Suara baling-baling helikopter yang memekakkan telinga langsung teredam begitu aku memakai alat pelindung. Setelahnya aku memakai sabuk pengaman dan berusaha duduk dengan nyaman.
"Sudah siap?" tanya Dokter Heller sebagai pilot.
"Siap!" jawabku dan Arthur bersamaan.
Iya, hanya ada aku, Arthur, dan Dokter Heller di helikopter ini.
Kami memang dibagi menjadi dua tim untuk menjalankan tugas pertama kami sebagai Herakles. Aku bersama Arthur sementara Ruby, Romy, dan Harvey jadi satu tim.
Tugas pertama ini cukup untuk membuat jantung dan adrenalin ku terpacu. Tugas kami adalah membagikan seluruh hasil panen yang sudah kami petik dan tata ke dalam kotak. Membagikannya ke penduduk kelas C yang ada di seluruh Domain Pasifik 1. Tentu saja ini sensasional.
Kelompok Ruby, Romy, dan Harvey membagikan makanan ke bagian utara sementara aku dan Arthur ke bagian selatan.
Tugas ini kedengarannya cukup mudah, tapi nyatanya butuh banyak kehati-hatian serta ketangkasan. Kami harus menyelesaikan semuanya sebelum matahari terbit. Tidak boleh ketahuan oleh siapapun.
Untungnya area pemukiman kumuh biasanya tidak memiliki pengamanan ketat seperti area-area lainnya. Biasanya kamera pengintai juga tidak ada. Kami hanya perlu super berhati-hati agar tidak berpapasan dengan manusia lain ketika sedang menjalankan tugas.
Akhirnya aku merasa berguna. Kekuatan serta usaha kerja rodi kami semalam rupanya tidak diciptakan secara sia-sia.
Aku tak pernah menyangka kalau Profesor Song yang tampangnya seperti mafia itu ternyata punya maksud yang amat baik. Aku saja yang salah paham karena ia memang tak pernah menjelaskan maksudnya.
Aku tau, seharusnya aku memikirkan diriku sendiri di kala seperti ini. Nenek dan ibuku bahkan belum berhasil aku temukan. Aku bahkan tak tau keadaan mereka. Tapi aku merasa sedikit bahagia ketika tau bahwa kami akan membantu orang lain. Padahal aku juga sedang dalam keadaan butuh bantuan.
Rumit. Aku tak bisa bersikap egois dan mementingkan diriku sendiri meski otakku memerintahkan begitu.
Aku menatap ke luar. Melihat awan yang mengambang dan terbang bebas di antara langit malam, tanpa beban. Seandainya jadi awan, mungkin semuanya akan terasa lebih mudah. Tapi aku tetap bersyukur terlahir sebagai manusia, karena kalau tidak begitu, aku tak akan mengenal nenek dan ibuku.
Setelah tinggal di Herakles dan melihat bagaimana kekayaan alam melimpah sedemikian rupa, aku mulai berpikir bahwa ada yang tidak beres dengan dunia yang selama ini kutinggali.
Kalau di dalam bangunan saja bisa ditumbuhi berbagai macam kekayaan alam, bukankah tidak menutup kemungkinan kalau alam yang sudah rusak karena tangan-tangan jahat manusia diregenerasi kembali. Diperbaiki sehingga bisa kembali ke fungsi asalnya. Sehingga tak ada lagi orang kelaparan dan kekurangan gizi. Sehingga tidak hanya orang kaya yang mendapatkan makanan layak.
Tentu saja aku jadi bertanya-tanya apakah semua ini hanya tipuan dunia? Apakah selama ini kami dibohongi dengan p********a yang mengatakan bahwa hanya Departemen Pertanian yang bisa mengolah semua kekayaan alam? Apakah selama ini kami dibodoh-bodohi untuk kepentingan beberapa pribadi pihak-pihak tertentu?
Aku tau ini cuma asumsi semata, makanya aku berniat bertanya pada Profesor Song begitu kami menyelesaikan tugas nanti. Aku berharap Profesor Song akan memberikan jawaban yang jelas, bukan sekadar teka-teki yang malah membuatku semakin bingung dan bertanya-tanya lalu tak bisa tidur.
"Kita hampir sampai," kata Dokter Heller memberi aba-aba.
Aku segera memastikan semua hal yang kubutuhkan tidak tertinggal. Mulai dari liontin di saku kiri bajuku hingga alat kejut listrik di saku kanan. Aku memilih alat kejut listrik karena aku memang tidak pandai mengoperasikan s*****a-s*****a lainnya.
Area pemukiman makin terlihat jelas, menandakan bahwa jarak kami juga semakin dekat. Jantungku rasanya berdegup semakin keras.
Helikopter kemudian terbang rendah di sebuah lahan kosong dan berhenti di sana. Jaraknya cukup jauh dari pemukiman agar suara baling-balingnya tidak menarik perhatian.
Segera, aku dan Arthur turun dari helikopter. Masing-masing membawa 50 kotak yang telah diisi makanan. Kami berpisah, jalan masing-masing agar tugas berhasil dilakukan tepat waktu. Sebenarnya satu orang bertugas membagikan 100 kotak, hanya saja membawa semuanya malah akan membuatku kesulitan melihat jalan, makanya aku membawa 50 kotak terlebih dahulu.
Suasana terasa sepi dan dingin. Sangat pas dengan langit malam yang gelap ini. Tidak ada suara apapun selain suara langkah kakiku sendiri. Meski demikian, aku memasang kewaspadaan penuh. Berjaga-jaga agar tidak terjadi sesuatu.
Begitu sampai di area pemukiman, aku mulai meletakkan masing-masing kotak di depan rumah. Satu rumah dapat satu kotak. Mungkin cukup untuk makan selama dua hingga tiga hari bagi keluarga berisi empat orang.
Aku berusaha bergerak setenang mungkin. Sesunyi mungkin sampai tak terdengar apa-apa. Aku tak ingin membangunkan siapapun. Apalagi membuat keributan dan membuat tugas ini gagal.
Aku tak ingin mengecewakan siapapun, terutama diriku sendiri. Kalau tugas ini gagal karena aku, maka yang paling kecewa adalah diriku sendiri. Setelah bekerja keras semalam suntuk, sungguh bukan waktu yang tepat untuk mengacaukan segalanya.
Setelah usai membagikan 50 kotak, aku kembali ke helikopter untuk mengambil sisanya. Kemudian kembali membagikan kotak-kotak itu ke tempat yang belum terjamah.
Berjalan di antara rumah orang-orang begini membuatku jadi teringat tentang rumahku sendiri. Rumah yang sudah kutinggalkan cukup lama, entah apa kabarnya.
Meski cukup berbeda, rumahku sama saja dengan rumah-rumah yang ada di sini. Sama-sama jadi tempat berlindung, tempat paling aman bagi pemiliknya masing-masing.
Sekarang ... aku mungkin tak punya lagi tempat yang bisa kusebut rumah. Tempat yang dulu kutinggali bersama nenek dan ibu sudah tidak aman lagi untuk kami. Entah apakah kami bisa kembali kesana atau tidak nantinya.
Tugasku selesai semua tepat sebelum matahari terbit. Buru-buru aku kembali ke helikopter. Tak lama setelahnya Arthur juga muncul, lalu kami kembali ke markas.
Menurut informasi yang kami terima dari Dokter Heller, tim yang satunya juga berhasil melaksanakan tugas dan bergegas kembali ke markas kami. Markas Herakles.
***
"Selamat! Kalian sudah berhasil melaksanakan tugas pertama sebagai Herakles!" ujar Profesor Song.
Serentak, semua orang bertepuk tangan mengapresiasi diri sendiri. Setelahnya, Ruby mengangkat tangan.
"Tapi, Prof, apakah sebenarnya tugas utama kami? Tugas utama yang benar-benar besar! Bukankah ini terlalu sepele? Aku yakin semua orang di sini punya tujuannya masing-masing, apakah tujuan itu bisa tercapai dengan tindakan seperti ini?" tanya Ruby.
"Pertanyaan bagus! Tentu saja apa yang kalian lakukan ini ada maknanya. Tidurlah, lebih dulu. Kalian akan tau maknanya setelah menonton berita nanti siang," jawab Profesor Song, lengkap dengan senyumnya yang setengah mengejek itu.
Setelahnya ia pergi begitu saja, tak memberikan penjelasan lebih lanjut kepada kami. Membiarkan kami tenggelam dalam teka-teki.
***
"Sebuah kejadian tidak terduga terjadi di area pemukiman kumuh Domain Pasifik 1. Sebanyak 500 kepala keluarga mendapatkan kiriman berisi buah, sayur, dan s**u dari orang tak dikenal. Orang-orang yang mengalami kejadian ini sangat senang dan menyebut para pemberi paket tak dikenal ini sebagai Robin Hood masa kini. Pihak berwenang sedang menyelidiki lebih lanjut mengenai kejadian ini."
Tut!
Profesor Song langsung mematikan televisi. Sementara kami semua hanya menganga melihat perbuatan kami ditayangkan di televisi.
"Apa sekarang kalian tau apa tujuan dari tugas pertama kalian? Jawablah, Griselda!" tanya Profesor Song.
Aku terkejut, pasalnya tak kusangka bahwa aku akan jadi targetnya hari ini. Akhirnya aku mencoba mengelaborasikan apa yang ada di kepalaku.
"Mmh ... untuk menunjukkan pada dunia bahwa Herakles itu ada?" jawabku ragu.
"Mirip, tapi bukan itu. Arthur? Tau jawabannya?"
"Untuk menunjukkan diri pada musuh, bahwa Herakles itu ada," jawab Arthur.
"Betul sekali! Kalian tau siapa musuh kita?"
"Pemerintah," sahut Ruby.
"Benar! Musuh kita adalah pemerintah, terutama Presiden Dew yang sudah membunuh semua orang yang terlibat dalam proyek ini. Orang yang membunuh dan menahan keluarga kalian, berusaha memusnahkan kalian. Mereka adalah musuh kita," papar Profesor Song.
Semuanya jadi jelas di mataku. Siapa musuhku, siapa yang harus aku lawan, dan perlawanan apa yang seharusnya aku berikan. Motivasiku juga jelas. Profesor Song memberi kejelasan dalam satu kali tarikan napas.
Presiden Dew, si b******k itu. Aku akan mengunyahnya dengan gigi-gigiku.
"Sekarang kalian harus latihan! Cepat! Tunggu apa lagi?"
***
Presiden Dew adalah pemimpin yang dicintai oleh dunia ini. Ia bahkan dapat nobel perdamaian karena memperjuangkan hak asasi bagi robot. Ia sudah memimpin dunia ini selama hampir 18 tahun lamanya.
Hari ulang tahunnya jadi hari libur internasional, diperingati besar-besaran setiap tahunnya. Setiap ucapannya seperti bait suci, gerak-geriknya dihormati. Ia terkenal sebagai penyuka kegiatan amal. Banyak kampanyenya yang melibatkan kesejahteraan sosial seperti bantuan kesehatan dan lain-lain. Ia adalah panutan bagi generasi muda, kawan setia bagi orang-orang yang sudah tua. Siapa sangka kalau aku dan para Herakles lainnya harus melawannya?
Mungkin keadaan paling sulit untuk Harvey. Setahuku ia kenal secara pribadi dengan Presiden Dew. Beberapa kali jadi duta dari kampanye Presiden Dew.
Mendengar bahwa ia adalah dalang hancurnya Proyek Herakles dengan cara membunuh semua orang yang terlibat sungguh tidak sesuai dengan citranya selama ini. Nobel perdamaian atau apalah itu, ia sama sekali tak pantas mendapatkannya.
Namun aku tak paham kenapa ia harus menghancurkan Proyek Herakles yang dimulai oleh presiden sebelumnya. Bukankah tujuan proyek ini juga sebenarnya baik? Untuk mengurangi mortalitas dan morbiditas manusia. Menciptakan manusia yang lebih kuat dalam menghadapi perubahan alam yang sungguh ekstrem.
Tentu saja tidak semuanya bisa kumengerti. Aku akan mencoba memahaminya satu per satu. Tanpa terburu-buru.
Sama seperti berusaha memahami hal-hal itu, aku juga mencoba berlatih secara pelan-pelan tapi konsisten. Mengikuti alur kemampuanku. Dengan begitu, aku percaya akan tiba waktunya untuk aku bertemu nenek dan ibu.
"Baik, sekarang kita lanjut ke latihan pribadi," ucap Dokter Gabby.
Padahal kami baru saja selesai latihan mengangkat beban. Belum juga 10 menit istirahat, sudah harus lanjut ke tahap berikutnya. Tapi aku tak akan mengeluh. Setelah tau siapa musuhku, motivasiku jadi penuh.
Kami akhirnya dibawa ke ruangan kaca yang ada di area pinggir ruang olahraga. Satu ruangan rupanya dipisahkan jadi dua bagian menggunakan pembatas yang juga terbuat dari kaca. Bagian yang lebih besar merupakan area untuk latihan, bagian yang lebih kecil digunakan untuk mengamati.
Ruby sebagai yang sudah lebih berpengalaman jadi orang pertama yang menempuh latihan. Rambutnya yang merah itu diikat ke belakang, tampak membara seperti sorot di matanya yang sama sekali tak kenal takut.
Ruby membawa masuk anak panah dan busur bersamanya. Sepertinya s*****a itu adalah sesuatu yang ia kuasai karena kalau kupikir-pikir lagi, ia selalu membawa dua hal itu bersamanya kalau diperlukan.
"Sudah siap?" tanya Dokter Gabby.
"Siap!" jawab Ruby dari dalam sana. Suaranya terdengar pelan seperti tereda karena adanya pembatas di antara kami.
Dokter Gabby lalu menekan sebuah tombol berwarna hitam, setelahnya muncul simulasi orang-orangan di ruang tempat Ruby berada. Orang-orang palsu itu bergerak seperti asli. Berusaha menyerang Ruby tanpa henti. Totalnya lima Ada yang melayangkan tinju, ada yang berusaha menendang dan lain-lain. Baru kali ini aku melihat sesuatu seperti ini dengan mata dan kepalaku sendiri.
Ruby bergerak, meliuk-liuk kesana dan kemari untuk menghindari semua serangan yang diberikan. Sesekali ia menembakkan anak panahnya meski seringkali gagal. Matanya yang tajam itu tampak waspada seperti seekor singa di materi sejarah yang sedang mengawasi mangsanya.
Ruby menembakkan panahnya pada salah satu orang-orangan palsu. Tepat mengenai area jantung, seketika orang-orangan palsu itu hilang seperti debu. Sisa empat lagi yang harus Ruby lawan. Bukan cuma bermain dengan anak panahnya, ia juga sesekali menendang serta meninju.
Semua usaha dilakukannya seperti sedang berperang di kehidupan nyata. Sisa dua orang-orangan lagi. Namun anak panah Ruby tersisa satu. Ia mengambil anak panah terakhirnya itu kemudian memegang bagian ujungnya yang runcing dan tiba-tiba saja bara api memancar dari sana.
"Api?" Jelas, aku kaget. Kalau pengelihatan ku tidak bermasalah, maka barusan aku sedang menyaksikan api keluar dari tangan Ruby, seperti keajaiban. Harvey juga sama terkejutnya sepertiku. Sementara Arthur tak bisa dibaca ekspresinya.
Romy dan Dokter Gabby tak terkejut lagi. Sepertinya sudah tau sejak lama.
Dengan anak panah yang membara itu, Ruby memanah dua targetnya secara bersamaan. Seperti membunuh dua burung dengan satu batu. Ruby berhasil.
"Kerja bagus, Ruby!" ujar Dokter Gabby.
Ruby mengacungkan jempolnya lalu keluar dari ruangan itu.
"Kau bisa mengeluarkan api dari tanganmu? Keren sekali!" tanyaku heboh begitu ia sampai.
Ruby tersenyum keren lalu menunjukkan kepalan tangannya di depanku. Setelahnya ia buka kepalan tangan itu, dan muncullah bara api berwarna merah. Semerah rambutnya yang juga menyala-nyala.
"B-bagaimana bisa?" tanyaku.
"Tiap Herakles diberi satu kode genetik khas yang membuat mereka punya kemampuan khusus. Kemampuan yang tak akan sama antara satu dan lainnya. Ruby bisa mengendalikan api dan Romy bisa mengendalikan es," papar Dokter Gabby.
"Tiap Herakles? Berarti ... kami juga?" sahut Harvey setelah lama diam karena kagum dengan apa yang dilihatnya.
"Tentu, kalian juga. Hanya saja milik kalian belum tampak wujudnya. Itulah salah satu tugas kalian, mencari dan melatih kemampuan khusus kalian masing-masing."
Aku? Kekuatan khusus? Mungkinkah?