bc

Dear My Berondong I Love You!

book_age18+
29
IKUTI
1K
BACA
HE
age gap
bxg
bold
brilliant
campus
like
intro-logo
Uraian

"Selama sepuluh tahun ini aku terus mengingat malam itu, Gabriella. My Aggelos! Aku hidup dengan bayanganmu dimalam itu. “Apa malam itu tidak ada artinya untuk kamu?"

Gathan menggenggam jemari Gaby. Kali ini dia harus berjuang untuk cintanya. Dan tidak mau disetir oleh orang tuanya.

Gaby perlahan menarik jemarinya. Tidak tega, tapi juga tidak mau memberi Gathan harapan.

“Rasanya semua yang kita bicarakan cukup sampai di sini. Saya permisi,” ujar Gaby.

Tapi sekali lagi, Gathan menahan tangan wanita itu.

Membuat mereka saling bertatapan. “Sekarang, katakan. Kalau malam itu sudah kamu hapus dari ingatanmu.”

Jantung Gaby seperti berhenti beberapa saat. Menatap Gathan tanpa mengedip.

“Malam itu tidak ada artinya sama sekali untukku. Sekarang lepas tangan saya,” tekan Gaby sepenuh hati dia menahan air mata agar mengalir. Menarik tangannya dari cengkeraman Gathan dan berlalu pergi meninggalkan lelaki itu.

chap-preview
Pratinjau gratis
Gaby yang Menuntut!
“Haduh!” keluh Gaby kesal setelah membaca surel internal. Dia mengacak rambut saking kesalnya. “Nyebelin banget, si?” Dumelan Gaby tentu saja menarik perhatian rekan kerja seruangannya. “Ada apa, Bu Gaby?” Gaby terlalu sibuk dengan pikiran yang ada di kepalanya. Jadi, dia tidak mendengar pertanyaan—yang dilontar oleh rekannya. Ada beberapa orang di ruangan itu, mereka saling menatap. “Bu Gaby!” panggilan itu membuat Gaby mencari asal suara. “Apa, si, kriteria dari Dewan Yayasan dan dewan-dewan yang lain untuk jadi dosen tetap?” Hampir menangis saking kesalnya, tapi Gaby tidak bisa. Dia menahan air matanya. “Oh, pengajuan jadi dosen tetap ditolak lagi?” “Again!” pekik Gaby. dia berdiri dari kursinya, tangannya mengepal. “Perlu berapa kali pengajuan untuk jadi dosen tetap?” “Saya, si cuma satu kali,” jawab rekan yang usianya hampir sama dengan Gaby. “Iya, saya juga satu kali, setelah lima tahun, SK tetap langsung turun,” timpal satu lagi yang usianya ada di atas Gaby. “Kenapa saya sudah lima tahun dan sudah tiga kali pengajuan ditolak terus?” berang Gaby tidak terima. Rekan-rekan yang satu ruangan dengannya, mengangkat bahu. “Itu semua tergantung rektor. Di universitas ini keputusan terakhir ada di tangan dia,” jawab salah satu rekannya. Gaby mendengus, makin kesal. Rasanya kemarin kalau dia mencapai target, Pak Rektor akan menurunkan SK tetap untuk Gaby. Sekarang Gaby merasa ditipu. Tapi, dari pada uring-uringan, lebih baik Gaby bertanya langsung ke rektornya. Apa-apaan? Apa kurang keras kerja dan usahanya selama ini? Langkahnya terlalu terburu-buru sepanjang perjalanan ke ruang rektor, Gaby memaki-maki. “Dasar tua bangka! Apa, si, susahnya mengabulkan aplikasi pengajuan dosen tetap?” Gaby seperti orang gila, mengomel sendirian. Beberapa mahasiswa yang berpapasan dengannya di koridor menyapa, tapi Gaby tidak membalas sapaan itu. Napasnya memburu, sesampainya di depan ruangan rektor, tanpa tedeng eling-eling, Gaby langsung mau membuka pintu ruangan rektor. “Eh, Mbak!” Ada asisten, Widi yang mencegahnya. “Mbak Gaby, Pak Soen lagi ada tamu.” “Siapa tamunya?’ tanya Gaby, nada suaranya galak. “Saya tidak bisa bilang, Mbak. Tamu penting, jadi, Pak Soen tidak mau diganggu,” ujar Widi ketakutan. Sementara, Gaby tidak bisa menunggu lebih lama. Amarahnya sampai di ubun-ubun. “Ck!” “Mbak, sabar dulu aja, ya. Saya tahu mbak deket sama Pak Soen tapi bukan berarti bisa seenaknya keluar masuk ruangannya begini.” Gaby menarik napas, andai saja Widi tahu. “Sebelumnya, saya mau tanya, status kepegawaian kamu di sini tetap atau honorer?” “Tetap, memang kenapa?” lau begitu, kamu tidak akan pernah tahu bagaimana rasanya jadi aku yang cuma honorer berulang kali ajukan jadi pegawai tetap tapi ditolak!” pekikkan Gaby terdengar sampai ke dalam ruangan rektor. “Astaga! Mbak Gaby, tolong jangan teriak begitu,” mohon Widi. Melihat wajah Gaby yang masih marah, si asisten itu tergopoh-gopoh mengambilkan minuman untuk Gaby. “Minum dulu, Mbak, minum. Biar tenang sedikit.” “Aku nggak butuh minuman!” Gaby menolak, menjauhkan tangan si asisten dari depan wajahnya. “Saya mau ketemu Pak Soen. Sekarang.” “Yaudah, yaudah paling nggak duduk dulu. Tenang sebentar, nanti aku minta Pak Soen ketemu mbak, ya.” Asisten itu juga tak kalah ketakutan melihat Gaby yang mengomel begini. “Aku juga mau tenang, tapi nggak bisa,” kata Gaby. “Aku marah karena janji Pak Soen, setelah ini mau jadikan aku dosen tetap,” ujar Gaby. Si asisten itu terdiam sejenak menatap Gaby. “Ada apa?” tanya Gaby menantang, tatapan itu rasanya seperti mengatakan ke Gaby, kalau semuanya tidak mungkin. “Tamu Pak Soen adalah rektor pengganti. Karena bulan depan Pak Soen bakalan pensiun,” papar si asisten itu berhati-hati. Gaby kali ini menghela dan mengambil napas, “Gimana bisa? Tidak ada pengumuman sebelumnya atau apa gitu? Harusnya ada pengumuman kandidat, dari dewan-dewan yang di atas sana.” “Pengganti Pak Soen anaknya Pak Komisaris yayasan. Jadi ... kita saling diam dulu, sampai ada pengangkatan.” Gaby mendengkus. “Yang kaya yang berkuasa. Apa, lah, gue ini?” Widi menghela napas, akhirnya Gaby tenang juga. Mungkin ini akan menghiburnya sedikit. “Penggantinya Pak Soen, ganteng, masih muda lagi. Kata asistennya dia laki anti—romantis. Karena belum pernah pacar seumur hidup.” Bukannya terhibur, Gaby makin berang, dia bangkit dari sofa ruang tunggu. Napasnya seperti banteng, kedua tangannya mengepal di samping badan. Tatapannya ke arah ruang rektor. “Dasar orang kaya!” Widi tidak percaya dengan apa yang dia lihat. Dan tidak bisa dicegah, Gaby menerabas masuk ke ruangan rektor. *** Sementara di dalam ruangan, Pak Soen, merasa tidak enak hati. Ada keributan di luar ruangannya. “Maafkan saya, itu pasti mahasiswa yang mau minta tanda tangan. Harusnya Bu Gaby yang urus.” “Bu Gaby?” ulang salah satu tamu pentingnya siang itu, Gathan. Nama Gaby terasa tidak asing di telinga. “Ya, salah satu dosen honorer di sini.” Gathan manggut-manggut, semua itu adalah urusan Pak Soen sebenarnya. Tapi keributan makin lama, makin mengganggu. “Jadi, bagaimana? Papamu dan saya banyak diskusi di telepon tadi malam. Jadi ... kesimpulannya adalah, kamu akan menjadi pemimpin di bisnis pendidikan papamu?” “Kira-kira begitu,” ucap Gathan dingin. Serasa ada gong dekat telinga Gathan karena keributan itu. Pak Soen mengerti kegelisahan Gathan. Jadi dia menyuruh Widi mengusir Gaby, lewat pesan pribadi. “Saya sudah menjalankan sebagian apa yang papamu rencanakan. Jadi selebihnya kamu bisa membuat perencanaan agar papamu bisa maju di pilpres tahap dua.” Gathan tersenyum miring, “Iya, semoga.” Dan semoga janji ayahnya benar, menjadikan Gathan pemimpin dibeberapa unit usaha ayahnya. “Saya akan minta Widi jadwalkan rapat dadakan besok. Untuk pengangkatan resmi. Dan, lusa, kita akan adakan konferensi pers untuk pegumuman resmi ini.” “Oke,” Gathan pikir posisinya akan aman karena kedudukan ayahnya. Hanya ada satu kekhawatirannya. “Masih ada hal yang saya khawatirkan, Pak. Saya harap, bapak bisa memberi petunjuk dan juga menuntun saya.” “Tidak perlu khawatir, kalau melihat pengalaman kerja kamu, rasanya kamu bisa menjalankan universitas ini. Yakin, lah, dekan-dekan yang ada di sini akan membantu kamu, Gathan.” Gathan menatap Pak Soen tanpa mengedip. Beberapa detik kemudian, Gathan mengedip. “Saya harap semuanya lancar,” katanya lagi. Diskusi itu akhirnya terfokus pada Gathan, dan tidak ada suara ribut di luar. Widi memang asisten andalan, puji Pak Soen dalam hati. “Apa kamu mau ganti asisten, atau sekretaris? Saya merekomendasikan Widi. Kamu tahu, kan yang di luar itu, dia cukup handal.” Gathan membuka mulut, belum sempat menjawab. Perhatian Gathan dan pak Soen tiba-tiba teralih ke pintu. Seseorang membuka pintu dengan kasar.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

B̶u̶k̶a̶n̶ Pacar Pura-Pura

read
155.8K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
233.9K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
188.9K
bc

TERNODA

read
198.9K
bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
30.7K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
62.4K
bc

My Secret Little Wife

read
132.1K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook