"Ta kalo gak salah denger, kakek Mario besok bakal dateng buat jadi donatur?" Tanya Safa sembari menolehkan wajahnya seklias pada Agatha.
"Emang iya. Btw, lo tahu dari siapa deh perasaan gue gak ada bilang sama siapapun?" tanya Agatha setengah penasaran.
"Dari siapa lagi, kalau bukan gengan cowok lo," seloroh Safa dengan semangat.
Hingga beberapa detik berikutnya ia meringis pelan, melihat reaksi Agatha yang langsung memelototkan matanya.
"Sekali lagi lo bilang Mario cowok gue, besok-besok gue mending minta anter Maya aja deh," ketusnya.
Safa menelan ludahnya susah payah, kemudian menggaruk belakang kepalanya. "Btw, siapa yang bilang Mario sebagai cowok lo sih," gumamanya.
"Apa?!" sahut Agatha sembari menatap Safa dengan tajam.
Safa menggeleng-gelengkan kepalanya panik. "Nggak kok Ta, gue gak ngomong apa-apa." Gila sih, telinga Agatha berfungsi dengan sangat baik.
Mereka lumayan dekat, karena saat SMP dulu mereka pernah satu kelas.
Kalian pasti bertanya-tanya, kemanakah tujuan dua orang ini melangkah. Dan jawabannya adalah, tadi mereka dipanggil oleh guru Bk untuk menghadap ke ruangannya, gak tahu juga mau apa. Berhubung ia ketua osis dan Safa adalah sekertarisnya, maka ia memutuskan untuk mengajak Safa saja dibandingkan Adit yang notabennya adalah wakil ketua osis.
"Anak-anak yang lain pada ngomongin lo tau, apalagi anak-anak cowoknya," ujar Safa tiba-tiba.
Agatha menoleh. "Ngomongin apa'an?" tanyanya acuh tak acuh.
"Ya gitu, kalo lo ama Mario pacaran. Itu juga gengannya si Mario yang cerita ke kita-kita. Lo sih nembak cowok duluan."
Agatha mendelik sinis. "Yang bikin gue ada di situasi itu juga karena ide briliant lo, Safa." Agatha menekan kata 'briliant' di pelapalannya.
Lagi-lagi Safa meringis ngeri, gak salah kalo orang-orang julukin Agatha sebagai 'macan betinanya SMA PANCASILA' galaknya gak ada yang nandingin.
"Terus mereka bilang, lo tergila-gila sama Mario," bukannya takut Safa malah makin menjadi-jadi. Gak salah sih kalau dia di juluki sebagai kamera berjalan.
"Siapa yang bilang?"
"Udah gue bilang gengannya si Mario, anak cowok kelas gue."
"Mario sialan," gumamnya.
"Ta, lo nggak papa?"
"Udah deh mending lo diem, dari pada gue makin jadi," peringat Agatha.
Safa mengangguk ngeri, dan kembali melanjutkan langkahnya yang sempat tertunda tadi.
"Tenang aja Ta, gue ada dipihak lo kok. Mana percaya gue sama gosip murahan yang disebar luaskan sama geng absurdnya Mario."
Yang bisa Agatha lakukan hanya mengangguk-anggukan kepalanya, saat ini juga ingin rasanya ia mencabik-cabik tubuh Mario lantas membuangnya kelaut dan menjadikannya santapan para ikan. Kalau bisa ikannya harus ikan piranha! Hingga beberapa saat kemudian, keduanya telah sampaj di depan pintu dengan tulisan 'Ruang BK'
Tok ... Tok ... Tok ...
Dengan hati-hati Safa mengetuk pintu.
"Siapa?" saahut suara dari dalam.
Dan ya, ruang Bk selalu tertutup rapat, bukan karena apa tapi itu dilakukan demi menjaga privasi. Ruang Bk bukan digunakan hanya untuk meng-introgasi anak nakal saja, tetapi jika ada siswa yang ingin curhat pun Bk pasti melayani. Tetapi curhatnya itu bukan yang asal-asalan apalagi masalah cinta. Bisa auto di tendang sama pak Maman kalau gitu.
"Agatha pak,"
Tak sampai 10 detik, Pak Maman telah kembali menyahut.
"Masuk aja, nggak bapak kunci kok."
Dengan mantap Agatha membuka pintu tersebut. Ruangan yang dapat Agatha perkirakan mungkin luasnya sekitar 5×4 meteran. Begitu ia masuk ke dalam, alangkah terkaget-kagetnya ia menemukan satu buah spesies langka dan sangat jarang ia temui, ya dia Mario. Spesies gila yang menyamar menjadi manusia normal. Agatha mendengus kesal. Lalu mengalihkan pandangannya kembali pada pak Maman.
"Ada apa ya pak?" tanyanya yang tentu saja setelah Ia dan Safa duduk di sofa dihadapan pak Maman.
"Gini loh Ta, sebenarnya bapak manggil kamu kesini karena bapak ingin kamu lebih mentertibkan lagi siswa SMA PANCASILA."
Alis Agatha berkerut, maksudnya.
"Kamu liat orang yang duduk disamping kamu," ujar Pak Maman yang seolah tahu kebingungan Agatha.
Sontak Agatha menoleh pada sosok yang di tunjuk oleh pak Maman. Mario nyengir lebar ketika Agatha menatapnya sedangkan cewek itu hanya memberikan satu plototan mautnya, berharap agar Mario sadar dari gangguan jin dan iblis yang menguasai dirinya.
"Kenapa emangnya pak?"
"Tadi saya liat dia sama temen-temennya lagi nongkrong-nongkrong nggak jelas diwarung depan sekolah sambil ngerokok, pas jam pelajaran lagi berlangsung pula," ucap Pak Maman menggebu-gebu.
"Biasa aja kali pak," celetuk Mario asal.
"Mario!!" Mata Pak Maman seolah akan keluar dari tempatnya.
Mario meringis. "Sorry pak."
"Tuh kamu liat sendiri, kan??"
Agatha berdecak sembari menggeleng-gelengkan kepalanya saat melihat tingkah tengil cowok itu.
"Kamu urus dia, saya sudah pusing. Nggak kuat," ucap Pak Maman mendramatisir.
"Loh, kok saya sih pak?" protes Agatha tak terima. Pak Maman aja gak kuat, apalagi Agatha. Bisa darah tinggi dadakan dia.
"Siapa lagi, ketua osisnyakan kamu."
Agatha menghembuskan napasnya pasrah. "Ok, deh pak."
Pak Maman mengangguk bangga. "Bapak percaya sama kamu Ta."
Yang dapat Agatha lakukan hanya mengangguk-anggkukan kepalanya.
"Ta, udah mau bel," bisik Safa pada Agatha.
Agatha melirik jam yang melingkar ditangan kanannya. "Kalo gitu saya sama Safa ke kelas dulu ya Pak. Bentar lagi mau bel,” ucapnya lantas berdiri.
"Sekalian bawa Mario."
Mario yang disebutkan namanya lantas berdiri disamping Agatha. Agatha hanya menganggukinya saja.
"Asallamualaikum," ucapnya sebelum keluar dari ruang Bk.
Setelah tepat berada didepan pintu, Agatha terdiam.
"Saf, lo duluan aja deh. Gue ada urusan dulu sama cowok gila ini."
Safa menatapnya bingung. "Lo yakin?" Ia menatap pada Agatha dan Mario berulang-ulang.
Dengan mantap Agatha mengangguk. "Makasih yak, udah ditemenin."
Safa tersenyum. "Yaudah, gue duluan yak. Hati-hati." Dan setelahnya Safa berlalu dari hadapannya.
"Ikut gue!!"
Agatha lantas berjalan terlebih dahulu, sedangkan Mario dengan senang hati mengekorinya dari belakang.
"Lo ngajak mojok? Boleh juga." Mario mensejajarkan langkahnya dengan Agatha.
"Bisa diem nggak sih!"
"Temen lo aneh banget, masa bilang hati-hati. Emang lo mau gue apa'in??"
"Tampang lo kan emang dasarnya kriminal," ucapnya sadis.
"Ya sih gue tau kalo gue itu ganteng." Ucapnya terlalu Pede.
"Sinting."
Mario hanya terkekeh mendengar ucapan sadis yang terlontar dari bibir Agatha.
Agatha menghentikan langkahnya disebuah koridor yang terlihat sepi, jelas saja sepi ini adalah koridor perpustakaan yang disebelahnya terdapat ruang olahraga. Jadi, mustahil ada orang yang berlalu lalang di sekitar sini ketika sedang istirahat.
"Lo emang pacar idaman deh, tau aja tempat yang sepi." Mario mengedipkan sebelah matanya.
"Diem! Gue mau ngomong serius sama lo." Agatha menampilkan raut muka yang serius.
Justru karena raut muka Agatha yang berubah menjadi serius Mario jadi semakin terkekeh geli.
"Santai aja kali yang, nggak ada yang bakal ganggu kita kok," ucapnya ambigu.
Agatha menghembuskan napas beratnya, emang pada dasarnya susah ngomong sama orang yang sifatnya masih kekanakan macam Mario ini. "Kenapa tadi bolos lagi?" Agatha mulai meng-introgasi.
"Gue nggak bolos kok," bela Mario.
"Gue serius Yo!"
"Tadi gue cuma jajan aja sama yang lain."
"Jajan permen gak masalah, tapi yang lo jajanin itu rokok, rokok! Lo tahu rokok?!"
Mario mengangguk dengan semangat. "Tahulah."
Agatha menggeram menahan emosinya. "Lo itu ... sumpah gue sampe kehabisan kata-kata saking muaknya sama lo. Lo itu, terlalu urakan, gue gak suka!"
"Lo ngomong apa si Yang, gue nggak ngerti arah pembicaraan kita. Coba ngom ...."
"Stop!! Gue nggak mau main-main lagi, kemaren gue nembak lo cuma biar kakek lo dateng ke acara yang bakal anak osis adain, nggak ada maksud lain cuma itu. Jadi sekarang kita putus, nggak ada lagi hubungan apa-apa di antara kita.
Mario memberenggut tak suka. Tatapan matanya mengungkapakan ke-seriusan. "Gue emang bodoh, urakan, dan b******k. tapi lo harus tau gue nggak pernah main-main soal hati. Kalo hati gue udah milih lo maka nggak akan pernah gue lepas. Kita belum berjuang jadi jangan mengakhiri sesuatu yang belum kita mulai sama sekali."
Sekarang kini giliran Agatha yang di buat bungkam.
Dan dalam sekejap pula Mario kembali mengubah ekpresi wajahnya seperti semula. "Nggak usah tegang gitu dong yang." Mario mengacak-acak rambut Agatha lembut.
Sontak Agatha tersadar dari lamunannya. "Nggak usah pegang-pegang." Agatha menyentak tangan Mario yang berada diatas kepalanya.
Mario terkekeh. "Kebiasaan, emang tangan gue nyakitin apa."
Agatha mendengus kesal, lama-lama bisa ketularan penyakit gilanya Mario jika terus-terusan berurusan dengan cowok itu maka akhirnya Agatha memutuskan untuk berlalu dari hadapan Mario. "Mati aja sana lo!" ucapnya sebelum benar-benar melangkah.
"Agatha!"
Sontak Agatha berbalik. Dengan ekspresi yang masih terlihat super duper kesal.
"Apalagi?" Tanyanya sewot, tidak tau kenapa setiap kali berhadapan dengan Mario perasaannya jadi sewot terus.
"I love you," ucap Mario dengan membentuk lambang Love dengan jarinya.
Muka Agatha memerah. "Sinting." Agatha kembali melanjutkan langkahnya yang sempat tertunda.
Mario terkekeh ditempatnya berdiri. Ternyata benar, masih banyak cara untuk membuatnya tertawa. Dan salah satunya adalah berhadapan dengan Agatha.