Ekspedisi

2010 Kata
Ekspedisi kami menuju Domain Hindia dimulai dini hari. Kami bergegas menaiki dua mobil yang entah bagaimana bisa dibuat persis seperti mobil dinas milik Departemen Kelautan. Ada logo di bagian badan mobilnya, plat mobil juga dibuat berwarna kuning seperti mobil khas milik pemerintahan yang lainnya. Mobil seperti ini biasanya digunakan oleh petugas yang bekerja di Departemen Kelautan untuk melakukan kontrol kapal dan lain-lain. Tentu saja Profesor Song berperan besar. Ia tampaknya merupakan seseorang yang punya koneksi dimana-mana. Menyulap mobil biasa jadi mobil dinas seperti ini jelas bukan hal susah buatnya. Kami terbagi jadi dua kelompok. Satu kelompok merupakan kelompok strategi, kelompok satunya lagi adalah kelompok eksekusi. Kelompok strategi hanya berisi Arthur sendiri. Sementara sisanya berada di kelompok eksekusi. Arthur memang dapat tugas yang cukup istimewa. Ia akan jadi seorang peretas hari ini. Tugasnya adalah meretas sistem keamanan pelabuhan. Iya, kami akan melaksanakan ekspedisi di Domain Hindia menggunakan kapal, alat transportasi yang amat kubenci. Waktu aku bertanya kenapa kami tidak pakai helikopter saja seperti biasa, Profesor Song berkata, "Tidak bisa. Helikopter hanya aman digunakan di area dekat-dekat sini saja karena pengacau radar yang kita gunakan tak akan berfungsi sejauh itu." Rupanya selama ini Herakles punya pengacau radar yang membuat radar normal tidak bisa mendeteksi aktivitas apapun selama kami berada di radius tertentu dari markas. Itulah mengapa sampai saat ini pemerintah tidak tau apa-apa mengenai Herakles sama sekali. Domain Hindia jelas terlalu jauh jaraknya dari markas Herakles. Apabila helikopter kami melaju ke sana, jelas akan terdeteksi oleh radar. Makanya kami harus naik kapal meski aku sebenarnya cukup trauma. Jauh-jauh aku menyebrang dari Domain Hindia kemari, sekarang malah kami yang akan menyebrang kembali ke sana. Perjalanan kami dimulai dengan menuju Kota Tianjin, tempat semua kapal dari AlgaCan yang menuju ke Domain Pasifik 1 berlabuh. Dokter Heller menyetir mobil yang ditumpangi kelompok eksekusi. Sementara mobil yang ditumpangi Arthur dan Profesor Song akan dikendarai oleh Dokter Gabby. Selain membawa diri masing-masing, kami juga membawa s*****a serta persediaan makanan dan minuman. Untuk pertama kalinya, kami akan berada di luar markas berhari-hari. Tentu ini menjadi pengalaman baru buat kami. Kami rencananya akan sampai di Kota Tianjin setelah menempuh dua puluh dua jam perjalanan kecepatan penuh menggunakan mobil. Melewati gurun pasir yang tampak tak berujung. Kemudian pketika kami sudah sampai di Tianjin, kami akan langsung menuju pelabuhan dan melancarkan aksi pertama. Aku mengintip lewat jendela. Gurun pasir yang tandus dan tampak panjang tak berujung ini jadi saksi bisu perjuanganku dan Arthur susah payah menuju markas Herakles. Kami berjalan kaki waktu itu. Tak punya kendaraan sehingga harus menempuh perjalanan berhari-hari lamanya. Rasanya sudah hampir mati waktu itu. Tapi tekad kuatku untuk bertemu nenek dan ibu membuatku bisa bertahan sampai saat ini. Bagai sebuah keajaiban. Aku memegang liontin yang tergantung di leherku. Merasa nenek dan ibu selalu bersamaku meski wujudnya tak bisa kulihat dan kusentuh. Aku berharap kali ini juga aku bisa kembali dengan selamat. Selain itu, aku juga tak berhenti berharap agar pertemuanku dengan nenek dan ibu bisa terlaksana secepat mungkin sehingga aku bisa kembali ke pelukan mereka dan kembali merasa bahagia. "Gris!" Romy memanggilku. "Apa?" "Apa