“Mau ke mana kamu?!”
Suara teguran yang terdengar tiba-tiba membuat Kanaya melonjak kaget. Ia bahkan sampai berteriak karena tak menyangka ada yang memergokinya saat berusaha untuk keluar kos.
Di arah keremangan sana, berdiri sesosok perempuan yang Kanaya yakini itu adalah Bu Ning.
“Eh, Mbak Ning. Kaget saya....” Kanaya berusaha tersenyum. Namun Bu Ning menanggapi dengan wajah datar.
“Mau kabur ya?!” tanya Bu Ning galak.
“Nggak, saya Cuma mau keluar sebentar. Saya nggak niat kabur kok. Baju dan barang-barang saya yang lain masih ada di dalam.”
“Bohong! Kenapa mengendap-endap gitu kayak maling?”
“Saya Cuma ngerasa nggak enak kalau keluar jam segini.” Jawab Kanaya.
“Emang! Ini baru habis Maghrib kamu udah mau keluyuran. Mau ke mana sih?!”
“Saya ada keperluan. Mau cari seseorang.”
“Siapa? Cowok? Awas ya, jangan sampai kamu masukin laki-laki ke dalam kamar kos. Saya seret ke penjara kamu!”
“Nggak kok. Saya Cuma mau ketemu aja sebentar.”
“Sama cowok?”
“Iya sih, tapi nggak lama.”
“Ketemu di mana?”
Kanaya berpikir sejenak. Ia sendiri pun tak tahu akan mencari Saeid di mana.
“Dekat-dekat sini....” akhirnya hanya itu kalimat yang keluar dari mulut Kanaya. Ia hanya bisa menunjuk ke sembarang arah. Karena dia sendiri pun tak tahu daerah ini.
“Sebelum jam 9, kamu udah harus balik ke kos. Kalau nggak, saya sita semua barang kamu.”
Kanaya mengangguk. Ia berpikir, ternyata Bu Ning galak juga. Kemarin saat pertama bertemu, perempuan itu tampak lemah lembut. Ah, mungkin saja karena ia belum membayar sewa kosnya.
“Mau cari di mana ya si Saeid?” Kanaya menggerutu sepanjang jalan.
Ia berencana akan mencari di tempat mereka kemarin minum es. Mungkin saja kalau ia duduk lagi di sana, Saeid akan muncul.
Kanaya sampai di tempat yang dituju. Pendar lampu remang-remang menerangi warung tenda kecil itu. Mungkin karena ini habis Maghrib, warung itu terlihat sepi. Hanya ada beberapa anak muda yang tampak duduk sambil merokok.
Kanaya mencari tempat yang masih kosong, untuk duduk dan menunggu kemunculan Saeid yang entah datang atau tidak.
“Mau pesan apa Mbak?” tanya pemilik warung ramah.
“Oh, bentar ya Pak. Saya lagi nungguin temen saya.”
“Nggak mau pesan dulu?”
“Nggak Pak. Tunggu dia aja.” Kanaya menolak sekali lagi.
Kalau diturutkan rasa lapar dan haus, ingin rasanya Kanaya memesan semua makanan dan minuman yang dijual di situ. Tapi, bagaimana mungkin ia berani melakukannya? Ia tak punya uang sama sekali. Iya kalau Saeid yang ditunggu datang, kalau tidak? Bisa-bisa ia bonyok kena bogem mentah dari pemilik warung.
Kanaya gelisah dan celingak-celinguk. Mungkin sudah hampir setengah jam ia menunggu, namun Saeid belum juga menampakkan batang hidungnya. Sementara pelanggan yang keluar masuk warung sudah silih berganti.
“Apa aku harus pesan dulu kayak kemarin ya? Baru Saeid datang?” gumamnya, bicara sendiri.
Ia berpikir, mungkin kalau sudah terlanjur pesan seperti kemarin, Saeid akan nongol dengan membawa uang. Tapi, bagaimana kalau tidak, sementara ia sudah terlanjur memesan dan menyantap habis semua?
Di saat Kanaya merasa sangat frustasi, si pemilik warung kembali mendekati.
“Maaf Mbak. Udah mau pesan belum?”
“Anu Pak, sebentar lagi ya.” Kanaya memohon dengan sangat. Ia benar-benar butuh untuk bertemu dengan Saeid sekarang juga. Kalau tidak, entah ia masih hidup atau tidak esok hari. Karena perutnya sudah sangat melilit akibat kelaparan.
“Kalau belum mau pesan, bisa cari tempat lain aja sementara Mbak? Sambil nungguin temannya datang?”
Tak salah lagi, si pemilik warung sedang berusaha mengusirnya. Padahal kalau dilihat, keadaan warung sedang sepi dan masih tersisa beberapa meja kosong.
“Tapi Pak. Masa’ saya nggak boleh numpang duduk sebentaaaarrr.... aja.” Kanaya memohon, mengharap kebaikan hati si pemilik warung.
“Maaf Mbak. Kalau Mbak tetap duduk di sini, nanti pelanggan yang benar-benar mau makan lalu nggak jadi. Mbak tolong tunggu temannya di tempat lain aja ya.”
Kanaya lemas. Ia seperti sudah tak punya tenaga lagi buat berjalan. Air matanya hampir jatuh. Namun suara seseorang yang seperti ia kenal, membuat ia terkejut.
“Udah, nggak apa Pak Dhe. Biar dia duduk sama saya aja.”
Kanaya menoleh ke asal suara. Darahnya berdesir dan jantungnya berdetak kencang saat melihat siapa yang baru saja bicara. Tak salah lagi, cowok berbadan tinggi dengan kaos oblong dan topi yang sama-sama berwarna putih itu adalah Gavin.
Cowok itu kini berjalan menuju meja tempat ia sekarang duduk. Dengan senyum manis dan tatapan mata yang simpatik, Gavin meminta izin untuk duduk bersamanya.
“Kamu duduk aja, biar aku temenin. Boleh kan?” tanya Gavin.
Kanaya sebenarnya ingin lari saja dari situ. Ia sudah berniat untuk tak berhubungan langsung dengan Gavin. Tapi kebutuhan perutnya melarang mati-matian. Mumpung suami, eh calon suaminya sekarang ada di depan mata, ia akan minta traktir untuk makan dan minum.
Kanaya duduk dengan sikapnya yang salah tingkah. Apalagi Gavin memandang dirinya tanpa kedip sambil tersenyum. Mata Kanaya melanglang buana menyapu ke segala arah, kecuali ke arah Gavin tentunya.
“Pesan aja...” kata Gavin, membuat jantung Kanaya hampir copot karena grogi.
Apa-apaan ini, kok bisa dia jadi salah tingkah saat bertemu dengan Gavin? Padahal, di tahun 2023 mereka sudah hidup bersama selama bertahun-tahun. Tapi sekarang, bertemu Gavin membuatnya seperti seorang ABG yang baru saja kenalan dengan cowok ganteng seantero sekolah.
Masa’ wajah dan tubuhnya muda, hati dan perasaannya juga kembali muda? Merepotkan sekali.
“Pesan apa?” tanya Kanaya, mendadak bego.
“Makan sama minum. Kamu kayaknya kelaparan.” Jawab Gavin, masih dengan senyum memabukkannya.
“Sok tau!”
“Tau lah. Dari tadi tangan kamu gemetar.” Gavin berkata sambil menahan tawa.
Sementara Kanaya malu luar biasa. Cepat ia berusaha menguasai diri agar tak lagi terlihat gemetaran.
“Aku gemetar karena kedinginan. Jangan sok pinter!” Katanya kemudian, berusaha menghilangkan malu.
“Berarti nggak mau nih disuruh mesan makanan?” goda Gavin.
Kanaya memasang wajah sok cool. Jangan sampai Gavin melihat seolah dia yang membutuhkan bantuan saat ini.
“Yaahh, kalau kamu memaksa, mau nggak mau aku terima tawaran kamu. Tapi emangnya kamu yang bayar?” Kanaya memastikan lagi, takut nantinya sudah selesai makan, justru dia yang disuruh bayar.
“Ya iyalah. Kan aku yang nyuruh pesan. Nggak usah takut, aku tunggu sampai kamu selesai makan dan minum.” Ujar Gavin, sambil membetulkan topinya.
Tanpa pikir panjang lagi, Kanaya memesan nasi lengkap dengan lauk pauknya. Ia juga memesan es kelapa muda, untuk mengembalikan kalori dan lemak yang mungkin sudah hilang seharian ini.
Begitu semua pesanannya datang, Kanaya tanpa malu-malu lagi memasukkannya semua ke dalam perut, dengan suapan-suapan tanpa jeda yang membuat Gavin tersenyum geli.
“Pelan-pelan aja makannya.” Gavin berkata dengan lembut. Kanaya sejenak mengalihkan pandangan ke arah cowok yang ada di depannya kini. Namun, sesuatu tak terduga terjadi.
“Habis ini, biar aku antar kamu pulang ya...”
PFFFTTTTT....!!!!
Nasi menyembur dari mulut Kanaya ke wajah Gavin. Waktu dan semua aktivitas di sekitar mereka seakan berhenti. Semua yang ada di situ shock melihat kejadian itu. Sedangkan Gavin, mendadak beku dengan butiran nasi memenuhi wajahnya.
“Aduh, maaf nggak sengaja.”
Kanaya panik, ia berusaha mengambil nasi di wajah Gavin dan mengumpulkannya di piring berisi makanan miliknya. Ia sendiri saja terkejut sampai bisa menyembur seperti itu. Tapi sungguh, itu bukan karena kalimat terakhir Gavin barusan. Ini karena ada seseorang yang dilihatnya sedang berdiri di seberang jalan.
Di sana, ada Saeid yang sedang memandang ke arah mereka dengan senyum dan tatapan mengejek.