Dalam sastra modern, punya kekuatan super berarti sama dengan menjadi pahlawan. Kekuatan di luar batas manusia normal biasanya diasosiasikan dengan kemampuan membantu orang lain. Singkatnya, menjadikan dunia jadi lebih baik.
Superman, Spiderman, Batman, Thor, Captain America, bahkan Aquaman. Karya-karya tentang superhero dari puluhan tahun bahkan ratusan tahun yang lalu itu masih populer dan dibuat ulang beberapa kali sampai sekarang. Semuanya sama-sama punya kekuatan super melewati manusia normal lainnya.
Begitu mendengar penjelasan Profesor Song mengenai Herakles, aku juga beranggapan bahwa kami akan jadi implementasi nyata dari Avengers--kumpulan superhero terkenal--yang membuat perubahan besar bagi dunia. Apalagi melihat keadaan dunia yang sebegini parahnya, jelas banyak perubahan yang bisa kami ciptakan. Namun bukannya melakukan sesuatu yang besar di luar sana, Profesor Song malah membuat kami bekerja di perkebunan. Benar-benar bekerja.
Profesor Song memerintahkan kami untuk memanen semua hasil tanam yang ada di perkebunan ini dan mengelompokkannya secara baik. Tindakan ini sebelas dua belas dengan p********n jaman imperialisme dulu.
Bukannya superhero, kami menjelma jadi pekerja paksa yang melakukan sesuatu karena tekanan dari pihak berwenang. Dalam kasus kami, Profesor Song.
Kami bekerja di area yang berbeda-beda. Ruby dan Romy mengerjakan area yang ditanami tanaman bertubuh tinggi. Harvey menangani area yang ditanami tanaman bertubuh pendek. Sementara aku dan Arthur harus memanen area tanaman rambat.
Arthur yang cukup tinggi mengurus tanaman rambat yang arah tumbuhnya ke atas seperti anggur dan markisa. Sedangkan aku memanen tanaman rambat yang arah tumbuhnya ke bawah seperti semangka yang sedang aku urus sekarang ini.
Perlu kuakui, tempat ini seperti surga yang amat kaya. Dalam satu petak lahan semangka saja, terdapat 25 buah semangka yang sudah matang dan siap dipanen. Itu baru semangka, belum yang lain-lainnya. Kalau semua hasil bumi yang ada di sini dijual secara komersial, maka kami semua bisa hidup nyaman selamanya tanpa memikirkan uang. Iya, aku tau uang memang bukan standar kebahagiaan. Hanya saja, faktanya banyak orang yang harus menderita di luar sana karena tidak punya uang. Banyak orang mati kelaparan karena tidak punya uang.
Aku memasukkan semangka terakhir ke dalam keranjang. Semangka itu memang tidak berat. Memanennya juga tidak melelahkan. Hanya saja aku merasa malas karena tidak tau apa gunanya memanen ini semua. Bisa saja hanya untuk kepentingan pribadi Profesor Song.
Setelah keranjang itu penuh, aku membawanya ke gudang perkebunan yang jaraknya cukup jauh dari areaku. Sejauh ini aku sudah memanen semangka, melon, dan stroberi. Masih ada timun dan labu yang harus aku panen. Masing-masing dua petak lahan.
Profesor Song tidak mengijinkan kami beristirahat sampai semuanya selesai dipanen. Benar-benar p********n.
Aku jadi teringat cerita nenek tentang Romusha atau sebutan bagi pekerja paksa pada jaman penjajahan negara Jepang ratusan tahun yang lalu. Katanya, negara asal nenek mengalami sistem kerja paksa karena penjajahan yang kejam. Tentu saja, itu berpuluh-puluh tahun sebelum nenekku lahir.
Namun sistem ini timbul kembali di perang dunia ketiga. Menurut cerita nenek, beberapa oknum mengambil untung dari pecahnya peperangan dan menerapkan kerja paksa yang sangat tidak manusiawi untuk kepentingan sendiri.
Begitulah manusia, bisa menjelma jadi makhluk paling tidak manusiawi meski istilahnya diambil dari kata manusia itu sendiri. Fakta yang sangat ironi.
Mungkin begini rasanya melakukan kerja paksa. Tidak mau tapi harus mau karena keadaan.
Aku memanen timun dan memasukkannya dalam keranjang. Bergerak secepat mungkin agar penderitaan ini juga cepat selesai.
Langit sudah hitam kelam. Malam sudah datang menjenguk semenjak tadi. Sudah waktunya kami istirahat. Tapi Profesor Song yang kejam itu tidak memberi waktu kami untuk beristirahat. Dasar tirani! Jangankan istirahat, diberi makan saja tidak. Makanya sekarang aku curi-curi kesempatan makan dua buah timun untuk mengisi perutku. Lagi pula Profesor Song tidak akan tau.
Setelah perutku terisi, aku kembali bekerja memanen labu. Pekerjaan terakhirku. Entah yang lain sudah sampai mana, tapi melihat bagaimana Profesor Song terobsesi dengan kerja sama, maka aku juga tak akan diperbolehkan istirahat sebelum semua orang menyelesaikan pekerjaannya.
Untungnya labu yang harus dipanen tak begitu banyak jumlahnya. Setelah menyelesaikan semua pekerjaanku sendiri, aku mampir ke area terdekat yang kebetulan dikuasai oleh Harvey.
Laki-laki itu tampak sedang memetik paprika dengan lambat, sudah tak bertenaga. Rambutnya yang kecokelatan mengkilap diterpa sinar rembulan. Begitu pula dengan keringat di dahinya.
"Hei, pekerjaanmu masih banyak?" tanyaku.
"Masih."
Harvey masih punya paprika, tomat, dan cabai untuk dipetik. Meski pohonnya tampak sedikit, tapi satu pohon bisa menghasilkan beberapa puluh buah dengan detail yang cukup kecil-kecil sehingga butuh waktu lama.
"Biar aku bantu!" ujarku.
Harvey tampak sumringah. Matanya yang bulat berbinar-binar seperti dapat harapan baru di kehidupannya.
"Terima kasih, Gris!"
"Tentu."
Aku membantunya memetik tomat. Hanya memetik yang berwarna merah sesuai ucapan Harvey. Lahan tomat dan paprika berseberangan sehingga kami masih bisa saling bercakap-cakap. Sayangnya situasi terlalu sepi, tidak ada satu orangpun di antara kami yang ingin berbicara karena sudah terlalu lelah.
Hingga akhirnya Harvey buka suara. "Apa kegiatanmu sebelum semua kegilaan ini dimulai, Gris?"
"Mmh ... tak banyak. Hanya sekolah dan sedikit membantu ibuku di rumah. Kenapa memangnya?"
"Apa kau merindukannya?" tanyanya lagi.
"Tentu. Aku rindu kehidupan lamaku. Aku tau kau pasti juga begitu," ucapku.
Ia mengangguk. Matanya tampak basah, tapi sepersekian detik kemudian ia hapus air matanya. Mungkin tak mau aku melihatnya.
"Dari kecil, aku selalu suka bernyanyi. Menyanyi membuatku merasa amat hidup. Itulah mengapa aku mulai merintis karirku sebagai penyanyi ketika aku beranjak remaja. Sayangnya sekarang setelah semua kesuksesan aku dapat, aku malah tak bisa bernyanyi lagi." Ia menceritakan kisahnya. Tampaknya kisah itu mengganggunya selama berhari-hari tanpa teman cerita.
Aku ikut prihatin. Sama seperti kehilangan nenek dan ibuku, kehilangan mimpi pasti rasanya juga pedih. Rasanya seperti alasanmu untuk hidup direnggut begitu saja.
"Kalau boleh tau, bagaimana kau bisa sampai di sini Gris?"
"Ceritanya cukup panjang. Tapi suatu hari dilakukan pemeriksaan mendadak oleh pasukan Penjaga Perdamaian Dunia di area tempat tinggalku. Ibuku menyembunyinkan aku di sebuah ruang bawah tanah, lalu ketika keesokan paginya aku keluar dari tempat persembunyian itu, ibuku sudah tidak ada. Lalu aku mendapatkan petunjuk bahwa aku harus pergi, dan akhirnya aku berakhir di sini." Aku memutuskan untuk menceritakan sedikit garis besar dari ceritaku. Lega juga ternyata ketika berhasil menceritakan sesuatu yang berat kepada orang lain.
Lagi pula kita semua berbagi kepahitan yang hampir sama. Tak ada salahnya bercerita.
"Kalau kau bagaimana?" tanyaku.
"Hampir sama. Aku ingat sekali pagi itu aku sedang bersiap-siap untuk pergi ke teater. Tiba-tiba orang tuaku meminta aku pergi dengan manager-ku. Aku dibawa pergi jauh dan diturunkan di tempat asing lalu tak lama aku bertemu kalian."
Meski kisah kami tidak sama persis, tapi satu kesamaan yang kami punya adalah kami sama sekali tidak siap dengan situasi ini. Terlalu mendadak, terlalu tiba-tiba.
"The Marriage of Figaro?" tanyaku.
"Hah?"
"Apa pagi itu kau bersiap-siap untuk menampilkan The Marriage of Figaro?" tanyaku.
Ia mengangguk.
"Bagaimana kau tau?"
"Tentu saja, iklan tentang teatermu beredar di seluruh dunia. Memang ada orang yang tidak tau?" sahutku.
Ia tersenyum pahit. "Tapi itu masa lalu, sekarang aku bahkan tak bisa bernyanyi lagi."
"Siapa bilang? Kau bisa bernyanyi kapanpun, aku bersedia mendengarkanmu," ucapku menghiburnya.
"Benarkah?"
"Benar! Sekarang coba nyanyikan salah satu lagi dari teatermu! Anggap saja hadiah gratis buatku karena sudah bekerja keras. Lagi pula aku belum pernah dengar karena tiket teatermu terlalu mahal."
Harvey mulai bernyanyi. Suaranya yang indah seperti diturunkan langsung dari surga. Ia tampak bersinar, seolah-olah bulan hanya berpendar untuknya. Pepohonan ikut bergoyang mengikuti indah suaranya yang memecah keheningan malam.
Begitu ia selesai menyanyikan satu bait, aku menepuk tanganku keras. Bahkan berhenti bekerja, saking kagumnya.
"Menakjubkan! Pantas saja nenekku suka padamu!" ujarku.
"Nenekmu?"
"Iya, kau adalah satu-satunya selebriti masa kini yang nenekku tau. Dia bilang suaramu seperti malaikat yang diutus ke bumi untuk menghibur manusia. Tampaknya aku setuju."
Harvey menundukkan kepalanya sebagai gestur hormat. "Aku merasa terhormat kalau kau berpikir demikian. Baik, sekarang aku punya tenaga lagi untuk kembali bekerja. Terima kasih, Gris!"
***
Ternyata penderitaan kami belum usai. Setelah menyelesaikan panen dan makan malam, Profesor Song menyuruh kami memasukkan hasil panen ke dalam kotak-kotak dengan ukuran lebih kecil. Satu kotaknya terdiri dari campuran sayur, buah, keju, serta s**u. Entah untuk apa sebenarnya.
Aku mau tak mau harus mengucapkan kata perpisahan pada waktu tidurku. Iya, anggap saja aku terlalu banyak mengeluh. Namun meskipun kekuatan kami di atas manusia rata-rata pun, rasanya kami tetap berhak mendapatkan waktu istirahat yang layak.
Meski kami tak saling mengutarakan, aku bisa melihat wajah kelelahan dari yang lainnya. Sungguh terkutuk Profesor Song dan sifatnya yang suka memerintah. Tugas Herakles macam apa ini.
"Ah, s**l!" Ruby akhirnya memaki. Ia lalu terbaring lemas di lantai seolah nyawanya hilang terbang melayang. Akhirnya ada juga yang meluapkan kekesalanku secara tidak langsung.
Aku ikut berbaring di sampingnya, menatap langit-langit gudang penyimpanan yang tampak bersih. Setelahnya Romy malah menyodorkan dua potong keju kepada kami.
"Makanlah dan bersemangat lagi!" ujar Romy.
Aku menerimanya lalu menggigit keju itu. Rasa asin dan gurih dari keju membangunkanku.
Satu-satunya orang yang tak tampak lelah adalah Arthur. Ekspresinya biasa saja. Sama seperti tadi pagi. Seolah dirinya tak merasa lelah sama sekali meski sudah latihan dan bekerja mati-matian sejak pagi. Atau mungkin itu karena ekspresinya yang memang cenderung tidak berubah apapun keadaannya.
Ia seperti robot generasi pertama yang gerakannya kaku dan tidak bisa berekspresi sama sekali. Robot generasi sekarang sudah sama seperti manusia, bahkan punya emosinya sendiri. Bahkan sulit dibedakan satu sama lain kecuali dari nomor serial dan tombol khususnya di bagian belakang leher. Begitu mengejutkan karena nyatanya Arthur adalah seorang manusia, bukannya robot generasi pertama.
Tapi spesies apakah Arthur bukanlah hal yang penting saat ini. Paling penting adalah bagaimana caranya bekerja cepat sehingga semuanya cepat selesai.
Aku memutuskan untuk meningkatkan kecepatan kerjaku. Meski rasanya tidak mampus, aku mendorong batas kemampuanku semaksimal mungkin. Tidak ada yang sulit kalau aku berusaha semaksimal mungkin.
Pekerjaan yang tampaknya tak akan berakhir itu akhirnya benar-benar selesai pada dini hari. Untungnya kami memang tidur di area perkebunan, jadi kami tidak perlu berjalan jauh-jauh lagi ke kamar. Ada juga untungnya.
"Selamat tidur, Teman-teman! Kerja bagus!"
***
Aku yakin Profesor Song adalah psikopat berkedok ilmuwan. Kalau tidak, bagaimana mungkin ia tega membangunkan kami hanya satu jam setelah kami tertidur. Sungguh tidak manusiawi.
Mataku masih terasa berat. Rasanya mungkin akan jauh lebih baik kalau aku tidak tidur sejak awal.
Tubuh dan jiwaku benar-benar belum siap untuk diajak bangun tidur. Seperti masih berkelana di alam mimpi meski mataku kupaksa terbuka. Aku lain yang lain juga merasa demikian. Mata mereka masih setengah terpejam, hanya Arthur saja yang tidak demikian.
"Bangun!" ujar Profesor Song.
Aku melebarkan mataku menggunakan tangan. Memaksa nyawaku untuk bangun sempurna meski rasanya sulit.
Bukan cuma Profesor Song, ada Dokter Heller dan Dokter Gebby. Mereka tampak sudah segar dan sudah rapi. Sungguh jauh berbeda dari kami.
"Aku beri kalian waktu 10 menit untuk membersihkan diri di air terjun. Setelahnya kembali lagi ke sini, kalau kalian terlambat, siap-siap saja," kata Profesor Song.
"Sepuluh menit ... dimulai!"
Mendengar ancaman Profesor Song, mataku langsung segar seketika. Kami langsung berlari menuju air terjun yang jaraknya cukup jauh. Sepuluh menit jelas waktu yang amat padat. Tak bisa digunakan secara sia-sia.
Begitu sampai di air terjun, aku langsung mengguyur wajah dan kepalaku menggunakan air. Rasa dingin menghantamku. Seperti menampar dan memaksaku bangun. Mataku langsung segar.
Aku juga membasahi tenggorokanku yang kering dengan air itu. Segar. Tingkat kesadaranku makin bertambah meski kepalaku masih terasa berat karena kurang tidur.
Suara air terjun yang bergemuruh dan bergema terasa sangat indah. Ditambah lagi dengan bulir-bulir air yang meluncur jadi satu kelompok, menimbulkan kekuatan yang besar dan menakjubkan.
"Ayo kembali! Tinggal 3 menit!" seru Ruby.
Kami akhirnya berlari kembali menuju perkebunan. Sesampainya kami di sana, Dokter Heller dan Dokter Gabby memberikan kami roti isi dan s**u segar. Masing-masing satu. Aku menerimanya dengan senang hati.
Aku makan sampai roti isi dan s**u itu tidak bersisa. Perutku cukup terisi tapi tidak kekenyangan. Sangat pas.
"Terima kasih karena kalian sudah bekerja keras dan bekerja sama tanpa bertengkar sama sekali. Aku sangat menghargainya," kata Profesor Song.
"Pekerjaan kalian juga cukup rapi. Hanya saja kalian memakan apa yang seharusnya tidak jadi milik kalian," katanya. "Ruby, kau makan 5 buah apel dan 1 pisang. Romy, kau makan buah persik. Gris, aku tau kau makan 2 buah timun dan 1 pisang."
Aku hanya bisa meringis. Siapa tau kalau Profesor Song ternyata seteliti itu.
"Tapi tak apa, aku tau kalian lapar. Sekarang, saatnya kita benar-benar menjalankan tugas pertama."
"Apa itu, Prof?" tanya Ruby.
"Kalian juga akan tau nantinya."