Hari sebelumnya,
Kanaya meletakkan kembali canting beras yang ia buat dari kaleng bekas s**u dengan sedikit luapan emosi. Tak ada lagi tersisa butiran beras di sana. Kalaupun ada, mungkin hanya tersisa seperempat canting saja.
“Ma, lapar....” Anzani mengelus perutnya.
“Iky juga Ma....”
“Dedek juga...”
Suara ketiga anaknya bersahut-sahutan. Sekarang memang sudah hampir jam setengah sebelas siang, dan mereka memang belum ada sarapan. Bukannya Kanaya tak mau memasak, tapi tak ada yang bisa di masak.
Beras habis dan isi kulkas kosong. Hanya ada air minum. Sementara Gavin suaminya masih tidur mendengkur di dalam kamar.
Kanaya geram, Gavin belum memberinya uang untuk belanja pagi ini. Entah jam berapa suaminya itu semalam pulang, Kanaya sudah tak sadar.
“Papa belum bangun?”
“Belum Ma,” Sahut Anzani, anak sulungnya.
Dengan sedikit emosi, Kanaya ke kamar. Di dalam sana, terdengar suara Gavin yang mengorok. Lampu kamar dihidupkan, dan Kanaya mulai membangunkan Gavin.
“Vin, bangun... Udah jam berapa ini?”
Gavin menggeliat sesaat, matanya terbuka sebentar.
“Setengah jam lagi ya. Aku capek banget semalam habis lembur.” Suara Gavin terdengar sengau.
“Kalau gitu aku minta uang aja, buat beli beras sama lauk. Ini udah mau tengah hari. Aku belum masak apa-apa,” pinta Kanaya.
Tapi tak ada jawaban. Ternyata Gavin sudah kembali terlelap. Kanaya berdecak jengkel.
“Bangun Gavin...! Kalau masih mau tidur, seenggaknya kasi aku uang buat belanja. Anak istri kamu kelaparan gini, kamu malah enak-enakan tidur.”
Kanaya menggoyang badan Gavin dengan kesal. Gavin akhirnya terbangun karena merasa guncangan di badannya semakin kuat.
“Aku belum dapat uang, Naya. Pelanggan yang kemarin ngambil alat mobil belum lunas bayar. Kemarin ada seratus ribu, kuberikan ke Ajul. Kasian dia nggak pegang uang sama sekali.” Gavin menjelaskan sambil duduk, namun matanya menutup.
“Ya terus, kamu pikir kita ada pegang uang? Kenapa malah duluin Ajul sih?”
“Dia kerja sama kita, Naya. Lagi pula pelanggan yang kemarin udah janji mau bayar hari ini.”
“Tapi aku sama anak-anak lapar, Gavin. Masa’ kamu nggak pegang uang sama sekali?!”
“Ada tapi Cuma sepuluh ribu.”
“Mana cukup! Beli beras sekilo aja nggak bisa!” geram Kanaya.
“Kamu nggak ada pegang uang?” tanya Gavin.
“Uang dari mana? Kalau kamu izinkan aku kerja sih, mungkin aku bisa dapat uang.”
“Maksudku, uang yang kuberi nggak ada sisanya?”
“Nggak ada! Emangnya yang kamu kasi banyak? Bisa makan tiap hari masih untung. Aku heran, kamu kerja siang malam, tapi nggak ada pegang uang. Ke mana semua uang kamu selama ini? Padahal sampai nggak pernah kumpul dengan anak istri. Kayak semalam, entah jam berapa kamu baru pulang. Tapi beli beras aja nggak ada duit. Apa sih yang kamu lakukan di luar, Gavin?!” Kanaya mulai emosi.
Gavin meraup mukanya dengan kasar. Matanya masih sangat mengantuk tapi sudah mendengar omelan istrinya itu.
Setelah sempat membuang nafas, Gavin tersenyum sambil menatap wajah cantik Kanaya.
“Ya udah, aku bangun sekarang. Biar kucarikan uang dulu. Jangan marah lagi ya,” ujar Gavin lembut.
“Iya, memang udah seharusnya kamu bangun! Liat aja ini udah jam berapa?! Nggak ada orang yang bangun sesiang ini! Mana mau dapat rezeki kalau jam segini masih tidur!” sungut Kanaya.
“Aku lembur semalam, Nay. Jam empat pagi tadi aku baru sampai rumah. Jadi aku Cuma minta waktu pagi ini buat tidur sebentar aja,” Ujar Gavin, masih dengan nada suara yang lembut.
Lelaki itu memang penyabar dan hampir tak pernah marah meski Kanaya sering memarahinya, terutama beberapa bulan belakangan ini.
“Kamu punya istri lain, Gavin?”
“Maksudnya?” Gavin tak paham ucapan Kanaya.
“Nggak wajar kalau kamu keluar dari sore, paginya baru pulang. Kecuali kalau kamu diam-diam punya istri di luar sana dan tadi malam adalah jatahmu mendatanginya,” sentak Kanaya.
“Kamu ngomong apa sih? Aku kerja, Naya. Kalau nggak percaya tanya Ajul.”
“Bisa aja kalian kerja sama. Makanya kamu malah lebih milih ngasih duit ke Ajul kan dibanding buat beli beras?” Kanaya semakin mendesak Gavin.
Gavin menghela dan membuang nafas dengan kasar. Seketika kantuknya langsung hilang.
“Kamu jangan mikir aneh-aneh ya.” Gavin masih berusaha membujuk istri kesayangannya itu. “Aku akan carikan uang sekarang. Tapi aku mandi dulu.”
Gavin mengelus rambut panjang Kanaya dan beranjak dari tempat tidur, namun Kanaya tak memberi respon apa pun. Wajahnya terlihat masam.
“Ma, bilang Papa, kalau dapat uang, Iky minta dibeliin kue ya,” ujar anak kedua Kanaya.
“Dedek juga, mau kue...” kali ini giliran si bungsu Arshila yang berpesan dengan nada riang.
Kanaya hanya tersenyum tipis. “Iya, nanti Mama bilang ke Papa. Sekarang kalian keluar dulu ya. Mama mau beresin tempat tidur.”
Ketiga anak Kanaya keluar kamar. Kanaya mulai menyusun rapi bantal dan selimut. Saat ia meletakkan ponsel Gavin di atas nakas, matanya menangkap sebuah chat baru masuk melalui jendela notifikasi.
Pupil mata Kanaya membesar saat membaca pesan itu.
[ Asistenku bilang, kamu udah transfer uangnya semalam ya? Nanti aku cek lagi. Makasih ya, ganteng.... ]
Tangan Kanaya bergerak cepat membuka kode kunci di ponsel Gavin. Kanaya tahu karena suaminya itu memang memakai hari ulang tahunnya sebagai kata sandi.
Kini Kanaya membuka aplikasi M-banking. Dari daftar mutasi terbaru, terlihat kalau semalam Gavin memang mentransfer sejumlah uang sebesar dua juta rupiah kepada seseorang.
Kanaya melihat kembali chat yang tadi dan melihat siapa nama pengirimnya. Dan ternyata chat itu datangnya dari seorang wanita yang bernama Mariana.
Tangan Kanaya mengepal. Tak disangka, Gavin memberi uang pada seorang wanita, tapi bilang tak punya uang untuk membeli beras.
Merasa belum puas, Kanaya kembali mengobrak-abrik aplikasi pesan suaminya itu. Dan lagi-lagi hatinya panas saat melihat ada sebuah chat yang lagi-lagi dari seorang wanita.
[ Kapan kita bisa ketemu, Gavin? Mumpung aku lagi ada di kota ini. Udah lama nggak bersua sejak kita dulu putus dan kamu meninggalkan Surabaya. Aku sungguh sangat merindukanmu, Gavin ]
Mata Kanaya memanas, tak menyangka Gavin bermain gila di belakangnya. Ada chat seperti ini, tapi tak ada nama, hanya sebuah inisial, yaitu ‘S’.
Kanaya menebak-nebak, siapa nama mantan pacar Gavin yang dulu tinggal di Surabaya? Apa si Mariana? Sepertinya bukan. Lantas, apakah sampai saat ini Gavin masih terjebak dengan cinta lamanya?
Entahlah, yang jelas hati Kanaya sakit dan hancur saat melihat sebuah chat dari wanita yang pernah menjadi masa lalu suaminya itu. Dan tentu saja, ini tak bisa dibiarkan.