"Yang tidak memakai peralatan lengkap, maju ke depan," titah pak Maman sembari berdiri di tengah-tengah lapangan.
Dalam hidupnya, rasanya baru kali ini Agatha merasakan perasaan tak enak hati. Atau bisa dibilang ia merasa bersalah pada seorang Mario. Karena kalau biasanya ia akan merasa senang pada siapapun yang melanggar peraturan dan di hukum oleh pak Maman. Agatha celingkukan ke sana kemari, melihat satu persatu para siswa yang tidak menggunakan atribut dengan lengkap melangkah ke tengah lapangan. Mario belum menunjukan batang hidungnya, atau mungkin ia tak mengikuti upacara? Bisa saja kan, Mario kan hidup dengan sesuka hatinya. Namun beberapa saat kemudian, retina Agatha menangkap siluet tubuh jangkung dengan perawakan yang sudah sangat Agatha kenali. Ya, dia Mario.
Dengan tengilnya tuh cowok berjalan ke tengah lapangan, begitu beridiri di sana ia langsung bertos ria bersama teman-temannya, di sangkanya lagi reuni apa. Apa Mario gak liat mata Pak Maman yang udah melotot sembari berkacak pinggang ke arahnya. Agatha menutup matanya dengan pasrah. Ya sudahlah, mau bagaimana lagi.
"Upacara di bubarkan," ujar pembawa acara yang langsung di sambut suka cita oleh para siswa semuanya. Terkecuali Agatha.
Sebelum ia benar-benar meninggalkan lapangan, matanya lagi-lagi terpatri pada sosok cowok yang tengah tertawa-tawa tidak jelas di tengah lapangan. Hingga tanpa sadar Mario pun meolehkan kepalanya ke arahnya, Agatha yang terkejut sontak langsung membuang tatapannya.
"Lo kenapa Ta?" tanya Dina yang berjalan di sampingnya.
Agatha menggelengkan kepalanya. "Gak papa."
° ° °
"Perasaan tadi pagi gue liat lo pake dasi ama topi deh Yo," celetuk Reza yang berdiri tepat di sampingnya. pasalnya tadi pagi Mario dengan bangganya berkoar koar di sepanjang koridor mengatakan bahwa ia akan memakai dasi dan topi untuk pertama kalinya setelah hampir tiga tahun bersekolah di SMA PANCASILA ini.
"Iya anjir, aing lihat maneh pake dasi sama topi tadi. Sekarang mana?" tanya Oji yang ikut-ikutan menimpali.
"Gua kasih ke Agatha," sahut Mario apa adanya.
"Ngapain lo kasih-kasih ke dia, sok baik anjir," dengus Reza.
Mario merangkulkan tangannya ke bahu Reza. "Lo bakal tahu setelah lo ngerasain apa yang gue rasain," Mario nyengir lebar.
"Perhatian," tegur Pak Maman, sembari berdiri di depan mereka.
"Kamu, kamu, kamu baris di sana," perintah pak Maman pada sekitar 5 anak cowok yang langsung di angguki oleh mereka yang di dalamnya ternyata ada Sandi.
"Yang anak cewek, pungutin sampah di area taman," lagi-lagi titahnya langsung di angguki.
"Terus kalian," pak Maman berkacak pinggang di hadapan, Mario, Reza, dan Oji. "Lari keliling lapang 7 puteran."
"Kok gitu pak?" protes Reza.
"Terus maunya gimana?"
"Kok kita doang yang di hukumnya pak?" tanya Reza.
"Masih berani tanya gitu?" Pak Maman memelototkan matanya. "Kalian harus di kasih hukuman lebih, biar jera."
"Yah, pak gak bisa gitu dong," keluh Oji.
"Bapak sayang banget sih sama kita," celetuk Mario sembari mengedip-ngedipkan sebelah matanya.
"Kenapa mata kamu? Cacingan!"
"Tau aja pak, makin sayang kan saya jadinya." Mario nyengir lebar.
Pak Maman menggeleng-gelengkan kepalanya. "Capek saya ketemu kamu mulu, sekarang kalian lari. Sebelum saya tambah lagi hukumannya.
"Gila bisa mampus gue," gumam Reza.
"Reza, mau saya tambah hukumannya?"
Sontak saja Reza menggelengkan kepalanya dengan panik. "Gak mau lah pak."
"Pak diskon dong, satu puteran aja saya udah ngos-ngosan," ucap Mario dengan memelas.
"Kamu cewek apa cowok?!"
"Bapak nih ngeraguin saya banget sih."
Pak Maman berdecak. "Udah, mendingan sekarang kalian lari. Saya liat di sana, kalo ada yang curang saya itungnya tetep satu."
"Yahh, kok gitu sih pak."
"Ayo mulai, kalian mau lama-lama di sini?"
Mau tak mau ketiganya menghela napas lesu.
"Mulai," perintah pak Maman.
Ketiganya langsung memulai ancang-ancang untuk berlari.
"Lulus dari PANCASILA bukannya kuliah kayaknya gue bakal buka cabang gym," celetuk Reza.
"Nggak sekalian maneh buka cabang ibu-ibu senam," timpal Oji.
"Gue baca dari situs internet, lari gak akan cape kalo kita ngobrol," ucap Mario yang di angguki ketiganya.
"Ya udah sambil lari, sambil ngobrol."
Oji mengangguk setuju.
"Panas banget, gue takut abis lari jadi dekil. Ntar Agatha ilfiel sama gue," keluh Mario sesekali menatap ke langit yang dimana cuacanya sedang terik-teriknya.
"Halah, mana mau Agatha sama maneh," celetuk Oji.
"Emang kenapa? Gue cakep gini kok."
"Cakep doang, tapi otak lo kan kosong," timpal Reza.
"Dari pada lo, sama cewek kok takut," ledek Mario yang di balas dengan pukulan ringan di perutnya.
Mario terkekeh. Jadi gini loh guys, biar Reza tampang kekar dengan wajah aduhai tapi dia punya satu kekurangan dalam hidupnya. Dia itu .... fobia cewek. Gak tahu juga karena apa, pokoknya Reza gak bisa deket-deket sama cewek dalam jangka waktu yang lama.
"Biarin, dari pada lo. Gak jelas."
"Idih baperan," sahut Mario sembari terkekeh lebar.
"SATU!"
"Perasaan aing mah, kita udah lari lebih dari tiga puteran. Kenapa pak Maman baru ngitung satu?" tanya Oji dengan tampang begonya.
"Gak bisa ngitung kali," celetuk Reza.
"Iya kali Ji, lu ajarin sana," timpal Mario.
"Maraneh teh udah gak waras."
Hingga beberapa saat kemudian, pak Maman menyerukan angka tujuh. Ketiganya sontak langsung berhenti berlari.
Pak Maman menghampiri ketiganya. "Besok senin gini lagi, 10 puteran."
"Iya, pak." Sahut ketiganya dengan lesu.
"Ya udah, sekarang kalian boleh ke kelas," ujar Pak Maman sebelum berlalu dari hadapan ketiganya.
"Tenggorokan gue berasa di padang masyar anjir, kering banget."
"Padang sahara, belegug. Padang masyar mah, maneh udah mati atuh," seloroh Oji bersungut-sungut.
Reza nyengir lebar.
"Ya udah lah kuy ke kantin, gue yang traktir," ujar Mario sembari bangkit dari duduknya.
"Beneran lu Yo?" tanya Reza antusias.
Mario mengangguk. "Ya iyalah, kuy ah gece."
Baik Reza maupun Oji ikutan berdiri, dan merangkulkan bahu satu sama lain.
"Aing sekarang tahu dari mana sumber kekayaan maneh."
"Dari mana?" tanya Mario.
"Dari sedekah jariah," sahut Oji sembari tertawa lebar.
"Heran gue, penjilat udah ada di mana-mana," celetuk Reza yang langsung mendapatkan toyoran mautnya Oji.
"Jangan toyorin gue anjir, gue udah bego."
Mario terkekeh. "Kayak yang bakal pinter aja lu Za."
"Yeu si anjir gu ...."
"Mario!"
Ucapan Reza menggantung di udara ketika mendengar suara seseorang yang meneriaki nama Mario. Sontak yang dipanggil menolehkan kepalanya ke belakang. Bibir Mario terangakat keatas ketika mendapati Agathalah yang memanggilnya.
"Calon istri gue mau apa?" tanya Mario diselingi dengan cengiran menyebalkannya.
Agatha mendengus kesal, namun ketika ia ingat apa tujuannya menghampiri cowok itu, Ia kembali gugup. "Ngg ... Anu ... Gue ...."
"Anu lo kenapa Ta?" tanya Reza.
"Gue gak ngajak ngomong lo!" sewot Agatha pada Reza.
"Udah jangan didengerin, tujuan lokan ke gue."
Agatha kembali terdiam dengan pandangan tertuju pada sepatunya.
"Lo mau ngajakin pacaran Yang?" tanya Mario lagi dengan tersenyum geli.
Sontak Agatha mendongak dengan tatapan tajamnya. "Enak aja," sewotnya.
"Cepetan kali Yo, kita udah ampir mampus nih." Keluh Reza dengan muka gembelnya.
"Kalian duluan aja, ntar bilang aja gue yang bayarin," ucap Mario yang langsung di angguki oleh Reza dan Oji.
"Nah sekarang tinggal kita berdua, jadi lo mau apa?"
Angin sepoy-sepoy yang menghantam kulit Agatha semakin terasa dingin padahal cuaca sedang panas-panasnya. Lagi pula posisinya didekat gajebo yang ada pohon besarnya pula. Harusnya kesejukan yang Agatha rasakan.
Sekali ia menghembuskan napas beratnya. "Nih buat lo." Agatha menyodorkan sebotol minuman dingin dari belakang tubuhnya.
Mario terkekeh geli, jadi cuma begini aja Agatha udah grogi. Lucu, batinnya.
"Lo emang calon istri idaman banget yang." Lantas Ia menerima botol minumana dingin itu dari tangan Agatha bahkan dengan sengaja ia menyentuh bagian tangan cewek itu pula.
"Nggak usah cari kesempatan dalam kesempitan bisa nggak sih," ucap Agatha tajam.
Lagi-lagi Mario terkekeh.
"Jangan ge-er, anggap aja itu cuma balas budi gue, karena lo udah nolongin tadi." Agatha mensidekapkan kedua tangannya di depan d**a.
"Susah banget sih bilang kalo lo itu perhatian sama gue."
"Jijik anjir."
Tiba-tiba saja Agatha menepuk jidatnya sendiri. "Oh iya, dasi sama topinya gue cuci dulu, abis itu gue balikin."
"Gue kira lo kelupaan mau nyium gue," ujarnya mengedipkan sebelah matanya.
"Enak aja, udah ah bisa gila terus-terusan ngomong sama lo." Agatha membalikan posisinya lalu melangkahkan kakinya.
"Agatha!"
Agatha berbalik. "Apa?"
"Beneran gak mau nyium gue?" tanya Mario dengan tampang menyebalkannya.
"Sinting!"