Gadis itu tertawa, membuat Kanaya semakin bingung. Apanya yang lucu? Dan lagi, kenapa anak zaman sekarang nggak sopan banget? Bukannya memanggil dengan sebutan Ibu, malah pakai kata ‘kamu’. Setidaknya manggil ‘Mbak’ ataupun ‘Kakak’. Biar bagaimanapun, ia jauh lebih tua dari gadis songong di hadapannya ini. Kanaya hanya bisa merutuk dalam hati.
“Nggak usah manggil Adek lah. Kita mungkin seumuran. Malah kalau dilihat, kamu lebih muda dari pada aku. Umurku 21, dan aku udah Mahasiswi. Sedangkan kamu, mungkin masih belasan. Kamu pindah sekolah SMA di sekitar sini ya?” gadis itu terus nyerocos, membuat kening Kanaya semakin berkerut.
Entah itu pujian atau ejekan. Entah Kanaya harus merasa tersanjung atau tersinggung. Kenapa dia dibilang masih berumur belasan? Masih SMA? Cewek di depannya ini mabuk lem kah? Atau lupa pakai kacamata?
Namun Kanaya langsung sadar, kalau wajar saja gadis di depannya ini berkata seperti itu. Karena memang bukankah wajahnya memang muda seperti baru berumur belasan tahun?
“Oh iya, kenalin aku Winda.”
Kanaya menyambut uluran tangan Winda. “Kanaya...” katanya memperkenalkan diri secara singkat.
“Jadi kamu ke sini itu pindah sekolah atau gimana?”
“Eh, nggak juga sih.”
“Trus?” tanya gadis itu lagi.
“Saya Cuma mau nanya, sekarang saya ada di mana?”
“Lah kok bisa nggak tahu kamu lagi ada di mana? Emangnya kemaren pas naik taksi waktu mau ke sini kamu nggak tahu tujuan kamu?”
Kanaya menggeleng. “Sopirnya Cuma bilang mau ngantar ke tempat kost, karena saya minta tolong dicarikan tempat untuk menginap sementara.”
“Kamu lagi di kost-kostannya Bu Ning. Di jalan Cempaka.”
Kanaya tampak berpikir. Selama ia tinggal di kota ini, belum pernah sekalipun ia mendengar nama jalan seperti yang baru disebutkan tadi.
“Ini daerah mana? Maksudku, ini kota apa ya?” Kanaya mulai merasa tak enak hati.
“Kamu beneran nggak tahu? Emang kamu dari mana sih?” tanya Winda penasaran.
“Dari Ketapang.”
“Ketapang Banyuwangi?”
Kanaya menggeleng lagi. “Ketapang Kalimantan Barat.”
Mulut Winda membulat. Ia tampak begitu shock.
“Jauh banget. Kirain kamu orang sini. Hebat juga, kamu berani ya merantau sampai ke luar pulau.” Ujarnya takjub.
Kening Kanaya semakin berkerut dan alisnya semakin bertaut. Luar pulau apanya?
“Ini Pontianak?” tanyanya asal.
“Bukan. Ini Surabaya.”
“Jangan bercanda dong. Nggak baik bohongin orang tua.” Kanaya mulai emosi.
“Siapa yang bohong? Kalau nggak percaya, coba kamu keluar deh tanya sama orang-orang.” Tantang Winda.
“Ngapain sih dari tadi panggil aku kamu kamu? Aku lebih tua dari pada kamu tau! Yang sopan dong!” Kanaya mengomel. Sifat emak-emaknya langsung keluar.
“Nyabu kayaknya nih anak.” Gumam Winda, membuat Kanaya semakin meradang.
“Sembarangan aja kalau ngomong. Maaf ya, saya pergi dulu. Saya nggak ada waktu buat ngomong sama kamu.” Kanaya membalikkan badan, bergegas meninggalkan Winda yang kini memandangnya dengan tatapan heran.
“Tuh anak kenapa sih? Perasaan aku nggak ada salah ngomong deh. Kan dia juga yang nanya ini di mana. Dijawab malah marah-marah. Pake bilang aku bohong segala lagi.” Sungutnya.
Kanaya terus berjalan. Ia mencari di mana keberadaan pemilik kost. Mengikuti nalurinya, ia mendatangi sebuah rumah tunggal bercat coklat yang ada di ujung samping kost. Kanaya yakin, pemilik kos pasti tinggal di situ.
Keberuntungan berpihak padanya. Baru saja ia akan mengetuk pintu, terdengar suara seorang wanita memanggil.
“Lho, ini Adek yang nginep udah dua malam itu kan? Yang dianterin sama sopir taksi?”
Kanaya menoleh dan melihat seorang wanita berusia sekitar pertengahan 30 tahun. Berambut pendek dengan lipstik berwarna merah pekat dan eyeliner tebal. Kanaya kaget, ternyata pemilik kos ini masih muda, kurang lebih seumuran dengan dirinya.
“Mbak yang punya kost ini?” Tanya Kanaya memastikan.
“Iya. Tapi kok panggil Mbak sih? Anak-anak yang lain di sini pada manggil saya Bu Ning.”
“Ah, Mbak mungkin umurnya nggak jauh beda dengan saya. Jadi kayaknya lebih enak kalau dipanggil Mbak.” Jawab Kanaya, kembali tak ingat kalau dia sekarang berada dalam raga seorang gadis remaja.
Bu Ning mengelus rambut pendeknya. Merasa tersanjung karena ada yang bilang ia seperti masih seumuran dengan ABG.
“Eh, jadi gimana Dek, soal pembayaran uang kost-nya?” tanya Bu Ning sesaat setelah tersadar.
“Iya itu yang mau saya tanyakan Mbak. Rencana saya Cuma semalam aja di sini.”
“Lho kok Cuma semalam? Mana ada orang nge-kost Cuma sebentar kayak gitu? Kenapa? Apa nggak sreg sama kos-kosan saya?” Bu Ning terdengar seperti sedang tersinggung.
“Bukannya gitu....”
“Adek mau cari kost lain, mana ada yang nyaman dan murah selain di sini. Di tempat saya sebulan Cuma seratus lima puluh ribu. Kalau cari se-kota Surabaya, nggak bakal nemu semurah ini.”
“Tunggu dulu... Mbak tadi bilang ini ada di mana? Surabaya?” tanya Kanaya memastikan kalau kupingnya tak salah dengar.
“Iya ini Surabaya. Memangnya Adek pikir ini di mana?”
Kanaya diam tak menyahut. Ia malah mengurut kepalanya yang mendadak terasa pusing. Apa benar kalau sekarang ia berada di Surabaya? Tapi bagaimana mungkin?
Tak mungkin hanya dalam waktu satu malam ia bisa sampai ke tempat yang sangat jauh. Apalagi sampai ke luar pulau. Dan yang lebih tak masuk akal lagi, dia sama sekali tak terbangun selama dalam perjalanan. Sebenarnya, apa yang terjadi?
“Adek nggak apa?” tanya Bu Ning cemas melihat Kanaya yang tampak pucat.
“Nggak pa-pa Mbak. Saya Cuma sedikit pusing. Saya mau balik istirahat di kamar dulu, boleh?”
“Iya ke kamar aja. Adek mungkin pusing karena belum ada makan.”
“Iya mungkin Mbak. Perut saya emang terasa pedih.” Kanaya memegangi perutnya sambil meringis.
“Tunggu di sini. Saya ada roti di dalam.”
Bu Ning masuk ke dalam rumahnya. Tak lama kemudian ia keluar dengan membawa sebuah kantong plastik hitam.
“Ini roti isi cokelat. Untuk sementara makan ini aja dulu buat ngisi perut. Nanti kalau udah ada tenaga baru keluar cari makan.”
“Berapa ini Mbak?” tanya Kanaya.
“Udah nggak usah bayar. Makan aja, langsung bawa ke kamar. Ini air minumnya.” Bu Ning memberi sebotol air mineral pada Kanaya.
“Makasih Mbak.”
Kanaya kembali ke kamarnya. Ia langsung membuka plastik berisi roti cokelat itu sesampainya di sana. Karena lapar, ia langsung memakannya. Terasa nikmat sekali. Air minum yang tadi diberi Bu Ning juga membuat segar tenggorokannya.
Sambil memakan rotinya, ia iseng membaca tulisan di bungkus roti. Tiba-tiba ia berhenti mengunyah. Dibacanya lagi tulisan itu dengan saksama.
Berkali-kali ia berusaha meyakinkan dirinya. Tanggal kadaluwarsa di bungkus roti itu terlihat aneh. Di situ tertulis kalau expired date-nya adalah bulan Juli 2007.