Sama

2033 Kata
Setelah semua yang aku lalui, rasanya memercayai orang lain adalah hal yang amat sulit untuk dilakukan. Terutama mempercayai orang yang sama sekali belum pernah aku kenal sebelumnya. Dunia ini terlalu kejam. Tetangga yang aku kenal saja melaporkanku ke pasukan Penjaga Perdamaian Dunia, jadi kenapa aku harus percaya laki-laki yang tiba-tiba muncul dan mengeklaim dirinya sama denganku ini? Laki-laki itu berkulit putih sepucat salju dengan tubuh setinggi enam kaki. Hidungnya mancung dan garis rahangnya tajam. Rambut dan matanya berwarna hitam kecokelatan. Bibirnya merah merona seperti setetes darah di antara salju. Sebenarnya tak begitu jelas karena keadaan ruangan gelap gulita. Hanya senter di tangannya lah yang jadi sumber penerangan. Aku tak bisa menerka apa isi kepalanya karena wajahnya sana sekali tak dipakai untuk berekspresi. Ia terasa cukup dingin meski tidak melakukan apa-apa. Baju yang ia pakai adalah hal yang paling tampak mencurigakan di mataku. Ia memakai seragam baja pasukan Penjaga Perdamaian Dunia. "Aku tidak percaya! Kau hanya orang asing, bagaimana aku bisa percaya pada ucapanmu?" ujarku. Tanpa banyak bicara, ia mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya. Sebuah alat bernama kompas yang hanya pernah aku lihat dalam buku sejarah teknologi. Laki-laki itu menekan suatu tombol yang ada di sana. Kemudian terputar lagu Fur Elise dari Beethoven yang amat familiar di telingaku. Tak sampai di situ, ia juga menunjukkan layar abu-abu dengan dua titik yang berdenyut namun sama-sama diam di tempat. Persis seperti yang ada di liontin milikku. Sebagian keraguanku memudar seketika. Hanya saja ini bisa jadi tipuan. Tapi tak ada salahnya aku berpura-pura percaya sambil menggali informasi. Siapa tau laki-laki ini tau sesuatu yang tidak aku tau. "Kau ... sama sepertiku?" gumamku. Ia tak mengangguk, tidak juga menggeleng. Merasa bahwa semua yang ia lakukan adalah bagian dari konfirmasi itu sendiri. Tatapannya terasa seperti perpaduan antara duka dan arogansi. Tak bisa kujelaskan secara rinci tapi cukup menyayat hati. Namun aku tak boleh terperdaya oleh wajah dan tampilan visualnya. Bahkan seorang pembunuh berantai pun bisa punya tampang yang memikat hati. Karena aku percaya bahwa yang terlihat tak selalu menunjukkan apa yang sesungguhnya. Sebaliknya, yang tidak terlihat mungkin bermakna lebih besar. "Lalu ... pakaian ini?" tanyaku dengan tatapan curiga. "Aku mencurinya untuk berkamuflase," jawabnya. Ia tak berniat menjelaskan secara rinci. Mulutnya tertutup rapat begitu selesai bicara seperti itu. "Apa kau tau kita harus kemana?" tanyaku. "Herakles," jawabnya. "H-Herakles?" Aku tak pernah mendengar tempat bernama Herakles. Atau mungkinkah itu nama seseorang? Ia sendiri tampak tak begitu paham dengan apa yang diucapkannya. Kalau benar laki-laki ini adalah seseorang yang sama sepertiku, aku bisa berasumsi kalau Herakles adalah suatu petunjuk yang ia dapatkan dari seseorang. Tapi aku skeptis. Aku tak mau tertipu oleh siapapun itu. "Aku tidak akan memberitahukan padamu. Kau tampaknya tidak mempercayaiku," ucapnya. Dengan mulut setajam itu, aku yakin dia membuat banyak masalah selama hidup. "T-tidak! Aku percaya padamu kok!" seruku. Ia menatapku tajam, menembus sampai ke ulu hati dan membuatku beku. "Tidurlah kalau begitu. Akan kujelaskan besok pagi, karena aku tak akan berbagi informasi pada orang yang tak bisa mempercayaiku." Setelah mengucapkan itu, laki-laki yang bahkan belum aku tau namanya itu bergegas menjauh dariku dan membaringkan dirinya di sudut ruangan yang lain. Senternya lalu dimatikan, ruangan seketika gelap gulita. Malam ini akan kuhabiskan dengan mata terbuka yang was-was setiap detiknya. Karena siapa tau? Laki-laki itu bisa membunuhku, kapan saja kalau aku terlalu percaya. *** Berpikir terlebih dahulu adalah cara paling menyebalkan untuk bangun. Mungkin sulit dideskripsikan, tapi maksudku adalah saat ketika kita tidur dan tiba-tiba teringat sesuatu yang lalu memaksa untuk bangun. Sepertinya hampir semua orang dalam stres tekanan tinggi pernah mengalami hal seperti itu. Rasanya aneh bahkan menyakitkan karena jantung serasa terjun bebas dari tempatnya. Kaget sampai berdebar-debar meski tak ada stimulasi dari luar. Itulah yang kurasakan pagi ini. Aku teringat bahwa aku harus waspada dan tidak boleh tertidur saat aku tidur. Alhasil aku bangun dengan jantung yang berdetak kencang seperti orang sakit jantung. Ketika aku bangun, ruangan tampak tersinari dengan lebih baik dari pada kemarin. Tampak laki-laki itu masih terbaring di tempatnya kemarin dengan mata yang terpejam erat. Aku memutuskan untuk mengamatinya dari dekat. Aku berjongkok di sampingnya, memperhatikan setiap detail fitur wajahnya. Sampai-sampai aku hampir terperdaya dan berpikir kalau manusia ini tampak terlalu baik untuk berbuat kejahatan. Hampir saja aku percaya pada pesonanya. "Kenapa? Kau mau membunuhku?" tanyanya lalu terbangun tiba-tiba. Sekali lagi aku kaget karena tak menyangka bahwa ia tidak tertidur sedari tadi. Ia mungkin sudah mengamati aku lebih dulu sebelum aku melakukan sebaliknya. Ia lalu bangkit dari tempatnya dan memakai helm bodoh itu di kepalanya. "Hei! Mau kemana?" tanyaku. "Tunggulah di sini, akan kujelaskan tentang Herakles begitu aku kembali. Tapi terserah padamu," ucapnya tanpa ekspresi. Laki-laki itu lalu pergi tanpa basa-basi lagi. Tak memedulikan pendapatku yang mungkin saja tidak setuju. Ia ambil keputusan sendiri. Aku bimbang antara harus tinggal atau melarikan diri. Kalau aku tinggal, bisa saja laki-laki itu ternyata penjahat. Tapi kalau aku pergi, aku akan penasaran setengah mati tentang Herakles atau apalah itu. Dua-duanya punya pro dan kontra masing-masing yang berat untuk dipertimbangkan. Tapi menurutku mati penasaran akan lebih menyebalkan. Jadi aku memutuskan untuk tinggal. Kalau-kalau ia jahat, aku pasti punya kesempatan melarikan diri yang lain nanti. Aku memutuskan untuk menelaah keadaan sekitar terlebih dahulu. Aku tampaknya sedang berada di bangunan kosong yang ditinggalkan dan tak diperhatikan orang-orang. Debu di sini banyak, tapi lumayan luas. Ada dua pintu, satu di bagian depan, satu lagi di bagian ke belakang. Kemudian juga ada beberapa ventilasi kecil yang bisa digunakan untuk mengintip keluar. Entah dimana ini sebenarnya, tapi di luar sana tampak sepi dan gersang. Hanya jalanan aspal dan tumpukan pasir-pasir yang membentuk bukit yang tampak oleh mata. Sedangkan pintu bagian belakang menghubungkan tempat ini dengan pemukiman warga yang tampak senyap. Beberapa bangunannya sudah rusak karena seleksi alam. Laki-laki itu kembali beberapa jam setelahnya. Ia membawa dua buah jeruk Mandarin di tangannya. Aku sampai terheran-heran, satu saja tidak murah, apalagi dua? Hanya ada dua kemungkinan. Pertama, ia orang kaya. Kedua, ia mencuri. "Ini," katanya sambil menyodorkan jeruk itu padaku. Aku hampir saja terperdaya satu kali lagi oleh kebaikannya yang bisa saja cuma pura-pura itu. "Kau mencurinya?" tanyaku curiga. "Bukan urusanmu," jawabnya dingin. Nadanya yang arogan membuatku ingin sekali memukul kepalanya itu. Bicara soal pukul-pukulan, sepertinya aku memang berhak memukul kepalanya sampai berdarah. Karena dia lah yang meninju wajahku sampai pingsan. Aku berhak mendapat ganti rugi. "Kau tidak akan meminta uang bayaran untuk jeruk ini kan?" tuduhku. "Buang saja kalau tidak mau," katanya. Lagi-lagi nada bicaranya itu dingin tak berperasaan. "Aku tak akan bilang terima kasih meskipun ini mahal, karena kau sudah meninju wajahku!" ujarku. Ia diam tak memberi respon. Bahkan tak meminta maaf karena sudah melukai aku dan membuatku pingsan. Dasar b*****h tidak tau diri! Masih untung aku tidak meninjunya balik dengan kekuatanku. Aku mengupas jeruk itu kemudian menyodorkan satu buah kepadanya. "Bisa kau coba dulu? Aku ... tidak suka kalau rasanya asam." Tentu itu hanya kebohonganku. Satu-satunya alasan kenapa aku melakukan ini adalah demi keamananku sendiri. Siapa tau manusia ini meletakkan racun di makanan mahal ini? Ia menyambarnya dari tanganku lalu memasukkan jeruk itu ke dalam mulutnya. Ia kunyah dan makan sampai habis sambil menatap ke arahku. "Tidak beracun. Tak perlu khawatir, membunuhmu tak akan mendatangkan keuntungan buatku," celetuknya seolah bisa membaca pikiranku. Aku tertangkap basah. Tapi aku tak peduli, tak ada yang bisa melindungi diriku kecuali diri sendiri. Aku mengunyah jeruk itu di mulutku. Merasakan air yang menyembur begitu lapisan jeruknya robek terkena gigitanku. Rasanya manis dan segar. Jauh lebih baik dari AlgaCan rasa jeruk. Ini pertama kalinya aku makan jeruk. Tak menyangka rasanya akan seenak ini. Aroma kulitnya yang khas membuatku tenang. Mungkin jeruk ini akan terasa jauh lebih enak kalau dinikmati bersama nenek dan ibu. Sayangnya aku malah di sini, makan jeruk bersama orang asing yang bahkan tak aku tau namanya itu. Laki-laki itu menatap kosong ke lantai. Entah apa yang sedang ia pikirkan dalam kepalanya itu, yang jelas ia tampak tak terganggu dengan apapun. Tenang seperti seorang bangsawan, bersahaja seperti seorang cendekiawan. "Jadi apa Herakles itu?" tanyaku. "Kita," katanya. "Hah?" "Kita adalah Herakles," ucapnya. Aku sama sekali tak mengerti. Rasanya meskipun kami satu ruang, ada batas yang memblokir komunikasi kami. "Aku bukan Herakles! Aku juga tak kenal siapa itu Herakles!" ujarku. Ia tampaknya hendak menjelaskan lebih jauh. Namun tiba-tiba suara derap langkah yang kian mendekat menarik perhatiannya. "Sstt!" desisnya memintaku diam. Ia lalu mendekatkan diri ke lubang ventilasi yang amat kecil, mengintip keadaan di luar. "Ada apa?" bisikku. "Ambil tasmu sekarang juga," katanya. Nada bicaranya yang datar nan misterius itu membuat keadaan makin mencekam. Tanpa pikir panjang, aku menggendong tasku. Sesaat kemudian suara langkah kaki yang berderap menggema mendekat. Laki-laki itu memasang helm di kepalanya, kemudian menggenggam tanganku. Tanpa berkata-kata, kami berlari lewat pintu belakang. Aku yang masih belum mengerti keadaan pun menoleh ke belakang. Mendapati pasukan Penjaga Perdamaian Dunia yang sedang lari di belakang kami. Jantungku langsung berpacu kencang. Rasanya kematian berusaha mendatangi dan mengincarku berkali-kali. Kami terus berlari. Bahkan meski kakiku rasanya tidak kuat lagi, laki-laki di depanku ini terus menyeretku menjauh. Dor! Dor! Suara tembakan menambah kekacauan. Para pasukan itu membawa pistol di tangan mereka, menembakkan pelurunya kepada kami. Seketika laki-laki itu menarikku maju tepat di hadapannya kemudian memeluk tubuhku sampai melayang di udara. Ia kemudian berlari sambil membawa beban tubuhku sementara tubuhnya terus ditembaki dengan peluru. Namun peluru-peluru itu tidak mempan karena baju baja yang dipakainya. Ia berbelok dan berbelok. Lalu kami masuk ke dalam sebuah rumah tak berpenghuni yang bagian dindingnya retak-retak. Ia memasukkan aku ke dalam sebuah tong besi dan menutupnya sampai aku tak bisa lihat apa-apa. "Tunggu di sini," bisiknya. Ia kemudian berlari dengan suara langkah kakinya yang makin lama makin menjauh. Meninggalkan aku sendiri. *** Mendoakan keselamatan orang yang baru dikenal terdengar terlalu aneh buatku. Tapi nyatanya itulah yang kulakukan. Aku tak begitu percaya Tuhan. Akan tetapi kalau Tuhan benar-benar ada, aku memintanya untuk membawa kembali laki-laki tadi dengan selamat. Entahlah, hanya saja aku merasa ia tau banyak hal dan mampu menjelaskan tentang kejadian yang terjadi padaku sampai detik ini. Setelah menyembunyikanku di tempat aman, ia tampaknya pergi untuk mengalihkan perhatian para Penjaga Perdamaian Dunia. Aku tak tau apa motifnya sampai-sampai bersikap begitu murah hati. Aku tak tau, maka dari itu aku mau ia selamat agar bisa menjelaskan semuanya padaku. Aku sudah berjam-jam berada di dalam tong besi nan sempit itu. Tubuhku yang terlipat rasanya mau patah jadi beberapa bagian. Tapi aku terlalu takut untuk melangkah keluar. Takut kalau-kalau sesuatu yang buruk terjadi. Situasi ini mengingatkanku pada hari itu. Hari ketika aku disembunyikan di ruang bawah tanah lalu mencoba keluar karena merasa semuanya sudah aman. Nyatanya ibu dan nenekku hilang, sesuatu yang tak pernah aku harapkan. Tap! Tap! Tap! Sebuah langkah kaki yang nyaring dan terasa tegas itu membuatku merinding seketika. Suaranya semakin mendekat. Tak banyak yang bisa kulakukan selain mengatur napasku sepelan mungkin. Berusaha agar tidak terdengar sama sekali. Kriett! Mataku terpejam erat ketika tutup tong tempatku berada dibuka. Perasaan takut menyebar cepat. Saat itu pula sebuah suara yang familiar menyapa indera pendengaranku. "Keluarlah!" Aku mendongak, mendapati seseorang berseragam baja khas pasukan Penjaga Perdamaian Dunia. Ia membuka helmnya, menampakkan wajah aslinya yang tampak bersinar diterpa cahaya rembulan. Ia ... laki-laki itu. Mengetahui bahwa ia telah kembali membuat aku merasa lega tak terkira. Ia membantuku keluar dari tong besi itu. Kakiku lemas karena terlalu lama ditekuk. Aku ambruk di tanah, menatap bulan yang mengambang di atas sana lalu tersenyum seperti orang bodoh. Kupikir diriku akan mati hari ini, nyatanya aku diberi kesempatan hidup lagi. Aku lalu mengumpulkan tenaga untuk bangkit. Ia mengambil tasku dari dalam tong lain. Seketika aku mengambil air dan meminumnya sampai kerongkonganku basah. "Berikan aku pisau itu," ucapnya menunjuk pisau yang ada di dalam tasku. "Buat apa?" "Berikan saja," katanya. Aku ragu. Bisa saja ini adalah taktiknya untuk membunuhku. Aku bisa saja mati karena pisau yang kubawa sendiri. "Akan kutunjukkan kalau aku sama dengan kau," lanjutnya. Aku akhirnya menyerahkan pisau itu. Jleb! Secepat kilat ia menusukkan pisau itu di area lehernya yang tak terlindungi seragam baja. Sangat dalam sampai gagangnya ikut masuk setengah bagian. Darah bakan keluar dari mulutnya itu. Ia mengerang nyeri. Aku otomatis bangkit. Merasa panik karena baru saja menyaksikan seseorang menusuk dirinya sendiri. Setelah itu ia menarik pisau itu dan luka yang ada di lehernya menutup seperti baru. Detik itu juga aku sadar, bahwa dia sama denganku.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN