Setelah monster yang kami temui beberapa hari lalu, pandanganku tentang lautan tak pernah sama lagi seperti sebelumnya. Berubah total.
Dulu aku kira laut hanyalah kumpulan genangan air tercemar yang hanya bisa ditumbuhi alga saja. Namun sekararang semuanya berubah.
Secara tidak langsung, manusia lah pencipta makhluk besar menjijikkan itu. Limbah yang dihasilkan oleh aktivitas manusia dan keberhasilannya dalam merusak alam adalah alasan kenapa makhluk itu bisa ada. Dengan kata lain, manusia adalah monster sebenarnya.
Rasanya aneh bicara demikian tentang spesiesku sendiri. Akan tetapi memang kenyataannya begitu. Manusia adalah makhluk paling jahat yang sudah diciptakan untuk menempati muka bumi. Penghancur segala. Mungkin kalau manusia tidak pernah ada di bumi ini, semuanya akan baik-baik saja.
Namun meskipun aku benci pada spesiesku sendiri, Profesor Song senantiasa mengingatkan bahwa tidak ada makhluk yang sempurna di muka bumi. Manusia adalah salah satunya.
Profesor Song berkata bahwa yang dibutuhkan umat manusia sekarang bukanlah kebencian, melainkan gerakan perubahan. Bergerak dari asal yang buruk ke arah yang lebih baik dari sebelumnya. Profesor Song juga bilang kalau Herakles harus jadi tonggak-tonggak perubahan itu sendiri. Mengawali apa yang belum dimulai. Memulai apa yang belum dipikirkan orang lain.
Katanya perjalanan ini tak akan mudah. Memulai sesuatu akan dipenuhi kendala dan rintangan dimana-mana. Itulah mengapa kami membutuhkan satu sama lain. Itulah mengapa kami harus terus selalu bersama. Tidak bergerak sendirian, melainkan bergerak bersama-sama jadi satu tubuh yang utuh.
Aku bersumpah, seumur hidupku tak akan melupakan apa yang terjadi hari itu. Hari dimana kami melawan monster besar penghuni lautan bersama-sama. Seperti itulah kami akan melawan musuh utama kami. Bersama-sama.
Kali ini sekali lagi kami juga akan melakukan sesuatu bersama-sama. Tepatnya melarikan diri dari kapal ini dengan selamat.
Setelah sampai di dermaga, kami jelas tak bisa langsung turun begitu saja. Kami harus menunggu sampai para pekerja AlgaCan menurunkan seluruh barang-barang bawaan lalu melarikan diri diam-diam.
Lagi-lagi aku bersembunyi di ruang mesin. Menahan panas yang rasanya menjalar sampai ke ubun-ubun. Menanti kode dari Ruby sampai situasi aman.
Mesin sebenarnya otomatis mati ketika kapal mencapai pelabuhan. Hanya saja, panas yang dialami mesin karena kerjanya belum juga hilang. Butuh waktu perlahan-lahan.
Rasanya tidak terlalu buruk karena jumpsuit hitam yang diberikan padaku begitu pertama kali sampai Herakles ini bisa menyesuaikan suhu dengan baik. Bahkan rasanya lebih baik dari pada jumpsuit sekolahku.
Bukan cuma itu, jumpsuit ini juga tahan air dan tahan panas. Fleksibel pula. Pemakaiannya juga sangat nyaman. Sungguh teknologi yang sempurna untuk sebuah pakaian. Entah berapa harganya kalau dijual.
"Mereka sudah pergi!" ujar Ruby melalui transmiter.
Perlahan-lahan, aku keluar dari ruang mesin. Meski mereka sudah pergi, aku tetap harus berhati-hati agar tidak menimbulkan kegaduhan dan malah mengundang perhatian orang-orang yang sudah keluar.
Kami berkumpul lagi di bagian utama kapal untuk mengambil barang-barang kami. Aku dan Harvey kebagian membawa tas yang berisi persediaan makanan. Ruby dan Romy membawa persediaan s*****a. Sementara Arthur membawa keperluannya sendiri untuk meretas sistem.
Kami keluar kapal dengan hati-hati setelah memastikan tidak ada orang dalam radius terdekat yang bisa mencurigai kami. Kami berusaha bertingkah senormal mungkin tanpa kepanikan sedikitpun.
Profesor Song lalu membawa kami ke area parkir. Ada sebuah mobil berwarna hitam dengan logo perusahaan AlgaCan yang amat mencolok dan seratus persen mirip dengan aslinya. Mobil itu menunggu kami di sana. Mobil ini adalah mobil yang Dokter Heller sewakan dari jarak jauh. Tentu saja dengan identitas palsu.
Kami memasuki mobil itu. Di dalamnya, sudah ada seragam yang biasanya digunakan oleh pegawai AlgaCan. Bahkan ada kartu pegawai dengan foto dan nama palsu.
Profesor Song sebagai satu-satunya orang yang bisa mengendarai mobil, duduk di kursi kemudi.
"Pakai seragam dan kartu pegawainya!" ujar Profesor Song.
Kami memakai seragam dan kartu identitas dengan cepat.
"Siapa namamu?" tanya Ruby.
"Helena Brook," jawabku.
Ruby mengulurkan tangan. "Kenalkan, Liu Er Yi."
Aku tertawa mendengarkan nada bicaranya yang dramatis itu.
Ruby pada akhirnya menanyai semua nama palsu kami. Bahkan Harvey juga.
Romy mendapatkan nama Raphael Jung. Harvey diberi nama Christoper Sean. Sementara nama palsu Arthur adalah Nero White. Nama Profesor Song adalah yang paling lucu, Remi Do. Seperti tangga nada saja namanya.
"Dokter Heller pasti sedang bercanda!" seru Profesor Song kesal karena merasa namanya terdengar konyol.
Kami berhasil keluar dari pelabuhan setelah melalui pos pemeriksaan ganda. Tak ada kecurigaan sama sekali dari pihak penjaga pelabuhan. Kamuflase kami tampaknya berhasil mengelabuhi, saking miripnya.
***
Profesor Song memberikan kami waktu istirahat satu hari penuh sebelum melaksanakan tugas kami.
Kami akhirnya menginap di sebuah hotel yang sudah disewakan oleh Dokter Heller sebelumnya. Kami menginap jadi satu kamar yang tak terlalu lebar. Mau tak mau harus berbagi. Hanya Profesor Song saja yang punya kamarnya sendiri. Curang.
Seluruh persediaan, baik s*****a maupun makanan diletakkan di kamar kami. Menambah sempit ruangan.
Untungnya, Dokter Heller menyewakan kamar paling mewah yang ada di hotel ini. Sehingga kami mendapatkan akses air tak terbatas. Aku yang sudah lusuh karena berhari-hari tidak mandi merasa bahagia dengan fakta ini.
Kami akhirnya memutuskan untuk bergiliran mandi. Urutannya ditentukan berdasarkan hati nurani masing-masing; Ruby, aku, Harvery, Arthur, dan Romy.
Giliran mandiku sudah selesai. Sekarang sudah masuk giliran mandi buat Arthur.
Aku memutuskan untuk duduk di tepi jendela. Romy menata persediaan makanan kami di dalam lemari. Sementara Ruby dan Harvey sudah tertidur nyenyak di kasur karena kelelahan. Mereka adalah dua orang yang paling lelah karena harus melawan mabuk laut juga.
Aku sendiri terpaku pada hujan salju yang tampak di luar jendela. Hujan salju itu lah yang membuatku benar-benar merasa bahwa ini adalah Domain Hindia, tempat aku dibesarkan.
Aku jadi teringat tentang ibu dan nenekku. Biasanya kalau sedang hujan salju begini, kami akan berkumpul di ruang tamu. Nenek lalu akan menyetel lagu kesukaannya sambil menyanyi dan menari gembira. Ibu akan menghangatkan AlgaCan atau air agar kami bisa menghangatkan tenggorokan dan perut kami.
"Apa yang sedang kau pikirkan, Gris?" tanya Romy setelah usai menata persediaan kami di dalam lemari.
"Keluargaku," jawabku, "Karena ini adalah tempat aku dibesarkan, rasanya jadi lebih melankolis."
"Apakah tempat tinggalmu jauh dari sini?" tanya Romy.
"Tidak terlalu jauh."
"Mau kesana?"
"Memangnya boleh?" tanyaku balik.
"Kita bisa tanya pada Profesor Song tentang itu," ucap Romy.
"Benarkah?" Aku bersemangat.
Tentu saja, mau bagaimanapun aku rindu rumahku sendiri. Meski sebenarnya terbersit keraguan dalam benakku sendiri. Aku ragu apakah harus pulang, karena nyatanya tak ada sesiapa pun di sana. Rumah tidak lagi bisa disebut rumah.
"Bagaimana? Kau mau?" tanya Romy, memastikan.
"Entahlah, biar aku pikirkan lagi."
"Tentu. Bilang saja kalau kau sudah memutuskan nanti."
Tepat setelahnya, Arthur keluar dari kamar mandi.
"Giliranku akhirnya tiba! Aku mandi dulu, Gris!" pamit Romy. Lalu aku tenggelam dalam pikiranku lagi.
***
"Baik, Harvey, silakan diulangi rencana kita tadi," ucap Profesor Song.
"Pertama-tama kita masuk ke gudang penyimpanan utama AlgaCan dengan menyamar sebagai pekerja. Lalu bersembunyi sampai semua pekerja sudah pulang. Bersamaan dengan itu, Arthur akan meretas sistem sehingga aktivitas kita tidak terdeteksi. Kemudian kita akan menukar isi peti kemas dengan pasir yang beratnya sama seperti satu peti kemas AlgaCan. AlgaCan yang diambil akan dimasukkan ke truk yang nanti akan dikendarai Profesor Song. Setelahnya truk akan dibawa ke bandara, dan peti kemas berisi AlgaCan akan dikirim lewat pesawat komersial ke seluruh Domain. Tepatnya ke area pemukiman kumuh. Lalu kita akan kembali ke Domain Pasifik 1 dengan menaiki pesawat."
"Benar sekali!"
Ruby mengangkat tangannya. "Kalau kita bisa pulang naik pesawat, kenapa kita tidak pergi dengan pesawat juga? Kenapa malah naik kapal?"
"Tidak ada alasan khusus. Aku hanya mau begitu saja," ucap Profesor Song enteng.
Ruby yang mabuk laut merasa dikhianati karena ternyata ada jalan yang lebih mudah. Suasana di dalam mobil jadi agak panas karena Ruby merasa kesal.
"Sudahlah! Ayo berangkat!"
Profesor Song melajukan mobil menuju gudang penyimpanan AlgaCan yang letaknya di area sekitaran pelabuhan.
Kami melewati bangunan sekolahku. Terdapat banyak sekali pelajar yang sedang dalam perjalanan menuju sekolah. Tampak lelah tapi juga bersemangat. Tak ada pilihan lain selain bersekolah. Mengharapkan kehidupan yang lebih baik untuk kedepannya. Berarti begitulah aku tampak di mata orang lain ketika itu.
"Oh! Bukankah baju itu adalah baju yang pertama kali kau pakai ketika menginjakkan kaki di Herakles, Gris?" tanya Ruby.
"Iya."
"Kau bersekolah di sini dulu?"
"Iya."
"Wah ... keren sekali! Aku selalu iri pada orang yang punya kesempatan bersekolah," sahut Ruby mengutarakan perasaannya.
"Seumur hidup aku cuma tau caranya mengais dan mengumpulkan metal bekas."
"Memang kenapa, Ruby? Kenapa kau ingin bersekolah?" Aku menanyainya.
"Karena sepertinya seru, banyak teman."
"Aku bersekolah tapi nyatanya aku tidak pernah punya teman," ucapku.
"Benarkah?"
"Iya. Di sekolahku, tidak ada yang mau berteman dari kelas B sepertiku."
Ruby mendengus. "Itulah kenapa aku benci orang kaya!"
"Tidak semua orang kaya begitu!" bantah Harvey.
"Tau apa kau? Kau bahkan tidak pernah hidup susah!" ujar Ruby.
Atmosfer peperangan kembali tercium. Kami harus mencegahnya selagi sempat.
"Hei, sudahlah! Jangan menghabiskan tenaga untuk berdebat. Aku tak mau mendengarnya!" kataku menyela.
"Siapapun yang bertengkar, aku bersumpah akan menyimpan mulutnya dengan tinjuku!" Profesor Song menambahkan.
Akhirnya Harvey dan Ruby terdiam. Membatalkan peperangan yang tinggal sedikit lagi dimulai.
Tanpa terasa, kami akhirnya sampai di gudang penyimpanan AlgaCan. Mobil kami masuk dengan mudah karena logo yang ada di bagian luarnya.
Penjagaan di sini tidak seketat penjagaan di area pelabuhan.
Setelah memarkirkan mobil, kami langsung masuk ke dalam area gudang. Membaur dan menyamar jadi pekerja yang bertugas memindahkan barang dari truk ke tempat penyimpanan.
***
Kami bekerja selama kurang lebih 8 jam. Mengangkat barang dari satu tempat ke tempat lainnya. Rasanya cukup ringan. Tidak seberat latihan di Herakles yang biasanya harus kami lakukan.
Kami bersembunyi dengan sempurna. Juga memindahkan barang dan menggantinya dengan pasir yang Profesor Song bawa bolak-balik entah dari mana. Kami bekerja sama. Mulai dari mengeluarkan barang, menimbang pasir, sampai mengembalikannya lagi. Tolong-menolong sebagai suatu kesatuan.
Aku memasukkan peti kemas terakhir berisi AlgaCan ke dalam truk yang akan membawanya ke bandara. Setelahnya kami semua tergeletak di lantai karena merasa puas.
Ruby menepuk bahuku. "Kerja bagus!"
"Kau juga! Kalian semua!"
Begitulah, setengah dari tugas kedua Herakles terlaksana.