Suara pintu yang dibuka kasar mengalihkan perhatian Pak Soen dan Gathan.
“Saya mau bicara empat mata, Pak Soen,” ujar Gaby dengan suara dingin dan menuntut. “Saya menuntut janji Anda.”
Gathan memicingkan mata, Gaby berdiri di ambang pintu. Menutupi cahaya, hingga wajahnya tidak terlihat jelas.
“Siapa itu, Pak Soen?” tanya Gathan tajam.
Pak Soen panik, bisa-bisanya Gaby menerabas masuk ke ruangannya. Dia langsung menghampiri Gaby.
“Nanti saja, bisa, kan, Bu?” Pak Soen tak kalah kesal melihat kelakuan dosen ini. Namun, tidak biasanya Gaby mengamuk begini. Gaby biasanya mudah dikendalikan.
“Saya mau sekarang!” geram Gaby, matanya tajam menatap Pak Soen.
Sementara, Gathan memperhatikan wajah Gaby, yang rasanya tidak asing.
“Katakan, apa yang kamu mau?” tanya Gathan tiba-tiba, mengalihkan perhatian Gaby dan Pak Soen.
“Ehm, Pak Gathan ada baiknya kalau ...”
“Biarkan Bu Gaby bicara,” sergah Gathan, matanya tidak beranjak dari Gaby. “Biarkan dia bicara dulu, Pak Soen.”
Gaby sekarang bingung, harus apa dirinya? Masa bukannya Pak Soen yang mewakili dirinya.
“Silakan Bu Gaby.”
“Aplikasi permohonan pegawai tetap saya ditolak sudah ajukan tiga kali. Menurut peraturan di sini, setelah masa kerja lima tahun, bisa menjadi pegawai tetap.”
“Berapa tahun kamu ada di sini?” tanya Gathan penasaran, dia mendekat ke arah Gaby. Sekadar ingin menegaskan wajah wanita itu.
Rasa penasarannya bertambah ketika pelan-pelan melihat rambut panjangnya yang hitam. Gathan suka sekali dengan rambut itu, dan badannya yang semampai.
“Enam tahun,” jawab Gaby.
“Ya, kamu sudah enam tahun di sini, tapi ijasah S2 kamu belum ada,” celetuk Pak Soen.
“Bukankah, itu tertahan karena masalah biaya?” Gaby mengkonfirmasi semua ucapan Pak Soen terhadapnya beberapa waktu lalu. “Dan, bapak sudah berjanji kepada saya akan membantu, kan?”
Gathan sekarang menatap tajam Pak Soen. “Apakah universitas ini selalu menyulitkan?”
“Gini, Pak Gathan, biar saya jelaskan dulu. Bu Gaby ini ambil program beasiswa S2 di kampus ini dan setelah lulus memang harus mengabdi jadi dosen ...”
“Lalu? Apa masalahnya sehingga dipersulit? Apakah dia sudah dinyatakan lulus?”
“Sudah. Tepat lima tahun lalu.” Gaby menatap Pak Soen dengan tajam, lalu menghela napas. Dalam hatinya memaki-maki, dasar tua bangka tidak tahu diri.
“Siapa tadi nama asisten bapak?”
“Widi.”
“Kamu bisa minta Widi ke sini?” tanya Gathan menatap Gaby yang diam-diam juga menatap Gathan.
“Oke,” jawab Gaby, secepat kilat dia sudah ada di depan meja Widi.
Dan Widi yang kebingungan ada apa dipanggil oleh Gathan?
“Ada apa, Pak Gathan panggil saya?” tanya Widi tak pelak ketakutan juga. Melihat wajah Gaby yang juga tegang.
“Pak Soen bilang besok akan ada rapat dadakan untuk pengangkatan saya sebagai rektor di sini. Tolong kamu siapkan,data administrasi. Khususnya terkait dengan beasiswa dengan ikatan dinas seperti Bu Gaby. Harusnya kalau dia dapat beasiswa S2, semua biaya ditanggung yayasan apalagi kalau terikat dinas di universitas ini. Karena semua biaya yang diperlukan dipotong dari gaji.”
“Ya, selama lima tahun ini, gaji saya pun dipotong,” celetuk Gaby.
“Apa hanya kamu yang mengalaminya?” tanya balik Gathan.
“Memangnya, bapak siapa?” Gaby malah balik bertanya.
Sementara, Pak Soen ketakutan, ini semua kebijakannya. Tapi tidak menyangka kalau Gaby bersuara. Kalau begini bisa gawat.
“Saya rektor universitas ini yang baru. Meski baru mulai besok mengabdi, tapi yayasan dan dewan komisaris sudah menyetujui pengangkatan ini.”
Pak Soen tidak bisa menolak dan tidak menjawab apa pun.
Dahi Gaby mengerut menatap Gathan.
Semua yang ada di ruangan itu diam.
Gathan menarik napas. “Enam tahun saya rasa cukup untuk mengenal seluk beluk universitas ini.”
Tidak ada yang menjawab.
“Saya jadi rektor baru ...” Pak Soen yang akhirnya menjawab.
“Bukan Anda, Pak Soen. Tapi dia,” telunjuk Gathan menunjuk Gaby.
“Saya?” Gaby menunjuk dirinya sendiri.
“Ya, Anda. Nona ... Gaby?”
“Panggil saya Gaby saja,” jawabnya. Nona? Serasa Gaby ada di awang-awang. Gathan terus menatap Gaby seperti masih mempertanyakan mengapa tidak boleh pakai kata nona?
“Kalau mau panggil pakai mbak. Iya, pakai mbak,” kata Gaby lagi tidak enak.
“Atau pakai ... Kakku?”
“Kakku?” ulang Gaby. Sepersekian detik jantungnya seperti berhenti berdetak. Dia pernah mendengar panggilan itu.
“Maaf, Pak Gathan, apa itu kakku? Apa Pak Gathan bisa memanggil dengan sebutan mbak aja, atau ibu seperti saya?” usul Pak Soen.
“Saya pikir itu hak prerogatif saya, Pak Soen,” jawab Gathan.
Widi yang menyimak dengan sesama mengangguk-angguk. Lagi pula itu adalah panggilan yang unik. Bukankah tidak ada masalah sama sekali?
“Dan ... tadi Pak Soen bilang, apakah saya perlu asisten atau tidak. Saya mau Gaby jadi asisten saya.”
“Tidak bisa, Pak!” sahut Gaby secara langsung.
Dahi Gathan mengerut, matanya tajam menatap Gaby.
Gaby seperti tidak mau terintimidasi, dia balik menatap Gathan dengan tatapan tajam pula. “Saya punya anak bimbingan skripsi. Otomatis kalau saya jadi asisten, waktu saya habis untuk pekerjaan itu.”
“Berapa banyak anak bimbinganmu?”
“Mungkin semester ini sepuluh.”
“Laki-laki berapa banyak?”
“Ada enam, sebagian dari kelas akuntansi,” jawab Gaby.
“Kalau begitu, bagi dua dengan saya. Saya yang bagian lelaki kamu perempuan. Dan ingat, semua perkataan saya adalah perintah. Jadi, tidak ada yang bisa melawan. Paham kalian?”
Dahi Gaby mengerut makin dalam. Mana ada rektor jadi dospem? Dia lalu menyilangkan tangan di depan dadanya.
“Ingat. Kamu inginkan jadi dosen tetap, kan?” tawar Gathan.
“Ya, tapi ...”
“Kamu tinggal tunggu satu minggu, semua akan saya bereskan.”
“APA?!” Widi, Pak Soen dan Gaby menyahut bersamaan.
“Apa bapak pikir karena berkuasa bisa lakukan apa saja?” tantang Gaby, bertolak pinggang.
Gathan mengangkat tangan, tidak mau bicara sama sekali.
“Besok kamu temui saya di sini,” ujar Gathan. Dia lalu mengambil jas yang disampirkan di sofa. “Dan ingat, Kakku, jangan telat!”
Gathan berjalan melewati Gaby yang masih terpaku. Matanya menatap kepergian lelaki tinggi atletis itu, tanpa mengedip sekali pun. Mulutnya menganga, siapa, si dia?
“Apa bapak yakin?” tanya Gaby ketika Gathan sudah ada di ambang pintu.
Gathan membalik badan. “Yakin.” Senyumannya mengembang. Sekilas, Gaby ingat sedikit, wajah itu rasanya pernah dia lihat.
Gaby serba salah, “Anda hanya melihat saya beberapa menit lalu langsung yakin?”
“Saya tidak melihat Anda hanya beberapa menit, Bu Gaby. Saya sangat mengenal Anda,” jawaban Gathan membuat semua yang ada di ruangan itu mengerut dahinya.