SAAT Damian kembali ke kamarnya, Flora masih terjaga. Wanita itu duduk di bingkai jendela, melihat keluar dari balik kaca. Padahal Hairee bilang tadi dia sudah tidur. Cahaya dari penyihir rumah juga remang-remang sehingga sebagian besar cahaya bulan yang masuk ke kamar. Dilihat dari jauh, Flora bagaikan bidadari dengan cahaya yang melingkupinya. Kulit pucat, rambut panjang menjuntai ke punggung, dan gaun tidur putihnya. Berkali-kali lipat lebih cantik. “Apa yang tadi kau bicarakan dengan Ibuku?” tanya Damian, sedikit khawatir jika ibunya akan membicarakan sesuatu yang tak seharusnya didengar Flora. Flora mengedikkan bahu. “Hal-hal dasar. Bukan sesuatu yang penting.” “Lalu kenapa kau belum tidur?” “Entah, belum mengantuk.” Damian menyibak selimut, berniat untuk tidur. Besok dia memil

