SAKIT HATINYA LARAS

1214 Kata
Rumah keluarga Wicaksono pagi itu berjalan seperti biasa. Danu sudah bangun sejak subuh, mandi cepat, lalu bersiap pergi ke rumah sakit. Ia mengenakan kemeja putih bersih dan jas dokter biru tua. Di meja makan, Ibunya menyiapkan roti panggang dan kopi hitam. “Kamu ada operasi hari ini?” tanya ibunya. “Tidak, Bu. Hanya pengecekan dan rapat dengan tim konstruksi dari rumah sakit baru.” jawab Danu. Ibunya tersenyum. “Malam tadi kamu terlihat cocok dengan Intan.” ucap Ibu. Danu berhenti mengaduk kopi. “Biasa saja.” ucapnya datar. “Biasa, tapi kamu tidak terlihat keberatan,” sahut ayahnya sambil membalik koran. “Itu sudah bagus.” Ayah menimpali. Danu tidak menyangkal hal itu. Ia memang tidak keberatan. Intan terlihat sopan, lembut, dan tidak berlebihan. Tidak seperti beberapa wanita yang dikenalkan sebelumnya. Namun Danu juga bukan tipe yang percaya pada perasaan instan. Ia butuh banyak waktu, sebelum yakin pada seseorang. “Kalau kalian memang cocok, ya bagus,” lanjut Ibunya. “Kamu sudah waktunya berumah tangga, Danu.” tambahnya lagi. Danu tidak menjawab. Ia hanya meraih tas kerjanya dan pamit berangkat sambil mencium tangan kedua orang tuanya. Di tempat lain, di sebuah apartemen mewah lantai 28, seorang wanita melepaskan masker sheet mask dari wajahnya. Rambutnya sedang digulung dengan handuk, dan riasan tipis sudah membingkai mata dan bibirnya. Laras Ayu Purnama. Ia baru sampai Jakarta semalam setelah dua minggu pemotretan di Bali. Tubuhnya letih tapi pikirannya sama sekali tidak tenang. Asistennya, Riri masuk ke kamar sambil membawa tablet dan segelas jus. “Mba Laras,” Riri mengoreksi sebelum ditegur. “Ini daftar jadwal minggu depan. Brand kosmetik sudah oke semuanya.” ucapnya. Laras hanya mengangguk. Ia tidak begitu peduli dengan jadwal itu sekarang. “Ri, aku tadi malam dengar sesuatu.” ucapnya pelan. Riri mengangkat kepala. “Soal apa?” “Soal Danu.” jawab Laras. Riri menelan ludah pelan. Ia tahu hanya menyebut nama itu bisa memicu mood bosnya berubah. “Ada apa dengan Mas Danu?” tanya Riri. Laras menatap bayangannya di cermin. Tatapan seorang wanita yang terbiasa mendapatkan apa pun terbiasa dipilih, terbiasa dikejar dan terbiasa dicintai. “Aku dengar dia dijodohkan,” ujar Laras pelan. “Dan semalam mereka makan malam keluarga.” lirihnya. Riri langsung sadar siapa “mereka” yang dimaksud. “ Mba Laras, kamu sudah lama putus. Kamu sendiri yang..” ucap Riri terpotong. “Aku tidak pernah mutusin dia,” potong Laras. “Aku hanya sibuk kerja.” lanjutnya lagi. Riri tidak menjawab karena ia tahu hubungan mereka memang rumit. Danu sudah lelah menunggu dan Laras terlalu ambisius. Keduanya sama-sama keras kepala, tapi pada akhirnya Danu memilih mundur. Namun bagi Laras, hal itu bukan alasan untuk kehilangan. “Dengan siapa beliau dijodohkan?” tanya Riri hati-hati. “Anak Darwin Jakarsa.” jawab Laras. Riri hampir tersedak udara kosong. “Yang punya jaringan rumah sakit itu?” tanyanya lagi. Laras mengangguk pelan. Dan di sinilah masalahnya dimulai. Seorang model terkenal dengan popularitas tinggi dan seorang dokter pengusaha muda dengan reputasi kuat. Hubungan masa lalu yang belum sepenuhnya selesai. Dan seorang ayah berpengaruh di balik perempuan baru itu. Riri tahu betul, Laras bukan tipe yang menerima kekalahan. “Mba Laras apa yang mau kamu lakukan?” tanya Riri lirih. Laras menatap luar jendela. Langit Jakarta sedang mendung, tapi matanya terlihat lebih gelap dari cuaca. “Aku cuma mau lihat dia,” ucapnya. “Aku cuma perlu memastikan sesuatu.” Riri tahu, itu bukan “lihat”. Sementara itu, di rumah keluarga Jakarsa, Intan baru selesai sarapan ketika Ibunya mendekat. “Kamu tidur nyenyak semalam?” tanya Ibunya. Intan mengangguk. “Lumayan, Bu.” “Kamu kelihatan mikir terus.” ucap Ibunya. Intan menunduk, mengaduk teh tanpa alasan jelas. “Cuma kepikiran pertemuan kemarin.” jawabnya. Ibunya tersenyum lembut. “Bagus, itu berarti kamu tidak membencinya.” “Tidak, Bu. Danu orangnya baik. Sopan dan tenang. Hanya saja,” Intan menggigit bibir. “Hanya saja apa?” tanya Ibu penasaran. “Dia sulit ditebak.” ucap Intan. Ibunya duduk di samping Intan. “Justru laki-laki seperti itu biasanya bertanggung jawab. Wajar dia tidak banyak bicara. Hidupnya penuh pekerjaan kamu tidak perlu takut.” ucap Ibu. Intan mengangguk. Ia tahu ibunya benar. Namun sesuatu membuatnya gelisah rasa penasaran yang tumbuh terlalu cepat. Bukan cinta, bukan kagum. Hanya rasa ingin tahu. Tiba-tiba ayahnya muncul dari ruang kerja. “Tan.” panggilnya. “Ya, Ayah?” “Besok kamu ikut Ayah ke acara pembukaan klinik cabang baru. Keluarga Wicaksono juga hadir.” ajak Ayah. Intan terkejut. “Cepat sekali?” “Memang begini. Kalau kalian cocok, tidak ada alasan untuk menunda kedekatan.” ucap sang Ayah. Intan mengangguk pelan, ia tidak bisa menolak. Darwin menatap putrinya. “Ayah tidak memaksamu menikah secepat ini, Tan. Tapi kalau laki-lakinya tepat jangan biarkan kesempatan lewat.” ujarnya. “Aku mengerti, Yah.” ucap Intan. Darwin tersenyum tipis, lalu kembali ke ruang kerja. Intan meremas jemari sendiri. Besok bertemu lagi dengan Danu. Rasanya aneh dan menegangkan. Tapi tidak sepenuhnya buruk. Di rumah sakit, Danu menandatangani beberapa berkas sebelum menerima panggilan dari sekretarisnya. “Dok, ada tamu di lobby. Katanya mau bicara sebentar.” ucap sekretaris. “Pasien konsultasi?” tanya Danu. “Tidak, Dok. Bukan pasien tapi dia bilang kenal dekat dengan dokter.” ucapnya lagi. Danu mengernyit. “Namanya siapa?” tanya Danu penasaran. Sekretaris itu ragu. “Dia bilang Laras, Dok.” Tangan Danu terhenti. Beberapa detik hening. “Baik,” jawab Danu akhirnya. “Suruh dia tunggu di ruang konsultasi 3. Saya ke sana sebentar.” Danu berdiri merapikan jas putihnya, lalu berjalan menuju ruang konsultasi. Napasnya pelan tapi dadanya terasa berat. Hubungan mereka sudah lama selesai. Bukan dengan pertengkaran besar, tapi dengan jarak yang semakin melebar. Laras terlalu sibuk untuk masa depan yang glamor, Danu terlalu realistis untuk mempertahankan sesuatu yang tidak pasti. Ia membuka pintu perlahan. Laras duduk di kursi menyilangkan kaki, menatapnya dengan senyum kecil, senyum yang dulu selalu membuatnya luluh, tapi kini hanya membuat dadanya kaku. “Kamu kelihatan baik-baik saja,” ucap Laras. “Ada yang bisa kubantu?” tanya Danu datar. Laras bangkit berdiri mendekat dua langkah. “Aku cuma mau memastikan satu hal.” ucap Laras. Danu menatapnya tanpa emosi. “Apa itu?” “Benarkah kamu dijodohkan?” tanyanya lirih. Danu tidak menjawab. Laras tertawa pelan. “Jadi benar.” “Tidak ada yang perlu dibahas lagi, Ras.” ucapnya. “Ada.” ucap Laras cepat. Senyum Laras menghilang berganti tatapan tajam yang disembunyikan di balik riasan tipisnya. “Aku tidak akan biarkan dia menggantikan aku begitu saja.” ucapnya sinis. Danu menghela napas dalam. “Aku sudah selesai dengan masa lalu. Jangan campur adukkan semuanya.” ucap Danu. Laras menatapnya tajam. “Belum, Danu. Kamu belum selesai denganku.” Danu tidak membalas. Ia hanya berdiri, menahan nada suaranya agar tetap profesional. “Kita sudah jalan masing-masing,” kata Danu. “Aku harap kamu juga begitu.” lanjutnya lagi. Laras mendekat setengah langkah. “Kalau aku bilang tidak?” “Laras!” ucap Danu meninggi. Laras tersenyum miring senyum yang tidak lagi manis. “Kamu belum tahu, aku selalu dapat apa yang aku mau.” ucap Laras. Dan dari tatapan itu, Danu tahu satu hal. Sesuatu di dalam dirinya mengatakan bahwa nama “Intan” baru saja masuk ke dalam badai tanpa ia sadari.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN