BENIH MASALAH YANG MULAI TUMBUH

1221 Kata
Hari itu langit Jakarta mendung sejak pagi. Intan berdiri di depan lemari pakaiannya memilih baju untuk menghadiri pembukaan klinik cabang baru yang akan dihadiri keluarga Wicaksono. Ia memilih blouse putih dan rok krem lembut. Tidak mencolok dan tidak berlebihan, ia menyisir rambut dengan rapi dan menambahkan parfum ringan. Saat ia menatap dirinya di cermin ada sedikit getaran di dadanya campuran gugup dan antisipasi. Pintu kamarnya diketuk. “Tan, Ayah tunggu di mobil,” kata ibunya. “Sebentar, Bu.” jawab Intan. Intan mengambil tas kecilnya sebelum turun. Di tempat lain tepat pada waktu yang sama, Laras duduk di kursi rias apartemennya sambil menatap layar ponsel. Ia sudah mendapatkan informasi lengkap dari asistennya jam acara, lokasi klinik, siapa saja yang datang, termasuk keluarga Jakarsa. DDan tentu saja Danu. Riri masuk dengan tampang cemas. “Lar—eh, Mba Laras. Kamu yakin mau datang? Itu acara resmi, bukan buat umum.” Laras mengunci layar ponselnya. “Aku tidak akan masuk sebagai tamu.” ucapnya. Riri menelan ludah. “Terus masuk sebagai apa?” Laras berdiri dan mengambil jaket denim, memakainya di atas kaus polos. Ia mengikat rambutnya kemudian memasang masker bedah. “Sebagai siapa pun yang perlu,” jawabnya dingin. Riri tahu, itu artinya Laras akan datang diam-diam. Dan itu tidak pernah berakhir baik. Acara peresmian klinik cabang baru cukup besar, tapi tetap tertutup dihadiri rekan bisnis, beberapa investor, serta tokoh-tokoh penting bidang kesehatan. Ketika Intan turun dari mobil bersama ayahnya, banyak mata memandangnya. Ia terbiasa dilihat karena status ayahnya, tapi tetap saja itu membuatnya ingin bersembunyi. Darwin menggandeng bahunya. “Tenang saja, Tan. Kamu hanya perlu bersikap biasa.” Intan mengangguk. Di pintu masuk, keluarga Wicaksono sudah lebih dulu tiba. Ayah dan Ibu Danu menyambut Darwin dengan ramah. Danu berdiri sedikit di belakang memerhatikan Intan dari jarak beberapa langkah. Ketika tatapan mereka bertemu, Danu sedikit mengangguk. Intan membalas dengan senyum kecil. “Tan, kamu duduk saja dengan Danu di dalam,” kata Darwin. “Ayah mau menyapa beberapa kolega dulu.” lanjutnya lagi. Intan mengangguk lalu mendekati Danu. “Selamat pagi,” ucap Intan lembut. “Selamat pagi,” balas Danu. “Kamu datang dengan Ayahmu?” “Iya, dia yang mengajak.” jawab Intan. “Bagus, acara ini cukup penting.” ucap Danu. Mereka berjalan berdampingan memasuki aula klinik. Suasana cukup ramai namun tertib. Intan sesekali mencuri pandang ke arah Danu, yang terlihat fokus mengamati setiap detail ruangan. “Ini klinik cabang kedua?” tanya Intan. “Ketiga,” jawab Danu. “Yang ini dikonsepkan untuk pelayanan cepat dan spesialis tulang.” tambahnya. “Wah, kedengarannya besar sekali.” ucal Intan kagum. “Tidak sebesar rumah sakit pusat, tapi cukup strategis.” ucap Danu. Intan mengangguk kagum. “Kamu pasti bangga.” Danu meliriknya sebentar. “Ya. Walaupun masih banyak yang harus dikerjakan.” Ada nada jujur dalam kalimat itu. Tidak menyombongkan dan tidak meremehkan. Itu yang membuat Intan makin nyaman bicara. Di luar gedung, sebuah mobil berhenti cukup jauh. Laras turun dengan hoodie hitam dan masker, menyelinap seperti orang biasa. Ia memegang topi baseball dan menunduk agar tidak dikenali kamera. “Sini Mba,” bisik Riri yang sudah datang lebih dulu. Laras mengangguk dan mengikuti Riri menuju pintu samping tempat para vendor dan staf keluar masuk. “Kalau kamu masuk lewat sini..” ucapnya terpotong. “Aku tahu caranya,” potong Laras cepat. Riri menggigit bibir. “Kamu benar-benar mau lihat mereka?” tanyanya. “Ya.” jawab Laras. Nada Laras terlalu datar untuk dibantah. Sementara itu, acara pembukaan dimulai. Beberapa orang penting memberikan sambutan. Intan duduk di kursi barisan kedua bersama Danu. Sesekali seseorang memanggil nama Danu untuk menyapa. Ia menjawab sopan, lalu kembali duduk tanpa banyak bicara. Intan memperhatikannya. Ia menyadari satu hal penting. Danu mungkin terlihat dingin, tapi bukan tidak peduli. Ia hanya memilih bicara seperlunya. Saat pembawa acara memanggil perwakilan yang terlibat dalam pembangunan klinik untuk maju, Danu berdiri. “Eh,” ucap Intan sedikit gugup. “Semoga lancar.” Danu menatapnya singkat tapi cukup dalam. “Terima kasih.” balas Danu. Ia naik ke podium dan mulai berbicara. Suaranya tegas, tidak terlalu keras, penuh keyakinan. Intan merasa seperti melihat sisi lain dari Danu, sisi profesional yang sulit dilepaskan dari karakter aslinya. Ia tidak hanya tampan, dia mapan, jelas, dan terarah. Seseorang yang tahu apa yang dia mau. Dan entah kenapa, hal itu membuat jantung Intan berdetak sedikit lebih cepat. Dari balik dinding kaca sisi samping aula, seseorang memperhatikannya. Laras berdiri diam, menatap Danu di atas panggung. Matanya tidak berkedip seperti ingin menangkap setiap gerakan kecil pria itu. “Mba kita harus pergi sebelum ada yang mengenali,” bisik Riri panik. Laras tidak menjawab. Ia hanya menghela napas panjang. “Aku tahu Tuan Darwin ada di sini,” ucapnya pelan. “Dan dia membawa putrinya.” ucapnya lagi. Riri menegang. “Kamu mau apa, Mba?” Laras menatap kembali panggung. “Aku cuma mau tahu seberapa jauh hubungan mereka.” jawab Laras. Dan ketika matanya mengikuti arah tatapan Danu setelah turun dari podium yang langsung mengarah ke kursi tempat Intan duduk Laras seperti merasakan sesuatu menusuk keras di d**a. Danu berjalan kembali ke tempatnya. Intan menyambutnya dengan senyum lembut. Terlihat Laras mengepalkan tangan. Acara berlanjut ke sesi tour keliling klinik. Para tamu dibagi dalam beberapa kelompok kecil. Intan dan Danu berada di kelompok yang sama. Saat berjalan dari satu ruangan ke ruangan lain, Intan bertanya, “Kamu ikut mengatur desain interiornya?” “Sebagian,” jawab Danu. “Yang teknis saja.” “Kamu detail ya.” ucap Intan. Danu menoleh sebentar. “Kamu juga kelihatannya begitu.” Intan tersenyum malu. Di belakang mereka tanpa disadari, seseorang diam-diam mengikuti dari kejauhan, Laras. Ia terus menjaga jarak aman agar tidak terlihat, tetapi cukup dekat untuk mendengar potongan percakapan. “Aku tidak suka gaya jalannya,” gumamnya lirih. “Aku tidak suka caranya tersenyum.” “Aku tidak suka cara Danu menatapnya.” ucap Laras. Riri menggigil. “Mba ini bukan ide bagus.” Laras meremas lengan Riri. “Diam dan ikuti aku.” bisiknya. Tour selesai sekitar siang. Para tamu berkumpul di halaman depan untuk sesi foto bersama. Terlihat Intan berdiri di samping Danu. Darwin berada tidak jauh dari mereka, berbincang dengan Ayah Danu. Sebelum sesi foto dimulai, Intan berkata kecil, “Terima kasih sudah menemani.” Danu menatapnya sebentar. “Harusnya saya yang bilang begitu. Kamu terlihat nyaman sepanjang acara.” ucap Danu. Intan tertawa kecil. “Aku berusaha.” “Usahamu terlihat,” kata Danu singkat. Intan menunduk malu. Dan itu momen kecil yang terlihat biasa ternyata sangat tidak biasa bagi seseorang yang sedang mengamati dari kejauhan. Laras berdiri di sisi kanan halaman, setengah bersembunyi di balik pilar besar. Ia melihat Danu dan Intan berdiri berdekatan bahkan terlalu dekat dan terlihat cocok. Matanya meredup, napasnya memburu. Bukan karena cemburu semata, tapi karena egonya mulai terusik. Riri memegang bahunya. “Mba, tolong jangan lakukan apa pun yang bisa bikin masalah besar.” ucap Riri mengingatkan. Laras menarik napas panjang kemudian melepasnya dalam senyum kecil yang tidak pernah Riri sukai. “Tenang, Ri. Aku tidak akan buat masalah.” jawabnya santai. Riri belum sempat lega ketika Laras menambahkan, pelan namun sangat tegas. “Aku cuma akan memastikan satu hal, tidak ada yang bisa menggantikan aku di hidup Danu.” ucapnya menyeringai. Dan itulah kalimat yang menandai awal dari badai panjang yang akan menggulung semuanya perlahan, tapi pasti.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN