Satu bulan lebih Shania menjalani kehidupan tanpa kehadiran Arman, dan dua hari yang lalu, terdengar kabar bahwa Arman sudah menikahi kekasihnya, Rivanka. Sakit, hancur, pasti dirasakan oleh Shania. Ternyata begitu mudah bagi Arman melupakannya, seperti tidak ada yang spesial selama kurang lebih 2 tahun kebersamaan mereka.
Shania menatap kosong ke arah luar jendela lalu melirik ke bawah. Syukur kaki kirinya sudah membaik. Semua berkat Kayla yang selalu memberikan semangat dan setia menemaninya berobat.
Wanita itu, Shania tidak tahu lagi harus membalasnya seperti apa. Tanpa Kayla, mungkin dirinya akan sulit melewati satu bulan belakangan ini.
“Hmm, selalu saja melamun.” Nah kan, baru saja diomongkan, wanita itu sudah berada tepat di belakang Shania. Tangannya menenteng dua bungkus plastik. “Makan dulu, jangan melamun aja kerjaannya.” Sindir Kayla dengan bibir manyun ke depan, sontak membuat Shania tertawa.
“Aku ingin ketemu klien,” ujar Shania di sela-sela makan.
Kayla membeli ayam goreng dan sayur talas kuah asam pedas, makanan kesukaan Shania.
Alis Kayla berkerut, seperti tidak setuju dengan keinginan sang sahabat. “Kau masih belum pulih sepenuhnya, lebih baik aku saja yang pergi,” ujarnya.
“Tidak.” Shania menggeleng. “Jika aku pergi, kita bisa bertemu dua klien yang berbeda sekaligus.”
“Tapi Shan...,”
“Udah tenang aja, aku udah sehat kok. Lagian bosan di ruko terus, kamu kan tahu sendiri aku sudah lama meninggalkan usaha ini, aku kangen kerja lagi.”
“Huh..., terserah,” jawab Kayla, dia memutar bola matanya. “Dengar-dengar si Arman baru nikah ya? Kok bisa secepat itu? dia saja belum resmi cerai sama kamu Shan.”
Shania menelan saliva, baru ingat jika Kayla memang tidak tahu detail mengenai pernikahannya dengan Arman.
“Masak iya dia langsung nikah, sedangkan sidang perceraian kalian saja belum dimulai. Surat dari pengadilan kurasa juga belum ada, benar kan? Bisa dituntut tuh si bajingan.”
“Kay...,”
“Apa? Mau belain dia? Mau bilang kalo apa yang dia lakukan itu tidak salah? Kenapa jadi orang terlalu baik sih Shan,” ujar Kayla kesal. Emosi sudah mulai naik ke permukaan kulit kepalanya.
“Bukan Kay, sebelumnya maaf jika aku tidak pernah ngasih tahu kamu soal ini.” Shania menunduk, ragu untuk berkata jujur.
“Apa?!” Tuh kan, dia sudah seperti serigala betina yang galak, matanya melotot seperti ingin menerkam Shania hidup-hidup. Buat makin takut saja.
“Ayo bilang, apa? Jangan buat aku penasaran?” Cecarnya.
“Iya-iya, tapi janji ya jangan marah dulu, dan janji jangan lakukan hal yang aneh-aneh.” Shania memperingatkan. Bukan apa-apa, Kayla ini sering bertindak di luar dugaan.
“Janji dulu,” kata Shania saat melihat ekspresi keberatan yang tampil di wajah Kayla.
“Iya janji,” ujarnya terpaksa.
Shania menarik napas terlebih dahulu, mencoba menguatkan diri sebelum kembali berbicara. “Aku dan Mas Arman tidak mencatatkan pernikahan kami di KUA.”
“Hah! Maksudnya?!”
“Tuh kan, kamu udah mulai emosi lagi, kan udah janji tadi,” ucap Shania kesal.
“Gimana nggak emosi, maksudnya kalian nikah siri gitu?”
Shania mengangguk, membenarkan perkataan Kayla. Seketika d**a terasa berat mengingat betapa malang nasibnya. Namun, Shania mencoba ikhlas menerima semua yang sudah terjadi.
“Tapi aku bersyukur, setidaknya aku tidak perlu repot-repot mengurus perceraian kami dan tentunya secara pendataan identitasku tidak berubah, masih gadis dan belum pernah menikah, hehehe.” Shania paksakan untuk tertawa agar Kayla yakin jika dirinya sudah baik-baik saja.
“Kalo dipikir-pikir benar juga, ya udah deh, karena kebetulan hari ini ada meeting dengan perusahaan Akcaya Grup. Aku tidak akan membuang energi untuk hal yang tidak berfaedah. Kau tahu, mereka menawarkan kerja sama dengan kita, mereka mau membantu proses ekspor sayuran kita ke Jepang,” ujar Kayla dengan semangat.
“Benarkah?” Mata Shania berbinar mendengar kabar baik dari Kayla. Di balik masalah yang tengah dihadapi, Tuhan melancarkan rezeki yang melimpah baginya.
“Benar, jadi kita bagian produksi, mereka bagian packing agar sayuran kita bisa diterima di Jepang. Tau sendiri, Jepang punya standar yang tinggi jika menyangkut masalah pangan, dan kemampuan Akcaya Grup tidak perlu diragukan lagi.” Senyum di wajah Kayla mengembang, cepat banget suasana hatinya berubah.
“Kalau begitu, mending kamu aja deh yang pergi,” ujar Shania.
“Lah kenapa? tadi semangat-semangatnya mau keluar, sekarang malah berubah pikiran.”
“Aku takut kemampuanku tidak cukup meyakinkan Akcaya Grup untuk bekerja sama dengan kita.”
“Mulai deh, kamu tuh selalu aja gitu Shan. Kamu itu punya kemampuan, kalo nggak punya kemampuan, mana mungkin Happy Farm ini bisa berdiri dan berkembang sampai sekarang.”
“Tapi kan yang membuat Happy Farm ini berkembang kamu Kay. Tanpa kamu, mungkin usahaku ini sudah gulung tikar sejak dulu.”
“Itu nggak bener, aku cuma nerusin apa yang sudah ada. Kamu yang lebih hebat intinya.”
“Udah jangan banyak berpikir, sekarang cepat habiskan makananmu. Lalu siap-siap, biar aku yang antar.” Kayla sudah berubah menjadi seorang ibu yang mengomeli anaknya.
Beberapa menit kemudian. Shania sudah siap dengan dress melekat di tubuhnya.
“Kay, apa ini tidak berlebihan?” Shania sedikit meringis melihat pantulan dirinya di cermin. Kayla mendandaninya seakan-akan Shania hendak pergi ke pesta.
“Apanya yang berlebihan. Kamu itu harus cantik, masak ketemu klien tampilannya buluk, ntar yang ada klien kita batalin rencananya lagi.”
“Tapi kamu kan tahu aku tidak suka dandan.”
“Sekarang harus suka dan harus dibiasakan. Lagi pula ini dandanannya natural Shan, apanya yang berlebihan.” Kayla memutar bola matanya. “Ayo pergi, ntar klien kita kelamaan nunggu.” Dia langsung keluar dari kamar tanpa peduli dengan kenyamanan sahabatnya.
Setelah drama mengenai dandanan dan pakaian. Akhirnya mereka sampai di sebuah restoran. Kayla meminta Shania untuk turun dari mobil, sedangkan dia akan menunggu di mobil.
“Ingat meja nomor 27,” ucapnya mengingatkan.
“Iya.”
Shania segera keluar dari mobil dan langsung masuk ke dalam restoran. Aroma daging panggang yang buttery mengusik ketenangan. Mata mengamati seisi ruangan, lalu lalang manusia dan suara-suara bersahutan.
“Sudah reservasi meja Ibu?” Tanya salah satu pegawai yang berdiri tak jauh di dekat Shania.
“Ah iya, meja 27 lantai 2, atas nama Bapak Emran Putra Syah.”
“Oh, silakan Ibu naik tangga di depan lalu belok kiri. Meja yang Ibu maksud ada di dalam ruang privat 4,” jawab pegawai resto dengan senyum ramah yang tidak luntur dari wajahnya.
“Terima kasih.”
Shania segera berjalan mengikuti arahan dari sang pegawai. Saat masuk ke dalam ruangan, ternyata sudah ada dua orang pria duduk di sana.
“Maaf saya terlambat,” ucapnya tak enak hati. Shania yakin salah satu dari mereka merupakan pak Emran, pemilik Akcaya Grup.
“Tidak apa-apa, Bu Shania,” jawab pria yang dirasa berusia sekitar 50 tahunan. “Silahkan duduk!”
Shania mengulas senyum sedikit sebelum duduk berhadapan dengan dua pria tersebut.
“Perkenalkan Bu Shania. Saya Emran Putra Syah, dan ini putra saya, Ziko Putra Syah.”
Shania bersalaman dengan pak Emran, lalu melirik pria di samping. Pria itu hanya menatap datar, tapi mereka tetap berjabatan tangan.
“Putra saya ini baru saja pulang dari Amerika, menyelesaikan S2. Sudah 1 bulan ini, dia membantu saya di perusahaan cabang,” jelas pak Emran.
Shania mengangguk, matanya kembali melirik pria muda bernama Ziko. Namun segera ia alihkan. Mengapa jantungnya jadi tidak karuan hanya melihat wajahnya Ziko? Pikir Shania dalam benaknya.
“Bisa kita mulai sekarang pak?” Rasanya Shania bisa kehabisan oksigen jika berlama-lama di dalam ruangan yang sama dengan Ziko.
“Sebentar Bu Shania. Saya masih menunggu karyawan saya lagi. Dia Manajer Pemasaran.”
“Siang, maaf Pak saya terlambat. Tadi ada kecelakaan lalu lintas.”
Tubuh Shania mendadak tegang, ketika mendengar suara yang tak asing tepat di belakangnya. Suara itu, milik Arman.
“Tidak masalah, Arman. Belum ada yang dibicarakan, tapi kamu tidak kenapa-kenapa kan,” tanya pak Emran.
“Tidak Pak. Hanya saja saya harus meninggalkan mobil saya di jalanan dan terpaksa naik ojek untuk mempersingkat waktu.”
“Kamu memang profesional. Saya bangga dengan kamu.”
“Terima kasih, Pak.”
“Ya sudah. Kamu sebaiknya duduk! Perkenalkan, ini klien kita yang akan menjadi pemasok sayuran yang akan diekspor ke Jepang. Dia Bu Shania Azzahra, pemilik Happy Farm.”
Shania masih mematung tanpa berani menoleh ke arah samping. Tepat di mana Arman duduk.
“Shania…” Arman bergumam pelan, tapi masih bisa mendengar oleh Shania.
“Bu Shania, ini Manajer Pemasaran kami, Arman Santoso.”
Shania terpaksa memutar tubuh sembilan puluh derajat. Benar saja, pria itu memang Arman, mantan suaminya. Mengapa dia bisa menjadi Manajer di perusahaan Akcaya Grup? Pikir Shania.
Arman juga tidak kalah terkejut saat mata mereka beradu. Dia bertanya-tanya, kenapa Shania bisa duduk di sini dan diperkenalkan sebagai pemilik sebuah usaha. Selama ini, Arman memang tidak pernah tahu apa pekerjaan sang mantan yang sebenarnya. Shania hanya mengaku sebagai penulis novel online dan tinggal di panti.
Tidak seratus persen salah. Shania memang dulu hidup di panti sebelum memiliki ruko yang dijadikan kantor sekaligus tempat tinggal. Namun, semua itu Shania sembunyikan karena tidak ingin membuat Arman merasa rendah diri saat bersamanya.
“Selamat pagi Pak Arman.”
Shania tersenyum tipis sembari mengulurkan tangan. Awalnya Arman masih tampak terkejut, tapi segera ia kendalikan dirinya dan menjabat tangan Shania.
“Selamat pagi juga Bu Shania.”
“Baiklah, sekarang sebaiknya kita bicarakan masalah kerja sama kita. Arman, Ziko. Bu Shania ini sangat hebat, meski masih terbilang muda. Dia sudah memiliki Happy Farm yang kualitas sayurnya tidak perlu diragukan lagi. Usianya baru 27 tahun, dan kamu Ziko, harus banyak belajar dari Bu Shania,” ujar pak Arman memuji. Sedangkan Ziko tampak biasa saja.
Setelah berunding mengenai kerja sama. Akhirnya perusahaan Akcaya Grup sepakat untuk bekerja sama dengan Happy Farm. Shania sangat senang, karena profit yang akan diterima bukan main nilainya. Namun, di lain sisi, dia juga merasa sulit karena harus bekerja dengan Arman. Apa dia bisa melakukannya?
Shania segera keluar dari resto. Pak Emran dan Ziko sudah pergi duluan. Sedangkan Arman izin ke kamar mandi katanya. Langkah kaki Shania bergerak cepat, dia tidak ingin bertemu lagi dengan Arman. Sejak mengetahui bahwa Shania memiliki sebuah usaha, tatapan Arman seperti ingin menuntut penjelasan lebih.
Baru tiga langkah kakinya keluar dari resto. Tiba-tiba lengan kanannya dicekal oleh tangan besar. Shania menoleh, dan seketika terkejut. “Mas Arman,” ujarnya pelan.
“Bisa kita bicara sebentar Shan? Apa kamu tidak mau menjelaskan sesuatu?” Tanya Arman penuh selidik.