bc

Pesona Janda Kembang

book_age18+
1
IKUTI
1K
BACA
family
HE
love after marriage
friends to lovers
boss
heir/heiress
drama
sweet
bxg
lighthearted
serious
city
office/work place
like
intro-logo
Uraian

Bagaimana rasanya menjadi seorang janda padahal usia pernikahan yang kita jalani masih terbilang singkat. Lebih parahnya lagi penyebab mengapa kita harus berpisah dengan pasangan yang kita cintai.Inilah yang dirasakan oleh Shania, gadis muda yang baru merasakan kebahagiaan. Namun harus menerima takdir yang sangat menyakitkan. Baru seminggu menikah, wanita berusia 27 tahun itu harus menelan pil pahit saat mengetahui sang suami bermain api di belakangnya.Tanpa rasa bersalah. Arman, suami Shania menjatuhkan talak pada wanita yang sempat ia cintai. Nyatanya cinta yang ia miliki tidak besar.Lepas dari Arman. Shania justru dipertemukan dengan Ziko. Pria tampan, tapi memiliki gengsi yang tinggi. Mereka tiba-tiba dijodohkan oleh kedua orang tua Ziko. Hubungan rumit yang semakin membuat Shania merasa terjerat. Satu sisi, Riko, saudara Ziko, juga berniat merebut Shania.Arman yang tahu siapa Shania sebenarnya, berniat untuk rujuk. Dia kembali mengejar cinta Shania. Ketika Arman ingin memperbaiki semua kesalahannya, semua tidak lagi sama.Shania dihantui oleh 3 pria. Siapa yang akan menjadi pelabuhan terakhirnya? Mantan suami? Atau orang baru? Simak kisah lengkapnya di Pesona Seorang Janda.

chap-preview
Pratinjau gratis
Kamar Pengantin Yang Ternodai
Tangan kurus terus memutar kursi roda yang sedang melaju masuk ke dalam rumah. Rumah yang belum sempat ditempati karena insiden yang tak terduga seminggu lalu. Shania mencoba menguatkan hati, tidak dibiarkan perasaan sedih terus menguasai. Bagaimana tidak, seharusnya sebagai seorang pengantin baru, Shania merasa bahagia. Tapi sayang, semua tidak sesuai harapan. Sejak kecelakaan yang menimpanya tujuh hari yang lalu, Arman sedikit berubah. Tidak ada lagi Arman yang menatapnya dengan penuh cinta dan kasih sayang. Tidak ada lagi sorot mata penuh kekhawatiran saat dirinya terluka, seperti yang dulu diberikan. Semua lenyap tanpa sisa. Entahlah, apa itu hanya sekedar perasaan Shania, atau memang benar faktanya. Shania tak mengerti, mengapa Arman berubah. Apa mungkin karena banyak pikiran? Apa mungkin teramat sedih ketika melihat semua yang terjadi pada dirinya? Seminggu yang lalu, Shania baru saja melangsungkan pernikahan dengan Arman. Pria yang dicintai 2 tahun belakangan ini, pria yang selalu memberikan perhatian dan kasih sayang yang terasa amat tulus. Namun, kebahagiaan yang dialami tak berlangsung lama, saat dalam perjalanan pulang ke rumah. Mobil yang mereka tumpangi mengalami kecelakaan hingga membuat kaki kiri Shania patah. Dia terluka cukup parah, sedangkan Arman hanya mengalami cedera ringan. Wanita itu tidak melihat siapa pun di dalam rumah, bahkan mertua dan adik iparnya juga tidak tahu ke mana. Saat kursi roda semakin mendekati kamar. Shania mendengar suara yang mampu membuat dunianya runtuh. “Argh..., Ma-mas...!” “Arghh..., sayang...!” Jantung seperti berhenti berdetak tatkala mendengar suara dua orang yang diyakini berada di dalam kamar. Hati bergemuruh, jelas Shania mengetahui siapa pemilik salah satu dari suara tersebut. “Mas Arman,” ucap Shania lirih. Dia bukan anak kecil yang tidak mengerti arti dari suara-suara yang barusan terdengar. Shania menarik napas dalam, lalu kembali memutar roda kursi yang diduduki. Telinga menempel pada daun pintu. “Makasih sayang, kamu tetap bisa membuatku senang.” Suara itu jelas milik Arman, terdengar sangat bahagia. “Tapi, mengapa Mas malah menikahi Dia?” Tanya seseorang perempuan. “Mas patah hati saat kamu meninggalkan Mas 2 tahun yang lalu. Mas akhirnya merantau dan mencoba membuka hati lagi.” Terdengar suara sendu dari Arman, suara yang dulu sering menyapa telinga Shania. “Maafkan aku, Mas,” wanita itu berucap manja. Tak terasa bulir air mata yang tertahan jatuh juga. Perih, itulah yang dirasakan Shania saat ini. Shania ingin sekali mendobrak pintu, tapi apa dia mampu melakukannya? Rasanya tak sanggup jika harus melihat pemandangan yang sama sekali tak terbayangkan di otaknya. “Jujur di hati Mas masih ada kamu, meski Shania sudah menemani Mas selama 2 tahun, tapi tidak mudah untuk melupakan semua kenangan manis yang telah kita lalui.” Tubuh Shania bergetar, mendengar pernyataan yang keluar dari mulut Arman. Jadi, hanya segitu cintanya? Apa Shania hanya sebatas pelarian, atas rasa sakit yang Arman alami selama ini? Pikir Shania. “Dan perasaan itu semakin kuat ketika kita berjumpa di kantor 2 minggu yang lalu,” lanjutnya. Shania semakin tak kuasa mendengar semua kata-kata yang keluar dari mulut Arman. Semua terasa tajam, seperti sebilah pisau yang mampu menyayat dan menciptakan rasa sakit yang teramat luar biasa. “Kalo memang Mas masih cinta sama aku, mengapa Mas tetap melangsungkan pernikahan sama wanita jelek itu? Apa aku kurang bagi Mas? Apa yang sudah wanita itu berikan? Bahkan Mas rela meninggalkan aku hari itu untuk menikah dengannya, padahal jelas malam sebelumnya kita baru saja bercinta.” Jantung Shania rasanya ingin meledak mendengar penuturan dari wanita itu. Bola mata melotot tak percaya, jadi Arman melakukan hal menjijikkan itu di saat mereka akan menikah? Tega sekali! Shania hanya bisa menjerit dalam diam. “Maafkan aku Rivanka, aku memang bodoh karena sudah menikahi Shania dan meninggalkanmu pagi itu. Sekarang aku justru kena batunya, aku menikahi wanita cacat yang hanya bisa duduk di kursi roda sekarang.” Kening Shania mengerut, apa maksud Arman mengatainya cacat? Baiklah, saat ini dia memang tidak bisa berjalan normal karena masih dalam proses penyembuhan. Namun, bukan berarti akan terus duduk di kursi roda. “Jadi bagaimana Mas? Apa Mas masih mempertahankan dia?” Tanya wanita itu menuntut. “Mas bingung sayang, hubungan Mas dengan Shania sudah diketahui banyak orang, terutama di kantor. Mas takut jika meninggalkan Shania, orang-orang akan berasumsi buruk.” “Peduli apa? Tidak akan membuat Mas rugikan?” Ucap Rivanka tidak terima. “Sayang, bulan depan Mas akan menjadi general manager, Mas takut jika perusahaan tahu Mas meninggalkan Shania terutama di saat kondisinya seperti ini, mereka jadi berpikir buruk. Tuan Abdul juga mungkin mengurungkan niatnya untuk membantu Mas mendapatkan posisi itu.” “Jadi aku harus bagaimana?” Ucap Rivanka, terdengar frustrasi. “Tenanglah, kita masih bisa bertemu? Masih bisa menjalin hubungan di belakang Shania. Bukankah saat-saat kita pacaran kita memang sudah seperti sekarang?” Ucap mas Arman terdengar sangat santai. Shania meremas d**a yang semakin nyeri. Rasanya kini sedang berada di ruang yang vakum tanpa oksigen sedikit pun, sulit sekali untuk bernapas. “Apa yang kamu lakukan?!” Suara melengking milik seorang wanita membuat Shania terkejut. Dia menoleh ke belakang dan melihat wajah garang milik mertuanya. Wanita paruh baya itu memang tidak setuju dengan hubungan antara Shania dan Arman. Hanya saja, Arman tetap meyakinkan Shania agar tidak menyerah dan berkata jika suatu saat ibunya akan merestui hubungan mereka. Suara pintu terbuka. Dua orang dengan kondisi acak-acakan sama terkejutnya, terutama Arman yang menatap sang istri kaget. Air mata kembali lolos saat melihat pria yang selama ini dicintai sedang bersama wanita lain di kamar. Kamar yang seharusnya menjadi kamar pengantin bagi mereka berdua, kini sudah ternoda oleh pengkhianatan yang dilakukan Arman. Sungguh biadab! “Shania,” ucapnya dengan suara pelan. “Tega kamu Mas!” Emosi pun meledak, tak kuasa menahan rasa sakit yang sulit dideskripsikan. “Rivanka?” Terdengar suara ibu Arman memanggil wanita itu dengan nada tak percaya. “Tante, apa kabar?” Tanpa malu, Rivanka mendekat dan memeluk erat tubuh tua itu. Shania kembali sedih, dari dulu sampai sekarang, tidak pernah sekalipun ibu Adma mau menyentuhnya, seperti yang ia lakukan terhadap Rivanka. Bersalaman saja seperti jijik. “Baik, kamu apa kabar? Kenapa baru muncul?” Suaranya lembut, terlihat sekali bahwa dia sangat menyayangi wanita itu. “Setelah wisuda Rivanka mengejar karier di Surabaya Bu. Baru 2 minggu ini dipindahkan ke kantor pusat di Jakarta. Lumayan bisa diangkat sebagai kepala staf keuangan. Kalo di Surabaya cuma jadi karyawan biasa,” ucapnya. “Wah kamu dari dulu memang sangat hebat. Lihat Arman, Rivanka semakin hebat sekarang. Tidak seperti istrimu itu!” Suara ibu Arman kembali sinis. Shania hanya menunduk, sebenarnya sudah terbiasa mendengar nada tak nyaman yang keluar dari mulut ibu mertuanya. Namun, saat ini semakin sakit ketika mertuanya terang-terangan membandingkan dirinya dengan Rivanka. “Kamu sudah menikah?” Tanya Sekar, Ibu Arman. Shania tak mengerti pertanyaan macam apa itu. “Belum Bu.” “Masih suka dengan Arman?” Kini suaranya sangat antusias. “Masih Bu, jujur Riva masih sayang dengan Mas Arman. Kepergian Riva dulu hanya karena takut, takut Mas Arman ingin mengajak nikah. Padahal saat itu kita baru saja wisuda dan Riva masih ingin berkarier sesuai dengan ilmu yang sudah Riva dapat.” Wanita itu menunduk sebentar, lalu kembali mengangkat wajahnya dan melihat ke arah Arman dengan tatapan dalam. “Riva pikir setelah mendapatkan semua yang Riva inginkan, kebahagiaan akan datang. Ternyata salah, bayang-bayang Mas Arman tetap mengusik, dan siapa sangka, Riva justru dipertemukan kembali dengan Mas Arman.” Shania mendesah kesal, bagaimana bisa Rivanka bersikap sesantai itu tanpa rasa malu sedikit pun. Matanya melirik, melihat bagaimana reaksi yang diberikan oleh sang suami. Arman hanya diam, tapi tatapannya tidak bergerak sedikit pun dari Rivanka. Hati Shania benar-benar teriris saat ini, pedih, itulah yang dirasakan. “Kamu dengarkan Arman, makanya jangan pernah membantah omongan orang tua. Lihat akibatnya, kamu membuang wanita sehebat Rivanka dan justru menikahi wanita yang tidak berguna seperti dia, bahkan untuk berjalan saja tidak bisa.” Suara Sekar ketus sekali. Kening Shania kembali berkerut, apa hanya gara-gara patah tulang, Sekar memandang rendah dirinya? Seakan-akan, dia ini wanita cacat saja. Apa perkataan tersebut hanya sebuah sindiran? “Kamu mau menikah dengan Arman, Riva?” Bagai disambar petir. Shania terkejut bukan main ketika gendang telinga menangkap gelombang suara yang dideskripsikan oleh otak menjadi sebuah informasi. Apa dia tidak salah dengar? Bagaimana bisa ibu mertuanya berbicara dengan sangat ringan tanpa beban? Sekar memang tidak merestui hubungan mereka. Tapi apa hatinya benar-benar tertutup dan tak memiliki rasa empati sedikit pun? Bagaimana jika apa yang Shania alami saat ini menimpa dua orang putrinya yang masih gadis? Apa dia tidak merasa sakit? “Mau Bu, tapi mas Arman tidak mau,” jawab Rivanka dengan suara sendu. Dada Shania sudah naik turun, sulit sekali meredam emosi di tengah kondisi seperti saat ini. Arman hanya diam tanpa berbicara sepatah kata pun. “Kamu dengarkan Arman? Riva mau menikah denganmu. Kenapa tidak kamu ceraikan saja istri yang tidak berguna itu dan kembali bersama Rivanka. Jangan bodoh Arman!” Ekspresi Arman sulit diprediksi, dia sama sekali belum bereaksi. Shania sudah tidak bisa menahan isak. Melihat bagaimana sikap Arman dan apa yang sudah ia lakukan, jelas Shania tak memiliki harapan lagi.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Terpaksa Menjadi Istri Kedua Bosku

read
15.7K
bc

TERNODA

read
199.5K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
190.1K
bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
31.7K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
234.4K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
72.8K
bc

My Secret Little Wife

read
132.5K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook