Rumah besar keluarga Jakarsa malam itu terasa lebih hidup dari biasanya. Lampu-lampu taman menyala kuning hangat, pintu-pintu kaca terbuka lebar, dan para pelayan sibuk mondar-mandir menyiapkan hidangan untuk makan malam khusus yang sudah direncanakan Darwin sejak seminggu lalu.
Intan duduk di meja rias kamarnya, merapikan lipstik tipis sambil mencoba menyembunyikan rasa gugup yang berputar di dadanya. Malam ini dia akan bertemu pria yang katanya calon yang sudah dipilihkan ayahnya.
Calon? Cocok? Serius? Kata-kata itu terus bergema, membuat napasnya kadang tersendat.
“Tan, kamu udah siap?” suara ibunya terdengar dari balik pintu.
“Sebentar, Bu,” jawab Intan pelan.
Ia menatap dirinya sendiri di cermin. Rambutnya disanggul sederhana, gaun biru muda yang dipilih ibunya jatuh lembut mengikuti tubuhnya. Tidak berlebihan tidak pula terlalu sederhana. “Rapi, sopan, manis,” kata ibunya tadi.
Intan menarik napas panjang sebelum berdiri dan membuka pintu.
Di lantai bawah, Darwin Jakarsa berdiri di samping istrinya menunggu tamu kehormatannya datang. Malam itu ia tak hanya menjamu keluarga Wicaksono, tetapi juga ingin memastikan bahwa Danu, pria yang digadang-gadangnya sebagai calon, mendapatkan kesan yang baik terhadap putrinya.
“Pak Danu pasti sebentar lagi datang,” kata istrinya sambil memeriksa kembali susunan peralatan makan.
“Bukan Danu,” sahut Darwin. “Namanya Danu Arya. Jangan salah sebut, dia orangnya sangat menghargai detail.”
“Ah ya, ya. Danu Arya.” Istrinya mengangguk.
Darwin sedikit tersenyum. “Anak itu cerdas, terarah, tidak banyak neko-neko. Cocok untuk Intan.” ujarnya.
Belum sempat ia bicara lebih jauh, suara mesin mobil terdengar dari arah depan rumah. Darwin segera melangkah menuju pintu utama.
Sebuah mobil hitam berhenti pelan. Dari dalamnya seorang pria bertubuh tinggi dengan setelan jas abu gelap turun dengan langkah yang mantap. Wajahnya tegas, bersih, dan sorot matanya tenang mewakili kepercayaan diri seorang dokter sekaligus pengusaha muda.
Danu Arya Wicaksono.
Di belakangnya, kedua orang tuanya turut turun. Mereka disambut sopan oleh Darwin yang langsung menjabat tangan mereka dengan hangat.
“Pak, Bu, selamat datang,” ujar Darwin. “Silakan masuk, kami sudah menunggu.” ucapnya sopan.
Danu hanya mengangguk kecil, menunjukkan hormat tanpa berlebihan. Sorot matanya berkeliling singkat, menilai arsitektur rumah besar itu.
Begitu masuk ke ruang tamu, Danu melihat seorang wanita berdiri tak jauh dari tangga.
Intan.
Gaunnya lembut, wajahnya ramah, dan senyum tipisnya membuat suasana terlihat lebih hangat. Namun dari gerakan jarinya yang saling meremas halus, Danu tahu wanita itu gugup.
Darwin memperkenalkan mereka.
“Danu, ini putri saya, Intan.” ucapnya.
Intan sedikit menunduk sopan. “Selamat malam.” ujarnya.
“Selamat malam,” jawab Danu, suaranya datar tapi tidak dingin. Justru terdengar tenang.
Mata mereka bertemu sejenak.
Tidak ada kilat dramatis, tidak ada degupan ekstrem seperti drama cinta instan. Hanya rasa penasaran.
Mereka pindah ke ruang makan ketika seluruh hidangan sudah siap. Meja panjang dengan taplak putih bersih dipenuhi hidangan Nusantara elegan iga bakar, sup gurame, tumis sayur, nasi liwet, dan beberapa camilan kecil.
Ayah Danu mengangkat gelas lebih dulu.
“Kami berterima kasih sudah diundang malam ini. Senang sekali bisa berkumpul.” ucapnya.
Darwin tersenyum. “Kami yang seharusnya berterima kasih.” ujar Darwin.
Suasana makan malam berlangsung hangat. Kedua keluarga membicarakan bisnis, rumah sakit, restoran, kondisi ekonomi, percakapan dewasa yang penuh pertimbangan.
Intan sesekali mencuri pandang pada Danu.
Danu makan dengan rapi, tidak terburu-buru. Sesekali ia mendengarkan pembicaraan ayahnya, sesekali menjawab dengan kalimat pendek tapi jelas.
Sementara ia menatap diam-diam, Intan memperhatikan hal lain.
Danu tidak tampak sombong.
Banyak pria sukses seumur Danu punya gesture angkuh, atau paling tidak terlalu percaya diri. Tapi Danu tenang, seperti seseorang yang sudah tahu arah hidupnya. Lalu tanpa sengaja Danu menoleh.
Tatapan mereka bertemu lagi.
Intan buru-buru memalingkan wajah, pipinya memanas.
Danu tidak berkata apa-apa, tetapi terlihat sudut bibirnya terangkat sedikit. Seperti menahan tawa kecil.
Gugup campur malu, Intan mengambil air minumnya dan menyesap perlahan.
Setelah makan malam selesai, Darwin mengarahkan kedua keluarga untuk berbincang santai di ruangan belakang, sebuah ruang luas dengan dinding kaca yang menghadap taman.
Di sini, pembicaraan mulai lebih serius.
Darwin memulai. “Kami ingin Intan bisa mengenal Danu lebih dekat. Tidak perlu terburu-buru, tapi saya rasa tidak ada salahnya jika kalian mulai berteman.”
Ayah Danu mengangguk. “Kami setuju. Selama kalian berdua nyaman.” ujarnya.
Danu melirik Intan.
Intan membalas pelan.
“Tidak keberatan,” kata Intan dengan suara halus.
“Baik,” jawab Danu. “Saya juga tidak keberatan.” lanjutnya.
Keduanya duduk bersebelahan, tetapi masih menjaga jarak sopan.
“Kalau boleh tahu,” tanya Intan perlahan, “dokter praktek di rumah sakit mana saja?” tanyanya kaku.
“Rumah sakit keluarga di Jakarta Pusat,” jawab Danu. “Sekarang sedang mengurus pembangunan cabang baru.” jawabnya lagi.
“Sendirian mengurusnya?” tanya Intan.
“Tidak, ada tim. Tapi saya yang bertanggung jawab penuh.” jawab Danu.
Intan mengangguk kagum. “Wah, pasti capek.”
Danu menatapnya. “Capeknya hilang kalau menikmati pekerjaannya.”
Intan tersenyum kecil.
Percakapan berlanjut lebih ringan hobi, kesibukan, makanan favorit, tujuan hidup. Danu tidak banyak bicara, tapi jawaban-jawabannya membuat Intan merasa bahwa pria itu tidak sulit didekati. Hanya tertutup dan selektif.
Namun justru karena itu, Intan merasa lebih nyaman. Lelaki seperti Danu memberi rasa aman.
Sementara Danu diam-diam memperhatikan gestur Intan. Lembut, rapi, tenang, tidak banyak bicara, tapi apa yang diucapkannya tidak berlebihan. Ada kedewasaan di balik kelembutannya.
“Jarang saya lihat wanita yang bisa bicara secukupnya,” kata Danu tiba-tiba.
Intan terkesiap. “M-maksudnya?”
“Tidak banyak orang bisa berbicara tanpa melebih-lebihkan.” Danu menatapnya lurus. “Kamu salah satunya.” ucapnya.
Intan terdiam.
Lalu tersenyum kecil. “Terima kasih.”
Darwin dan orang tua Danu yang duduk tidak jauh tersenyum senang melihat interaksi itu.
Malam semakin larut. Setelah kurang lebih dua jam berbincang, keluarga Wicaksono bersiap pulang.
Intan mengantar mereka sampai teras.
“Terima kasih untuk malam ini,” kata ibu Danu sambil memegang tangan Intan lembut. “Kamu anak yang sopan sekali.” ucapnya pada Intan.
“Terima kasih, Bu,” balas Intan.
Danu berdiri satu langkah di belakang orang tuanya.
Ia menatap Intan lama, seakan memikirkan sesuatu, sebelum akhirnya mengangguk kecil.
“Sampai ketemu lagi,” ucapnya.
“Sampai ketemu lagi,” jawab Intan pelan.
Mobil mereka melaju meninggalkan pekarangan rumah Jakarsa.
Intan berdiri diam hingga mobil itu hilang dari pandangan. Ada sesuatu di dadanya yang terasa hangat, tapi juga membuatnya gelisah.
Ayahnya mendekat.
“Bagaimana?” tanya sang Ayah.
Intan menatap ayahnya.
“Baik, Ayah.” jawabnya.
“Bagus.” Darwin menepuk bahunya. “Dia pria yang tepat.”
Intan tidak menjawab.
Bukan karena tidak setuju, tetapi karena malam ini terlalu banyak hal yang datang sekaligus. Perasaan baru, ketertarikan kecil, dan rasa penasaran yang muncul perlahan.
Saat berjalan kembali ke dalam rumah, satu pikiran muncul di benaknya.
Sepertinya tidak buruk mengenal Danu lebih jauh.
Dan tanpa Intan sadari di suatu tempat, seseorang lain mulai mendengar kabar tentang “kedekatan” itu.
Seseorang bernama Laras Ayu Purnama.