Nenek pernah bilang, kalau manusia tidak boleh terlalu mengharapkan sesuatu. Katanya kalau terlalu berharap, sesuatu yang kita harapkan itu malah tidak akan pernah didapatkan.
Kejadian yang menimpa Arthur semalam adalah salah satu buktinya. Semalam tanpa disengaja, ia mendapatkan kekuatan tak biasa. Kekuatan khusus yang katanya khas antara satu Herakles dan Herakles lainnya. Arthur bisa mengangkat benda-benda di sekitarnya dengan pikiran saja, atau yang orang-orang sebut sebagai telekinesis.
Namun pagi ini ketika Profesor Song meminta Arthur untuk memperagakan, kekuatan itu malah tidak mau muncul. Padahal semalam kekuatan itu benar-benar menampakkan diri. Bahkan Ruby dan Harvey sampai berhenti berkelahi karena kekuatan Arthur yang membuat kami semua kagum itu.
Klik! Klik! Klik! Profesor Song memencet-mencet saklar lampu sampai lampu dalam ruangan ini mati dan menyala silih berganti.
"Kekuatan itu seperti lampu ini. Ada saklar yang mengatur nyala dan matinya," kata Profesor Song, "Kau juga harus tau apa yang membuat kekuatanmu ada dan bagaimana cara menghentikannya. Tanpa itu, kekuatanmu tidak akan berarti apa-apa."
Arthur mengangguk. Wajahnya lagi-lagi tak terbaca. Aku tak tau apa yang sedang ia pikirkan maupun rasakan. Ia kembali jadi misteri setelah menunjukkan ekspresi sangat marah kemarin.
Arthur yang biasanya pendiam itu jadi amat menakutkan kalau marah. Tapi aku malah bersyukur melihatnya marah, karena itu membuktikan bahwa ia juga manusia biasa yang bisa berekspresi seperti yang lainnya.
"Ah, benar juga!" ujarku.
Profesor Song menatapku tak mengerti.
"Kemampuan Arthur muncul ketika dia merasa marah kemarin, jadi mungkinkah pemicunya adalah rasa marah?" ucapku.
"Mungkin saja. Cobalah untuk marah, Arthur!" ujar Profesor Song.
Arthur tampak berkonsentrasi untuk beberapa saat. Tak terjadi apa-apa. Ia tak bisa marah.
"Bukankah itu aneh? Marah tanpa alasan," kata Arthur.
"Tentu saja. Dengan senang hati, akan aku buat kau marah." Profesor Song mendekat ke arahnya. Lalu memukul wajahnya sampai ia terhuyung karena kehilangan keseimbangan.
Begitu Arthur mencoba berdiri, Profesor Song memukulnya lagi dan lagi. Setidaknya lima kali pukulan sampai wajah Arthur memerah dan rahangnya mengeras. Ia tampak marah, tapi tak ada yang terjadi. Kekuatan itu tidak muncul sama sekali.
"Tak berhasil, buang-buang waktu saja," ucap Profesor Song lalu melipat tangan di depan dadanya, "Carilah apa yang memicunya. Beritahu aku kalau sudah ketemu."
Profesor Song lalu pergi begitu saja meninggalkan lapangan tempat kami berlatih.
"Tak apa, Arthur. Kau bisa mencobanya lagi nanti," hibur Dokter Heller.
"Apa tidak sakit?" Ruby bertanya.
"Sakit," jawab Arthur.
Tentu saja sakit. Wajahnya sempat membengkak sejenak lalu kembali lagi seperti semula. Kekuatan penyembuhan diri Herakles memang bukan main-main canggihnya.
"Baiklah, kita mulai latihan dulu, bagaimana?"
***
Setelah menyelesaikan latihan dasar seperti berlari dan angkat beban, Dokter Heller membawa kami ke area air terjun. Entah apa yang sebenarnya sedang ia rencanakan.
"Hari ini alih-alih berlatih di ruang simulasi, kita akan belajar berenang," ucap Dokter Heller.
"Berenang?"
Kosakata itu cukup aneh buat kami semua. Tak pernah didengar sebelumnya.
"Kalian tau ikan?" tanya Dokter Heller.
"Tau, Dok!" sahut kami.
"Pernah lihat?"
"Pernah, Dok. Di materi pelajaran," sahutku.
"Ada yang pernah lihat langsung?"
Harvey mengangkat tangan. "Pernah, di Departemen Pertanian. Ada akuarium di sana."
"Seperti apa gerakan ikan-ikan itu?"
"Mereka berjalan di atas air," kata Harvey.
"Itu bukan berjalan, tapi berenang. Gerakan ikan di air disebut juga sebagai berenang. Bukan cuma makhluk laut yang bisa berenang, manusia juga bisa. Hanya saja perairan di lingkungan kita saat ini tidak bisa lagi digunakan untuk berenang," jelas Dokter Heller.
Ruby mengangkat tangannya.
"Kalau memang sekarang sudah tidak bisa digunakan lagi, untuk apa belajar berenang?" tanya Ruby.
"Karena akan kalian gunakan nantinya. Kalian adalah seorang Herakles, kalian bisa melakukan apa yang tidak bisa manusia biasa lakukan," jawab Dokter Heller.
Byur! Dokter Heller tiba-tiba terjun ke dalam air. Lalu menggerakkan semua tangan dan kakinya sampai bisa bergerak dari satu titik ke titik lainnya.
"Wah ...." Aku mengulum kagum.
Dokter Heller berenang ke tepi kemudian mengibaskan tangannya. "Ayo! Masuklah satu per satu."
Akhirnya kami masuk satu-satu. Mulai dari Ruby, berurutan disusul oleh Romy, Arthur, Harvey, lalu aku yang paling terakhir.
"Pegang batu-batuan ini," ucap Dokter Heller sambil menyontohkan memegang batu besar yang ada di tepi-tepi area air terjun.
Aku memegang salah satu batu besar erat-erat sambil berusaha menetralkan napasku. Rasanya aneh berada di sini. Dingin, tenang, tapi di saat yang bersamaan aku juga merasa takut karena kakiku tidak menyentuh dasarnya.
"Kedalaman kolam ini dua setengah meter," ucap Dokter Heller, "Kalau kalian tidak bisa berenang, kalian akan tenggelam. Tapi kita tidak akan buru-buru. Pertama, kalian harus membiasakan diri lebih dulu. Bersahabat lah dengan air. Biarkan tubuh kalian jadi satu dengan air. Seperti melebur."
"Caranya?" tanya Harvey.
"Tidak ada cara khusus. Kalian harus mencaritahu sendiri karena tiap orang punya metode yang berbeda. Tapi satu hal yang jelas, ketika kalian sudah tenang dan menyatu dengan air, tubuh kalian jadi ringan lalu bisa mengapung seperti ini."
Dokter Heller menyontohkan, ia berbaring sampai tubuhnya datar tapi mengapung di air. Seperti sedang berbaring di atas kasur. Dokter Heller tampak tenang dan membuatnya kelihatan menyenangkan.
"Cobalah," ucap Dokter Heller, "Akan kuberi waktu satu jam."
Dokter Heller lalu keluar dari kolam. Membuat kami yang di dalam kolam merasa panik sendiri.
"Dokter Heller, mau kemana?" tanya Ruby.
"Mau mengurusi peternakan. Sudah saatnya memeras s**u," ucap Dokter Heller.
"Lalu kami bagaimana? Kalau ada yang tenggelam bagaimana?" tanyaku menambahi.
Dokter Heller malah tertawa. "Kalau ada yang tenggelam, tugas kalian untuk menyelamatkannya. Kalian kan satu tim."
Seringan itu, Dokter Heller meninggalkan kami semua yang tidak bisa berenang. Sendirian di dalam air yang bisa saja menenggelamkan kami.
"Oke, jangan panik! Kita punya satu sama lain!" seru Ruby. Padahal ia sendiri yang tampak paling panik.
Kami akhirnya memutuskan untuk tenang dan tidak berbicara satu sama lain. Dokter Heller bilang kami butuh tenang dan merasa menyatu dengan air agar bisa mengapung seperti seharusnya.
Kami akhirnya meregangkan jarak di antara kami jadi agak jauh satu sama lain. Fungsinya untuk mendapatkan ketenangan yang Dokter Heller bicarakan. Sebalah kananku ada Arthur. Sebelah kiriku Harvey.
Harvey tampak berkali-kali komat-kamit dengan mulutnya. Ia tampaknya sedang berdoa agar tidak tenggelam. Sementara Arthur menatap lurus ke batu di depannya. Ia tampak tidak takut, tapi tidak tampak tenang.
Aku sendiri tidak yakin tentang apa yang harus dilakukan. Akhirnya aku memutuskan untuk memejamkan mata. Merasakan air yang langsung menyentuh kulitku.
Rasa dinginnya masuk menembus sampai ke dalam tubuhku. Anehnya, jiwaku merasa amat tenang. Semua pikiran yang biasanya melayang-layang di kepalaku pun menghilang begitu saja. Kosong.
Detik itu pula aku merasa napasku semakin ringan. Tubuhku sendiri sudah tak bisa kurasakan. Seperti menyatu jadi satu bagian dengan air. Saat itu pula aku melepaskan peganganku dari batu. Anehnya tubuhku tidak tenggelam, tapi mengapung di permukaan.
Aku berbaring perlahan-lahan seperti yang Dokter Heller contohkan. Tubuhku berbaring sempurna. Melayang seperti pesawat yang ada di udara.
"Wah, Gris! Keren!" ujar Harvey.
Aku membuka mataku perlahan-lahan. Wajahku persis menghadap ke arah atas, ke tempat air terjun berasal. Setengah telingaku terendam di dalam air. Hingga suara air terjun yang keras sekali pun terdengar seperti teredam di telingaku.
Meski mataku terbuka, tak ada pikiran apa-apa yang ada di kepalaku. Rasanya kosong tapi menenangkan. Beban yang biasanya aku bawa juga hilang begitu saja. Seolah tak ada satu pun masalah di dunia ini yang bisa menggangguku.
Namun tiba-tiba bayang-bayang ibu muncul di pelupuk mataku. Senyumnya, garis-garis di wajahnya, bahkan mata cokelatnya yang bersinar seperti duplikat matahari. Indah.
Gambaran itu tak bertahan lama. Sedetik kemudian yang tampak di pelupuk mataku adalah ibu yang menangis dan berteriak tanpa suara. Ia berlari lalu menatapku seperti sedang menyalahkan diriku.
Seketika keseimbangan ku hilang. Pikiran tentang ibu menjelma jadi mimpi buruk yang membuat tubuhku tak bisa tenang.
Air rasanya menarik tubuhku masuk ke dalam. Mengajakku tenggelam. Tanpa aku sadari, wajahku sudah sepenuhnya masuk di dalam air. Aku tak bisa bernapas. Seketika sekelibatan kehidupanku muncul di kepala.
Aku tak bisa merasakan apa-apa dengan benar. Sarafku seolah mati. Larut di dalam air yang tenang.
Greb! Aku merasakan sesuatu memegang pinggangku lalu mengangkatnya ke permukaan. Aku terengah-engah. Napasku rasanya terputus untuk beberapa saat. Kemudian aku batuk sampai air keluar dari hidungku.
Rasanya pedas namun kesadaranku kembali karenanya. Di sekitarku ada anggota Herakles lain yang mengelilingi. Mereka tampak khawatir.
"Kau tak apa, Gris?" tanya Ruby.
"Aku baik-baik saja," kataku.
Namun sedetik kemudian aku panik, karena air yang ada di kolam beserta batu-batuan di sekitarnya melayang seperti tak diikat oleh gravitasi.
Seketika aku menunjuk ke atas. "Itu ...."
Semua orang menoleh, mengikuti arah telunjukku. Begitu pula Arthur. Ia sama terkejutnya, lalu air dan batu-batu itu jatuh ke bumi begitu saja. Meluncur bebas seperti orang terjun dari ketinggian. Air yang menghantam dasar kolam menimbulkan efek reaksi sehingga menciprati kami.
"Ya Tuhan!" ujar Harvey.
Kami yang sudah basah siap-siap menutup mata, takut kena cipratan air yang mungkin rasanya lebih seperti tamparan itu. Namun air sama sekali tak mengenai kami.
Aku membuka mataku. Air itu membeku sebelum menghantam kolam. Hanya batuannya saja yang sudah berjatuhan ke bawah. Kali ini bukan ulah Arthur, tapi Romy.
"Jangan lupa bilang terima kasih," katanya sambil tersenyum bangga.
"Oh, tentu! Lalu kau akan membiarkan air ini membeku begini?" tanya Ruby.
"Tentu tidak! Kau bisa melelehkannya perlahan-lahan," ucap Romy enteng.
Kemudian Ruby menghentakkan tangannya di udara, seperti sedang mendorong sesuatu. Bekuan air itu kembali meleleh dan menghantam dasar kolam seperti semula. Tanpa diduga-duga, cipratan besar datang kepada kami dalam waktu yang tak lebih dari lima detik.
Ruby lalu tertawa terbahak-bahak. Kami juga. Tampak aneh, tapi yang lebih anehnya adalah fakta bahwa semua ini nyata.
***
Herakles adalah tempat dimana semua hal bisa terjadi. Kekuatan khusus, di luar batas manusia, bahkan kekayaan alam yang tak bisa didapatkan dimana-mana bisa ditemukan di dalam Herakles. Tempat penuh keajaiban. Sebelas dua belas dengan Wonderland bagi Alice. Bagiku Herakles juga sebuah tempat penuh magis seperti Wonderland.
Tempat dimana harapanku masih ada. Tempat dimana keyakinan ku bertemu nenek dan ibu masih menggebu-gebu.
Meski aku memutuskan untuk tak percaya pada siapapun, nyatanya tempat bernama Herakles ini berhasil membuatku merasa aman dan hangat. Walaupun diwarnai pertikaian setiap harinya, masih ada alasan buatku untuk tertawa.
Aku tau, aku tak sepantasnya merasa bahagia ketika nasib nenek dan ibuku bahkan tak jelas bagaimana. Apa aku termasuk durhaka?
Aku bukannya melupakan mereka. Hanya saja, terlalu tertekan akan membuat semua rencanaku berantakan tak karuan. Aku harus tetap tenang agar bisa menyelamatkan mereka.
Aku duduk di tepi kolam air terjun. Duduk di sana setelah makan malam. Rasanya tempat ini menenangkan.
Aku mencelupkan kakiku di air. Membiarkan dinginnya air membilas semua kegelisahan ku.
Tiba-tiba pundakku ditepuk. Ruby ternyata.
"Hei, Profesor Song memanggil kita semua."
Otomatis aku berdiri mengikutinya. Rupanya kami menuju ruang diskusi. Profesor Song sudah ada di sana dengan wajah jahilnya. Bukan cuma Profesor Song, ada Dokter Heller dan Dokter Gabby juga.
Anggota Herakles lain juga tampak baru datang. Kami kemudian duduk melingkar seperti biasa. Aku duduk paling ujung, di sebelah Ruby lebih tepatnya.
"Selamat datang!" sapa Profesor Song dengan senyum khas mafia di bibirnya.
Kemudian suatu gambar ditampilkan di layar 8D. Gambar suatu tempat yang tampak amat tidak asing di mataku.
"Ada yang tau ini apa?" tanyanya, "Gris, kau berasal dari Domain Hindia kan? Maka jawablah!"
Aku mencoba mengingat-ingat dimana sebenarnya tempat itu. Kemudian aku teringat suatu bangunan yang amat jelas melekat di pikiranku.
"Pabrik AlgaCan!" ujarku.
"Benar sekali! Ini adalah pabrik AlgaCan. Pusat dimana alga diolah dan dijadikan sumber makanan bagi lebih dari sembilan puluh persen populasi di seluruh dunia. Pasokan makanan terbesar yang dikelola langsung oleh pemerintah. Penghasil uang nomor 2 setelah industri pemurnian air," kata Profesor Song.
Dari atmosfer yang ada, aku dapat merasakan bahwa Profesor Song akan memberikan kami misi yang berhubungan dengan pabrik AlgaCan itu. Entah apa.
"Menurut kalian, apa yang akan terjadi kalau pabrik ini mengalami kerugian?" tanya Profesor Song.
"Pemerintah akan marah," ucap Harvey.
"Pemerintah juga akan rugi besar," sambung Romy.
"Benar sekali!" ujar Profesor Song, "Akan aku beberkan satu fakta lagi. Orang yang ditunjuk sebagai direktur utama dari perusahaan AlgaCan adalah Peter Robinson. Meski publik tidak tau, Peter Robinson ini ternyata adalah anak angkat dari Presiden Dew. Ia diadopsi dari panti asuhan yang ada di Domain Pasifik 2. Tak banyak orang yang tau tentang statusnya. Dengan begitu, Presiden Dew memberinya jabatan cuma-cuma untuk berada di atas takhta perusahaan AlgaCan. Setiap tahunnya Peter Robinson ini melakukan pencucian uang. Maka dengan kata lain, pihak yang paling diuntungkan adalah keluarga Presiden Dew sendiri."
"Inilah tugas kedua kalian sebagai Herakles," kata Profesor Song, "Menimbulkan kerugian besar di AlgaCan."