Gathan mulai bosan dengan pembicaraan ini. Dia mendengkus pelan ... untung saja ibunya yang bicara, kalau ayahnya, mungkin Gathan sudah marah.
“Apa kamu tidak ingin berkeluarga? Bu pikir, pasti teman-temanmu sudah banyak yang berkeluarga.”
Gathan melamun sesaat, lalu mengangguk. “Mau. Tapi tidak sekarang. Mungkin nanti dua atau tiga tahun lagi. Mungkin, ini bukan hal yang pasti akan Gathan lakukan.”
Ibu akhirnya manggut-manggut, “Baiklah kalau begitu. Semua keputusan ada di tangan kamu, Gathan.”
Anak bungsu itu manggut-manggut. “Akan Gathan pertimbangkan semua saran Ibu.”
Ibu mengangguk, lalu melangkah ke luar dari kamar anak laki-laki semata wayangnya.
Gathan menghela napas, sekali sudah disinggung, mungkin bulan depan, minggu depan, secepatnya besok, Ibu atau Ayah akan membicarakan ini lagi.
Pikiran lelaki itu melayang ke pertemuan tadi siang dengan Gaby. Dan kejadian sepuluh tahun lalu.
Gathan merebah di ranjangnya, memandang langit-langit kamarnya. Hanya dia yang pernah Gathan izinkan ke kamarnya.
Tawa dan keriangan hari itu masih terbayang. Suara renyah tawanya masih terdengar jelas. Gathan tersenyum.
“Mungkinkah, hari itu terulang lagi?” tanyanya sendiri. “See ya tommorow!”
***
Antara Gaby dan Gathan sepuluh tahun lalu ...
“Kamu yakin mau bercerai dari Cahyanto? Pikirkan lagi, Gabriella.”
Dian sudah berpidato panjang-lebar. Tapi, Gaby belum juga berhenti menangis. Satu bulan sebelumnya, Gaby sudah bicara kepada Dian.
Dan, Dian mengira itu hanya emosi Gaby sesaat. Sekarang, Dian kaget kalau keputusan itu sudah bulat. Gaby sudah mengajukan gugatan.
“Sekarang bisanya menangis. Kemarin minta restu ibu kayak mau mati besok. Gimana anak kamu, Airlangga? Dia butuh kasih sayang bapaknya juga. Kamu jangan egois begitu.”
“Airlangga ikut saya, Ma. Saya yang mengurus,” isak Gaby, perpisahan ini berat. Namun, Gaby harus lakukan.
Dian menghela napas. Anaknya ini naif atau bagaimana? Ambil keputusan cerai hanya dalam waktu semalam, mana bisa?
Dian tidak bisa tinggal diam. Dulu juga hidupnya susah dengan papa Gaby, tapi Dian menerima sedemikian rupa.
Anak zaman sekarang kenapa sulit sekali bertahan pada pernikahan?
“Apakah kamu tidak mau bertahan dengan Mas Cahyanto?”
Gabriella menggeleng, tekadnya sudah bulat.
“Kenapa dulu mau menikah dengannya?” desak Dian, air matanya mengalir deras dari tadi.
“Itu ... karena Mas Cahyanto yang mendesak Gaby untuk menikahinya.”
Dian menrik napas, lalu mengembuskannya. Entah berapa kali, Gaby masih berlutut di depan mamanya.
Sulit sekali meminta restu untuk bercerai. Tidak sesulit ketika ingin menikah dulu.
Gaby menyeka air matanya. Tampaknya, dia tidak perlu minta izin lagi sekarang.
“Tekad Gaby sudah bulat. Mama setuju atau tidak, Gaby akan tetap bercerai.”
Dian meraih tangan anak sulungnya itu. Mereka lalu duduk di sofa.
“Setelah bercerai kamu mau apa? Bagaimana kamu menafkahi hidup anak kamu. Lelaki itu semuanya sama. Begitu pisah, dia tidak akan mau tahu semua urusanmu dan Airlangga. Dia anggap bercerai itu kebebasan. Walau sebenarnya, anaknya adalah tanggung jawabnya.”
Dian tak pelak menangis juga, perih hatinya melihat Gaby menderita karena suami pilihannya.
“Biaya hidup kamu dan Airlangga nantinya banyak. Ditambah, kamu juga bayar listrik dan lain-lain. Apa kamu siap? Jangana naif, Gabriella. Semua itu memerlukan biaya banyak.”
“Gaby mau buka kursus dan les, Ma. Gaby harap, Mama mau membantu Gaby selama proses dan usai proses perceraian ini. Gaby harap, Mama mau membantu Gaby menjaga Airlangga. Hanya ini yang bisa Gaby lakukan untuk hidup. Gaby tidak mau terus terjebak bersama orang yang salah.”
Dian terenyuh. Tidak tega dengan pengakuan anaknya, Dian mengangguk.
Gaby membuka kursus di rumah untuk anak SD, SMP. SMA hingga karyawan yang perlu melancarkan kemampuan bahasa asing. Gaby fasih berbahasa Inggris dan Jepang. Selain itu Matematika, Fisika, Kimia, IPS. Kelasnya pun bermacam-macam, dari reguler sampai privat.
Apa pun Gaby lakukan untuk bertahan hidup. Menerima siapa pun yang mau menjadi muridnya.
Setiap anak yang Gaby ajarkan kebanyakan berhasil, entah dalam ujian atau juga tes masuk perguruan tinggi.
“Bu Gaby! Aku lolos SMBPTN!” ujar salah satu anak didiknya.
“Wah! Selamat, ya!” Gaby ikut senang kalau mendengar setiap anak yang lolos seleksi beasiswa ke luar negeri atau lulus dengan nilai yang gemilang.
Ada kepuasan tersendiri dalam d**a Gaby.
Namun, dia juga memendam cita-cita. Bukan hanya puas kalau ada anak yang lolos seleksi atau lulus. Gaby juga ingin lolos seleksi masuk Perguruan Tinggi Negeri, atau lolos seleksi beasiswa ke luar negeri.
Gaby iri dengan para muridnya yang bisa membentangkan sayap meraih cita-cita.
Jadi, Gaby mengumpulkan tekadnya untuk lanjut kuliah S1 sampai S2.
“Gaby ingin lanjut kuliah, Ma,” ujar Gaby dengan riang. Airlangga baru saja bisa berjalan dengan lancar.
Kebahagiaan Gaby bukan karena murid-murid yang diajarkannya berhasil lulus, tapi kebahagiaan sesungguhnya adalah Airlangga yang sudah bisa ini dan itu.
“Airlangga sebentar lagi butuh biaya banyak,” ujar Dian. “Janganlah kamu menghambur biaya untuk kuliah, sementara Airlangga nanti terlantar. Lagi pula, kamu kan perempuan, berhasil dengan tempat les sudah bagus. Kamu harus cari suami lagi!”
“Airlangga gak akan terlantar, Ma. Lagi pula, Gaby kan pakai uang tabungan. Bukan pakai uang operasional sehari-hari,” debatnya. “Kalau cari suami, Gaby belum mau menikah lagi.”
Tekad Gaby rasanya sudah bulat. Tidak ada satu pun yang bisa menghalangi rencananya ini.
Ini untuk masa depan Airlangga juga.
“Pokoknya tidak bisa!” Dian menitahkan Gaby, seolah kali ini tidak bisa dilawan atau ditolak.
Gaby tahu bagaimana membuat mamanya menerima penawaran Gaby.
“Tapi, kan, Ma ...”
“Tidak bisa, ya, tidak bisa!” tekan Dian, tidak ada kompromi lagi. “Kamu itu janda, Tidak usah macam-macam, kalau kamu mau meningkatkan taraf hidup kamu, menikah lagi saja dengan orang yang lebih dari pada Cahyanto!”
Gaby lantas merayu mamanya. “Gimana kalo Gaby belikan cincin dan kalung yang kemarin Mama mau?”
Dia sedikit tertarik, ingin senyum, tapi dia tahan. “Tidak!”
“Bukannya, cincin itu unik ... mirip seperti punya Nia Ramadasi. Ada berian satu karat yang cantik, dan sekelilingnya emas putih,” goda Gaby. “Apalagi kalungnya, duh ... Andai ada yang kasih,” ujarnya lagi, lalu melirik mamanya.
Wajah Dian mulai beubah, dia menatap Gaby dengan seksama. Apa iya, Gaby mampu membelikannya perhiasan macam itu?
“Udah, tidak usah gombal dan bikin janji yang tidak akan bisa kamu tepati,” sindir Dian lagi.
Gaby diam seribu bahasa.