“Selamat siang Nona. Ada yang bisa saya bantu?”
“Oh. Siang. Saya ingin bertemu dengan Pak Emran. Kira-kira ruang meetingnya berada di lantai berapa ya?”
“Apa Nona sudah membuat janji?”
“Sudah.”
“Boleh saya tahu siapa nama Anda.?”
“Saya Shania Azzahra. Pemilik Happy Farm.”
“Oh Nona Shania. Kalau begitu silakan langsung saja ke lantai 4 ya Nona. Nanti dari lift depan, Nona belok kiri. Ruang meeting nomor 1.”
“Baik, terima kasih."
Shania segera menuju lift setelah memberikan senyum kepada resepsionis. Sebenarnya dia sangat malas untuk berkunjung ke gedung Akcaya Grup. Selain enggan bertemu dengan Arman. Dia juga tidak sanggup untuk melihat wajah putra Emran yang b******k itu.
Lift tiba-tiba berhenti di lantai 3 dan pintu terbuka. Apesnya, baru saja Shania berdoa agar tidak bertemu dengan Ziko. Sekarang pria itu sudah berada tepat di depannya.
“Shan ....”
Ziko ingin masuk. Namun dengan cepat Shania menutup pintu lift. Shania tidak peduli jika Ziko marah. Karena sejatinya, Shania yang patut untuk marah saat ini. Wanita itu segera keluar dan mencari ruang meeting 1.
“Huh. Syukurlah.” Shania menghela nafas tatkala masuk dan tidak melihat Arman di ruangan ini. Hanya ada seorang wanita yang tengah duduk sambil tersenyum menyambut.
“Selamat datang Ibu Shania. Silakan duduk!”
“Terima kasih.”
“Mohon menunggu sebentar ya, Bu. Pak Emran sedang menuju kesini. Ibu tenang saja, semua berkas-berkasnya sudah saya tangani. Nanti setelah Pak Emran datang, kita langsung bahas terkait kerja sama ini.”
“Hanya Pak Emran kan yang akan meeting bersama saya hari ini?”
Sedari awal. Shania sudah mengatakan kepada pihak Akcaya Grup. Dia hanya mau meeting apabila Pak Emran langsung yang membahas mengenai kelanjutan kerja sama mereka.
“Benar Bu, tapi nanti juga ada putranya pak Emran. Karena beliau yang menghandle kerja sama dengan perusahaan yang ada di Jepang.”
“Kenapa seperti itu? Em ... m. Maksud saya kenapa baru dikasih tahu sekarang?” jujur Shania merasa kesal. Putra Pak Emran. Siapa lagi kalau bukan lelaki b******k yang sudah mencuri ciumannya.
“Maaf, Bu. Setahu saya pihak kami sudah memberitahu perihal ini sejak awal.”
“Mana ada. Buktinya saya tidak tahu akan hal tersebut”
Shania berusaha untuk menahan agar suaranya masih terdengar profesional. Jika tidak memikirkan para petani di lapangan. Sudah tentu dia akan membatalkan kerja sama ini. Namun, kerja sama ini sangat berarti bagi Happy Farm agar kembali bangkit dan tentunya menyejahterakan para petani.
“Benarkah? Setahu saya asisten pribadi Ibu sudah tahu akan hal ini.”
“Asisten pribadi?”
Seketika Shania baru sadar. Dasar Kayla. Padahal Shania sudah bercerita tentang apa yang terjadi padanya kemarin, tapi herannya Kayla santai saja. Bahkan terkesan tidak peduli. Beda saat dia tahu Shania hampir dilecehkan oleh Arman. Sebenarnya apa yang direncanakan oleh Kayla?
“Selamat siang.”
Suara berat dengan aroma maskulin menyapa ruangan. Shania menoleh dan mendapati seorang pria dengan setelan jas mahal tersenyum ke arahnya. Senyum tipis yang ramah dan terkesan sopan.
“Ibu Shania. Benar?” tanyanya.
Sedangkan Shania hanya mengangguk. Bingung dengan siapa dia berhadapan sekarang. Saat mata melirik ke arah sekretaris Pak Emran. Wanita itu ikut tersenyum sambil menjawab, “Dia putra Pak Emran, Ibu Shania.”
“Perkenalkan saya Riko Putra Syah. Anak dari Emran Putra Syah.”
“Oh. Em .... Saya Shania Azzahra. Bapak bisa panggil saya Shania,” jawab Shania kikuk.
“Ternyata Papa benar. Bu Shania tidak hanya wanita yang sukses, tapi juga cantik dan masih muda. Saya jadi salut.”
Bukan merasa senang atau tersanjung. Shania justru merasa tidak nyaman mendengar ucapan Riko. Tiga kali mendapat perlakuan tidak menyenangkan. Membuat Shania malas untuk berinteraksi lebih dengan seorang pria. Sepertinya semua pria sama saja, hanya mengedepankan nafsu tanpa memikirkan perasaan seorang wanita.
“Lebih baik kita memulai meeting ini terlebih dahulu. Papa sedang ada urusan mendadak. Beliau berpesan agar jangan menunggu. Jika urusannya selesai, beliau akan menyusul.”
“Baiklah,” jawab Shania singkat. Jika boleh jujur, dia ingin segera menyelesaikan pekerjaan ini.
*
Usai meeting, Shania bergegas untuk pergi. Namun, belum sempat keluar dari gedung Akcaya Group. Masalah kembali muncul.
“Nona Shania. Bisa kita bicara sebentar?”
Shania memutar bola mata. Merasa jengah dengan semua ini. Kenapa dirinya harus kembali bertemu sosok yang tidak ingin dijumpai. Padahal gedung perusahaan ini besar, tapi sudah 2 kali kami bertemu. Jujur melihat wajahnya saja membuat Shania muak.
“Sebentar saja, Nona.” Terdengar suara memohon dari Ziko.
Apa maksudnya? Apa dia sedang bersandiwara? Shania terus meningkatkan kewaspadaan.
“Please, Nona.”
“Bapak jangan kurang ajar ya!” ucap Shania sambil melepaskan cengkeraman tangan Ziko. “Bapak tidak puas dengan apa yang telah Bapak lakukan pada saya?! Saya minta Bapak tidak lagi mengganggu.”
“Maka dari itu. Mohon dengarkan dulu penjelasan dari saya.”
“Penjelasan apa lagi? Saya tidak ada urusan lagi dengan Bapak. Saya kesini hanya ingin membahas perihal kerja sama dan sudah selesai dengan Pak Riko. Jadi saya pamit undur diri.”
“Riko? Anda tadi bertemu dengan saudara saya?”
“Iya. Barusan saya meeting bersama Pak Riko. Maaf, saya harus segera pergi.”
“Tunggu dulu! Bisakah Anda kasih saya waktu sebentar saja.”
“Untuk apa?”
“Untuk meminta maaf. Maaf mengenai persoalan yang kemarin.”
“Sudahlah. Tidak perlu dibahas lagi.” Shania ingin melanjutkan langkah, tapi lagi-lagi Ziko menahan lengannya.
"Apalagi?!” Shania benar-benar hilang kesabaran.
"Saya hanya minta maaf atas perbuatan yang tidak seharusnya dilakukan kemarin. Saya bersumpah! Saya khilaf saat itu."
Ziko memandang Shania. Mereka saling tatap. Bisa Shania rasakan ada kejujuran dari sorot mata dengan bulu lentik nan panjang. Rasa ragu tidak dirasakan sama sekali dalam lubuk hati.
"Baik. Saya maafkan Anda. Masalah ini tidak perlu diperpanjang lagi." Shania segera pergi. Berharap dengan Ziko hanya membuat dirinya kembali mengingat betapa lembutnya ciuman yang pria itu berikan. Sialan Memang, maki Shania dalam hati.
Sadar Shania sadar! mengapa kau jadi berpikiran m***m seperti ini?
Saat ingin membuka pintu mobil. Tiba-tiba tangan Shania kembali dicekal. "Ada perlu apa lagi Ba …." Ucapnya terhenti saat tahu siapa pelakunya. "Kamu ngapain lagi Mas? Masih belum puas berbuat kasar sama aku?! Perlu aku panggil Kayla untuk menghajar kamu lagi?!"
"Shan. Kamu jangan marah dulu. Aku menghampirimu karena ingin meminta maaf."
Huh! Ada apa dengan hari ini? Belum genap 24 jam, tapi sudah ada dua pria yang mengucapkan kata maaf pada Shania. Dua pria yang sama buruknya. Memperlakukan Shania seenaknya saja. Tapi, mengapa saat bersama Ziko kekesalan Shania tidak sebesar sekarang? Apa karena Arman mantan suaminya? Orang yang pernah singgah di hidupnya? Bahkan Shania belum yakin jika Arman sudah pergi dari hatinya.
"Sudahlah Mas. Aku capek. Tolong, angan dekati aku lagi. Kita sekarang bukan siapa-siapa."
"Shan. Dengar dulu! Aku hanya ingin meminta penjelasan darimu. Itu saja."
"Penjelasan apa lagi yang perlu kau dengar Mas?!" Bentak Shania.
"Sejak kapan kamu bisa berjalan? Kamu operasi atau bagaimana?"
Dahi Shania mengernyit. Apa maksudnya?
"Kamu ini bicara apa sih, Mas?"
"Bukannya kamu lumpuh? Aku sendiri yang mendengar dokter berbicara dengan seorang suster dan mengatakan jika kamu mengalami kelumpuhan karena kecelakaan itu.”
"Lumpuh?" Shania bergumam. Jadi selama ini Arman mengira Shania lumpuh. "Apa itu alasan kenapa kau dengan mudahnya mencampakkan aku, Mas?" sindirnya.
"Bu ... bukan seperti itu Shania!” Sanggah Arman.
"Sudahlah Mas. Tidak penting juga membahas sesuatu yang sudah berlalu. Aku masih banyak pekerjaan."
"Shan. Tunggu dulu!"
"Apalagi? Lepaskan!" Shania berusaha melepaskan pergelangan tangan yang dipegang Arman.
"Aku sebenarnya masih sayang sama kamu Shan. Aku mengaku salah. Setelah kamu pergi. Aku baru merasa hati ini terasa kosong."
Oh astaga! Apa yang barusan didengar Shania. Mengapa terasa sangat menjijikkan sekali.
"Mas. Aku kasih penegasan padamu. Tolong jangan mempermainkan perasaan wanita! Aku tidak tahu bagaimana perasaan Rivanka jika mendengar ucapanmu barusan." Seketika wajah Arman pias. Dia tiba-tiba menggaruk lehernya.
"Sudah ya mas, di antara kita tidak ada apa-apa lagi. Perlu kamu tahu bahwa aku tidak pernah lumpuh. Kakiku hanya patah dan sudah sembuh. Oh aku lupa. Wajar jika kamu tidak tahu, karena selama di rumah sakit kamu memang tidak pernah peduli.”
Setelah mengatakan itu. Shania langsung masuk ke dalam mobil dan pergi meninggalkan Arman. Meski mencoba kuat, tapi tetap saja dadanya terasa sesak. Jelas kenangan dan bayangan Arman belum sepenuhnya hilang. Dua tahun bukanlah waktu yang sebentar bagi mereka.
*
“Kamu kenapa, Mas? Kok wajahmu murung dari tadi?”
“Tidak kenapa-kenapa.”
Rivanka mengerutkan kening mendengar jawaban dari Arman. Terdengar seperti sedang kesal dan tidak ingin berbicara.
“Kamu ada masalah apa sih?!” Rivanka ikut-ikutan sewot.
“Argh ...! Bisa nggak sih kamu jangan banyak tanya! Pusing aku.” Bentak Arman.
“Loh. Kamu kok marah? Salah aku apa?!” Rivanka tidak terima.
“Aku lagi pusing. Kamu malah banyak tanya. Bagaimana nggak marah.”
“Kamu aneh banget.”
“Ah sudahlah. Lebih baik aku pulang ke rumah Ibu. Daripada di sini, tambah pusing.”
Arman beranjak dari kasur dan ingin pergi. Namun, dengan cepat Rivanka mencegahnya dengan memeluk tubuh lebar itu dari belakang.
“Kamu mau ninggalin aku? Katanya mau buat aku senang malam ini?” ucap Rivanka dengan nada manja.
Namun, itu sama sekali tidak membuat Arman tergoda. Semenjak bertemu kembali dengan Shania. Arman jadi bimbang. Dia terpukau dengan penampilan Shania yang sekarang. Tampak seperti wanita berkelas dan sangat cantik.
“Maaf Rivanka. Aku lelah.” Arman melepaskan pelukan Rivanka dan pergi tanpa menoleh sedikit pun.