Asal Mula

1024 Kata
"Eh, lo kok ngerokok disini sih!" sewot Agatha sembari berkacak pinggang di hadapan cowok yang dengan santainya tengah menghisap rokok. Mario sontak saja kaget karena kedatangan Agatha yang tiba-tiba bak hantu di film-film horor saja. Lantas Mario menoleh pada sosok cewek yang membuat aktivitasnya terganggu. "Kenapa liat gue kayak gitu? nggak suka?!" cewek itu menunjuk-nunjuk wajah Mario dengan semangatnya, lantas melemparkan tatapan menantang pada cowok yang ada di hadapannya. "Siapa bilang, gue suka kok," sahutnya santai, malah kelewat santai. "Lo ngerokok disini?! peraturannya kan siswa gak boleh ngerokok di lingkungan sekolah," ujarnya dengan berapi-api. Sampai-sampai kedua tanduk di kepalanya hampir saja keluar. "Siapa bilang lagi ngerokok," sahut cowok itu. "Terus yang ditangan lo itu apa, Permen? orang buta juga tau kalo itu rokok." "Orang buta itu nggak bisa liat sayang." Agatha melotot hampir-hampir mengeluarkan ke-dua bola matanya, yang lantas membuat Mario tertawa terbahak-bahak. "Lo cari mati?!" ucapnya sarkastik. "Boleh juga, gue kepingin tuh mati." "Elo udah sinting ya!" Agatha tak habis fikir dengan makhluk ciptaan tuhan ini. Sepertinya Mario di lahirkan ketika badai dan guntur sedang terjadi, makannya sikapnya kelewat nyebelin. "Lagian lo suka banget gangguin kesenangan gue," keluhnya setengah kesal. "b**o aja, ngerokok di koridor. Mana koridor kelas gue lagi. Lo fikir gak sakit apa nih mata tiap hari liat kelakuan tengil lo itu," sewotnya berapi-api. "Berarti kalo diruang guru boleh dong," ujarnya jahil. "Nggak sekalian di ruang BP, biar sekalian lo di keluarin!"       "Di keluarin apanya nih?" tanyanya sembari menaik turunkan alisnya. Agatha geram teramat geram malah. "Snewen gue liat lo tiap hari." "Bilang aja seneng." "MARIO!! Jangan mentang-mentang lo anak orang kaya, jadi gue nggak ada hak buat nertibin siswa di sekolah ini. Lo harus inget gue itu Ketua osis. Jadi lo harus patuh sama perintah gue." Agatha berucap dengan kesal. Mario mangangguk-anggukan kepalanya. "Lo ngertikan??" Dengan polosnya Mario menggeleng. "Siniin tuh rokok," Agatha menunjuk rokok yang berada disela-sela jari tangan kanan Mario. Mario seolah terkejut. "Lo mau ngerokok juga?? lo kan cewek Ta, nggak baik." "Cowok gila, ya gue buang lah. Udah tau ngerokok nggak baik, kenapa masih di pake. Oon sih punya otak tapi nggak dipake," Agatha menghela napasnya. "Panggil gue Kakak! Gue ini senior lo!" tekan Agatha. Bukannya patuh cowok itu malah terkekeh. "Gak mau ah, maunya panggil sayang aja." Agatha sudah siap makan hati tiap kali berhadapan dengan siswa bebal macam Mario ini. Malahan yang semacam dengannya bukan hanya satu dua, tapi buanyakkk. "Lo bener-bener belom tahu rasanya sepatu melayang, ya!" Agatha melotot dan hampir mencopot sepatunya. "Gue taunya hati lo yang melayang ke hati gue." "Bercanda mulu lo! Gue lagi serius." "Mau gue seriusin?" tanya Mario semangat. Agatha menggeram marah. "Dengerin gue, rokok itu bahaya. Lo bisa aja mati karena itu." "Lo nggak tau aja filosopi rokok." Dahi Agatha berkerut, memangnya rokok apaan sampe-sampe ada filosopinya. "Nih ya, kalo ngerokok itu penyakitnya cuma satu, paru-paru doang. Nah, kalo nggak ngerokok itu nanti penyakitnya rupa-rupa. Jadi lo mau pilih yang mana nih Ta?" Mario menaik turunkan alisnya yang tebal itu. Agatha memejamkam mata untuk sesat hanya agar emosinya tidak semakin keluar, bisa darah tinggi di tempat kalau Agatha meledak saat ini juga. "Nggak usah ngajarin gue. Kenapa sih orang tua lo harus punya anak macem lo." "Nah, itu juga jadi pertanyaan gue selama ini." "Diem. Gue lagi ngomong," sentak Agatha. "Udah kerjaannya bolos mulu, kalo nggak bolos yak cari ribut. Ditambah suka ngerokok. Lo mau jadi apa sih nantinya?!" Mario diam. "Lo nggak kasihan apa sama orang tua lo yang udah banting tulang buat nyekolahin anaknya?" Lagi-lagi Mario hanya terdiam. "Emang lo mau jadi preman yang cuma ngandelin fisiknya dan didalem otaknya cuma keisi sama tindakan kriminal?" Mario tetap diam. "Kenapa cuma diem aja, gue nanya sama lo," protes Agatha. Dengan polosnya ia menjawab. "Kan tadi lo yang nyuruh gue buat diem." Lagi-lagi Agatha memejamkan ke-dua matanya menahan emosi yang meluap-luap didalam dirinya. "Peringatan terakhir. Buang tuh Rokok!" "Gue dapet apa kalo buang nih rokok," Mario mengacungkan rokok yang ada disela jarinya kehadapan Agatha. "Lo apa'an sih, cepet buang tuh barang haram," Agatha sudah kesal setengah mati dengan cowok tengil yang ada di hadapannya ini. Untung saja keadaan koridor saat ini lumayan sepi karena SMA Pelita tengah ada kegiatan yang mengaharuskan semua siswanya tetap berada di aula. Tadinya alasan Agatha pergi ke kelas adalah untuk mengambil handphone yang tertinggal didalam ranselnya. Alih-alih mengambil handphonenya ia malah mendapati satu cecunguk yang sangat mengganggunya ini. Lagi-lagi Mario terkekeh mendengar Agatha menyebut rokok dengan sebutan barang haram. "Lo fikir ini narkoba." "Lo mau main-main sama gue," Agatha mengepalkan salah satu tangannya dan mengarahkannya tepat didepan wajah Mario. "Lo nembak gue? boleh juga, lagian gue bosen main sendiri terus." Agatha mengerutkan dahi tak mengerti. Mario menatap Agatha dengan jahil. "Jadi, mulai sekarang kita jadian." Mario membuang rokoknya yang tinggal setengah ke tempat sampah yang tepat berada di samping tubuhnya. Lantas ia mendakti Agatha dan mengacak-acak pelan rambut cewek yang tingginya hanya sebatas dagunya itu. Jangan salahkan Agatha salahkan saja dirinya yang kelewat tinggi. "Gue pergi dulu ya Yang, jangan kangen sama gue. Tapi kalo kangen, lo sms aja nanti gue langsung nemuin lo," Mario mengedipkan sebelah matanya, memberikan tatapan menggodanya pada Agatha yang hanya diam mematung. Mario berbalik pergi, menyisakan Agatha yang hanya berdiam diri seperti patung. Sejujurnya Agatha masih belum paham dengan apa yang telah terjadi barusan. Namun, ketika semua kesadarannya telah kembali ia sontak langsung menatap punggung yang tengah berjalan menjauhinya itu. "Dasar cowok kurang ajar!" maki Agatha yang hanya di balas dengan suara tawa yang sangat menyebalkan oleh Mario. "Aduh, Ta lo lama amat sih!" seru seorang cewek dengan suara yang bisa dijamin memecahkan gendang telinga siapapun yang mendengarnya, Dina. Seketika Agatha tersentak kembali ke dunianya. "Sorry Din, gue abis ketemu cowok gila tadi." "Hmm iya deh Bu ketua." ledeknya. "Lo ngapain kesini??" tanya Agatha bingung. Dina menggeleng-gelengkan kepalanya mendaramatisir keadaan.  "Ck ck, lo emang harusnya pensiun deh Ta." Agatha memandang Dina dengan seolah bertanya, emang kenapa? "Kitakan kesini bareng, dan lo nyuruh gue buat nunggu di depan. Tapi setelah satu abad gue nunggu, lo gak muncul-muncul juga. Jadi, yaudah gue samperin deh." "Lebay amat lo," cibir Agatha. "Lagian lo negur siapasih? cowok yang mana?" Tiba-tiba Dina terdiam sesaat yang bisa Agatha tebak pasti ia tengah berfikir kemana-mana. "Gak penting; udah deh balik lagi yuk." "Handphone lo?" Agatha menepuk jidatnya, ini adalah efek gara-gara berhadapan terlalu sering dengan Mario. Otaknya jadi eror seketika. "Tunggu bentar." Secepat kilat Ia memasuki ruang kelasnya, menghampiri dimana ranselnya berada. Membukanya dan mengorek-orek isinya, setelah dapat ia mengambil dan memasukan kedalam saku rok spannya. "Udah?" tanya Dina, ketika Agtha baru satu langkah keluar dari kelas. Dengan mengangguk mantap Agatha menggandeng lengan Dina untuk kembali ke aula.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN