Soal Pasangan Hidup

1077 Kata
Gaby hanya melirik ke arah pintu begitu mamanya sekonyong-konyong masuk ke kamarnya. “Gaby belum siap untuk punya suami lagi, Ma,” pernyataan itu membuat Dian memelotot. Selama ini, tebakannya benar? Gaby mati rasa? Atau trauma terhadap lelaki? Dian jadi sedih sendiri. Selama ini ada usaha Dian menjodohkan Gaby ke beberapa pria. Tapi selalu gagal. Padahal Gaby masih cantik, Dian jadi mengusap d**a, berharap kesabarannya bertambah. Dian duduk di tepian ranjang. “Gab, paling tidak coba dulu. Mama ada kenalan.” Gaby menggeleng, merajuk. “Aku cuma nggak sanggup serahin hidup Gaby ke orang lain. Apalagi, Gaby punya Airlangga.” “Mama mengerti, Gab.” “Selama ini Gaby berjuang hidup buat Airlangga. Supaya Cahyanto tidak merebut Airlangga!.” Dian tidak tega melihat anaknya menangis. Menunggu beberapa saat sampai Gaby tenang. “Gini, deh, mama janji, cowoknya nggak kayak kemarin. Yang ini lebih baik. Mukanya dan kemapanannya. Gab, biar gimana pun, kamu harus cari pengganti Cahyanto. Kamu masih muda. Carilah pendamping yang akan bikin dunia kamu tenang.” Sebenarnya Gaby tidak mau. Tapi, dari pada mamanya cerewet. Dan apa yang mamanya katakan sebagian benar. Gaby juga ingin tenang, ada seseorang untuk bersandar. “Oke. Kali ini saja, kalo nggak cocok. Gaby nggak mau mama menjodoh-jodohkan Gaby lagi.” “Nah, gitu, dong!” Dian tersenyum dengan lebar. “Mama janji. Kalo yang ini gagal. Kamu bebas.” *** Beberapa meter menjauh dari rumah Gaby, Gathan masih memperhatikan spion. Wanita itu selalu melambaikan tangan dengan senyuman cerianya. Ponselnya lantas bergetar. “Hallo?” sapa Gathan, Vita, tunangannya yang menelepon. “Kok hallo, si? Sayang, dong ...” rajuk Vita manja ketika Gathan menjawab telepon. Gathan tersenyum, kata panggilan itu tidak sanggup Gathan katakan. “Lagi di mana?” tanya Gathan mengalihkan pembicaraan. “Baru selesai kantor. Makan malam bareng, yuk?” Gathan melirik jam, tangannya. “Aku masih jauh dari kantor kamu, Vit. Lagian, hari ini ayah undang aku makan malam di rumah.” “Hampir aku lupa. Congratulations, ya! Aku pasti banyak promosiin universitas kamu ke orang banyak.” Gathan tersenyum simpul. “Terima kasih, Non.” “Sayang, panggil aku sayang, dong! Masa tunangan udah dua tahun, pacaran tiga tahun, masa, aku nggak ada artinya, si, buat kamu?” “Iya, Sayang ...” “Nah, gitu, dong ...” Kalau dengan Vita, Gathan tidak banyak bicara. Dia cenderung menuruti apa permintaan Vita. Bahkan kembali ke Jakarta. “Vit, sepertinya mulai besok aku akan mulai sibuk di kampus.” “Ay, ay, Kapten! Seperti biasa, kan, kamu gak mau diganggu?” “Iya, Sayang, maaf, ya ...” “Malam minggu kita tetep bersama, kan? Kamu udah janji. Sabtu-Minggu hari kita.” Gathan menghela napas, memperhatikan jalanan dan bicara dengan Vita, bukan hal yang mudah. “Aku dengar helaan napas kamu, lho.” Suara Vita seperti agak kecewa. Masa, kembali ke Jakarta, dia harus kehilangan Gathan. Kalau begitu kembali saja ke Australia. “Aku tidak bisa janji apa-apa. Banyak sistem di kampus yang harus diperbaiki.” “Ya, ya, ya, aku mengerti,” balas Vita lagi. “Terima kasih atas pengertiannya, Sayang ...” Gathan sengaja menggoda Vita, supaya tidak uring-uringan. Membujuk Vita kalau ngambek, lebih melelahkan dari pada bekerja seharian. “Oke, aku rasa pergi dulu,” pamit Vita. “Hati-hati di jalan, Sayang,” Gathan lagi-lagi basa-basi, sambungan telepon diputus. Lima tahun berhubungan dengan Vita, dan tak terpisahkan, rasanya membuat Gathan lelah. Tangannya memutar kemudi, berhenti disalah satu rumah mewah kawasan Jakarta Selatan. Rumah ayah dan ibu Gathan. Di garasinya yang luas, sudah penuh dengan mobi-mobil. Sejak ayahnya menjadi calon presiden, rumahnya selalu ramai: wartawan, ajudan dan juga beberapa partisipan pendukung ayahnya. “Apa ibu nggak capek, setiap hari terima tamu?” rutuk Gathan sendiri. Dalam garasi jelas sudah tidak ada tempat. Jadi dia parkir di luar gerbang. Ada beberapa penjaga di rumah besar itu, aman. Pikir Gathan Ada kakak tertuanya di depan televisi ruangan tamu. Gathan mendengar ada pembawa acara berita membawakan berita tentang pencalonan presiden. Ada anak kecil berlarian di dekat kakaknya. Itu keponakannya. “Hei, jangan lari-lari,” peringat kakaknya, Aruna. “Om Gathan!” anak perempuan itu berlari ke arah Gathan lalu memeluknya dengan erat. Gathan tersenyum, lalu menggendongnya. “Pasti kamu kangen sama om.” “Iya. Aku mau makan, sama Om Gathan.” Aruna ada di sisi ruang tamu, tersenyum. “Sorry,” katanya tidak enak dengan adik paling kecilnya. Gathan tersenyum, lalu menuju ke meja makan. Sebagai anak bungsu, Gathan selalu mendukung ayahnya. Tapi, dia muak sendiri kalau setiap hari yang jadi pembicaraan hanya peliihan presiden. Sudah ada ayah dan ibu di meja makan. Gathan mendudukkan keponakannya disalah satu kursi kosong. Lalu menyapa ayah ibu, cium tangan. “Apa kabar anak Ibu?” tanya ibu Gathanm seraya memeluk anak lelaki satu-satunya. “Maunya tinggal sendirian.” “Kalau tinggal di gedung apatemen ayah, namanya bukan tinggal sendirian, dong,” sindir ayah Gathan. Doni Persada. Gathan masih bisa tersenyum, dia menganggap itu adalah lelucon semata. Jadi, harusnya tidak perlu diambil pusing. Ibu menatap Gathan. “Tapi, Gathan kan, juga bayar tinggal di sana, Yah,” timpal ibu, Noni. “Sudahlah, kalau Ayah keberatan, nanti Gathan cari tempati tinggal yang lain.” Gathan memakan makanan yang sudah tersedia di meja. Mengambilkan juga untuk Naomi. “Om Gathan tinggal sama Naomi aja,” celetuk anak itu polos. Membuat semua orang yang ada di meja itu tertawa. Aruna dan suaminya bergabung untuk makan malam. “Naomi, ayo makan dulu,” suruh Aruna ke anaknya yang masih lima tahun. “Tapi aku maunya di samping Om Gathan,” rajuk anak itu. “Ada Om Gathan, nenek sama kakek dicuekin, deh,” ayah Gathan meledek cucunya itu. “Om Gathan kesayangan aku ...” Gathan tersenyum melihat kelakuan keponakannya. Dia mencium pipi Naomi yang putih dan halus. “Elektabilitas ayah naik lagi, ni,” tutur kakak ipar Gathan. “Ah ... kalau di meja makan jangan bicarakan politik. Sebenarnya, semua hal mengenai politik membuat Ayah lelah.” “Ngomong-ngomong, sebagai dewan yayasan, apakah Ayah tahu sistem di kampus seperti apa?” Gathan langsung menceletuk. Doni berdeham, seraya, Noni memperhatikan suaminya. “Sekolah dan kampus, bukan wewenang Ayah. Di sana, Ayah hanya sebagai investor, jadi Ayah ada di dewan komisaris yayasan.” Gathan manggut-manggut. “Harusnya semua program atas sepengetahuan Ayah, kan?” Doni mengangguk, sambil menyuap makanannya. Gathan merasa kalau ayahnya tidak peduli padanya. Hanya sekadar menengarkan. “Ayah masih menaruh perhatian, kan di sekolah-sekolah kita?” Gathan penasaran dengan sikap ayahnya ini.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN