Domain dibagi dan dinamakan berdasarkan wilayah lautan yang mengelilingi daratan tertentu. Misalnya Domain Hindia--domain-ku--terdiri dari wilayah-wilayah yang diliputi oleh Samudera Hindia. Sedangkan Domain Pasifik 1--sesuai namanya--dikelilingi oleh Samudera Pasifik.
Samudera Pasifik adalah area lautan paling luas yang ada di muka bumi ini, itulah mengapa Domain Pasifik terbagi jadi dua. Bagian Domain Pasifik 1 ada di sebelah barat Samudera Pasifik, sementara yang di sebelah timur diberi nama Domain Pasifik 2.
Sebagian besar Domain Pasifik 1 terletak di wilayah yang dulunya disebut sebagai Asia Timur. Beda dari Domain Hindia yang selalu dihiasi oleh salju, Domain Pasifik 1 mendapat terik matahari sepanjang tahun. Selain itu, hujan asam bisa turun kapan saja sehingga tanah di Domain Pasifik 1 menjadi tanah dengan tingkat kerusakan paling parah di dunia.
Ketika hujan turun, cuaca akan terasa dingin. Namun ketika hujan selesai, Domain Pasifik 1 kembali terasa gersang dan panas.
Mata pencaharian utama orang-orang di Domain Pasifik 1 adalah pengumpul dan pengolah limbah. Limbah dari seluruh dunia dikirim ke sini. Bahkan limbah dari pabrik AlgaCan yang ada di Domain Hindia juga dikirim kemari. Itulah mengapa rasanya hampir setiap sudut berbau seperti sampah.
Namun setelah berkeliling nyaris satu jam lamanya, aku merasa domain ini tak seburuk yang aku kira. Memang benar, ada aroma tidak sedap yang mengiringi setiap langkahku, tapi karena hidung manusia beradaptasi, aromanya tidak menyengat terlalu parah.
Penduduk di Domain Pasifik 1 berada di peringkat terakhir demografi dunia. Jumlah penduduknya kecil dan kebanyakan miskin karena orang-orang yang berada di Kelas A tak akan pernah mau tinggal di sini.
Aku duduk di bawah sebuah kanopi area pertokoan. Memeluk lutut sendirian, hanya bertemankan bulan di atas sana yang bersinar terang. Angin dingin merasuk kulit, menembus sampai ke tulang. Menimbulkan rasa nyeri yang dipenuhi ruang-ruang kesedihan.
Setelah berkeliling untuk beberapa waktu, aku tau bahwa tempatku berada saat ini adalah Kota Tianjin. Jaraknya tak begitu jauh dari ibukota Domain Pasifik 1 yang berada di Beijing. Terdapat pelabuhan besar di sini yang jadi akses utama laut untuk memasuki Domain 1.
Kota ini cukup sepi. Di luar cuacanya yang panas dan bau sampah dimana-mana, kota ini cukup nyaman. Setidaknya untuk orang dalam pelarian sepertiku. Tidak banyak orang berlalu lalang. Namun keadaan seperti ini bisa saja jadi bumerang buatku, karena penduduk di kota dengan populasi kecil begini biasanya saling mengenal satu sama lain dengan baik. Mereka bisa saja mecurigai aku yang notabene orang asing, kalau aku berkeliaran terlalu lama di sini.
Kalau boleh jujur, aku tak tau harus kemana. Aku belum punya rencana lanjutan.
Satu-satunya petunjuk yang aku punya adalah Altair dan Vega, makanya aku berani menuju domain ini tanpa pikir panjang. Tapi setelah berada di sini, aku belum terpikir harus kemana.
Lagi pula aku terdesak keadaan waktu itu. Kalau aku tidak segera pergi dari rumah, mungkin sekarang aku sudah ditangkap oleh para pasukan Penjaga Perdamaian Dunia itu. Setidaknya aku aman untuk sementara sekarang.
Aku mengambil liontin yang aku letakkan di dalam tasku. Lalu menatap foto ibu yang terpasang di sana. Tanpa sengaja aku menyadari bahwa layar abu-abu yang ada di sampingnya kini menyala. Ada dua titik warna merah yang berkedip-kedip di sana. Satu titik diam, satu titik lagi terus bergerak. Apakah gerangan?
Aku penasaran, namun tubuh dan otakku sudah tidak mampu untuk diajak berpikir. Perjalanan panjang dari Domain Hindia ke sini sungguh menguras tenaga dan pikiranku. Akhirnya aku terlelap, dalam posisi duduk yang mungkin akan membuatku nyeri esok pagi.
***
Setelah perjalanan panjang yang melelahkan itu, aku layak mendapatkan istirahat yang nyaman. Sayangnya aku tak punya pilihan selain tidur di depan toko seseorang, di atas lantai yang dingin dan keras.
Atas ketidaknyamanan itu, aku terbangun sebelum matahari terbit. Aku terbangun dalam posisi terbaring di lantai. Padahal seingatku, aku tidur dalam posisi duduk pada awalnya. Namun itu tak jadi masalah, yang jadi masalah adalah sekujur tubuhku yang nyeri.
Aku memutuskan untuk makan sebelum melanjutkan perjalananku yang masih abu-abu. Aku menyeruput AlgaCan dingin itu sampai habis. Nafsu makanku buruk, ditambah dengan rasa makanan yang juga buruk. Aku makan untuk bertahan hidup.
Aku tiba-tiba teringat pada manisnya apel di ulang tahunku hari itu. Meskipun cuma beberapa potong, rasanya menyegarkan. Akan tetapi aku lebih memilih makan AlgaCan bersama keluargaku, dibanding makan apel tapi kehilangan keluargaku begini.
Mungkin inilah yang orang sebut badai setelah pelangi. Satu kebahagiaan diikuti oleh banyak kesusahan berikutnya. Sebuah konspirasi tidak adil yang diciptakan Sang Maha Kuasa untuk makhluknya.
Aku mendapatkan apel dan perjalanan virtual di hari ulang tahunku. Merasakan kebahagiaan yang melebihi ekspektasi hanya selama beberapa jam. Lalu tepat setelahnya, ibu dan nenek menghilang sehingga aku harus berkelana tidak jelas begini sambil bersembunyi dari pasukan Penjaga Perdamaian Dunia yang entah apa sebenarnya maunya. Tidak adil. Kebahagiaan setitik harus dibayar dengan kepedihan yang berkali-kali lipat begini.
Setelah makan, aku mengecek kembali liontinku. Tetap ada dua titik merah di sana. Kedua-duanya berkedip tapi diam di titiknya masing-masing. Satu hal yang menarik perhatianku adalah jarak kedua titik yang lebih dekat dibanding semalam.
Aku mulai bertanya-tanya. Menganalisis berbagai kemungkinan yang bisa saja terjadi. Namun aku tetap tak menemukan apa kemungkinan yang masuk akal.
Aku memutuskan untuk pergi terlebih dahulu dari tempat ini. Sebentar lagi matahari terbit, aktivitas kota akan dimulai. Aku tak mau menarik perhatian orang-orang dengan menampakkan diri begini secara terang-terangan. Aku harus membaur dengan yang lainnya untuk berkamuflase.
Seiring dengan langkahku, salah satu titik itu ikut bergerak. Seketika aku sadar bahwa titik itu menunjukkan lokasi. Salah satunya lokasi milikku, satunya lagi entah menunjukkan lokasi siapa.
"Mungkinkah ... Penjaga Perdamaian Dunia?" gumamku, "Atau ... Ibu?"
Jantungku berdegup kencang. Membayangkan bertemu ibu saja membuatku merasa senang bukan kepalang.
Satu-satunya hal yang perlu kulakukan adalah mendekati titik merah itu. Ada dua kemungkinan yang bisa terjadi, baik dan buruk. Seperti dua sisi koin yang berlainan. Apapun itu, rasanya aku harus berani ambil risiko. Sudah datang sejauh ini, aku tak akan menyerah hanya karena takut terhadap konsekuensi buruk yang belum tentu terjadi.
Aku yang cukup buta arah kesulitan pada awalnya. Namun setelah beberapa waktu berjalan berputar-putar di satu titik seperti pusaran air, aku akhirnya tau harus berjalan ke arah mana.
Aktivitas kota dimulai. Beberapa toko mulai buka dan orang-orang berlalu lalang, sibuk melakukan urusannya masing-masing.
Aku berjalan mengikuti tempo orang-orang. Berbaur agar tak menarik perhatian orang lain dan tampak mencurigakan. Meskipun tasku yang cukup besar itu sebenarnya sudah cukup mengganggu dan menarik perhatian orang-orang.
Untungnya sejauh ini belum ada orang yang menatapku dengan curiga. Mereka paling-paling hanya melirik tasku yang besar lalu kembali fokus pada urusan masing-masing tanpa ikut campur.
Titik merah yang berdenyut tapi sedari tadi diam itu mulai bergerak ketika aku sampai di persimpangan taman kota. Bergerak mendekat ke arahku.
Mendadak aku tegang karena aku sadar bahwa akan ada satu titik dimana kami bertemu. Kalau titik itu menunjukkan pasukan Penjaga Perdamaian Dunia, maka habislah aku.
Hidupku seperti berada di ujung tanduk. Maju atau mundur, tak ada tempat yang benar-benar aman buatku. Itulah mengapa aku melangkahkan kaki dengan berani.
Deg! Jantungku rasanya berhenti berdetak ketika melihat pasukan Penjaga Perdamaian Dunia yang sedang berjajar tepat di depan taman kota. Mereka sedang memeriksa orang-orang yang melintas di sana. Sama seperti yang kulihat di pasar waktu itu, mereka menggunakan sebuah alat berbentuk pistol yang diarahkan ke tubuh seseorang dan berubah hijau setelahnya.
Aku seharusnya berbalik saat itu juga. Namun titik merah yang ada di layar abu-abu itu makin mendekat. Saat itu juga tubuhku terdorong karena orang-orang yang ada di belakangku juga didorong oleh pasukan Penjaga Perdamaian Dunia dari arah belakang. Pasukan itu memaksa siapapun yang lewat untuk berbaris untuk diperiksa.
Apabila lampu berubah hijau ketika pemeriksaan dilakukan, maka orang itu lolos. Tapi ketika lampu berubah jadi merah, orang itu akan diseret dan dimasukkan ke dalam sebuah mobil besar yang tampak mengintimidasi.
Firasatku mendadak buruk. Aku merasa alat itu akan berubah menjadi merah ketika dicobakan padaku. Hanya saja aku tak bisa melarikan diri, sekitarku penuh. Para pasukan penjaga perdamaian itu juga menaruh perhatian penuh pada orang-orang yang berada di antrean. Kalau aku melarikan diri, mereka akan lebih curiga lagi. Aku harus mencari cara lain yang lebih menguntungkanku.
Giliranku semakin mendekat. Rasanya seperti menanti giliran eksekusi mati. Saraf simpatisku aktif. Kakiku mulai melemas karena darah dan oksigen terpusat ke area jantungku.
Keringatku keluar melewati pori-pori. Membentuk bulir-bulir sebesar batu-batuan. Entah karena gugup atau karena cuaca panas yang rasanya memanggang bumi.
Tinggal tiga orang lagi yang berada di depanku. Kegugupan itu makin nyata mengalir di pembuluh darahku. Berubah menjadi monster yang hendak melahap keberanianku dari dalam. Namun aku tak gentar. Meski tubuhku bergetar nyaris pingsan, akan kuberanikan diri menghadapi pasukan jahat yang telah membawa ibu dan nenekku itu.
Ketika giliranku tiba, dunia mendadak terasa dingin dan bergerak lambat. Ketika alat itu diarahkan ke kepalaku, napas rasanya terhenti di paru-paru. Sesuai firasat, alat itu berubah jadi merah beberapa detik kemudian.
Meski tekadku terus maju, nyatanya tubuhku bergerak sebaliknya. Kakiku bergerak cepat, berusaha meloloskan diri dari pasukan Penjaga Perdamaian Dunia yang menatapku penuh waspada.
Mereka ikut bergerak ketika aku bergerak, aku berlari sekencang-kencangnya menuju arah yang tampak lenggang. Dikejar-kejar pasukan berseragam putih yang suara langkahnya menggema dan menakuti seluruh kota.
Salahku sendiri, aku harusnya pergi melarikan diri sedari tadi. Tapi aku sedang tidak dalam keadaan yang pas untuk menyalahkan diri sendiri. Kali ini aku harus berdamai mengenai kesalahanku dan melarikan diri sebelum para pasukan itu menyergap.
Aku berbelok di area pasar yang cukup ramai. Berlari-lari sampai menabrak beberapa orang yang ada di sana.
Aku sampai di persimpangan yang menghubungkan lima jalan besar. Akses jalan-jalan itu dipenuhi oleh pasukan perdamaian dunia. Mereka mengepungku. Meski masih jauh, aku tau bahwa sesuatu yang buruk mungkin akan terjadi.
Mataku bergetar, mengelilingi area sekitar sambil mencari jalan keluar. Tepat saat itu, salah satu Penjaga Perdamaian Dunia mencengkram kerahku, lalu memukul wajahku dengan kepalan tangannya. Setelahnya ... semuanya terasa hitam. Kelam tanpa cahaya. Kesadaranku hilang.
***
Aku terbangun di sebuah ruangan yang gelap gulita. Kepalaku terasa berat dan berdenyut seperti mau meledak. Kemudian aku teringat lagi apa yang menimpaku sebelumnya.
Aku tertangkap oleh pasukan Penjaga Perdamaian Dunia. Bahkan ditinju di area wajah. Aku memegang wajahku sendiri. Merasakan nyeri di nyaris tiap sudut, terutama bibirku yang tampaknya robek.
Tanganku diikat menggunakan rantai besi. Tak ada gerakan yang bisa dilakukan selain mengangkat ke atas dan ke bawah. Kakiku juga diikat.
Hatiku mendadak sedih, membayangkan apa yang akan terjadi pada diriku sendiri. Aku mungkin mati. Kalaupun hidup, mungkin saja aku disiksa sampai aku sendiri berharap mati.
Aku tak bisa melihat apapun di sekitar. Namun beberapa detik kemudian celah cahaya masuk lewat sebuah pintu yang terbuka. Aku buru-buru berbaring, pura-pura tidak tersadar tapi mengintip lewat mataku yang sedikit terbuka.
Klik! Sebuah cahaya dari lampu senter menyinari wajahku. Mataku refleks mengernyit meski aku tak mau. Ketahuan bahwa aku hanya berpura-pura tidak sadarkan diri.
Karena sudah terlanjur ketahuan, aku membuka mata, memberanikan diri menatap orang yang menyinari wajahku dengan senter. Dia memakai setelan seragam pasukan Penjaga Perdamaian Dunia.
Wajahnya yang ditutupi oleh penutup khusus itu tak bisa kulihat. Biarlah, aku tidak pula penasaran. Aku menatapnya dengan penuh kebencian.
Dia mendekatiku. Langkah kakinya terdengar jelas di telinga. Menggema bagai suara meriam di medan perang.
Tatapan mataku tidak goyah sama sekali. Aku terus menatapnya dengan penuh kebencian.
"Lepaskan!" ujarku ketika dia menyentuh pergelangan kakiku.
Aku rasanya jijik, tak mau dipegang orang jahat seperti itu. Aku bahkan meronta-ronta, tapi dia tak peduli sama sekali.
Aku menendangnya sekuat tenaga, sampai ia duduk terhempas di lantai.
"Ya sudah, terserah," ucapnya singkat. Dingin, menusuk sampai ke rongga d**a.
Dari suaranya, aku tau ia laki-laki. Ia kemudian bangkit dan berbalik seperti hendak meninggalkanku.
"Hei!" panggilku, mencegahnya pergi.
Entahlah, hanya saja aku merasa, kalau dia pergi maka aku tak akan bisa keluar dari tempat gelap gulita ini.
Langkahnya yang kaku berhenti sejenak, tapi dia sama sekali tidak menatap ke arahku.
"Lepaskan aku!" pekikku.
Ia lalu kembali, mendekatiku dan bergerak melepas rantai di kakiku.
Semudah ini?
Aku curiga. Apa yang terjadi sungguh tak masuk akal buatku. Buat apa ia menangkapku, bahkan memukul wajahku serta merantai tangan dan kakiku, lalu dilepaskan semudah ini?
Ia juga melepas rantai di tanganku. Aku sudah ancang-ancang hendak meninjunya, tapi dia menangkap kepalan tinjuku.
"Aku sama sepertimu," katanya.
Aku cukup tak mengerti. Sedetik kemudian ia membuka helm yang menutupi wajahnya. Tampak seorang laki-laki muda, menatap mataku dengan sepasang mata cokelatnya.