Kapal AlgaCan yang berlayar dari Domain Pasifik 1 ke Domain Hindia biasanya adalah kapal-kapal kosong atau paling-paling berisi barang rusak yang harus dikembalikan ke pabrik untuk diganti baru. Jumlah barangnya jelas tidak sebanyak kapal yang berasal dari Domain Hindia, tempat pabrik AlgaCan berada.
Itulah mengapa kami harus pintar-pintar mencari tempat persembunyian ketika para pekerja AlgaCan memasukkan barang retur ke dalam kapal. Kami harus bersembunyi seperti hantu. Tak boleh terlihat, tak boleh dirasakan keberadaannya.
Kami bersembunyi di ruang mesin. Di antara mesin-mesin besar mampu menyembunyikan tubuh mungilku dengan sempurna. Ruang mesin tak begitu terasa panas kali ini, beda dari pengalamanku sebelumnya. Tentu saja hal itu dikarenakan kapal belum berjalan saat ini. Mesin belum bekerja, masih dalam posisi dingin.
"Mereka sedang menuju ruang kendali, sepertinya mau menyalakan robot nahkoda," ucap Ruby. Ia memang bersembunyi paling dekat dengan lokasi para pekerja itu berada. Bisa dibilang paling berisiko, tapi fungsinya amat penting untuk mengawasi pergerakan para pekerja itu.
Tak lama setelah Ruby mengatakannya, mesin di ruangan ini menyala. Suhu perlahan-lahan naik tapi aku masih bisa menahannya.
"Mereka sudah pergi!" Ruby memberi laporan lagi.
Segera aku keluar dari tempat persembunyianku. Menuju dek utama kapal seperti yang sudah kami janjikan sebelumnya.
Begitu aku sampai, ternyata Ruby, Arthur, dan Romy sudah ada di sana. Beberapa waktu kemudian Profesor Song dan Harvey menyusul dari arah yang berbeda.
Rasanya cukup kosong tanpa kehadiran Dokter Heller dan Dokter Gabby. Namun mereka memang tidak ikut kami ke Domain Pasifik 1. Mereka harus mengurus markas. Lagi pula orang-orang akan curiga kalau mobil dengan logo Departemen Kelautan ditinggal di pelabuhan selama berhari-hari begitu saja.
"Lepaskan pakaian bodoh itu." Profesor Song menunjuk seragam Departemen Kelautan yang masih melekat di tubuh kami masing-masing. Kami segera melepasnya, menyisakan jumpsuit hitam kami yang asli.
"Profesor, apakah robot nahkoda itu kita biarkan saja?" tanya Ruby.
"Iya, biarkan saja. Tidak ada yang tau perjalanan ini lebih baik dari pada robot itu. Lagi pula ia adalah robot generasi awal, tidak punya pikiran dan emosi. Bukan robot yang akan menimbulkan masalah."
"Lalu bagaimana dengan kameranya, Prof? Bukankah kamera-kamera ini terhubung dengan kantor pusat AlgaCan? Kalau mereka tau kamera-kamera ini mati, bukannya akan jadi masalah?" tambah Ruby.
"Arthur, jelaskan!"
"Kamera-kamera ini tidak sepenuhnya mati. Aku hanya mengubah aliran datanya sehingga data yang dikirim adalah data-data dari perjalanan sebelumnya. Intinya, mereka akan tetap menerima laporan tapi bukan rekaman yang sekarang, melainkan rekaman terdahulu."
"Lalu bagaimana dengan rekaman sekarang?" tanya Ruby lagi. Kotak ingin tau nya benar-benar besar tak terhingga.
"Tenang saja, kita tidak akan terekam," jawab Arthur singkat.
"Baiklah, aku sudah merasa lebih baik sekarang," ucap Ruby.
Profesor Song lalu mengeluarkan satu botol berwarna putih dari sakunya. Botol itu berisi kapsul-kapsul berwarna merah. Profesor Song membagikannya pada kami, masing-masing satu.
"Ini obat anti mual. Minumlah sebelum kita melakukan perjalanan dan merasa mabuk karenanya."
"Mabuk?" Ruby bingung.
Namun aku tak lagi bingung. Aku tau mabuk yang Profesor Song maksud. Mabuk lautan karena pergerakan ombak yang menyebabkan kapal naik turun, bergerak tidak teratur dan mengganggu keseimbangan manusia yang ada di dalamnya. Rasanya amat buruk sampai aku tak ingin lagi mengulangnya.
Tanpa banyak bertanya, aku menelan kapsul berwarna merah itu. Berharap mabuk lautan tak lagi menggangguku dalam perjalanan kali ini.
***
Kapsul merah itu tampaknya cukup membantu. Aku masih pusing, tapi tidak separah sebelumnya. Sedangkan anggota Herakles lain reaksinya bermacam-macam. Romy dan Arthur tidak mabuk sama sekali, mereka bisa beraktivitas normal seperti di daratan. Sementara Ruby dan Harvey mabuk berat, hanya bisa tergeletak di lantai kapal. Tak berdaya seperti orang sakit keras.
Profesor Song memang bilang kalau minum kapsul ini bukan berarti bahwa mabuk akan musnah sepenuhnya. Pada beberapa orang, bisa saja tidak mempan. Bisa juga hanya mempan sebagian seperti yang aku rasa.
Makin jauh perjalanan kami ke pertengahan laut, bau tidak sedap makin terasa. Bau seperti sampah yang timbul dari air itu menyapa lagi indera penciumanku setelah sekian lama.
"Buruk sekali!" ujar Romy begitu melihat warna air laut yang kehijauan menjijikkan.
"Tentu, inilah yang manusia lakukan untuk bumi tempatnya tinggal," sahut Profesor Song.
"Pantas saja tidak ada spesies yang tersisa selain manusia," kata Romy.
"Siapa bilang?"
"Hah? Maksudnya, Prof?" Romy bingung dengan pertanyaan Profesor Song.
Pasalnya kepunahan spesies-spesies hayati bukanlah fakta baru yang hanya diketahui segelintir orang lagi. Fakta ini sudah diketahui semua orang yang tinggal di muka bumi. Kenyataan tragis yang harus manusia jalani.
"Memang benar, keanekaragaman hayati musnah. Tapi keadaan alam yang berubah drastis begini juga menciptakan spesies-spesies baru yang mungkin kalian tidak tau," kata Profesor Song.
"Benarkah, Prof?"
"Tentu saja. Kenapa? Kau tidak percaya karena tidak mendengarnya di sekolah?" tanya Profesor Song pada kami.
"Aku tidak sekolah, jadi aku percaya!" jawab Romy.
"Bukan kau, Romy! Tapi Gris dan Arthur!"
"Aku tak percaya sesuatu yang tidak kulihat oleh mataku sendiri," jawab Arthur lugas.
Profesor Song tertawa. "Aku suka sekali dengan jawabanmu! Kau sendiri bagaimana, Gris?"
Sejujurnya perkataan Profesor Song masuk akal. Sangat masuk akal. Kalau suatu variabel bisa memusnahkan sesuatu, maka kemungkinan besar juga bisa menciptakan sesuatu.
"Aku percaya," sahutku.
"Kenapa?"
"Karena kalau kita ambil contoh nyata seperti manusia, maka semuanya masuk akal. Manusia bisa menciptakan sesuatu seperti robot, tapi juga bisa memusnahkannya. Maka tidak menutup kemungkinan alam juga demikian," paparku.
"Logika yang bagus!" ujar Profesor Song.
Romy menepuk tangannya. "Wah ... pantas saja orang bilang bahwa pendidikan itu penting!"
Profesor Song berjalan maju, menuju bagian paling ujung kapal. Memejamkan mata dan merasakan angin yang menerpa tubuh gempalnya.
"Pendidikan memang penting, tapi ada satu hal lagi yang lebih penting untuk manusia," kata Profesor Song.
"Apa itu, Prof?" Romy bertanya.
"Hati nurani. Jadi cerdas itu sulit, tapi jadi manusia yang bisa memanusiakan orang lain itu jauh lebih sulit. Aku berharap kalian jadi manusia yang demikian," tutur Profesor Song.
Mata Romy mendadak berkaca-kaca. Ia lalu berhambur memeluk Profesor Song dengan kedua tangannya.
"Hei, apa-apaan ini!" ujar Profesor Song, risih dengan pelukan yang diberikan Romy.
"Hadiah karena kata-kata Profesor Song bijak sekali hari ini!" ujar Romy.
"Lepaskan!" titah Profesor Song.
"Tidak mau!" Romy memeluknya sekuat tenaga.
"Lepaskan!"
"Tidak mau!"
Aku tertawa. Aku memang tidak pernah merasakan bagaimana rasanya punya ayah. Tapi kalau aku bayangkan, mungkin hubungan ayah dan anak bisa digambarkan oleh Profesor Song dan Romy saat ini. Mungkin.
***
"Ayo cepat bangun dan makanlah! Jangan menyusahkan orang lain!" seru Profesor Song pada Ruby dan Harvey yang masih tergeletak lemah di lantai.
Aku membantu Ruby bangun dari tidur ke posisi duduk. Sementara Arthur membantu Harvey.
Ruby tampak pucat. Rambutnya berantakan dan wajahnya terlihat seperti tak punya semangat hidup.
Aku menyodorkan air minum padanya. Ia meminumnya.
Aku tau, pusing di kepalanya pasti terasa sangat tidak tertahankan. Seperti mau meledak tapi tidak kunjung meledak. Seperti ada yang mau keluar dari perutnya dan naik ke kerongkongan, tapi sebenarnya tidak. Perasaan yang amat menyiksa.
Aku memberikan sepotong roti kepadanya. Ia memakannya walau tidak berselera.
"Minum lagi kapsulnya setelah makan," kata Profesor Song, mengingatkan kami semua.
"Baik, Prof!"
"Ruby, Harvey, apa pusingnya masih parah?" tanyaku.
"Masih," jawab mereka serempak, sama-sama lemah pula. Sungguh kompak.
Sisi positif dari Harvey dan Ruby yang mabuk laut adalah fakta bahwa mereka tidak punya kesempatan untuk bertengkar. Keduanya sibuk menahan mabuk laut masing-masing, tak punya waktu dan tenaga untuk memicu perdebatan antara satu sama lain.
Cukup tenang juga kalau mereka tidak bertengkar. Tapi di satu sisi jadi kasihan karena Ruby dan Harvey yang biasanya paling banyak bicara di antara kami semua jadi tidak berdaya sedemikian rupa.
Ruby mengembalikan roti yang sudah ia gigit setengah. Tampaknya nafsu makannya benar-benar hilang begitu saja. Benar juga, kalau diingat-ingat lagi, waktu aku mabuk laut juga makan rasanya seperti sebuah siksaan lain. Ruby pasti juga merasa begitu.
"Makanlah sampai habis, Ruby! Perjalanan kita masih panjang, kau harus tetap ternutrisi meskipun mabuk laut," bujukku.
Akhirnya Ruby mencoba makan lagi sampai rotinya habis. Melawan ketidakberdayaannya akibat mabuk lautan.
Setelah Ruby selesai makan, aku memberikan satu kapsul padanya beserta air. Ia meminumnya dalam sekali tegukan. Kemudian kembali tertidur, menyatukan diri dengan lantai kapal. Harvey juga sama. Keduanya jadi komplotan secara tidak sengaja. Berbagi nasib dan penderitaan serupa. Pertemanan yang manis.
Bicara soal teman, mungkin orang-orang yang di dalam kapal ini bisa aku sebut sebagai teman. Entahlah. Mereka membuatku nyaman, membuatku tertawa, dan menolongku ketika aku butuh bantuan. Bukankah itu yang namanya teman?
Seumur hidup, temanku hanyalah nenek dan ibu. Tak ada orang lain yang sudi jadi temanku karena statusku yang berasal dari kelas B. Tapi di Herakles ini, semua orang bersatu padu. Tanpa melihat dari mana kelas kami berasal.
Harvey yang dari kelas A pun tak pernah mempermasalahkan status kami yang tidak setara. Ia tak pernah menganggap aku lebih rendah dari dirinya, atau menganggap dirinya lebih tinggi dari kami semua.
Arthur yang entah berasal dari kelas apa juga tak pernah sibuk mempermasalahkan kelas dan status sosial. Intinya, di dalam Herakles sistem kelas terhapuskan begitu saja.
Hidupku mungkin akan jadi jauh lebih baik kalau aku bertemu dengan orang-orang seperti mereka sejak lama.
Sayangnya di sekolahku hanya ada orang-orang b******k yang selalu memandang orang lain sebelah mata. Menginjak-injakku dengan embel-embel status yang mereka punya.
Padahal tak ada orang yang ingin terlahir miskin dan serba kekurangan. Padahal seharusnya manusia saling menghargai satu sama lain. Melindungi sesama karena kita berasal dari spesies yang sama.
Gladak! Tiba-tiba kapal terguncang diiringi suara tabrakan yang keras. Kami saling bertatapan, Ruby dan Harvey yang mabuk bahkan juga memaksakan diri untuk tersadar karena menyadari hal ini.
Gladak! Guncangan itu terjadi sekali lagi. Kali ini kapal seperti digoncang ke sebelah kiri, berlawanan dengan guncangan yang tadi. Kapal ini seolah sedang dipukul oleh sesuatu.
Profesor Song langsung bangkit dari duduknya, berjalan menuju bagian luar kapal. Bagian luar kapal untungnya tidak terlalu jauh dari tempat kami duduk.
"Ada apa, Prof?" tanyaku.
"Ssstt!" Ia berdesis, menyuruh kami diam.
"Siapkan s*****a!" ujarnya. Nada bicaranya yang tegang menunjukkan sesuatu yang genting sedang terjadi.
Tanpa banyak bertanya lagi, kami mengambil s*****a yang dikumpulkan di pojok ruangan. Bahkan Ruby dan Harvey yang tadinya mabuk berusaha sekuat tenaga untuk sadar.
Kami keluar dari kapal. Rahangku rasanya mau jatuh. Sebuah pemandangan tak biasa benar-benar terpampang di hadapanku.
Makhluk dengan ukuran amat-amat besar, keluar dari air. Tubuhnya tampak lunak dengan jumlah mata yang amat banyak, tersebar di seluruh tubuhnya yang berwarna abu-abu itu. Selain mata yang banyak, makhluk itu juga punya banyak kaki. Panjang dan lunak.
"Makhluk apa ini?" desah Romy.
"Entahlah, tapi mualku langsung hilang," tambah Ruby.
"Makhluk yang diciptakan oleh alam," sahut Profesor Song.
Gladak! Satu kakinya menyambar kapal sampai terguncang lagi.
Brak! Kami terjatuh, kehilangan keseimbangan.
"Rawrrrrrr!" Makhluk itu bersuara keras sekali. Suaranya keluar dari rongga-rongga mata yang tersebar di seluruh tubuhnya itu. Ia tampak marah, tampak tak senang dengan kehadiran kami semua.
Satu tangannya yang lunak menuju ke arah kami.
"s**l! Lari!" Profesor Song memekik.
Kami semua berlari, menyebar kemana-mana dan berusaha melarikan diri.
"Tolong! ujar Harvey. Aku menoleh, tubuhnya dililit oleh tangan makhluk lembek itu.
Dor! Aku menarik pelatuk pistolku. Menembak tangan makhluk itu. Keluar cairan sejenis darah namun berwarna hijau neon. Tampak menjijikkan dan berbau tidak sedap.
Dor! Dor! Dor! Aku menembak berkali-kali namun Harvey tak juga dilepaskan.
Hap! Romy melompat ke atas lengan makhluk itu dan memotongnya dalam sekali tebas dengan pedang yang ia pegang.
Harvey terlepas. Kami lanjut menyerang dengan s*****a masing-masing.
Aku menembak makhluk itu terus-menerus. Namun tampak tak berpengaruh besar. Begitu pula dengan Ruby yang terus memanah dan Arthur yang menembak tubuh makhluk itu.
Dor! Tembakanku mengenai matanya. Makhluk itu langsung menggeliat dan mengeluarkan banyak darah kehijauan. Detik itu juga aku tau apa kelemahannya.
"Matanya!" ujarku, "Serang matanya!"
Namun meski diserang matanya berkali-kali, makhluk itu tak kunjung mati. Tak bisa begini, persenjataan kami bisa habis kalau begini. Aku kemudian teringat bahwa kami membawa beberapa alat peledak untuk persediaan.
"Profesor, bagaimana kalau kita ledakkan?" tanyaku.
"Ide bagus!" ujarnya.
"Kalau begitu, Harvey dan aku akan memasang peledak di matanya!" ujar Romy.
Romy mengambil dua buah bom dan memberikan satu kepada Harvey. Mereka kemudian memanjat menaiki makhluk itu. Melawan licin akibat lendir yang menempel di permukaan kulit makhluk itu.
Romy dan Harvey berhasil menempelkan bom di rongga mata makhluk itu lalu turun dengan selamat.
"Ruby, Arthur, giliran kalian!"
Ruby menyalakan api di tangan kanannya, lalu menyulut anak panahnya. Sementara Arthur menyiapkan laras panjangnya. Bersamaan, mereka menembak tepat ke arah bom itu.
Duar! Dalam hitungan detik, bom itu meledak. Begitu pula dengan makhluk besar itu. Ia meledak jadi bagian-bagian kecil yang tak lagi dikenali.
Darahnya yang kehijauan menghujani kami dan seluruh bagian kapal. Menjijikkan.