Ketakutan

2020 Kata
Giliranku tiba, aku masuk ke dalam ruangan itu dengan membawa alat kejut listrik. Aku tak bisa menggunakan apapun, setidaknya alat kejut listrik hanya tinggal dipencet saja dan sudah bisa berfungsi. Masuk ke dalam ruang kaca itu rasanya mendebarkan. Jantungku berpacu keras, memompa darah ke seluruh tubuhku yang membutuhkan pasokan oksigen lebih besar dibandingkan biasanya. Aku sebagai anggota terakhir yang menjajal latihan simulasi ini merasa cukup gugup karena sudah melihat anggota-anggota lain sebelumnya. Performa Ruby dan Romy tak perlu diragukan lagi, karena mereka sudah terlatih dibandingkan yang lain. Arthur juga tak terlalu buruk. Ia berhasil mengalahkan lima orang-orangan simulasi walau butuh waktu cukup lama dan jatuh beberapa kali karena diserang. Sementara Harvey kacau total. Ia bahkan tak punya kesempatan menyerang karena diserang habis-habisan. Menurut keterangan Harvey ditambah penjelasan Dokter Gabby, meski cuma simulasi pukulan yang dilayangkan orang-orangan rasanya sebelas dua belas seperti keadaan nyata, meski tak mampu menimbulkan luka atau memar. "Sudah siap?" tanya Dokter Gabby. Tentu saja tak ada kata siap. Rasanya aku tak akan pernah siap. Paling maksimal hanyalah berusaha siap. "Siap," jawabku, cukup lemah. "Santai saja, Gris! Mereka tak akan bisa menyakitimu," kata Dokter Gabby, menyemangati. Tampaknya siapapun bisa merasakan ketakutanku, bahkan meski ruangan kami dibatasi oleh pembatas kaca. "Tentu," sahutku. Dokter Gabby lalu memencet tombol. Seketika muncul lima orang-orangan seperti tersusun dari kubus-kubus kecil berwarna biru. Orang-orangan itu tersebar di seluruh ruangan. Masing-masing satu di tiap sudut, sementara satunya lagi ada di depanku tepat. Ukurannya jauh lebih besar dari pada tubuhku sendiri. Ketakutanku tumbuh semakin menjadi-jadi. Orang-orangan itu bergerak seperti kilat, melaju ke arahku tanpa ragu-ragu. Sementara aku kehilangan keberanianku. Level keberanian yang tadinya ada di tingkat dua puluh lima persen langsung menyusut hingga nol koma sekian persen. Kakiku otomatis mundur, berlari ke belakang dengan insting menyelamatkan diri. Aku tau, aku tampak seperti pengecut tapi tak bisa kuhindari, aku merasa takut setengah mati. Brak! Tubuhku terjatuh di lantai karena kehilangan keseimbangan. Dengan segera, orang-orangan itu menyerbuku. Memukul wajah dan bagian tubuhku yang lain. Bahkan menendangnya. Meski aku tau ini tidak nyata, rasa sakitnya terasa sangat nyata. Aku berusaha bangkit dan melawan, tapi sekujur tubuhku terlanjur lemas tak berdaya karena dihantam bertubi-tubi. Ingin berteriak minta tolong, tapi mulutku bahkan tak mampu lagi bersuara. Seketika semuanya gelap. Seolah nyawaku meninggalkan dunia ini karena lari ketakutan. Kemudian aku tak ingat apa-apa lagi. *** Aku terbangun dengan selang terpasang di punggung tangan sebelah kananku. Selang itu terhubung ke cairan infus yang mengalir tetesan demi tetesan ke dalam tubuhku. Kepalaku terasa pening seperti efek karena sudah terlalu lama menutup mata. Aku mencoba menatap sekitar, menerka-nerka dimana aku berada. Aku berada di sebuah ruangan serba putih dan bersih dengan beberapa ranjang serta lemari berisi obat-obatan di salah satu sudutnya. Tak lama kemudian Dokter Heller mendekat ke arahku. "Oh, kau sudah sadar? Apa ada keluhan?" tanyanya. "Kepalaku sedikit sakit," jawabku. "Berbaring saja. Itu hanya efek karena kau terbaring terlalu lama." "Terlalu lama? Memangnya berapa lama?" tanyaku. "Mmh ... biar kulihat." Dokter Heller mengecek gadget-nya, "Kau terbaring selama empat puluh tiga jam." "Empat puluh tiga jam?" Aku kaget. Pasalnya itu berarti aku terbaring selama hampir dua hari lamanya. Aku mencoba mengingat-ingat lagi apa penyebab aku bisa terbaring di sini. Kemudian aku teringat mengenai latihan pribadi di ruang kaca. Aku ingat bagaimana aku diserang oleh orang-orangan simulasi dan pingsan karenanya. Sungguh memalukan. "Ah, memalukan sekali!" ujarku. Aku menutup wajah, menyesali kenapa aku harus pingsan di latihan pertamaku. Empat puluh tiga jam pula. "Kau pingsan karena ketakutan yang berlebihan, Gris. Tubuhmu jadi stres dan mencari mekanisme alternatif untuk penyelamatan diri, salah satu caranya adalah pingsan. Itu normal," jelas Dokter Heller. "Tetap saja memalukan. Aku pingsan hanya karena simulasi yang bahkan tidak nyata," kataku. "Ruang simulasi itu diciptakan oleh Profesor Song. Aku dan Dokter Gabby adalah subjek yang pertama kali mencobanya. Waktu itu aku juga pingsan, bahkan sampai tiga hari lamanya. Aku paham bagaimana takutnya dirimu, Gris. Karena walaupun itu cuma simulasi, rasanya cukup nyata. Terutama rasa nyerinya. Kau akan baik-baik saja seiring waktu. Kau hanya belum terbiasa," ucap Dokter Heller berempati padaku. Rambutnya yang dipotong cepak membuatnya tampak kharismatik. Aku akhirnya merasa terhibur. Tak begitu berkecil hati seperti sebelumnya. Bahkan laki-laki dengan badan setegap Dokter Heller saja juga bisa takut. Apalagi aku. "Terima kasih, Dokter," kataku. "Ah ... boleh aku tau siapa yang membawaku ke sini?" tanyaku. "Semuanya. Semua bergegas kemari ketika kau pingsan. Bahkan teman-temanmu beberapa kali menjenguk dan memastikan kau baik-baik saja di sini. Tampaknya kalian sudah coba saling memahami," tuturnya. Aku sedikit tersentuh. Siapa sangka ada orang-orang yang ternyata peduli padaku di dunia ini selain nenek dan ibu. Benar juga, keadaan sakit begini mengingatkanku pada mereka berdua. Biasanya nenek dan ibu lah yang merawatku ketika aku lemah tak berdaya. Tanpa mengeluh dan tanpa ragu, seolah-olah aku adalah sebagian dari diri mereka yang harus dijaga sepenuh hati. Biasanya ibu akan mengompres tubuhku dengan air hangat kalau aku demam. Membeli AlgaCan dengan rasa kesukaanku serta menghangatkannya sepenuh hati lalu membujuk mati-matian agar aku yang tak berselera mau makan. Nenek juga akan mengelus-elus kepalaku. Memberiku kenyamanan dengan aromanya yang khas sambil sesekali bernyanyi lembut, menimangku sampai aku tertidur. Aku merindukan masa-masa itu. Tak ada tempat yang lebih nyaman dari pada rumah sendiri. Bersama orang-orang yang disebut keluarga. Mataku berair. Aku jadi emosional. "Kau menangis, Gris?" tanya Dokter Heller. "Ah, aku hanya merindukan keluargaku," ucapku. Menahan emosi sebaik mungkin agar aku tak menangis tersedu-sedu. Dokter Heller lalu menarik kursi dan duduk di samping ranjang yang kutiduri. "Aku juga punya keluarga dulu. Seorang istri dan seorang putri yang lucu. Kami hidup nyaman dan sejahtera, bahkan berencana punya satu anak lagi. Lalu aku jadi anggota Proyek Herakles, sebagai peneliti tentunya. Anakku yang kedua bahkan juga seorang Herakles seperti kalian. Namun sayangnya mereka semua meninggal karena perintah Presiden Dew untuk melakukan penghancuran proyek ini. Hanya aku yang selamat. Sudah bertahun-tahun tapi aku juga masih rindu. Namun ada satu hal yang baru-baru ini kusadari," ucapnya. Kepedihan terdengar di nada bicaranya. Tapi di satu sisi ia juga tenang, terasa rela. "Apa itu?" Ia menepuk dadanya sendiri tiga kali sampai berbunyi. "Mereka tidak pernah meninggalkan kita. Mereka ada di sini. Di dalam hati. Jadi jangan pernah merasa sendiri, Gris. Keluarga selalu ada kemanapun kita berada. Percayalah." *** Setelah cairan infus ku habis, akhirnya aku kembali ke kamarku. Ruby jauh-jauh menjemputku untuk mengantarku kembali ke kamar karena khawatir aku terjatuh sewaktu-waktu. Padahal ia baru saja selesai latihan. Pasti lelah dan butuh istirahat. Tapi ia masih berusaha menunjukkan kepeduliannya padaku. Aku bersyukur untuk itu. "Terima kasih, Ruby," kataku. "Sama-sama. Beristirahatlah, akan aku bawakan makanan untukmu," sahutnya. "Ah, tidak perlu. Aku akan turun ke bawah sendiri nanti." Aku tidak enak karena sudah merepotkannya sedari tadi. Ralat, bahkan aku sudah merepotkannya sejak aku baru datang kemari. "Tapi keadaanmu masih lemah, Gris. Kau masih butuh beristirahat untuk memulihkan diri," ucapnya. Aku lalu tertawa agar ia tak begitu khawatir. "Hei, Ruby! Aku ini juga seorang Herakles. Tajamnya anak panah saja tidak membunuhku, apalagi cuma karena pingsan ketakutan. Aku sudah baik-baik saja. Lagi pula aku sudah lelah tertidur terus selama berjam-jam. Aku baik-baik saja sekarang. Tak perlu khawatir!" Ia tersenyum. Matanya yang sipit makin menyipit. "Baiklah kalau begitu. Tapi kalau kau butuh apa-apa, jangan sungkan untuk memberitahuku!" "Tentu! Terima kasih." "Baiklah, aku pamit mau melanjutkan latihan ku dulu." Ruby meninggalkanku. Aku masuk ke dalam kamarku kemudian duduk di kasur. Rambutku terasa lengket, begitu pula kulitku. Sudah berhari-hari tidak mandi. Padahal mandi adalah sesuatu yang baru-baru ini saja kutekuni. Dulu waktu masih di Domain Hindia dan keterbatasan air, aku hanya mandi satu bulan sekali. Rasanya biasa saja. Namun setelah mendapat akses air tak terbatas di tempat ini dan beraktivitas begitu kerasnya setiap hari, tidak mandi satu hari saja rasanya sudah menyiksa. Aku sudah beradaptasi, setidaknya tentang masalah ini. Hanya saja kebiasaan mandi ini bisa jadi masalah baru buatku. Kalau nanti aku sudah tak tinggal di sini dan kembali kesusahan mendapat akses bersih, tentu saja aku harus kembali mencoba beradaptasi. Aku memutuskan untuk mandi. Berendam dalam air hangat untuk melenturkan otot-ototku yang tegang. Aku kemudian teringat jelas bagaimana Ruby bisa mengeluarkan api dari tangannya atau Romy yang dapat mengeluarkan es dari ujung jarinya. Menakjubkan sekaligus membuatku gelisah. Aku tak akan berbohong mengatakan kalau aku merasa tenang-tenang saja melihat kemampuan mereka yang di luar batas manusia. Begitu mendengar penjelasan Dokter Gabby tentang kekuatan khusus yang dimiliki tiap Herakles, aku jadi gelisah. Penasaran ingin menemukan kekuatanku secepatnya. Karena aku tau bila aku mendapatkan kekuatan itu sesegera mungkin, maka kemungkinan untuk bertemu nenek dan ibuku semakin dekat waktunya. Iseng, aku mencoba meniru gerakan Ruby. Seingatku ia mengepalkan tangannya erat lalu membukanya, kemudian muncul api dari tangannya. Aku mencobanya sekarang juga, tapi tak muncul apa-apa dari sana. Apa mungkin aku produk gagal yang tak punya kekuatan itu? Bagaimana kalau sampai akhir aku tak mendapatkannya? Semakin banyak yang aku tau, nyatanya semakin membuat aku khawatir ini dan itu. Padahal apa yang kutahu tampaknya hanyalah fenomena gunung es di lautan. Hanya sebagian kecil dari puncak gunung esnya yang terlihat, masih ada banyak bagian gunung yang tersembunyi di dalam lautan. Seperti itulah kadar pengetahuanku tentang semua ini. Masih banyak yang tidak aku tau. Masih banyak yang perlu aku cari tau. "Tak apa, Gris. Tenang! Kau akan menemukan kekuatanmu nanti!" ujarku menenangkan diri sendiri. *** Semua orang sedang berkumpul di meja makan ketika aku sampai di sana. Seperti biasa, makanan memenuhi seluruh meja. Aku duduk di kursi kosong yang ada di samping Harvey kemudian mengambil sepotong kue untuk mengisi perutku. "Apa kau baik-baik saja, Gris?" tanya Harvey. "Aku baik-baik saja, jangan khawatir!" jawabku. "Jangan pura-pura peduli!" Ruby menyindir Harvey. Meski suaranya pelan, aku yakin semua orang bisa dengar. Rahang Harvey kembali menegang. Matanya menatap tajam ke arah Ruby. Begitu pula Ruby yang tampak siap mencabik-cabik Harvey. Atmosfer berubah jadi kehitaman. "Oh, tolonglah! Aku hanya ingin makan dengan nyaman! Dan tak bisakah kalian lihat bahwa Gris baru saja pulih? Jangan membuatnya stres dengan tingkah kalian!" Romy berdiri, menengahi sebelum sesuatu terjadi. Seketika Ruby dan Harvey sama-sama melunak. Tampaknya menjadikan aku sebagai alasan cukup mempan. Aku tak apa, lagi pula mendengar mereka bertengkar sangat-sangat tidak menyenangkan. Untuk mengalihkan suasana yang menegang, aku memutuskan untuk bertanya mengenai apa yang aku pikirkan. Tentang kekuatan khusus Herakles. "Aku ingin bertanya pada kalian, Ruby dan Romy," ucapku. "Mau bertanya apa, Gris?" tanya Ruby. "Mmh ... soal kekuatan khusus. Bagaimana kalian menemukannya?" tanyaku. Apa yang aku maksud adalah titik awalnya. Karena semua hal pasti punya tempat memulainya. Aku ingin tau kapan dan bagaimana mereka menyadari tentang kekuatan khusus mereka. "Kami berdua mendapatkannya di waktu yang berbeda. Romy lebih dulu, baru aku," ucap Ruby. "Benar. Kami mendapatkannya sekitar enam bulan yang lalu, waktu kami belum berada di sini," sambung Romy, "Waktu itu kami masih bekerja sebagai pengumpul metal bekas." Berkat percakapan ini, aku jadi tau kalau Ruby dan Romy bekerja sebagai pengumpul metal bekas sebelum berada di sini. Yang berarti menandakan bahwa mereka berasal dari kelas C atau kelas B sepertiku. "Waktu itu tanpa sengaja Romy membekukan air yang kami bawa dari rumah untuk bekal ketika bekerja," papar Ruby. "Iya, sejujurnya itu adalah pertama kalinya kami merasa bahwa ada yang salah mengenai kami berdua. Awalnya kami kira itu biasa, tapi setiap air yang Romy sentuh berubah jadi beku. Beberapa hari kemudian aku juga tak sengaja membakar tumpukan besi yang kami kumpulkan ketika kami beradu pendapat dan berkelahi," lanjut Ruby. Aku menyadari perbedaan dari cerita Ruby dan Romy dengan ceritaku sendiri. "Tunggu ... berarti kalian menyadari kekuatan khusus kalian lebih dulu? Bukan menyadari bahwa kalian jadi lebih kuat dan mengalami penyembuhan yang lebih cepat?" "Tidak. Kami menyadari kekuatan khusus kami lebih dulu. Kami bahkan baru tau kalau kami jadi lebih kuat dan punya kemampuan penyembuhan diri lebih cepat setelah berada di sini." "Lalu bagaimana cara kalian sampai di sini?" tanyaku. "Tepat di hari ulang tahun kami, benda ini menyala." Romy menunjukkan gelang yang ada di pergelangan tangannya dan Ruby. Ada layar kecil di sana. "Titik merah yang berkedip-kedip. Aku yakin kalian juga tau apa yang aku maksud," lanjut Romy. "Setelahnya, kami dikejar-kejar oleh Profesor Song, Dokter Heller, dan Dokter Gabby. Dibawa kemari secara paksa seperti yang terjadi pada kalian semua," kata Ruby. "Sama seperti kami yang menemukan kekuatan ini secara tiba-tiba, aku yakin kalian juga akan mendapatkannya secara tidak terduga."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN