Hujan tipis turun membasahi halaman rumah besar keluarga Jakarsa di daerah Menteng. Pepohonan trembesi yang berjajar di sisi jalan membuat suasana rumah itu tampak lebih tenang dibanding hiruk-pikuk Jakarta di luar pagar.
Di balkon lantai dua, seorang perempuan duduk sambil memegang cangkir teh hangat.
Wajahnya lembut, alisnya rapi, rambut panjang cokelat gelap diikat setengah, membuatnya terlihat dewasa namun tetap manis.
Intan Rahayu Septiani usia 28 tahun, anak tunggal dari Darwin Jakarsa.
Ia memandangi halaman rumah sambil menarik napas panjang.
“Semuanya terasa cepat sekali,” gumamnya pelan.
Dari dalam kamar, suara langkah kaki ayahnya terdengar. Darwin Jakarsa muncul dengan pakaian rapi meski baru pukul tujuh pagi.
“Kenapa tidak sarapan di bawah?” tanya Darwin sambil berjalan menuju balkonnya.
“Aku mau minum teh dulu, Yah.” Intan tersenyum lembut.
Darwin menarik kursi dan duduk di depannya. Meski tubuhnya besar dan wajahnya keras, saat berbicara dengan Intan suaranya selalu melunak.
“Kau kelihatan tidak bersemangat,” ujar Darwin.
Intan menatap cangkir teh. “Ayah pergi pagi sekali. Ada pertemuan?” tanya Intan.
“Iya, dengan keluarga Wicaksono,” jawab Darwin tanpa ragu.
Intan mengangguk, tapi ia tahu ayahnya jarang bertemu seseorang pagi-pagi kecuali itu sangat penting.
“Kami membahas kerja sama besar,” lanjut Darwin. “Rumah sakit keluarga mereka sangat potensial. Kau tahu ayahmu bagaimana kalau sudah bicara bisnis.” ucap Darwin.
“Iya, aku tahu.” Intan tersenyum kecil.
Darwin menatap putrinya beberapa detik, seolah mempertimbangkan sesuatu yang lebih besar.
“Ayah ingin bicara sesuatu,” ucapnya akhirnya. “Penting.”
Intan meletakkan cangkirnya. “Ayah mau aku bantu apa?” tanya Intan.
“Ini bukan soal pekerjaan,” jawab Darwin.
“Ini soal masa depanmu.” lanjut Darwin.
Intan mengernyit. “Masa depanku?”
Darwin mengangguk pelan.
“Ayah ingin kau bertemu seseorang. Putra keluarga Wicaksono.” ucap Darwin.
Seketika Intan diam. Matanya membesar sedikit, tampak kaget tapi tidak menolak.
“Ayah maksudnya seperti?” Ia tak mampu melanjutkan kalimatnya.
Darwin mendengus kecil. “Bukan, ayah tidak langsung bilang menikah. Tapi kalau kalian cocok, Ayah tentu tidak keberatan.” ucapnya.
Intan menunduk. Ia bukan perempuan yang suka melawan. Sejak kecil ia tumbuh sebagai gadis yang patuh, lembut, dan tidak pernah membuat ayahnya kecewa. Ia tumbuh dengan didikan keras namun penuh perhatian, membuatnya terbiasa menerima apa pun keputusan keluarga tanpa banyak bertanya. Namun hari ini, hatinya terasa berat.
“Kenapa tiba-tiba?” tanya Intan.
“Karena Ayah percaya keluarga Wicaksono keluarga baik-baik,” jawab Darwin. “Dan Ayah ingin masa depanmu jelas, kau sudah 28 tahun, Tan. Usia yang cukup matang.” lanjutnya.
Intan memejamkan mata sejenak.
Ia tahu ayahnya tidak berniat buruk. Tapi ia juga tahu dirinya belum siap atau mungkin tidak pernah memikirkan pernikahan.
Darwin mengusap kepala putrinya.
“Kau tidak perlu takut, pemuda itu orang baik. Pendidikannya bagus. Penerus usaha besar. Masa depanmu terjamin kalau bersamanya.” ucap Darwin.
Intan membuka mata dan tersenyum kecil.
“Kalau itu keinginan Ayah, aku akan coba.” ucap Intan.
Jawaban itu membuat Darwin tersenyum puas.
Anak itu selalu seperti itu. Lembut, penurut dan terlalu mengalah pada keadaan. Kadang Darwin merasa bersalah, tapi di dunia yang keras seperti dunia bisnis, ia percaya pilihan terbaik untuk anaknya adalah seseorang yang bisa menjaganya dengan stabil. Bukan laki-laki sembarangan. Bukan orang yang tidak jelas masa depannya. Karena itu Darwin sangat selektif. Dan Danu putra keluarga Wicaksono adalah pilihan yang paling masuk akal.
Setelah ayahnya pergi untuk bekerja, Intan berjalan ke ruang tamu yang besar. Rumah itu sunyi karena hanya ditemani pelayan yang bekerja tanpa banyak suara.
Dalam diamnya, Intan memikirkan banyak hal. Ia ingat namanya Danu Arya Wicaksono.
Aroma politik keluarga, Bisnis, Citra. Dan Tanggung jawab. Itu dunia yang Intan tahu sejak kecil.
Ia duduk di sofa besar, meremas jari halusnya.
“Aku bahkan belum tahu wajahnya seperti apa!” katanya pelan sambil menatap jendela.
Telepon genggamnya bergetar sebuah pesan masuk dari sahabatnya, Mira.
“Tan, nanti jadi ke salon kan? Mau fitting baju juga?”
Intan membaca pesan itu lama, seperti sedang memikirkan sesuatu.
Ia mengetik pelan. “Jadi, jam 3 ya.” balas Intan.
Pukul tiga sore, Intan bertemu Mira di sebuah salon mewah di Kemang. Mira adalah kebalikan dari Intan, ramai, suka bicara, modis, dan hampir tidak pernah bisa diam.
Begitu melihat Intan masuk, Mira langsung berseru.
“Tan! Ini baru dua hari kita nggak ketemu, tapi kenapa wajahmu kayak orang habis diputusin?”
Intan tersenyum lemah. “Nggak ada apa-apa.” jawab Intan seadanya.
“Jangan bohong,” ujar Mira sambil mencubit lengan Intan. “Kamu tuh kalau mikir berat pasti diem, kalau diem pasti ada sesuatu.” lanjutnya.
Intan akhirnya duduk dan bercerita singkat. Soal keinginan ayahnya, soal pertemuan dengan keluarga Wicaksono, soal kemungkinan dijodohkan.
Mira membuka mulut lebar-lebar. “WHAT? Dijodohkan? Tahun berapa, mbak? 1990?” ucapnya terkejut.
“Mira!” Intan menunduk.
“Ya ampun, Tan. Kamu sih terlalu nurut sama ayahmu.” ucap Mira.
“Dia cuma ingin yang terbaik.” ucap Intan.
“Tapi kamu mau nggak?” tanya Mira.
Intan terdiam lama.
Mira menatapnya dengan ekspresi yang lebih lembut.
“Jawab jujur,” bisiknya.
“Kamu mau?”
Intan menggigit bibir pelan.
“Aku… aku tidak tahu, Mir. Aku tidak mengenal pria itu, aku tidak pernah melihat wajahnya. Aku bahkan tidak tahu sifatnya seperti apa.” lirih Intan.
Mira mendesah panjang.
“Tapi kamu tetap mau nurut?” tanya Mira.
“Apa lagi pilihan yang aku punya?” jawab Intan dengan wajah lesu.
“Kamu punya pilihan untuk menolak, Tan.” ucap Mira memberi masukan.
Intan menggeleng pelan.
“Keluarga ini punya banyak beban. Ayah sudah terlalu banyak menanggung, aku tidak mau membebani beliau dengan masalah baru.” lirihnya.
Mira terdiam. Ia tahu Intan memang seperti itu terlalu memikirkan orang lain.
“Ya sudah,” ujar Mira akhirnya.
“Kalau kamu sudah mutusin begitu, aku cuma bisa dukung. Tapi ingat kalau cowok itu nggak baik sama kamu, aku sendiri yang datang ke rumahnya buat jambak dia.” ucap Mira mencoba jadi pahlawan bagi sahabatnya.
Intan tertawa kecil.
Meski singkat, itu tawa yang tulus. Mira memang selalu berhasil membuatnya merasa lebih tenang.
Malam harinya setelah kembali ke rumah, Intan duduk di meja rias. Ia melepas antingnya pelan-pelan sambil melihat pantulan dirinya di cermin.
“Ini sangat cepat,” bisiknya.
Ia bertanya-tanya tentang lelaki yang dimaksud ayahnya. Danu Arya Wicaksono, Dokter, Pengusaha, Wajah serius. Banyak orang bilang ia dingin dan profesional. Tidak pernah terlihat dekat dengan perempuan.
Intan menghela napas.
“Dia pasti punya kehidupan sendiri,” gumamnya. “Dan sekarang aku harus masuk tiba-tiba.”
Nada suaranya pelan, seperti tidak yakin dengan langkah yang harus ia ambil.
Kemudian ayahnya masuk ke kamar setelah mengetuk pintu.
“Kau sudah bicara dengan Mira?” tanya Darwin lembut.
“Iya,” jawab Intan.
Darwin mengangguk. “Besok malam kita akan makan malam dengan keluarga Wicaksono. Kau tidak perlu gugup. Bersikaplah seperti biasa. Kamu anak yang baik siapa pun akan menyukai itu.” ucap Darwin.
Intan tersenyum kecil, meski di dalam hati ia tidak tahu bagaimana harus bersikap di hadapan keluarga sebesar itu, terutama di hadapan laki-laki yang belum pernah ia lihat.
“Baik, Yah.” jawabnya.
Darwin berdiri, mengusap rambut putrinya sebentar.
“Kau akan baik-baik saja. Percayalah.”
Setelah ayahnya keluar, Intan kembali memandangi dirinya di cermin.
Ia menatap pantulan matanya sendiri. Mencari keberanian yang belum ia temukan.
“Aku bahkan belum tahu apakah dia ingin bertemu aku atau tidak!” lirihnya.
Kalimat itu keluar sangat pelan, seolah hanya untuk dirinya sendiri.
Dan tanpa Intan sadari. Di tempat lain, Danu berdiri di depan jendela kamarnya dengan pikiran yang sama.
“Aku tidak siap untuk ini.” gumamnya.
Dua orang yang belum pernah saling melihat sudah sama-sama terjebak dalam keputusan keluarga mereka.