Pistol

2034 Kata
Aku tak akan berbohong, nyatanya kekuatan khusus yang dibicarakan Ruby dan Romy cukup menggangguku. Rasanya kepercayaan diri yang aku punya turun drastis seperti terjun bebas. Aku merasa tidak akan bisa mendapatkannya kalau tidak berusaha keras. Hanya saja, sekeras apapun aku mencoba membuka tutup tanganku seperti yang dilakukan Ruby dan Romy, tidak ada yang berubah. Aku tak bisa mengeluarkan api atau es atau yang lainnya. Sia-sia. Namun tampaknya sekarang bukan saat yang tepat untuk memikirkan tentang kekuatan yang tidak aku miliki, aku harus fokus pada apa yang ada di depan mata. Simulasi orang-orangan itu lagi, yang sempat membuat aku pingsan beberapa hari lalu. Kali ini aku tak membawa alat kejut listrik bersamaku. Kata Dokter Gabby, alat kejut listrik tidak begitu efektif untuk melakukan serangan jarak jauh. Itulah mengapa ia memilihkan s*****a buatku. Tepatnya sebuah pistol berukuran kecil yang sesuai dengan genggaman tanganku. Aku tak tau apa jenisnya, tapi meski kecil begitu cukup berat juga. Bukan cuma aku yang diberi s*****a, Arthur dan Harvey juga dipilihkan s*****a baru. Arthur diberi senapan berukuran besar sementara Harvey diberi tombak yang tampaknya cukup berat. Dokter Gabby bilang, kami boleh ganti kalau tidak suka. Jantungku berdegup keras begitu orang-orangan itu berlari ke arahku. Lagi-lagi aku takut. Tapi kali ini aku akan berusaha melawan. Aku berusaha menarik pelatuk pistol yang kubawa. Sayangnya tanganku gemetar sampai tak bisa melakukanny. Sampai-sampai waktuku habis karena orang-orangan itu menghantamku lebih dulu sampai terjatuh di lantai sekeras-kerasnya. Aku mencoba melawan tapi gaya yang diberikan terlalu besar. Namun aku terus mencoba sampai tenagaku nyaris habis. Aku berhasil lepas, tapi bukannya melawan, aku malah berlari keluar pintu. Menyelamatkan diri sambil ketakutan. Aku terengah-engah. Tergeletak di luar ruang simulasi seperti seorang pengecut. Pistolku bahkan aku tinggalkan di dalam sana. Jangankan kekuatan khusus, keberanian saja aku tidak punya. "Hei, apa kau baik-baik saja, Gris?" Dokter Gabby menghampiriku. Diikuti oleh anggota Herakles yang lain. Aku mengangguk. "Maaf, aku takut. Biarkan aku mencoba lagi," ucapku. Namun Dokter Gabby memegang pergelangan tanganku. "Tidak, Gris. Mungkin kau harus belajar mengoperasikan pistol terlebih dahulu. Mungkin setelah kau belajar menggunakan pistol dengan benar, keberanianmu juga akan muncul," tuturnya. Ruby mengangkat tangannya. "Biar aku saja yang mengajarinya, Dok." "Terima kasih, Ruby!" ujar Dokter Gabby, "Gris, ikutlah dengan Ruby ke lapangan tembak. Yang lain, kita akan lanjutkan latihan di sini." Ruby membantuku berdiri kemudian membawaku ke lapangan tembak yang lokasinya sebenarnya tidak jauh dari ruang simulasi. Ruby menyuruhku menunggu di sana sementara ia akan mengambil pistol dari gudang s*****a. Aku duduk sejenak sambil mengacak rambutku sendiri. Rasanya benar-benar tidak berguna. Jangankan menyelamatkan nenek dan ibu, bahkan menyelamatkan diriku sendiri saja aku tidak mampu. Tak lama Ruby kembali dengan sebuah pistol di tangannya. Pistol yang tampaknya punya tipe dan model yang sama dengan milikku. "Pertama, masukkan pelurunya seperti ini," ucap Ruby sambil mencontohkan. Aku mengikuti langkah demi langkah yang ia tunjukkan. "Setelah itu, tarik bagian atasnya." Aku lagi-lagi mengikutinya. "Kemudian pegang seperti ini." Ruby memegang pistol dengan posisi sempurna. Seperti seorang agen rahasia yang ada di film-film laga. "Tanganmu harus stabil, Gris. Tenanglah," kata Ruby sambil membenarkan posisiku. Aku menarik napas dan mengeluarkannya beberapa kali. Berusaha agar tetap seimbang dan tenang. "Kemudian tarik pelatuknya seperti ini." Ruby menarik pelatuk pistol itu, sepersekian detik setelahnya terdengar suara ledakan keras yang menandakan bahwa peluru telah meluncur dan menembak papan target di depan sana. Ruby mengenai nilai sempurna. Aku menganga. Bertanya-tanya apa yang sebenarnya ia tidak bisa. Ia terlalu sempurna untuk seorang manusia. Herakles sekalipun. "Keren!" aku mengacungkan jempolku. "Cobalah," ucap Ruby sambil tersenyum. Aku kemudian mencoba sesuai instruksinya. Dor! Peluru pertamaku akhirnya ditembakkan. Meski tidak sempurna, setidaknya aku bisa melakukannya. "Bagus, Gris! Kalau kau berlatih terus, kau akan menguasainya," puji Ruby. *** Aku terus berlatih cara menggunakan pistol sampai lewat senja. Waktu tidak terasa ketika aku fokus dengan sesuatu. Meski tidak sebagus Ruby, setidaknya aku berkembang sedikit. Aku tak langsung masuk kamar, aku memutuskan untuk makan lebih awal sehingga bisa lanjut latihan nanti malam. Aku memang sudah memutuskan untuk berusaha lebih keras dari yang lainnya. Bukan karena aku berusaha jadi yang terbaik, tapi aku sadar diri kalau aku adalah yang paling payah di antara yang lainnya. Kalau tidak berusaha lebih keras, aku selamanya akan tertinggal dan malah jadi beban bagi yang lainnya. Aku tak boleh begitu kalau mau menemukan nenek dan ibu. Setidaknya aku harus mampu berdiri di atas kaki sendiri dan mengatasi ketakutanku lebih dulu. Aku mengambil anggur dan memasukkannya ke dalam mulutku. Lapar baru terasa setelah lama berlatih. Saat itu pula Harvey muncul dengan tampang seperti kehabisan tenaga. Ia duduk tepat di depanku lalu meneguk air sebanyaknya. "Sebegitu hausnya?" tanyaku. Ia tertawa. "Tenggorokanku seperti terbakar." "Kau juga bekerja keras rupanya," kataku. "Tentu, aku merasa harus melakukan ini kalau mau kembali ke panggung lagi suatu hari nanti," jawab Harvey, "Kau sendiri bagaimana? Latihanmu bersama penyihir itu lancar?" "Penyihir? Maksudmu Ruby?" Harvey mengangguk. "Aku tak mau menyebut namanya. Terkutuk." Aku tertawa terbahak-bahak. Rasanya lucu melihat pertengkaran Ruby dan Harvey yang tidak ada ujungnya ini. "Sebenarnya ada apa antara kau dan Ruby? Kenapa kalian selalu bertengkar tiap kali bertemu?" tanyaku. Aku yakin tak akan ada asap kalau tidak ada api. Tak akan ada pertengkaran kalau tidak ada sebabnya. "Sebenarnya aku sendiri tidak tau apa yang terjadi. Aku tak tau kenapa dia begitu membenciku, bahkan sejak pertama kali aku menginjakkan di tempat ini. Aku merasa tidak pernah mengenalnya sebelum ini. Tidak pernah punya masalah dengannya juga. Tapi entah kenapa dia selalu mencari keributan dengan aku!" ujar Harvey berapi-api. Ia tampak benar-benar bingung mengenai situasinya dengan Ruby. Menunjukkan bahwa tiap tutur kata yang terlontar dari mulutnya itu benar adanya. Aku bisa mengerti kenapa Harvey merasa kesal setengah mati dengan Ruby. Yang tak bisa kupahami adalah alasan kenapa Ruby begitu membenci Harvey. Aku ingin sekali bertanya langsung pada Ruby. Menanyakan apa alasan ia begitu membenci Harvey. Hanya saja aku takut Ruby malah tersinggung. Aku takut kalau saja aku malah melewati batas dan ikut campur urusan orang lain. Bahkan tampaknya Romy sendiri sebagai saudara kembar Ruby juga tak paham apa alasan sebenarnya. Tentu saja, karena meski mereka kembar, mereka tetaplah orang yang berbeda. "Bersabarlah. Tak ada gunanya juga bertengkar terus-menerus," ucapku. "Aku rasa dia menganggap aku remeh karena aku yang paling lemah di antara kita. Tapi lihat saja! Aku akan berlatih keras sampai aku bisa mengalahkannya!" Harvey sudah bertekad. Bibirnya mengerucut lucu, seperti anak kecil yang sedang merajuk minta dibelikan sesuatu. Kalau aku boleh jujur, imej yang Harvey tampilkan di layar kaca dan kehidupan nyata sedikit berbeda. Ia adalah seorang bintang yang rupawan nan bijaksana seperti seorang pangeran kalau di layar kaca, tapi di dunia nyata ia lebih menunjukkan sisi ceria dan imut di dunia nyata. Lebih mirip anak-anak yang mampu membawa suasana gembira bagi orang-orang di sekitarnya. "Kau tau? Dulu aku pikir kau adalah orang yang super serius, setidaknya itu yang aku lihat di televisi," celetukku. Harvey menghela napasnya panjang. "Memang, apa yang terlihat belum tentu apa yang terjadi sebenarnya. Tidak ada orang yang tertarik kalau aku menunjukkan kepribadian asliku. Mereka lebih suka Harvey yang berlagak seperti gentleman dibandingkan kenyataannya. Ini salah satu sisi buruk jadi selebriti. Ada yang didapatkan, harus ada yang dikorbankan. Aku mendapatkan karirku dengan mengorbankan jati diri asliku. Aku sampai kadang bingung sendiri yang manakah Harvey yang asli. Makin lama jati diriku makin kabur." Aku tak pernah menyangka bahwa seseorang yang selalu di atas awan seperti Harvey dan tak pernah mengalami kesulitan finansial seperti yang lain juga ternyata sama saja punya masalahnya sendiri. Harvey yang selalu bersinar terang untuk orang lain itu juga ternyata sering mempertanyakan dirinya sendiri. Padahal aku pikir uang bisa membuat orang bahagia secara absolut. Tapi sepertinya tidak demikian. Semua orang punya kesulitannya masing-masing. Semua orang merasakan pahit. "Sebenarnya selama merasa kehilangan jati diri, aku mulai benci menyanyi. Aku dulunya menyanyi karena memang suka, setelah jadi selebriti aku sadar kalau tujuanku bergeser. Aku menyanyi hanya untuk popularitas dan material saja, aku kehilangan akarku sendiri. Anehnya, aku mendapatkan diriku kembali selama di sini. Dan akhir-akhir ini, aku rindu berdiri di atas panggung dan menyanyi. Bukan untuk popularitas atau material saja, tapi untuk jiwaku sendiri." Harvey yang biasanya lucu dan imut itu tampak dewasa ketika sedang bicara tentang mimpi dan gairah hidupnya. Ada percikan di matanya yang membuatku terkagum-kagum. Aku cukup iri karena aku sendiri tak menemukan apa gairah hidupku selama ini. Boleh dibilang bahwa aku bahkan tak mengenal diriku sepenuhnya. Berkebalikan denganku, Harvey mampu mengenali dirinya sendiri. Umur kami sama, tapi pemikiran Harvey bisa dikatakan jauh lebih matang dari pada aku. "Aku kagum padamu," kataku. "Kenapa memangnya?" "Karena aku sendiri bahkan tidak tau apa yang kusukai di dunia ini. Aku tak punya hobi, tak juga punya bakat yang bisa aku banggakan," ucapku. Harvey menggeleng. "Bukan tak punya. Kau mungkin belum menemukannya. Sama seperti aku yang sekarang belum menemukan kekuatan khusus ku." "Ah ... soal itu ... aku juga sama saja. Aku bahkan meragukan kalau diriku Herakles asli." Harvey tertawa. "Memang ada yang palsu?" "Siapa tau?" sahutku. "Waktu kita belum datang saja, Gris. Arthur juga belum menemukannya." "Oh, ya?" "Siapapun dari kita yang menemukannya lebih dulu, kita harus bahagia untuk orang itu. Setuju?" tutur Harvey. "Setuju." *** Karena pingsan, aku diberi akses khusus untuk masuk ke kamar kemarin. Akses itu hilang hari ini. Profesor Song kembali memerintahkanku untuk tidur di perkebunan seperti yang lain. Hukuman kami memang belum berakhir. Pertikaian antara Harvey dan Ruby memang belum tampak tanda-tanda padamnya. Itulah mengapa aku bergegas menuju perkebunan setelah membersihkan diri habis latihan. Tubuhku sudah segar dan bersih, saat paling pas untuk langsung tidur tanpa memikirkan apa-apa lagi. Begitu aku sampai di perkebunan, anggota Herakles lain rupanya sedang menata kantong tidur masing-masing. Seperti biasa, Harvey dan Ruby dibiarkan bersebelahan sesuai perintah Profesor Song. Meski selalu ada ketegangan, tapi situasi di antara mereka sudah mendingan. Setidaknya tiga hari terakhir ini aku tak mendengar ada kabar bahwa mereka bertengkar. "Selamat malam semua!" sapaku. "Selamat malam, Gris!" sapa Romy balik. Aku langsung menuju kantong tidurku dan berbaring nyaman di sana. Aku memutuskan untuk menatap bintang-bintang di atas sana sejenak. Menghibur lelah yang aku rasa timbul karena berlatih seharian. Setelah puas menatap bintang, aku memejamkan mata. Berusaha masuk ke dalam dimensi alam mimpi. Sudah setengah perjalanan, tiba-tiba aku mendengar suara yang amat keras. Gedubrak! Diikuti teriakan keras. "Minggir kau!" Otomatis aku bangun. Teriakan Ruby sungguh mengejutkanku. Begitu aku membuka mata, Harvey sudah tergeletak di tanah, cukup jauh dari kantong tidurnya. Ia baru saja didorong oleh Ruby sampai terseret cukup jauh rupanya. Romy dan Arthur menahan Ruby yang tampak mengamuk tak terkendali. Sementara aku bingung tentang apa yang terjadi. "Gris, bantu Harvey!" ujar Romy. Aku yang seperti orang linglung langsung berlari menuju Harvey dan membantunya bangkit. "s****n! Memangnya kau kira semua yang ada di tempat ini milikmu?" pekik Harvey. Ia tampak sangat marah. Bahkan baru kali ini aku mendengarnya mengatakan kata-k********r seperti itu. "Apa katamu? s****n? Siapa suruh kau menyenggolku hah?" Ruby tak kalah marah. Suaranya menggelegar, persis suara petir yang kudengar di atas kapal. "Memangnya aku sengaja? Memangnya kau kira aku mau menyentuh kulitmu?" sahut Harvey. "Sudah, berhenti!" ujar Romy. Tapi tak ada yang mau dengar. Baik Ruby dan Harvey, dua-duanya punya hasrat menyerang satu sama lain. Hasrat berperang yang tampak seperti dendam turun-temurun dari generasi ke generasi. Kekuatan Harvey semakin besar. Semakin kuat tiap detiknya. Aku sampai kewalahan. Meski demikian aku mencoba memegangnya erat-erat. "Harvey, sadarlah! Kemarahan tidak akan membuatmu menang!" pekikku. "Aku akan memanggil Profesor Song kalau kalian begini!" Romy menambahkan. Tapi dua orang itu tak mau dengar. Mereka persis serperti dua predator yang ingin saling memangsa. Tak ada satupun yang mau mengalah. Brak! Harvey berhasil melepaskan diri, aku terpelanting ke belakang hingga beberapa meter jauhnya dan menabrak pohon. Ruby juga lepas dari cengkraman Romy dan Arthur. Harvey dan Ruby beradu fisik seperti sedang berada dalam turnamen gulat. Sementara aku merasakan sakit karena hidungku berdarah. Romy berusaha menengahi peperangan antara Harvey dan Ruby. Sementara Arthur berdiri tak jauh dari sana dengan tatapan yang amat marah. Arthur yang biasanya tak menunjukkan ekspresi apa-apa itu untuk pertama kalinya tampak sangat marah. "Berhenti!" Arthur berteriak keras sekali. Bersamaan dengan itu, barang-barang di sekitar kami melayang tinggi. Kantong-kantong tidur melayang seperti tak terikat gravitasi. Begitu pula dengan batu-batu kecil yang ada di sekitar pepohonan. Harvey dan Ruby berhenti begitu melihat fenomena tidak biasa ini. Setelah terpanah beberapa detik, kami semua akhirnya tersadar bahwa Arthur menemukan kekuatannya. Tanpa disengaja.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN