Bertemu orang yang punya kesamaan denganku membuat aku merasa sedikit tenang. Di tengah perjalanan yang dingin nan menyesakkan ini, setidaknya aku punya kawan. Meski demikian, mungkin aku tak boleh percaya pada laki-laki itu. Ia bisa saja pihak jahat yang sedang menyamar. Lagi pula aku tidak tau apa yang terjadi pada tubuhku sendiri hingga bisa punya kekuatan di luar nalar begitu.
Kami duduk di dalam rumah kosong itu. Dekat jendela, kami sama-sama menatap bulan yang ada di luar sana.
"Teka-teki apa yang kau punya?" tanyaku. Sengaja, aku memancingnya agar bisa menentukan apakah ia kawan atau malah lawan.
"Teka-teki?"
"Iya, teka-teki. Sesuatu yang membuatmu memutuskan untuk pergi."
Ini adalah hasil berpikir realistis dengan bumbu-bumbu kecurigaan. Rasanya tidak akan menguntungkan bagiku kalau aku tidak tau apa-apa tentangnya. Ia adalah orang asing, aku butuh informasi sebanyak-banyaknya.
Kalau ia benar-benar sama sepertiku, ia pasti mendapatkan suatu teka-teki yang membuatnya pergi kemari. Sama seperti aku yang mendapat teka-teki tentang Altair dan Vega.
"Kenapa aku harus memberitahumu?" tanyanya balik.
"Hah?"
"Kalau kau tidak percaya padaku, terserah. Tapi kau tidak punya hak untuk bertanya hal-hal privasi padaku," ucapnya dingin.
Seketika, rasanya seperti aku ditampar dengan keras. Entah kawan atau lawan, satu hal yang aku tau adalah fakta bahwa makhluk di depanku ini sungguh berbakat untuk membuat orang kesal.
"Aku hanya bertanya! Memangnya salah?" tanyaku emosional. Nadaku sudah meninggi, saking marahnya.
"Aku akan jelaskan tentang Herakles, kau boleh bertanya tapi tidak soal masalah pribadi."
Ia membuat aturannya sendiri. Seperti sebelumnya, tidak meminta pendapatku sama sekali. Ia bertindak seolah tata surya berputar mengelilingi kehadirannya.
Dari pada berdebat menentang keinginannya, aku memilih memusatkan diri pada hal-hal yang mungkin saja penting. "Kalau begitu cepat jelaskan apa itu Herakles!"
"Kita adalah Herakles," katanya.
Itu adalah kata-kata yang sama seperti kemarin. Sama juga, aku belum mengerti apa maknanya.
"Tak bisakah kau menjelaskan dengan benar? Kita bicara dengan bahasa yang sama tapi aku merasa kau berasal dari planet lain!"
Ia mengeluarkan kompas dari sakunya. Kompas yang punya layar abu-abu titik merah yang sama dengan milikku. Seketika ia memutar kompasnya menjadi terbalik, kemudian menunjuk ke satu sudut.
"Bisa lihat ini?" tanyanya.
Aku mencoba menelaah, mendekatkan mataku dengan kompas. Sedekat mungkin untuk dapat melihat apa yang dimaksudnya.
Ada simbol-simbol di sana. Entah apa maknanya, aku tak paham.
"Iya, aku bisa melihatnya."
"Itu huruf Yunani kuno. Bunyi tulisan itu Herakles."
Aku pernah mendengar soal huruf Yunani kuno. Huruf itu tidak lagi dipakai sekarang ini. Hanya orang-orang tertentu yang bisa membacanya.
"Kau bisa membaca ini?" aku skeptis.
"Kalau tidak percaya, enyahlah," sahutnya.
Aku sungguh ingin memakinya sekarang juga. Selain pandai membuat orang marah, ia sendiri juga pemarah.
"Baiklah! Anggap saja simbol itu benar berarti Herakles, lalu apa hubungannya denganku?"
"Lihatlah kalung jelek milikmu," katanya.
Aku menelan semua kemarahanku bulat-bulat. Lihat saja, kalau sudah tidak butuh, aku akan membuangnya.
Aku mengeluarkan liontinku. Tapi masih tak mengerti apa hubungannya Herakles denganku.
"Perhatikan baik-baik! Jangan ada yang terlewat!" katanya, dingin.
Aku mengamati setiap sudut liontin milikku. Membalik dan memutarnya beberapa kali sampai aku pusing sendiri. Hingga akhirnya aku menemukan simbol serupa. Dicetak tipis sampai aku tak menyadarinya sama ini.
"Ketemu!"
Aku menunjukkannya. Petunjuk ini makin membuatku bingung. Herakles atau apalah itu, aku sama sekali tak memahami apa-apa.
"Pernah dengar legenda Herakles?" tanyanya.
Aku menggeleng. Ia menghela napas panjang, seolah lelah melihatku yang tak tau apa-apa. Bukan salahku, aku juga tidak mau jadi orang yang tidak tau apa-apa begini.
"Herakles atau Hercules. Manusia setengah dewa," ucapnya.
Aku mulai menghubungkan kata demi kata yang laki-laki itu sebutkan sedari tadi.
"Tadi kau bilang kita adalah Herakles, berarti maksudmu kita manusia setengah dewa? Kau ingin aku percaya omong kosong ini?" tanyaku skeptis. Aku bahkan sengaja tertawa sarkastik.
Ia tampak normal, tapi ucapannya tidak masuk akal. Ia pasti gila, tak ada penjelasannya yang lebih masuk akal. Dewa saja aku tidak percaya, bagaimana aku bisa percaya omong kosong seperti ini?
"Herakles itu manusia setengah dewa yang sangat kuat. Aku tak mengatakan bahwa kita adalah manusia setengah dewa, tapi karakteristik sangat kuat melekat pada diri kita. Perubahan tidak masuk akal yang kita alami membuat aku percaya bahwa kata-kata Herakles di sini menggambarkan tentang kita," paparnya.
Ucapannya terdengar masuk akal. Kalau benar Herakles adalah manusia yang super kuat, maka mungkin memang benar berkaitan denganku.
Luka yang sembuh sendiri dan kekuatan yang lebih besar dibandingkan orang normal bisa dikatakan sebagai kekuatan super. Mungkin benar, kami adalah Herakles.
"Pertimbangkanlah," katanya.
"Apanya?"
"Aku belum tau pasti tentang Herakles, semua ini hanya dugaanku saja. Aku akan pergi mencari Herakles besok pagi. Pertimbangkanlah apa kau mau percaya padaku atau tidak," katanya. Ia lalu bangkit dari duduknya, menuju bagian paling pojok ruangan dan tidur di sana.
Aku ditinggal sendiri, dibiarkan merenungi apa yang harus kupercayai.
***
Laki-laki itu membangunkanku tepat sebelum matahari terbit. Ketika udara dingin menghembus masuk lewat celah-celah jendela. Ia menyodorkan satu pasang seragam baja. Persis seperti yang sedang dipakainya, seragam pasukan Penjaga Perdamaian Dunia.
"Buat apa?" tanyaku.
"Pakailah kalau kau mau bertahan hidup," katanya. Terdengar seperti ancaman tapi aku memilih untuk abai.
Lagi pula sepertinya tak ada ruginya memakai seragam baja ini. Setidaknya orang-orang tak akan curiga. Aku bisa berkamuflase juga.
Aku hanya bingung dari mana sebenarnya ia mendapatkan seragam baja ini.
"Dari mana kau mendapatkannya?" tanyaku.
Lagi-lagi ia bersuara dengan nadanya yang dingin nan datar. "Kalau tidak mau, tak usah dipakai."
Ia tak berniat menjawab pertanyaanku. Padahal apa susahnya tinggal menjawab? Dan lagi, wajahnya yang tak pernah tersenyum atau menunjukkan ekspresi lainnya itu sungguh membuatku merasa gatal.
Aku memasang seragam baja itu tanpa melepaskan jumpsuit-ku. Rasanya berat dan melelahkan bahkan meski baru dipakai beberapa detik.
"Sudah kau putuskan?" tanyanya.
"Hm. Aku akan ikut denganmu," ucapku.
"Ambil barangmu yang penting. Tinggalkan tasmu di sini," katanya.
"Kenapa?" tanyaku bingung.
"Merepotkan."
Ucapannya masuk akal. Beban seragam ini saja sudah cukup untuk membuatku pingsan, tas yang berat itu hanya akan membuatku kerepotan. Aku mengambil liontin, memasukkannya ke dalam saku jumpsuit yang ada di bagian dalam.
Setelah memakai helm dan mengambil barang-barangku yang penting, aku mengikutinya meninggalkan rumah lama ini. Bukan berarti aku memutuskan untuk mempercayainya, aku hanya merasa tak punya petunjuk lagi selain ini. Aku bisa melarikan diri kalau ternyata dia orang jahat. Memang terdengar seperti rencana yang ceroboh, tapi aku tak punya banyak pilihan.
Aku melangkahkan kaki mengikutinya dari belakang. Entah apa rencananya, akan kuikuti saat ini.
***
Sudah sekitar enam jam kami terus berjalan tanpa berhenti. Kakiku rasanya lemas, tak kuat melangkah lagi. Laki-laki tidak berperasaan itu tak peduli meski aku sudah minta istirahat beberapa kali.
Keadaan makin buruk karena matahari bersinar amat terik saat ini, dan kami sedang berjalan melewati gurun yang tandus nan panas. Tenggorokanku kering, tapi ia tak memberiku kesempatan untuk berhenti sejenak dan minum.
"Apa sebenarnya rencanamu?" tanyaku.
Pasalnya terus berjalan seperti ini tanpa kejelasan hanya akan membuang-buang tenaga kami. Aku berusaha keras menyamakan langkahku dengan langkahnya yang panjang itu.
"Mencari Altair dan Vega. Bukannya kau juga punya misi yang sama?" jawabnya.
Aku tercengang. Rupanya ia juga punya petunjuk yang sama denganku.
"Siapa yang memberitahukan padamu tentang Altair dan Vega?" tanyaku.
"Jangan melewati batas!" ujarnya, merasa aku menyinggung batas-batas privasinya yang terlalu ketat itu. Aku mendengus. Kaku sekali manusia ini.
Kalau rencananya adalah untuk mencari Altair dan Vega, maka kemungkinan kami sedang menuju sebuah daratan yang dulu orang-orang sebut sebagai tanah Jepang. Karena di sanalah legenda dan festival Tanabata berada.
Aku ingin sekali menjawab pernyataannya itu. Tapi mendadak kakiku lebih lemas dari sebelumnya. Bulir keringat yang mengalir di punggungku terasa dingin tapi seluruh tubuhku kepanasan.
Saat itu aku melihat oasis di sisi gurun yang masih jauh di sana. Mungkin inilah yang orang sebut sebagai fenomena fatamorgana. Deru napasku makin cepat, begitu pula denyut jantungku yang makin tak terkendali. Setelahnya ... Brak! Semuanya gelap.
***
Ibu sedang menghangatkan AlgaCan ketika aku bangun. Aroma perisa ayam panggang mentega menggugah selera makanku.
"Selamat pagi, Gris," sapanya.
"Selamat pagi, Bu," sapaku balik.
Aku lalu memeluk nenek yang sedang membaca buku diiringi lagu kesukaannya. Aroma khas nenek yang lembut membuatku tenang. Nenek sampai keheranan.
"Ada apa, Gris? Kenapa kau tiba-tiba memeluk begini? Tidak biasanya. Apa ada yang salah? Apa kau punya masalah?" tanya Nenek bertubi-tubi. Ia tampak khawatir padaku. Aku hanya tersenyum.
Namun air mataku lolos sejenak kemudian. Ada kesedihan yang bersarang dalam rongga dadaku. Kesedihan yang membiru, tak begitu bisa dijelaskan kenapa sebabnya.
Nenek menghapus air mataku lalu mengelus-elus rambutku. Entah mengapa aku rasanya rindu. Meski ada nenek di depanku, terasa kerinduan besar yang mengganjal di benakku.
"Kau pasti habis bermimpi buruk, ya?" tebak Nenek.
Aku tersenyum kemudian mengangguk. Berharap semua yang terjadi benar-benar mimpi buruk belaka. Namun aku tau kebenarannya, bahwa sisi ini lah yang merupakan mimpi.
Bertemu dengan nenek dan ibu di dalam rumah kami adalah sebuah mimpi. Aku ingin percaya bahwa ini nyata, tapi aku tau ini ilusi otakku belaka. Ilusi yang bisa hilang kapan saja, bahkan meski aku ingin mempertahankannya.
"Nek, kemanakah nenek dan ibu sebenarnya? Apa kalian baik-baik saja?" tanyaku.
Nenek yang merupakan rekaan mimpiku itu tersenyum lebar. "Apa maksudmu? Sudah jelas nenek dan ibu ada di sini."
"Hahaha, kenapa? Kau bermimpi ibu dan nenek hilang?" sahut Ibu yang membawakan AlgaCan hangat untuk kami.
Air mataku makin tak terbendung. Napasku bahkan sudah tak teratur lagi. Aku terisak sampai dadaku sakit. Sementara ibu dan nenek tertawa, menganggapku lucu.
Drap! Drap! Drap! Sedetik kemudian bunyi langkah kaki yang kuat memecah perhatianku. Aku menoleh ke arah jendela. Pasukan berseragam baja bergerak menuju ke arahku.
Aku segera menoleh kembali ke nenek dan ibu, namun sosok mereka sudah hilang begitu saja tanpa ada jejaknya.
Langkah kaki pasukan itu makin mendekat, makin kuat bergema di telingaku. Sesaat kemudian aku tersadar.
Semua gambaran itu lenyap. Hanya ada langit malam di depan mataku serta seorang laki-laki yang tak aku kenal tapi aku ikuti. Benar, semuanya hanya mimpi.
Aku terduduk. Aku kemudian menyentuh pipiku yang basah karena air mata. Ternyata mimpiku bermanifestasi sampai ke dunia nyata. Kesedihan juga merasuki relung kalbuku. Rasanya sampai sesak, berat, dan membuatku ingin menangis lagi.
Laki-laki itu menyodorkan air padaku. Aku segera meminumnya, juga membasuh wajahku yang dipenuhi air mata.
Aku kemudian mengingat-ingat kembali apa yang terjadi padaku. Aku teringat bagaimana aku berjalan menyusuri gurun lalu tak sadarkan diri karena panas dan dehidrasi.
"Terima kasih," ucapku.
Ia tak menjawab apa-apa. Hanya duduk di sampingku dengan tenang lalu berbaring.
"Kita istirahat di sini malam ini," katanya.
Aku menoleh ke sekitar. Kami masih ada di hamparan gurun yang tampak tak berujung. Cuaca yang tadi siang panas kini menghilang. Udara dingin berhembus dari segala arah, bahkan sesekali menerbangkan pasir yang bisa saja mengiritasi mata.
Aku ikut berbaring di samping laki-laki itu. Menatap taburan bintang yang entah kenapa tampak sangat jelas di tempat ini. Indah, sungguh indah.
Aku menoleh, laki-laki di sampingku sedang menutup matanya. Tapi tak tampak sedang tertidur.
"Apa kau tidak penasaran kenapa aku menangis?" tanyaku.
"Tidak," jawabnya dingin. Lebih dingin dari udara yang berhembus saat ini.
"Kenapa?"
"Karena bukan urusanku," singkatnya.
"Kejam," gumamku.
"Tapi benar juga," sambungku, "Kita hanya dua orang asing yang terjebak dalam keadaan sulit. Lebih baik tidak saling bercerita agar tidak terikat."
Ia tak menanggapiku. Aku seperti sedang bicara dengan makhluk tak kasat mata. Ia terus memejamkan matanya. Beda dari aku yang sibuk mengangumi taburan bintang di atas sana.
Taburan bintang itu seperti sedang menghiburku. Seperti setitik kebahagiaan di situasi sulit.
Aku jadi ingat cerita nenek. Masa-masa ketika ia terjebak dalam perang dunia ketiga yang menyesakkan. Nenek bilang keadaan amat sulit waktu itu. Bahkan tidur saja tidak tenang karena bisa mati sewaktu-waktu.
Namun di sela-sela waktu yang sulit itu, nenek bertemu kakekku. Nenek waktu itu adalah seorang relawan kesehatan perang, bertemu dengan kakekku yang seorang tentara perang. Mereka bertemu ketika kakekku patah tulang karena perang. Kisah yang romantis dan memberikan harapan bahwa bahagia ada dimana saja.
"Apa kau percaya kalau akhir bahagia itu ada?" tanyaku padanya. Meski tau bahwa aku tak akan mendapat jawaban, nyatanya aku tetap bertanya.
Ia tetap diam sesuai perkiraan.
"Namamu siapa?" tanyaku sekali lagi.
Ia membuka matanya.
"Kenapa kau harus tau?"
"Karena kita akan melakukan perjalanan bersama. Meski tidak saling terikat, setidaknya kita harus saling tau nama untuk memanggil satu sama lain," jelasku.
Ia memejamkan matanya lagi. Mulutnya diam lagi. Apa susahnya padahal tinggal mengucapkan nama. Entahlah, aku menyerah untuk berkomunikasi dengan makhluk ini.
"Asahi," katanya tiba-tiba, "Kau?"
Aku tersenyum menang. Setidaknya aku tau siapa namanya. Curang, aku tak akan mengungkapkan namaku yang sebenarnya.
"Xiera," bualku, "Namaku Xiera."