Under The Starry Sky

2004 Kata
Tampaknya Profesor Song belum puas menghukum kami atas insiden perkelahian antara Ruby dan Harvey. Akibatnya, kami dikumpulkan di area perkebunan malam-malam begini. Entah apa maksudnya. Profesor Song duduk di tanah sambil makan buah persik. Ia tak langsung bicara meski kami semua sudah berkumpul. Menghabiskan buah persik yang dimakannya dulu, sengaja membuat kami menunggu. Ia mengusap bibirnya, menghapus sisa-sisa sari buah persik yang menetes di area sana. Setelahnya baru berdiri dan tersenyum menyebalkan. "Setelah seharian membuat keju, apa kalian sudah paham arti kerja sama?" tanya Profesor Song. Romy mengangkat tangannya, berusaha menjawab. Tapi Profesor Song menggeleng tidak setuju. "Tidak, tidak, aku mau dengar dari Ruby." Ruby yang namanya disebut terdiam beberapa saat. Sesaat setelahnya ia menatap Profesor Song dengan penuh keberanian. Ruby adalah satu-satunya orang yang berani menatap Profesor Song seperti itu di antara kami. Bahkan Romy sekalipun, masih segan dengan Profesor Song. Tapi Ruby tidak demikian. "Aku tidak paham artinya secara gamblang, tapi kerja sama membutuhkan kolaborasi lebih dari satu orang," jawab Ruby lantang. "Kalau begitu sekarang Harvey, menurutmu untuk tercipta sebuah kerja sama yang bagus, apa yang harus dilakukan?" "Saling memahami, Prof," jawab Harvey. "Kenapa demikian?" "Karena dengan saling memahami, tidak ada selisih pendapat dan semua orang bisa bekerja dengan nyaman dan efisien," sahut Harvey. "Lalu apa menurutmu kau dan Ruby saling memahami?" Harvey melirik ke arah Ruby, begitu pula sebaliknya. Mereka langsung buang muka ketika mata mereka bertemu. Tanpa mereka jawab pun, semua orang sudah tau jawabannya. Jelas, mereka tidak saling memahami satu sama lain. Jangankan memahami, saling bicara baik-baik saja tampaknya akan sangat sulit untuk mereka berdua. "Ah ... sudahlah! Tidak dijawab juga aku sudah tau jawabannya," kata Profesor Song. "Bukan hanya Ruby dan Harvey, yang lain juga tidak saling memahami. Karena kalau kalian saling memahami, tidak akan ada kejadian seperti tadi. Maka dari itu, aku akan memberi kalian hadiah." Profesor Song tersenyum mengerikan. Ditambah rambut putihnya yang acak-acakan, akhirnya ia tampak seperti seorang profesor. Tapi seorang profesor psikopat yang muncul di film-film horor. "Kalian akan tidur di sini mulai malam ini." "Mulai?" sahutku. Pasalnya kata-kata Profesor Song menunjukkan bahwa bukan cuma malam ini kami tidur di sini. "Iya, mulai malam ini sampai waktu yang tidak ditentukan. Kalian akan kuperbolehkan kembali ke kamar kalau sudah tidak ada yang bertengkar lagi. Paham?" *** Kami diberi kantong tidur oleh Dokter Heller. Masing-masing satu. Dijajar horizontal. Satu orang bersebelahan dengan orang lainnya, tanpa jarak yang berarti. Dokter Heller sengaja memasangnya begitu, perintah Profesor Song katanya. Menurut instruksi Profesor Song juga, Ruby dan Harvey diminta tidur bersebelahan apapun yang terjadi. Perintah ini seperti perintah untuk berperang, karena meski baru beberapa hari, aku merasa membuat Ruby dan Harvey rukun adalah hal yang hampir mustahil. Sebenarnya aku tak tau apa yang sedang terjadi antara Ruby dan Harvey. Satu hal yang aku tau adalah adanya api kebencian di mata Ruby. Padahal aku tidak melihat ada yang salah dari Harvey. Kelihatannya ia memang cukup manja dan ceroboh karena tidak terbiasa melakukan apa-apa sendiri, tapi sepertinya ia adalah seorang manusia yang baik dan mudah bersosialisasi. Ia mencoba beradaptasi meski kehidupan ini tak lebih baik dari kehidupannya sebelum ini. Kami semua memang sedang beradaptasi. Mencoba menyesuaikan dari kehidupan lama ke kehidupan baru kami. Tempat bernama Herakles ini memang hangat dan nyaman, lebih bagus dibandingkan rumahku yang sederhana. Hanya saja pelukan ibuku terasa lebih hangat dan nyaman. Mereka juga sama, pasti punya sesuatu di luar sana yang membuat mereka lebih nyaman dan hangat. Mereka juga pasti punya sesuatu yang ingin dilindungi, sama sepertiku. Aku berbaring di kantong tidurku. Sebelah kananku Ruby, sebelah kiriku Arthur. "Selamat malam!" ucapku memecahkan sunyi. "Selamat malam!" Romy yang ada di sebelah Harvey menjawabku. "Selamat malam, Gris!" Harvey mengikuti. "Tsk! Palsu!" Ruby berdecak, menyindir Harvey. Harvey langsung bangkit dari tidurnya, begitu pula Ruby. Mereka saling melemparkan tatapan yang dapat memicu peperangan. Segera, aku melompat di antara mereka. Menengahi sebelum semuanya makin parah. "Pegangi mereka!" ujarku. Romy memegangi Harvey, Arthur memegangi Ruby. Namun Ruby dan Harvey masih punya hasrat seperti ingin saling membunuh. Saling mendorong ke arahku dengan kekuatan yang berkali-kali lipat dari manusia normal. "Berhenti!" Aku mencengkram baju Harvey dan Ruby dengan tanganku masing-masing. Mengerahkan sekuat tenaga untuk menahannya. "Kalau kalian begini, Profesor Song akan menghukum kita lagi! Coba pikirkan yang lain! Coba pikirkan aku, Arthur, dan Romy! Kami juga harus menanggung hukumannya kalau kalian bertengkar! Berhenti jadi egois!" seruku. Akhirnya amarah Ruby dan Harvey mereda. Perlahan-lahan menyusut seperti air laut. Aku melepaskan cengkramanku di baju mereka. "Kalau kalian bertengkar lagi, aku bersumpah akan mengikat kalian di pohon!" pekikku. Aku memastikan semua orang kembali ke posisinya masing-masing. Setelahnya, aku baru kembali ke kantong tidurku. Sayangnya mataku sudah terlanjur segar gara-gara terbawa emosi. Aku tak bisa tidur bahkan sampai berjam-jam setelah kejadian itu. Aku hanya bisa menatap langit yang tampak berkat atap transparan itu. Taburan bintang di atas sana tampak menakjubkan dilihat dari sela-sela daun pepohonan yang menaungi kami. Tenang datang setelah gejolak besar. Aku bangkit kemudian memutuskan untuk berjalan-jalan sendiri menyusuri perkebunan ini. Aku menikmati angin yang berhembus membelai kulit dan rambutku. Tap! Tap! Tap! Aku terhenti karena merasa mendengar suara langkah di belakangku. Seketika aku menoleh ke belakang sambil pasang kuda-kuda. Ternyata Arthur. "Kau mengikuti aku lagi, huh?" ucapku. Cukup lega karena ternyata hanya Arthur. Arthur tak menjawab. Ia mengangkat bahunya tak peduli dengan tuduhanku. "Kenapa? Kau takut aku membunuhmu ketika tidur?" tanyaku bercanda. "Tidak, aku hanya tidak bisa tidur," kata Arthur. Kami lalu berjalan berdampingan. "Bohong! Aku tak akan tertipu lagi dengan tipuanmu!" sahutku. "Kapan aku menipumu?" tanyanya singkat. Aku mendengus pelan. Bisa-bisanya ia berkata begitu setelah menipu aku tentang namanya waktu itu. "Kau menipuku, Asahi!" ujarku. "Aku tak berbohong tentang itu," katanya. "Sudahlah, sudah ketahuan, jangan berusaha lagi untuk menipuku!" Aku tak akan tertipu lagi dengan ucapannya. Arthur lalu mengangkat bahunya seolah tak peduli kalau aku tidak percaya. "Aku tak menyalahkanmu karena sudah menipuku. Aku juga menipumu. Wajar, kita adalah dua orang asing yang mencoba bertahan hidup dan tidak sengaja bertemu karena punya situasi yang sama," tuturku. Aku mendadak melankolis karena teringat ibuku. Ibu pasti akan senang kalau melihat pemandangan seasri ini. Nenek juga, ia bisa nostalgia mengingat kehidupan lamanya sebelum perang dulu. "Kau punya orang yang kau sayangi?" tanyaku. "Hm," jawabnya singkat. "Aku juga punya. Sekarang aku merindukan orang-orang itu. Dulu rasanya biasa saja, tapi sekarang rasanya menyebalkan karena rindu tapi tidak bisa bertemu." Arthur tak menanggapi apa-apa. Mungkin ia sendiri juga tak tau harus bagaimana merespon kata-kataku. Kami berjalan menyusuri perkebunan, lalu kembali lagi. Bertemankan sepi, tidak banyak bicara dan tidak saling bertanya. Tapi terasa aman dan nyaman. Setelah sampai di tempat kami semua tidur, Arthur tiba-tiba membuka mulutnya. "Gris?" "Ya?" "Mmh ... tidak jadi." Dasar! *** Pagi ini sedikit berbeda karena kami tidak dibangunkan dengan suara terompet yang memainkan lagu Fur Elise lagi. Kami dibangunkan oleh tiupan peluit Profesor Song. Rasanya tepat di telinga, suaranya menusuk-nusuk saking kerasnya. Sungguh tidak manusiawi. Sapi-sapi di kandang bahkan tidak dibangunkan dengan cara sekejam ini. "Bagaimana tidur di luar? Enak?" tanya Profesor Song dengan wajah mengejek. Kalau boleh jujur, tidur di luar begini memang tidak senyaman tidur di kamar. Tanahnya keras dan suhunya cenderung dingin karena angin malam. Tapi tidak seburuk itu juga. Mengingat aku pernah tidur di dalam peti kemas serta di atas kapal yang baunya mengerikan, maka tidur di luar sini jelas jauh lebih baik. "Apa ada yang bertengkar tadi malam?" tanya Profesor Song. "Tidak, Prof!" jawab kami serempak. Menutup-nutupi pertengkaran singkat antara Ruby dan Harvey. "Tidak ada gunanya berbohong. Tempat ini aku awasi," kata Profesor Song. Kami hanya bisa diam. Tidak bisa membantahnya lagi karena sudah melibatkan bukti. "Tapi aku tak akan menghukum kalian karena setidaknya kalian bisa mencegah sebelum pertengkaran itu benar-benar terjadi. Untuk merayakannya, kita akan melakukan tugas pertama kalian sebagai Herakles," ucap Profesor Song. "Tugas pertama?" "Ya, tugas pertama! Tapi sebelumnya, kalian harus latihan." *** Latihan dimulai dengan pemanasan, lalu lari keliling lapangan 5 putaran. Kemudian olahraga aerobik dengan intensitas tinggi sampai mau bernapas pun susah setengah mati. Latihan dipimpin oleh Dokter Heller. Menurut Ruby, ada dua orang yang tinggal di sini selain para Herakles dan Profesor Song, yaitu Dokter Heller dan Dokter Gabby yang membantu kami membuat keju kemarin. Dokter Heller dan Dokter Gabby adalah asisten Profesor Song. Mereka mengurus hampir semua hal yang ada di sini, mulai dari perkebunan, peternakan, bahkan mengenai mesin-mesin. Usianya jauh lebih muda dari Profesor Song. Mereka juga tampak lebih ramah dan bersahabat dibandingkan Profesor Song yang tampak seperti mafia. Namun tampaknya aku tak boleh memikirkan asisten-asisten Profesor Song karena harus fokus dengan latihan fisik yang sedang kami jalani. Kini kami melatih kekuatan fisik kami. Secara bergantian, kami diberi beban berupa besi yang diangkat dengan kedua tangan. Dokter Heller akan menambah beratnya sampai kami tidak sanggup lagi, lalu mencatatnya di gadget miliknya. Ruby bisa mengangkat beban hingga 1 ton alias 1000 kilogram, Romy dan Arthur 800 kilogram, sementara Harvey 500 kilogram. Giliranku tiba. Rasanya cukup terbebani karena teman-teman yang lain dapat hasil yang bagus. Dokter Heller mulai memberiku beban dari 100 kilogram. Rasanya cukup ringan. Sama seperti ketika aku mengangkat tumpukan kursi besi di sekolah waktu itu. Kemudian beban mulai ditambah per 100 kilogram. Makin lama makin terasa bebannya. Hingga sampai pada 700 kilogram, tubuhku menyerah. Terlalu berat untuk kutanggung lagi. "Kerja bagus semua!" seru Dokter Heller menyemangati kami, "Kalau kalian terus berlatih, maka kapasitas ini bisa ditingkatkan lagi." Sejujurnya aku cukup kecewa karena kemampuanku terbatas hanya sampai di ambang 700 kilogram. Entahlah, hanya saja aku merasa bahwa semakin kuat aku, akan semakin cepat aku bertemu ibu dan nenekku. "Sekarang, silakan kalian beristirahat lebih dulu di sini. Aku akan memanggil Profesor Song lebih dulu." Seperginya Dokter Heller, aku langsung berbaring di lantai. Mengatur napasku yang terengah-engah setelah berlatih seharian. Untung lantai ruang olahraga terasa dingin. Jadi bisa menetralkan suhu tubuhku yang panas. Namun dari sekian luasnya ruangan ini, aku paling penasaran dengan ruangan-ruangan petak yang ada di bagian ujung. Aku penasaran ada apa di sana. "Itu ... tempat apa?" tanyaku pada Ruby sambil menunjuk ruangan-ruangan itu. "Ruang latihan pribadi. Ada berbagai simulasi musuh di dalamnya," jelas Romy. Aku sungguh ternganga kagum. Tak kusangka ada tempat seperti ini. Aku jadi bertanya-tanya siapakah yang membangun gedung semegah dan sefungsional ini. Elise? "Oh, aku ingin bertanya. Apakah kau tau siapa itu Elise sebenarnya?" Romy menggeleng. "Aku tak tau. Sejak kami di sini pun, Profesor Song tak pernah memberitahukan siapa itu Elise." Aku menganggukkan kepalaku. Kalau Romy dan Ruby saja tidak tau, maka perjalananku untuk tau tentang Elise jelas masih jauh. "Menurut kalian ... tugas apa yang akan Profesor Song berikan kepada kita?" tanyaku pada semua orang. "Mungkin ... merampok bank?" Harvey menebak. Ruby lalu tertawa skeptis dan memandang Harvey dengan remeh. "Orang sepertimu? Merampok bank?" Aroma-aroma pertumpahan darah tercium lagi. Untungnya Profesor Song tiba sebelum pertengkaran Ruby dan Harvey terjadi. "Aku mencium ... bau peperangan." Profesor Song mengibas-ngibaskan tangan di depan hidungnya, seolah sedang memberi akses bagi bau-bauan. "Bagaimana latihannya? Menyenangkan?" tanya Profesor Song. "Menyenangkan, Prof!" jawab kami serempak. "Bagus, jawaban kalian sudah cukup serempak sekarang. Tampaknya tidur bersama membuat kalian berhasil untuk sedikit memahami satu sama lain." Aku hampir tertawa karena apa yang dikatakan Profesor Song sama sekali tidak benar. Tidak satupun di antara kami yang tampaknya berusaha memahami satu sama lain. Tampaknya kami terlalu sibuk dengan perasaan dan tujuan masing-masing. Masih belum memahami esensi dari kehadiran satu sama lain. Profesor Song juga tak mungkin tidak tau tentang hal itu. Intinya kerja sama kami sangat buruk kalau dijadikan dalam satu tim. Hidup rukun saja sangat sulit bagi kami, apalagi bekerja sama dan memahami satu sama lain. Rasanya mustahil untuk terjadi dalam waktu dekat ini. "Baik, mari kita mulai tugas pertama kalian." Profesor Song berjalan mendahului kami. Membawa kami ke area perkebunan sampai kami sendiri kebingungan. Entah tugas apa yang sebenarnya akan ia berikan. Tampaknya bukan sesuatu yang menyenangkan untuk didengar maupun dilakukan. Senyum Profesor Song juga tampak mencurigakan. Seperti sedang sengaja bermain-main dengan pikiran kami. Tampaknya firasatku benar karena senyum Profesor Seong makin lebar dan makin mencurigakan. Ia benar-benar tampak seperti seorang psikopat yang merencanakan suatu skema jahat berskala besar untuk membuat kami menderita. "Tugas pertama kalian ... memanen semua hasil di kebun ini." Benar saja.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN