti ini.
Di luar ketakjuban yang aku rasakan, aku tetaplah manusia yang dehidrasi. Aku mendambakan air bersih. Insting bertahan hidupku menginisiasi rasa haus yang tak terkendali.
Seperti sebuah keajaiban, aku tiba-tiba melihat daratan yang jaraknya tak jauh lagi. Aku merasakan firasat bagus. Aku bisa bertahan hidup kalau aku bisa menahan diri sebentar lagi. Segera, aku masuk ke dalam kapal dan menutup pintu seperti semula. Kemudian aku menjalankan misi terakhir sebelum akhirnya aku bisa keluar.
Hal pertama yang aku lakukan adalah membuka salah satu peti kemas dan memindahkan AlgaCan yang ada di dalamnya ke dalam tasku. Setelah itu aku masuk ke dalam peti itu bersama tasku dan menutupnya dari dalam.
Rasanya sesak. Ruang yang tak seberapa itu membuatku sesak. Aku memeluk tasku erat-erat. Tubuhku terlipat seperti patah jadi dua bagian. Entah sampai kapan aku harus begini, tapi sejenak kemudian semuanya terasa gelap lalu kesadaranku hilang. Lenyap begitu saja.
***
Tap! Tap! Tap! Aku terbangun karena merasa tubuhku berguncang. Lebih tepatnya kotak yang sedang menaungiku terguncang. Guncangannya teratur, berirama. Seperti langkah kaki seseorang.
Aku kemudian merasa tubuhku dijatuhkan. Diletakkan di atas permukaan keras dan datar. Setelahnya terdengar langkah kaki yang menjauh dan mendekat silih berganti. Aku mengintip lewat celah-celah tutup peti kemas. Satu orang dengan seragam AlgaCan sedang mengangkut peti-peti kemas dan menatanya dengan rapi.
Tak lama kemudian pintu ditutup rapat dan aku merasakan tempatku berada mulai bergerak. Aku membuka tutup pintu kemas yang berada tepat di atas kepalaku. Lalu bergerak, merangkak turun.
Aku berada di dalam sebuah mobil ternyata. Sedang bergerak, entah menuju kemana. Segera aku membuka tasku, mengembalikan semua AlgaCan yang aku ambil ke dalam peti kemas dan menutupnya seperti semula.
Langkah selanjutnya yang harus kulakukan adalah melarikan diri.
Aku membuka pintu mobil angkut ini perlahan-lahan. Merasakan angin menelisik rambutku dari kejauhan. Jalanan yang sepi memberiku kesempatan untuk pergi.
Aku melompat dari atas mobil. Aku tersungkur di atas jalan yang kasar sampai telapak tangan dan lututku berdarah.
Aku berlari dengan sisa-sisa tenaga yang aku punya. Mencari tempat terdekat yang menyediakan air bersih.
Aku berhenti di sebuah toko yang menjual kebutuhan bahan pokok. Setelahnya membeli satu botol air dengan menghabiskan seperempat uang yang kubawa.
Aku kemudian membasahi tenggorokanku dengan air. Setelahnya, kehidupan kembali mengalir dalam diriku. Dan perjalanan yang baru dimulai kembali.