“Mbak Milla katanya ada ayang mau ketemu,” ujar satpam.
“Oh, suruh masuk aja!” wajah Milla beubah jadi semringah. Paling tidak kalau ada Gabriella, Gathan masih ada harapan.
“Pacarnya, ya?” celetuk Gathan, penasaran, siapa yang datang, sampai Milla semringah begini.
Milla mendelik ke arah anak itu. Lalu dia menyambut seorang wanita. “Silakan masuk, Mbak Gabriella. Bapak udah nunggu dari tadi.”
Siapa, si, disambut banget? Gathan menggerutu sendirian. Matanya tidak lepas melihat ke arah perempuan yang disambut oleh Milla. Cantik! Katanya dalam hati.
Tapi, sedetik kemudian, Gathan mengumpat. Apaan, cantik? Apa mata gue yang udah hampir buta?
Sementara, Milla menunjukkan ruangan papanya Gathan.
“Bapak mau ketemu dulu sama Mbak Gabriella. Nanti, bapak juga yang jelasin sistem pekerjaannya, ya,” Milla membukakan pintu ruangan dan membiarkan Gabriella masuk.
“Pak, ini Mbak Gabriella sudah datang,” kata Milla dengan semringah.
Papa Gathan sedang bertelepon di ruangannya. Dia tersenyum ke arah Gabriella, lalu menutup penyuara telepon. “Duduk dulu, ya. Milla, panggilin Gathan,” suruhnya.
“Baik, Pak.”
Doni segera menyelesaian pembicaraannya di telepon, dia menghampiri Gabriella.
“Saya Doni, papanya Gathan. Milla mungkin sudah cerita tentang anak saya?”
“Sudah, Pak,” jawab Gabriella.
“Kalau begitu, bagaimana? Apakah Anda bersedia menjadi guru pendamping anak saya? Terus terang, saya sudah kehabisan akal untuk membimbing anak saya. Dari SD sampai SMA, dia tidak pernah gemilang dalam pelajaran. Soal bayaran, tidak perlu khawatir. Saya paham soal pemasukan Anda dari mengajar les. Jadi, saya menawarkan Anda bayaran sebesar sepuluh juta per bulan.”
“Apa?” Gaby menganga, tidak sangka akan dibayar segitu besarnya.
“Anda akan mengajari Gathan selama enam bulan. Saya banyak mendengar dari beberapa pihak, kalau anak murid Anda banyak yang berhasil.”
Mulut Gaby masih menganga. Tadi, dia tidak salah dengar, kan?
“Apa it kurang?” tebak Pak Doni. “Terus terang saya juga sudah mentok. Begini saja, kalau Gathan berhasil lulus, akan ada bonus tambahan untuk Anda.”
“Hah?” Gaby tidak bisa berkata-kata.
“Tapi, kalau Anda bisa bertahan dan Gathan bisa lulus.”
“Apa?” Gaby masih syok dengan semua ini. Kalau bayaran segitu, dia bisa membelikan mamanya perhiasan itu. Lalu bisa membayar uang kuliahnya.
“Apa Anda setuju?”
“Ya,” jawab Gaby. Tidak ada jalan lain, dia harus setuju. Lalu mengibaskan kepala.
“Oke,” ujar Doni tersenyum lebar.
Disaat yang bersamaan, Milla dan Gathan masuk ke dalam ruangan papanya.
Milla membawakan minuman untuk Gaby.
“Diminum dulu, Mbak,” kata Milla.
Sementara Pak Doni menyuruh Gathan untuk duduk. “Sini, Than, ini guru pendamping untuk kamu.”
Gabriella menatap Gathan yang menurutnya seperti anak orang kaya manja kebanyakan. Penampilan yang berantakan, rambutnya menutupi wajahnya.
Gabriella mengulurkan tangan untuk berjabat tangan.
Gathan memasukkan tangannya di saku celana. Tidak menyambut uluran tangan dari Gaby.
Sialan, maki Gaby dalam hati.
Apa-apaan anak ini! Biar bagaimana pun Gaby tetap tersenyum. “Hallo.”
Pak Dony yang melihat kelakuan anaknya hanya mampu menghela napas. “Ingat, Gathan, kalau kamu tidak lulus. Nama kamu papa coret dari Kartu Keluarga.”
Gathan diam seribu bahasa.
“Mbak Gabriella, kamu akan ditunjukkan oleh Milla di mana tempat kerjamu,” ujar Pak Dony lagi.
“Udah belom? Gathan mau pulang, ni,” ujar anak itu. “Mau ke mal, janjian sama Ethan.” Anak itu menaik-turunkan alisnya.
“Mulai sekarang kamu tidak Ayah kasih uang jajan, Selesai sekolah, langsung pulang. Kalau kamu mau pergi-pergi begini. Silakan pakai uangmu sendiri.”
Gathan mendengkus tidak suka, menatap ayahnya dengan marah.
***
Satu minggu berlalu, Gabriella kewalahan menangani Gathan, anak itu sulit sekali diatur. Setiap hari, Gaby dianggap tidak ada oleh Gathan.
Hih, ini anak kurang ajar, gerutu Gaby dalam hati. Apa pun yang Gaby katakan, Gathan tidak peduli. Tidak mau melihat ke arahnya.
Belum lagi, Gathan selalu memanggil Gaby dengan sebutan Bilbo, Bilbo. Gaby makin kesal.
“Gathan luangin waktu kamu untuk pelajari ini ....” Gaby kehabisan akal, sulit sekali mengendalikan Gathan. Harusnya anak ini sudah cukup dewasa dan sadar tanggung jawabnya.
“Kejar aku, kalau kekejar aku akan turutin perinta Bilbo hari ini, weekk,” Gathan menjulurkan lidahnya ke arah Gaby.
Membuat wanita itu menggeram. Ada untungnya punya anak kecil di rumah dan Gaby terbiasa mengejar anaknya secepat kilat.
Dan, gerakan Gathan yang meledeknya lambat, hingga Gaby dengan mudah mengejar anak itu.
“Kena!”
Gathan terus terang kaget, kausnya diraup oleh Gaby dari belakang.
Genggaman Gaby kuat dan keras. “Tepati janji kamu. Lelaki sejati tidak pernah ingkar janji.”
Gathan diam, siap-siap mau kabur lagi. Dan Gaby melihat gelagat itu.
“Jangan jadi pengecut!” ucap Gaby.
Gathan mendengkus begitu Gaby berucap pengecut. Mau tidak mau, Gathan mengikuti Gaby. Belajar, hal yang Gathan tidak suka.
Namun, entah berapa lama, dia menemukan keasyikan tersendiri.
Entah dari suara Gaby yang renyah, hingga membuat Gathan semangat dalam menjawab soal. Atau mendengarkan penjelasan Gaby—kadang seperti anak SMA juga. Jadi, Gathan merasa kalau Gaby seusia dengannya.
Gathan paham satu per satu apa yang diajarkan oleh Gaby. Perlahan tapi pasti, Gathan bisa mengikuti pelajaran di sekolah.
Sering, Gaby pulang terlambat karena Gathan terlalu bersemangat belajar.
“Malam!” sapa Pak Dony yang baru pulang beraktivitas. “Ada PR yang sulit atau ....”
“Nggak ada, Yah. Emang kenapa? Gathan kan mau belajar. Masa salah?”
Ayah serba salah, dia mengusap kuduknya. “Tidak, tidak. hanya ....”
“Heran?” celetuk Gathan lagi.
Sementara, Gaby hanya menyimak perdebatan Gathan dan ayahnya.
“Berarti Ayah nggak salah, kan memilih guru pendamping?”
Gathan mengangguk tanpa melihat ayahnya.
Sementara, Gaby hanya tersenyum ramah ke arah Pak Dony.
“Bisa ke ruangan saya nanti setelah selesai?” tanya Pak Dony, ramah kepada Gaby.
Gathan menatap ayahnya, seperti ingin tahu, mau apa ayahnya?
“Iya, Pak,” sahut Gaby.
Pak Dony segera berlalu, pergi dari ruangan tempat Gathan belajar.
Pria itu lantas duduk di sebelah Gaby, “Pokoknya kalo disuru abis kontrak bulan ini jangan mau,” ujar Gathan, setengah berbisik.
Gaby tersenyum. “Emang kalo selesai kontrak sekarang kenapa? Kamu bakalan kangen sama saya?” tanya Gaby.
Sorot mata Gathan beubah jadi memelas. Lalu mengangguk.
Gaby tertaw kecil, konyol! Gathan masih delapan belas, tapi ketika Gathan mengangguk. Hati wanita itu berdesir pelan.
Gaby hanya tersenyum ke arah Gathan. Dan senyuman itu dibalas pula. “Jangan mau, ya, kalau keluar sekarang, bilang aja, kamu lagi butuh uang.”
Dan mana sangka, Gaby mengangguk. Seperti ada di dunia Gathan yang penuh dengan kegembiraan.