yang kau pikirkan?" tanyanya. "Tidak ada," kataku berbohong. Rambutnya yang cukup panjang bergerak-gerak mengikuti gerakan mobil. "Mau?" tanyanya sambil menyodorkan sepotong roti yang baru mau ia makan. "Tidak, terima kasih." Mataku lalu terfokus pada Harvey dan Ruby yang tepat di depan aku dan Romy. Lucunya, Harvey yang sedari tadi tertidur terus-menerus menyandarkan kepalanya di bahu Ruby. Sementara Ruby yang memang benci Harvey terus-menerus mencoba menjauhkan diri. Setelah beberapa lama, Ruby akhirnya menyerah membuang-buang tenaga dan waktunya. Kepala Harvey kini melekat di bahunya. Entah sudah sampai mana ia bermimpi. "Senang melihat kalian akur," candaku. Ruby mendengus. "Lihat saja, begitu dia bangun nanti, akan aku patahkan kepalanya!" Aku tertawa mendengarnya. Begitu pula Romy. Setelah mengucapkan ancaman begitu, tak lama Ruby juga tertidur pulas. Kepalanya sekarang bersandar di atas kepala Harvey. Mereka persis seperti pasangan kekasih yang sering aku lihat di film-film. Tentu saja rasanya lucu melihat dua manusia yang selalu bertengkar itu jadi rukun karena perjalanan jauh begini. "Romy, apa kau tau kenapa Ruby kelihatan sangat membenci Harvey?" tanyaku. Romy berpikir sejenak lalu mengangkat bahunya. "Entahlah. Aku juga tak tau kenapa. Yang jelas begitu Harvey sampai di Herakles, ia tampak begitu membencinya. Ah, tidak! Bahkan sebelum sampai Herakles. Waktu Harvey dibawa menggunakan helikopter, saat itu pun Ruby sudah kelihatan membencinya." Maka seperti dugaanku, Romy sendiri tak tau apa yang sebenarnya terjadi di antara saudara kembarnya dan Harvey. Ada teka-teki tak terpecahkan di antara mereka berdua yang tak dimengerti orang lain. Ada rahasia di kepala Ruby yang membuatnya benci setengah mati pada Harvey. *** Kami beristirahat sejenak agar Dokter Heller dan Dokter Gabby bisa makan. Menyetir perjalanan panjang jelas bukan pekerjaan mudah. Kami semua juga ikut makan. Secukupnya saja karena perbekalan kami juga pas-pasan. Kami makan di gurun pasir. Beralaskan kain tipis yang digelar di atas pasir yang hangat. Anggap saja seperti sedang piknik. Aku jadi ingat, dulu waktu aku berumur sepuluh tahun, Nenek pernah berusaha keras merayu Ibu agar mau pergi berpiknik. Ibu juga mati-matian tidak mau karena menurutnya piknik adalah kegiatan yang cuma buang-buang waktu dan tenaga. Namun akhirnya setelah satu bulan merayu, akhirnya ibu luluh juga. Kami akhirnya melakukan piknik di bukit yang letaknya tak jauh dari rumah. Waktu itu kami makan AlgaCan rasa roti isi sambil menyaksikan matahari terbenam. Nenek menangis waktu itu. Ia bilang ia teringat dengan saat terakhirnya melakukan piknik. Tepatnya satu pekan sebelum perang dunia ketiga meletus. Nenek piknik bersama keluarganya. Ada ayah, ibu, kakak dan adiknya. Nenek bilang mereka piknik di sebuah lahan di pinggiran kota. Dikelilingi pepohonan hijau dan kicauan burung-burung liar. Sayangnya keadaan sudah berbeda, di pikniknya bersama aku dan ibu, dunia tidak lagi seramah itu. Yang ada hanya gersang dimana-mana. Kutukan alam semesta. Detik itu aku tak menyadari betapa pentingnya nenek dan ibu di hidupku. Sekarang setelah semuanya berlalu, setelah tak ada satu orang pun di sisiku, aku akhirnya paham. Itulah mengapa orang bilang bahwa kita baru bisa paham arti kehadiran seseorang ketika orang itu sudah tidak ada di sisi kita. Kehilangan adalah guru yang paling menyakitkan sekaligus paling efektif. Kalau tidak kehilangan nenek dan ibu, aku tak mungkin melangkah sejauh ini. Menempuh hal sulit yang membuatku berusaha lebih keras dibandingkan manusia lainnya. "Melihat Harvey dan Ruby tidak bertengkar begini rasanya seperti melihat keajaiban," kata Dokter Heller, memecahkan lamunanku tentang piknik bersama nenek dan ibu. "Aku? Rukun dengannya? Tidak sudi!" ujar Ruby. "Aku juga tidak sudi!" sahut Harvey. "Sudahlah! Jangan berkelahi! Perjalanan kita masih terlalu panjang, jangan buang-buang energi!" ujar Romy. "Benar, kalau kalian berkelahi, aku tak akan segan-segan meninggalkan kalian di sini," ancam Profesor Song. Akhirnya Ruby dan Harvey diam. Tidak mau ditinggalkan di gurun pasir ini berdua saja. Terpaksa menahan kekesalan dalam hati masing-masing seperti sedang menahan segumpal batu yang besar. Kami hanya tertawa melihat ekspresi jengkel mereka yang terlihat amat manis. "Prof," panggil Romy. "Apa?" "Apa menurutmu tugas ini akan berhasil?" tanyanya. "Tergantung kalian. Kalian adalah ujung tombak keberhasilan tugas ini. Maka kalian adalah penentunya." *** Kami sampai di Kota Tianjin ketika nyaris fajar. Penduduk sudah mulai beraktivitas, tapi belum sepenuhnya. Pedagang menyiapkan dagangannya, penyedia jasa seperti tukang cuci mulai bergerak ke rumah-rumah yang membutuhkannya. Sementara separuh kota lainnya masih tertidur pulas. Saat paling tepat bagi kami untuk bergerak diam-diam. Mobil melaju menuju pelabuhan. Namun gerak kami jauh lebih santai, tak mau menarik perhatian. Bergerak normal adalah salah satu cara untuk berkamuflase, menyamarkan diri dengan penduduk lainnya. Semua yang ada di dalam mobil tertidur pulas. Aku saja memang yang tak bisa tidur semalaman. Aku rindu berat pada nenek dan ibuku. Rasanya ingin meneteskan air mata semalam suntuk, tapi takut jadi gangguan bagi yang lain. Alhasil aku hanya bisa menelan rasa rinduku. Memendamnya sendirian tanpa ada seorang pun yang tau. Beberapa kilometer sebelum sampai pelabuhan, kami semua diperintahkan untuk mengubah pakaian menjadi seragam yang biasanya dipakai oleh pekerja di Departemen Kelautan. Setelahnya kami memasuki area pelabuhan. Matahari sudah terbit, pagi menjelang dan orang-orang mulai terbangun dari tidurnya masing-masing. Siap memulai hari. Kami juga begitu, siap menjalankan misi. Aku membangunkan Ruby dan Harvey yang tertidur lagi setelah ganti baju tadi. Mereka langsung sama-sama buang muka begitu menyadari kalau mereka tidur dengan keadaan saling bersandar pada satu sama lain. Sesampainya di pintu pelabuhan, Dokter Heller menjalankan beberapa pemeriksaan yang dilakukan oleh petugas pelabuhan. Ia bilang bahwa tujuan kami ke pelabuhan hari ini adalah untuk melakukan pengecekan kapal. Aku memang pernah dengar kalau pengecekan kapal dilakukan secara berkala setiap bulannya. Bukan cuma kapal, tapi robot yang menjadi nahkoda juga dicek keadaannya. Satu hal yang membuatku terkagum-kagum adalah fakta bahwa kami semua punya kartu pekerja Departemen Kelautan. Imitasi tentunya. Dokter Gabby yang membuatnya. Kami yang ada di belakang juga berusaha duduk tenang dan santai seolah tak terjadi apa-apa. Bersikap alami kalau kata Dokter Heller. Setelah lolos dari gerbang utama, kami akhirnya resmi masuk ke area pelabuhan dan berputar-putar sejenak. Perputaran ini diperlukan karena Arthur butuh waktu dan kesempatan untuk meretas semua kamera yang ia butuhkan. Aku tak begitu paham soal retas-meretas. Namun Arthur bilang bahwa ia butuh waktu untuk mencari sumber utama dari tempat ini. Itulah mengapa kami berputar-putar, agar Arthur bisa menemukan tempat yang tepat. "Ketemu!" Arthur memberikan instruksi lewat transmiter yang terhubung di antara kami. Kami menggunakan sejenis sumpal di telinga yang bisa menghubungkan satu sama lain. Profesor Song menyebutnya sebagai transmiter. Begitu Arthur menemukan posisinya, mobil tim strategi pun berhenti. Sementara mobil tim eksekusi terus melaju sampai ke area paling dekat dengan dermaga. Mobil lalu diparkirkan. Tapi kami tak langsung turun dari mobil. Masih menunggu aba-aba dari Arthur. "Selesai!" ujar Arthur. Menandakan bahwa peretasannya berhasil. Kami langsung turun dari mobil dan menuju titik masing-masing yang sudah dibicarakan di markas Herakles sebelumnya. Harvey ditugaskan untuk berjaga di area sekitar mobil, memantau kalau-kalau ada orang yang curiga dengan kami. Ruby dan Romy bertugas mencari kapal yang menuju ke Domain Hindia. Sementara aku ditugaskan masuk ke bagian dalam kapal untuk mencari ruang mesin. Berbekal sebuah gadget, aku menunggu aba-aba Ruby dan Romy yang sedang mengecek jadwal di pos jaga yang biasanya letaknya tak jauh dari dermaga. "Kapal WJ910, Gris," kata Ruby dari transmiter. Aku langsung bergegas. Tentunya dengan tempo jalan senetral mungkin. Mengecek jajaran kapal yang ada di sekitar dermaga. Mencari-cari kapal yang Ruby maksud. Begitu mataku menangkap tulisan WJ910, aku segera memasukinya. Tentu saja pintu kapal tak akan terbuka begitu saja. Ada akses khusus yang dibutuhkan untuk memasuki bagian dalam kapal. Karena ini kapal milik AlgaCan, biasanya yang bisa masuk adalah pegawai AlgaCan yang punya kartu pegawai resmi. Selain itu, pegawai Departemen Kelautan yang memang bertugas mengawasi kapal juga bebas masuk dengan kartu pegawainya. Sayangnya kartu pegawai yang tergantung di leherku ini palsu. Imitasi belaka. Maka dari itu, Arthur memberiku sebuah alat kecil yang harus ditempelkan di bagian alat pemindai kartu. Alatnya amat mungil, hampir tak terlihat kaalu tidak jeli diamati. "Sudah kutempelkan," ucapku. "Tunggu sebentar." Aku berdiri di depan kapal sambil mengamati sekitar. Pura-pura santai meski jantungku sudah mau meledak rasanya. "Sekarang tempelkan kartumu!" Arthur memberi instruksi. Segera, aku menempelkan kartu pegawai palsuku. Setelahnya pintu kapal benar-benar terbuka seperti keajaiban. Aku masuk ke dalam kapal. Ruang mesin berada di bawah lantai tempatku berdiri saat ini. Aku menuju ke bawah. Syukurnya mengecek ruang mesin adalah hal yang memang biasa dilakukan oleh petugas Departemen Kelautan. Alasannya adalah untuk memastikan kelayakan dan keamanan kapal yang beroperasi. Begitu sampai di ruang mesin, aku mulai mencari komputer besar yang sempat Arthur sebut di rapat besar kami sebelum pergi melaksanakan tugas ini. Katanya, akan ada sebuah komputer besar yang paling menonjol dibandingkan komputer lainnya. Arthur bilang komputer itu lah yang mengatur segala aktivitas di dalam kapal. Tugas utamaku adalah mencarinya dan menempelkan benda kecil yang sama seperti yang aku tempelkan di dekat alat sensor tadi. Aku akhirnya menemukan komputer paling besar yang Arthur maksud. Segera aku menempelkan alat kecil itu dan melaporkannya. "Sudah kutempelkan," ucapku. "Baik!" Tak lama kemudian Arthur bicara lagi melalui transmiter. Ia membuat laporan. "Semua kamera di atas kapal sudah kumatikan. Robot nahkoda juga sudah dimatikan." "Kerja bagus!" Profesor Song akhirnya buka mulut juga. Persis seperti seorang bos yang muncul ketika semua pekerjaan sudah berhasil diatasi oleh bawahannya. "Semuanya, segera naik ke kapal! Perjalanan yang sesungguhnya akan dimulai!"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN