Ketua OSIS Galak

1251 Kata
"Ta lo pacaran sama Rio?" tanya Nina dengan tak sabaran. Agatha memutar bola matanya malas. "Siapa yang bilang?" "Tadi kan pas gue lewat kelas 11, pas banget IPS 5 gue liat anak-anaknya lagi pada rame, ya udah gue kan kepo ya gue tanya aja ada apa tuh, terus mereka jawab mereka abis di traktir ama si Mario gegara jadian ama elo," tutur Nina dengan semangat 45. "Lo jadian sama dia?" disusul dengan pertanyaan Dina. "Sejak kapan sih, kok lo nggak pernah bilang?"  Agatha menghela napas lelah. "Satu-satu coba tanyanya. Ok, pertama gue bukan siapa-siapanya Mario, ke-dua gue nggak jadian sama dia, dan ke-tiga gue nggak akan pernah jadian sama sowok bebal macem dia. Ngerti?!" "Tapi kok tadi dia teraktiran sih??" "Pengen berbagi ke rakyat jelata aja kali," sahut Agatha acuh tak acuh. "Sembarangan," sembur Nina yang di balas dengan kekehan oleh Agatha. Dina terdiam lantas mengetuk-ngetuk dagunya dengan salah satu jari telunjuk tangan kanannya. "Inget nggak Ta, pas gue nganter lo buat ngambil handphone ke kelas, kan gue nunggu diujung koridor tuh, terus gue liat si Mario lagi jalan keluar dari koridor kelas lo sambil senyum-senyum nggak jelas, apa jangan-jangan ...." Dina menggantungkan ucapnnya, yang lantas mendapatkan tatapan penasaran dari teman-temannya. “Lo ada main belakang sama Mario? Misalkan lo jadian tanpa sepengetahuan kita?" Serunya dengan sangat heboh. "Sembarangan, Lo fikir gue gila apa. Jadian sama tuh anak," sungut Agatha kesal. "Nggak ada ya kamusnya, seorang Agatha jadian ama cecunguk gila macem tuh bocah." "Tapi lo ngomong ber-dua kan sama dia?" tanya Dina. Dengan ragu Agatha mengangguk. "Tuh kan!!" "Tapi kan gue cuma negur dia yang lagi ngerokok. Salah emangnya?" Lama-lama ia kesal sendiri pada temana-temannya yang selalu melebih-lebihkan segala sesuatunya. "Nggak sih, tapi mana ada orang ditegur malah senyum-senyum bahagia." "Diakan spesies langka," celetuk Agatha seadanya, Mario mungkin saja mengidap sindrom gila kan?. "Ta, nggak papa kali jadian sama Mario, ya walaupun badung gituh yang penting kan berduit," ucap Nina dengan mengedipkan sebelah matanya. "Yee, sejak kapan lo jadi matre gini," Dina menoyor pelan kepala Nina, yang dibalas cengiran olehnya. "Kalian nggak tau aja sih. Segimana kayanya dia. Gue mah udah pernah sekelas ama doi." "Coba dia pas kelas 1 naik kelas, mungkin sekarang gue sekelas lagi ama doi." Jadi sebenarnya Mario itu bukan pure kelas 11 atau juniornya Agatha, tapi pas kelas 10 doi pernah gak naik kelas. Gak tahu juga karena apa. "Nggak perduli gue, mau dia anak presiden sekalipun. Kalo kelakuannya b***t kayak gitukan buat apa?" Agatha kembali menyedot jus melon yang tadi ia pesannya. "Iya kan Bu Agatha sukanya cuma sama cowok disiplin." "Tuh tau!" Sahut Agatha cepat. "Berarti sama mamang satpam mau?" "Cari mati ya lo?!" °°° "Kak, ada yang lagi malak anak kelas 10 tuh, dibelakang gedung olah raga," Seru Tia junior di ke-organisasian osisnya dengan tergesa-gesa. "Siapa?" "Kak Mario sama gengnya." Agatha mengangguk paham, ia segera bergegas dari duduknya untuk meng-investigasi Mario dan geng absurdnya. Dengan sedikit terburu-buru ia mempercepat langkahnya menuju belakang gedung olah raga. "Woy, BERHENTI!" Teriak Agatha yang benar-benar ampuh menghentikan kegiatan beberapa orang yang ada didepannya. Agatha mendekat. "Kok lo ke sini sih Yang," ujar Mario dengan cengiran tengilnya sembari menggaruk belakang tengkuknya. Agatha mendengus kesal. "Ngapain lo malakin anak orang?" "Lo, lo juga ngapain ikutan!" Agatha menunjuk satu persatu anak cowok yang ada di sana. Dan mereka semua anak kelas 12. Lantas Agatha menghadap pada anak kelas 10 yang sedari tadi menunduk. "Lo balik ke kelas, sekarang!" Dengan tergagap anak itu bergegas pergi setelah mengucapakn terimakasih. Tiba-tiba saja Agatha telah memasang tampang siap perangnya lagi pada 3 orang didepannya dengan tangan yang berkacak pada pinggang. "Lo dalang dari semua ini kan?" Agatha menunjukkan jari telunjuknya tepat didepan wajah Mario. "Tau aja. Insting pacar emang selalu benar." "DIEM!" Sontak Mario kembali membungkam suaranya. "Kalian ber-dua balik ke kelas,” perintahnya. "Nggak asyik lo Ta." Sahut salah satu cowok dengan mata sipitnya, Reza. Mereka pernah satu kelas, kalau enggak salah pas kelas 10. Karena kalo sekarang tuh cowok masuk ke jurusan IPS. "Apa Lo bilang?" Agatha memelototkan ke-dua matanya, yang lantas mendapatkan ringisan ngeri dari Reza. "Maneh teh kenapa sih ganggu mulu,"  rutuk Oji, kalau dia sih satu kelas dengan Agatha. Dan kerjaannya tiap hari bikin Agatha kesel sebelas dua belas lah sama Mario. "Lo bilang APA?!" Sekarang ke-dua tanduk pada kepala Agatha sudah mulai menampakan dirinya. "Kalian balik ke kelas aja duluan sana, Agatha ngajakin pacaran dulu sama gue. Jadi kita nggak mau diganggu." "Udah deh yuk cabut, nggak mau gue kena amuk emaknya macan," lantas setelah mengucapkan itu Reza langsung kabur. "LO CARI MATI YAK! LO JUGA NGAPAIN MASIH DISINI. CEPETAN PERGIII!" Tuhkan untung saja Reza langsung kabur, bayangkan jika belum. Ojipun akhirnya memilih cabut dari pada jadi sasaran amukan gorila kesasar dari ragunan yang ada di hadapannya ini. Setelah semuanya pergi barulah Agatha kembali fokus pada satu makhluk yang ada didepannya, yang tengah menatapnya dengan cengiran menyebalkannya. "Ngapain lo senyum-senyum? udah Gila?" Mario terkekeh pelan. "Udah sinting beneran kan." "Perhatian banget sih sama gue," Mario mengedipkan sebelah matanya. "Najis," ketus Agatha. "Back to topic, ngapain lo malakin anak kelas 10? Mau sok berkuasa? Atau lo mau nunjukin kalo senior itu diatas segala-galanya?" "Nggak gitu juga kali Yang." "Stop panggil gue dengan sebutan itu, jijik gue," Agatha memasang ekspresi seolah-olah ingin muntah. "Abis gue mesti manggil apa lagi? Bunda? Mami? Ayang? Ba ...." "STOP! panggil gue kak Agatha!" "Gue kan udah bilang, gak mau," rutuknya. "Orang tua lo berkekurangan ato gimana sih, sampe-sampe malakin anak orang." "Gue cuma kekurang cinta dari lo Ta." "Jangan ngalihin pembicaraan," Geram Agatha. "Ok," Mario mengangguk. "Motivasi apa yang ngedorong buat lo malakin anak kelas 10?!" Mario tersenyum jahil. "Gue usaha dengan cara ngehasilin duit sebanyak-banyaknya dan ngeluarin modal se-sedikit-sedikitnya." "Gila ya lo!" Mario terkekeh ringan. "Sehari dapet berapa dari kerjaan nggak halal itu?" "Berapa ya?" Mario mengetuk-ngetuk dagunya dengan jari telunjuknya, seolah-olah tengah berfikir. "Gue fikir, gue banyak dapet kepuasannya dibanding uangnya," cetusnya spontan. Agatha membelalakan matanya. "Lo enak, yang dipalakinnya rugi." "Bodo amat, yang penting gue seneng. Itung-itung nikmatin masa remaja." "Yang ada lo yang bakal nyesel karena masa muda lo berantakan," ujar Agatha sinis. "Seberantakan-berantakannya masa muda gue, ketemu sama lo, masa depan gue auto mulus." "Udah gak waras lo," Agatha menghela napas pasrah. "Awas aja kalo besok-besok gue liat lo lagi malakin orang lagi." Setelah berucap demikian Agatha berbalik meninggalkan Mario yang tengah menatap kepergiannya dengan tatapan sulit diartikan. °°° "Eh lo, yang rambutnya diombre, kalo besok masih ada ombreannya gue yang akan potong sendiri," ucapnya kejam pada siswa kelas 11 yang tengah menatapnya tanpa minat. "Iya," sahutnya dengan malas. "Jangan cuma iya iya doang, kalo ngerasa anak sekolahan besok tuh rambut udah nggak ada. Tapi kalo besok tuh rambut masih ada, berarti Lo cabe-cabean diperempatan depan," ucapnya sadis. Yang langsung diangguki oleh siswi tetsebut. "Bagus," Agatha tersenyum puas. Ia lalu melanjutkan kembali langkahnya dikoridor yang sempat tertunda. Tiba-tiba insting macannya kembali keluar, ketika mendapati tiga siswa cowok yang saling melempar buku paket yang Agatha yakin buku itu adalah fasilitas sekolah. "Bagassss!! lo tuh yak, suka banget sih ngerusakin barang orang. Mau jadi apa lo?" Agatha menghampiri Bagas dan langsung menjewer telinga kanannya. Bagas yang mendapat serangan mendadak terperanjat kaget. "Eh, eh lepasin dong Ta, sakit nih," keluh Bagas yang terlihat sekali menahan kesakitan, dilihat dari telinganya yang mulai memerah. Lantas Agatha melepaskan jewerannya, ia juga tak setega itu. "Lo kan anak baik-baik Pi jangan mau lah bergaul sama cowok yang nggak sejalan nanti kebawa negatif hidup lo,"  Agatha memberikan nasihatnya pada Yopi, yang setau Agatha adalah anak baik-baik. Kenapa Agatha tau, karena pas kelas 10 mereka pernah satu kelas, ditambah Yopi waktu itu pernah menang lomba Adzan se-angkatan. "Gue suka perubahan," sahutnya kalem, tuh kan. Agatha mengelus dadanya berulang-ulang. Mana ada perubahan kejalan yang salah. "Lo lagi San, lo kan se-kelas sama gue, jangan malu-maluin nama kelas coba." Sandi hanya manggut-manggut. "Sekarang buku yang lagi kalian pegang balikin ke perpus, kalo kalian nggak mau berhadapan lebih lama sama gue. Kalian ngertikan?" Bagas, Yopi dan Sandi hanya mengangguk pasrah. Agatha tersenyum bangga, dan inilah dia Agatha si ketua osis galak yang sudah menjadi pembicaraan hangat di kalangan para siswa.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN