Berkat kedatangan kakek Mario kemarin, acara yang di selenggarakan oleh anak osis berjalan dengan lancar dan tanpa hambatan. Dan lagi, kakek Mario memberikan sumbangan yang tidak tanggung-tanggung. Yah, dan Agatha cukup senang karena usahanya itu. Walaupun ia sampai harus menurunkan harga dirinya di depan Mario tapi hasilnya tidak mengecewakan sama sekali.
Hari ini, hari senin. Udah jelas dong kewajiban bagi semua siswa di seluruh pelosok indonesia untuk melakukan kewajibannya, yaitu upacara bendera. Agatha mendongakan kepalanya, panas. Gumamanya, cuaca sedang terik-teriknya. Tapi mau bagaimana lagi, upacara tidak akan di batalkan hanya karena panasnya cahaya matahari di pagi hari ini.
Agatha menatap ke seluruh penjuru lapangan utama di SMA PANCASILA, ia mengamati beberapa anggota osis dan perwakilan kelas yang akan menjadi petugas upacara tengah bersiap-siap untuk upacara nanti. "Saf, gue mau ambil topi sama dasi dulu ya," ucap Agatha pada Safa yang juga tengah berdiri di sampingnya.
Safa menganggukan kepalanya.
Kemudian tanpa fikir panjang ia langsung saja melangkahkan kakinya menuju kelasnya berada. Begitu telah sampai di dalam kelas, yang ia dapati malah mampu membuat darah tingginya naik seketika. Bagaimana tidak, bukannya bersiap-siap untuk upacara teman-teman satu kelasnya malah terlihat sedang asyik-asyikan dan bersantai ria. Kalau tidak salah, tadi petugas upacara telah mengumumkan kalau upacara bakal di adain 15 menit lagi.
Ia harus mengambil tindakan. Maka dari itu, ia berjalan ke tengah-tengah ruang kelas sembari berkacak pinggang dengan menebarkan aura menyeramkan. "Kalian ngapain masih di sini?! Gak denger pengumuman tadi, 15 menit lagi upacara bakal di mulai!"
Sontak saja karena ucapannya barusan, ia menjadi pusat perhatian teman satu kelasnya.
"Kan maneh yang bilang sendiri 15 menit lagi. Ya udah berarti 15 menit lagi aing ke lapangannya," sahut Oji dengan malas.
Agatha mengatur deru napasnya, ini si Oji otaknya di kepala apa di dengkul sih, begonya gak ketulungan. "15 menit itu buat kalian siap-siap di sana, bikin barisan dan lain-lain."
"Ya ilah Ta, ribet banget sih," gerutu Sandi sembari menatap malas pada Agatha.
Tanduk Agatha telah muncul sepenuhnya. "Keluar, atau gue bikin kalian terdampar di kamar mandi lagi!" ancam Agatha yang sontak saja mampu membuat para siswa langsung berjengit ngeri. Btw, Agatha itu kalau ngomong gak pernah main-main. Contohnya aja waktu abis pelajaran olah raga, karena anak-anak cowok keukeuh gak mau ganti baju setelah main bola, alhasil mereka mendarat di toilet cowok buat bersih-bersih karena Agatha melaporkannya pada pak Maman. Parah sih, harusnya Agatha di kick dari kelas. Tapi gak ada yang berani.
"Gue itung sampe lima, dan kalau kalian masih diem. Gue gak akan segan-segan ngelancarin ancaman gue."
"Satu ...."
Satu persatu para siswa mulai beranjak dari duduknya dan saling melemparkan tatapan bingungnya.
"Dua ...."
Para siswa mulai ribut mencari perlengkapan upacaranya.
"Sandi, itu topi gue!" jerit Siska karena topinya di rebut begitu saja oleh Sandi.
"Siapa cepat dia dapat," sahut Sandi sembari memasang topi tersebut di kepalanya.
"Siniin gak?!"
"Ya ilah, pinjem sekali doang."
"Gila kali ya lo." Siska melompat-lompat untuk meraih topi yang ada di kepala Sandi
"Tiga ...."
"Oji, baju lo masukin!" ujar Agatha pada Oji yang dengan watados melenggang dari hadapannya dengan baju yang acak-acakan, dia fikir Agatha tak melihatnya apa.
Oji menghentikan langkahnya dan berbalik menghadapa Agatha. "Ya ilah maneh liat aja lagi," dengusnya dan dengan malas-malasan memasukan seluruh seragam yang menjuntai ke dalam celananya.
"Empat ...."
Sandi menatap nanar ke sekelilingnya, ia masih belum memakai topi dan Siska sudah berlalu dari hadapannya, mati aja dia!
"Lima ...."
"Ah lo mah ngitungnya kecepetan," gerutu Sandi. Sembari melenggang keluar kelas.
Dan setelah semua siswa meninggalkan kelas, barulah ia dapat bernafas dengan lega. Memang melelahkan menjadi ketua osis yang menyebalkan bagi semua siswa tapi kalau tidak begitu ia yakin para siswa akan semaunya sendiri. Karena tugasnya telah selesai, ia kembali pada tujuan awalnya datang ke kelas. Ya, untuk mengambil atributnya tentu saja. Dengan sedikit santai, ia membuka resleting ransel berwarna navynya. Biasanya ia akan meletakan topi dan dasi di bagian paling depan ranselnya.
Namun, kosong.
Ia tak menemukannya sama sekali. Siapa tahu, ada di bagian satunya lagi. Maka ia mengeceknya sekali lagi. Dan, kosong. Sontak saja Agatha panik. Gak lucu dong, kalau ia negur orang untuk memakai atribut lengkap saat upaca bendera tapi dirinya sendiri malah tidak memakainya. Hingga ia mengubek-ubek seluruh isi tasnya dan hasilnya tetap nihil. Tak ia temukan satupun atributnya di sana.
Sepertinya ia lupa membawanya. Agatha menghela napas pasrah, ya mau bagaimana lagi. Kalau tidak membawanya ia memang harus menanggung semua konsekuensinya. Maka dari itu, ia kembali melangkah keluar kelas dengan lesu. Bagaimana bisa sih, Agatha ketua osis yang bertanggung jawab dan disiplin bisa lupa membawa atribut upacaranya.
"Sayang!"
Harinya sudah buruk, kenapa harus ada makhluk astral juga yang menggangunya sih.
"Sayang!"
Lagi-lagi Agatha memilih bungkam, lagian buat apa sih ngeladenin Mario sepagi ini.
Mario yakin kalau Agatha mendengar panggilannya, maka dari itu ia mencekal sebelah tangan Agatha agar cewek itu menghentikan langkahnya.
"Ish, gak usah pegang-pegang," sewot Agatha sembari menyentak tangannya yang di genggam oleh Mario.
"Sarapan sama apa sih, gemes banget." Mario meraih kedua pipi Agatha dan mengusapnya pelan sebelum Agatha dengan jurus kecepatan seribu anginnya menepis tangan Mario.
"Di bilang jangan pegang-pegang!"
"Marah-marah mulu," protes Mario.
Agatha memutar bola mata jengah. "Sejak kapan gue gak marah-marah kalo ketemu lo."
"Bener juga."
"Minggir lo, gue mau upacara."
"Upacara kok gak pake topi sama dasi," celetuk Mario setelah mengamati seksama penampilan Agatha pagi ini.
"Masalah buat lo?!"
Mario tersenyum jahil. "Pasti lupa bawa atribut ya," ucapnya dengan menyebalkan.
"Bukan urusan lo."
Agatha berbalik, sepagi ini sudah mendapat dua cobaan berturut-turut. Sungguh sangat sial.
Belum genap dua langkah ia berjalan, lagi-lagi Mario mencekal sebelah tangannya.
"Gue bil ...."
Agatha tak mampu berkata-kata lagi, ketika melihat Mario yang dengan cekatan melepas topinya dan memindahkannya pada kepala Agatha. Dan lagi tak lupa ia melepaskan dasi di lehernya lalu ia pindahkan pada kerah seragam Agatha.
"Gue gak ....."
"Pacar yang baik kan gue," ucap Mario sembari tersenyum lebar.
Agatha dengan segera melepaskan topi dan menyerahkannya pada Mario sebelum cowok itu menahan aksinya.
"Kalo di lepas, besok kita nikah," ancam Mario.
Agatha mendengus kesal.
"Gue udah keseringan di hukum, dan lagi gue sayang banget sama pak Maman, gak mau tuh berbagi sama elo," Mario nyengir lebar.
"Tapi lo pasti di hukum dan sanskinya berat," ucap Agatha bagaimana ia lupa tentang sanksinya jika yang membuatnya saja adalah dirinya.
"Cowok sejati itu gak akan takut dapet hukuman. Malah yang gue takutin itu, kalau misal besok gue gak bisa ketemu lo lagi."
"Tapi gue tetep gak mau. Gue gak bawa dasi sama topi karena kecerobohan gue sendiri dan konsekuensinya juga harus gue sendiri yang rasain."
Mario menghela napas. "Kalau lo belum bisa nerima cinta gue, seenggaknya buat sekarang terima dulu topi sama dasi punya gue."
"Tapi ..."
TET... TET ... TET ...
"Tuh kan udah bel. Mending sekarang lo ke lapangan sana."
Agatha sekali lagi menghela napas. "Elo?"
Mario nyengir. "Gue mah belakangan."
Agatha sempat terdiam untuk beberapa saat.
"Cepetan bentar lagi mulai."
Dengan langkah ragu-ragu Agatha mulai melangkah menjauhi Mario yang tengah menatapnya dengan tersenyum lebar.