Pengakuan Gathan

1040 Kata
Gathan memejam sambil meremat sendok yang sudah dia ambil. Apakah tidak ada rasa sama sekali dalam hato Gaby? Tanya Gathan dalam hati. Dan sekarang tekadnya bulat ingin mengatakan semuanya kepada Gaby, apa yang ada dalam pikiran dan perasaannya selama sepuluh tahun ini. “Aku tidak mencintainya dengan sungguh-sungguh,” jawab Gathan dingin. Gaby menghentikan kunyahannya, menatap Gathan. Lalu mengambil air yang ada di meja. “Selama sepuluh tahun ini aku terus mengingat malam itu, Gabriella. My Aggelos! Aku hidup dengan bayanganmu dimalam itu. “Apa artinya malam itu untuk kamu?” Uhuk! Uhuk! Gaby terbatuk-batuk mendengar pernyataan Gathan. Air yang ada di mulutnya muncrat. Terkena wajah Gathan. “Ah, sorry, sorry,” ucap Gaby, kelimpungan mencari tisu atau apa pun untuk mengelap wajah Gathan. Lelaki itu mengambil tisu dari tangan Gaby, sambil mendengkus. Lalu menatap Gaby menuntut jawaban. Beberapa menit, Gaby berhasil menenangkan diri, batuknya berhenti. Beberapa saat, Gaby ingin mengatakan kalau Gathan sangat berarti untuknya, tapi, Gaby tidak sampai hati. Mata Gaby membesar, menatap Gathan, tapi lantas dia menunduk. “Aku—” “Jawab aku, Gaby, selama sepuluh tahun ini aku selalu mencari kamu. Apakah kita akan bertemu lagi? Atau mungkin kamu menemukan orang lain ....” “Aku menemukannya, Gathan, jadi, harusnya kamu tidak bisa menuntut apa pun!” “Apa dia yang kemarin baru kamu kenal?” Gaby mengedikkan bahu, “Mungkin. Aku tidak bisa menjawabnya sekarang.” “Aku juga bisa seperti lelaki itu. Apa yang kamu inginkan dari seorang pria? Uang? Harta? Kasih sayang. Loyalitas? Aku bisa memberikan semuanya.” Gaby menatap Gathan lurus. Ada rasa kecewa dalam dirinya ketika Gathan berkata seperti itu. Gathan menggenggam jemari Gaby. Kali ini dia harus berjuang untuk cintanya. Dan tidak mau disetir oleh orang tuanya. Gaby perlahan menarik jemarinya. Tidak tega, tapi juga tidak mau memberi Gathan harapan. “Aku—tidak bisa, Gathan,” ucapnya lirih. “Kamu bisa kehilangan segalanya. Lupakan aku.” Gathan membeku melihat dan mendengar perlakuan Gaby. Sepuluh tahun bukan waktu yang pendek. “Kamu melupakan aku? Dan semua hal yang kita lalui?” Gathan berkata dengan nada suara yang gemetar. Gaby tersenyum pahit, memilih kata yang tepat saat seperti ini rasanya sulit. Tubuh Gaby gemetar. “Rasanya semua yang kita bicarakan cukup sampai di sini. Saya permisi,” ujar Gaby. Tapi sekali lagi, Gathan menahan tangan wanita itu. Membuat mereka saling bertatapan. “Sekarang, katakan. Kalau malam itu sudah kamu hapus dari ingatanmu.” Jantung Gaby seperti berhenti beberapa saat. Menatap Gathan tanpa mengedip. “Malam itu tidak ada artinya sama sekali untukku. Sekarang lepas tangan saya,” tekan Gaby sepenuh hati dia menahan air mata agar mengalir. Menarik tangannya dari cengkeraman Gathan dan berlalu pergi meninggalkan lelaki itu. Sepanjang perjalanan kembali ke rumah, Gaby menangis tersedu. Kecewa dan terluka sekali lagi dan semua ini karena Gathan? Di dalam taksi Gaby merutuk sendiri, “Bodoh sekali mau saja jatuh ke dalam lubang yang sama,” isaknya, dia meraba dadanya, ada kalung dengan bandul berbentuk hati, kenang-kenangan sepuluh tahun lalu. Air matanya masih mengalir, “Bagaimana mungkin aku melupakan kamu, Gathan? Apa kamu tahu sepuluh tahun ini tidak ada lelaki lain selain dirimu?” Taksi itu terus melaju di bawah hujan deras, seolah mengerti apa yang Gaby rasakan. Sedih karena patah hati. *** “Assalamualaikum!” sapa Gaby begitu masuk ke dalam rumahnya. “Nah, ini dia!” ujar Dian begitu Gaby datang. “Ini, lho, Nak Dito nungguin kamu dari tadi, kamu pergi lama sekali, si? Lagian tadi siapa yang datang?” Gaby tersenyum serba salah, menoleh ke arah Dito dan mamanya bergantian. “Teman, Ma,” jawabnya pelan, tidak ada semangat sama sekali. “Kamu sudah lama. Dit?” tanya Gaby pada akhirnya, kepala dan bajunya sedikit kebasahan. “Ya ampun kamu pake nanya, lagi, udah lama. Apa kamu tidak lihat gelas di meja sudah habis berapa banyak?” celoteh mamanya panjang lebar. Sementara, Gaby menatap Dito tidak tega. “Nak Dito katanya tadi telepon kamu, tapi nggak diangkat.” “Sorry, tadi nggak bawa ponsel,” jawab Gaby. “Aku ganti baju dulu, ya,” katanya dengan sopam. “Silakan,” kata Dito. Dian menyusul Gaby ke dalam rumah. Dia melihat Gaby ada di depan kamarnya, mau ke kamar mandi. “Gaby, dari mana saja, si?” desisnya, “Lama banget!” “Ada urusan, Ma. Permisi, Gaby mau mandi dulu.” Sementara, Gaby belum bisa menghilangkan kesedihannya. Dan, untuk apa Dito datang ke sini? “Sorry, ya, Dit, nunggu lama,” kata Gaby sopan, dia duduk di sofa depan Dito. “Nggak apa-apa, ini salahku juga, kan, tidak memberi kabar dulu,” jawab Dito pelan. “Oh, ya, tadinya aku mau ajak kamu makan di luar, mengingat kencan kemarin gagal ....” Gaby tersenyum lebar, tapi bukan karena lucu atau juga karena bersalah. Entah karena apa, mungkin karena inisiatif Dito yang tinggi. “Rasanya aku masih kenyang karena tadi udah makan juga, sorry, ya,” sesal Gaby, sekaligus ada rasa tidak enak. “Gimana, ya ....” Dito merajuk, “Sebenarnya aku mulai kelaparan karena lama nunggu kamu. Mungkin aku nggak akan sanggup nyetir jauh karena lapar.” “Aduh,” Gaby merasa bersalah. “Gimana kalo aku buatin makanan aja?” Dito tersenyum lebar. “Mau, apa saja yang kamu buatkan aku akan makan dengan lahap!” Gaby tertawa renyah, “Tunggu, ya,” Gaby berjalan ke arah dapur. Mencari bahan apa yang bisa dia masak dalam waktu singkat. Apakah mi instan saja? Atau tom yam? Dari dapur, Gaby melihat Dito yang mengobrol dengan Airlangga. Dia tadi pamit, katanya ada arisan RT. Jadi praktis, sekarang hanya ada mereka saja. “Kamu suka pedas, Dit?” tanya Gaby sambil berteriak dari dapur. “Suka!” jawabnya. Dia menoleh ke arah Airlangga, bicara akrab. “Gimana kalo kita bantu mama di dapur?” usul Dito. “Om aja, deh, aku lagi tanggung, ni, mainnya,” tolak Airlangga. Dito menghela napas, dia langsung bangkit dari sofa. Ke dapur, membantu Gaby memasak. “Aku mau bantu kamu. Kamu bos di dapur ini, jadi aku bisa disuruh apa saja.” “Apa?” Gaby tidak percaya matanya memelotot. “Ya, apa tugas pertamaku?” Gaby tertawa renyah mendengar perkataan Dito. “Oke, bisa ngupas bawang, kan?” Dito diam menatap Gaby lurus.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN