… Agustus, September, Oktober 2008 …
Setelah kita semua telah menjalin kesepakatan dengan teman-teman yang lain, akhirnya resmi kita semua telah membentuk sebuah grup band musik dengan wajah baru. Untuk personilnya ada enam orang, diantaranya ada aku sebagai vokalis, Candra, Imam dan Irvan sebagai gitaris, Wahyu sebagai Bassis, Faisol Drummer, serta cak Inul yang memainkan gendang jika sewaktu-waktu kita akan latihan lagu dangdut.
“Untuk personilnya kita semua sudah lengkap teman-teman,” ucapku saat semua teman-teman di dalam kamar.
“Ya baguslah, syukur kalau gitu,” jawab cak Inul.
“Oh ya, tapi grup kita perlu ganti nama?”
“Wah, soal nama sih gampang. Tapi enaknya kita tetap pakai nama itu aja, The Santri,” sahut Irvan.
“Emmm, oke deh sepertinya kita semua juga setuju,” timpal Chandra.
“Ya sudah sepakat semua ya,” sahutku.
“Oke, sepakat.”
“Oh yaa, terus kapan nih kita yang buat agenda latihan rutin?” tanyaku.
“Kalau saran aku sih, kita latihannya setiap hari di dalem kamar, walaupun kita hanya bisa pakek gitar, gendang sama galon. Dan untuk latihan di studio, kita agendakan tiap dua minggu sekali,” ujar Faisol.
“Iya, gue setuju tuh sama Faisol,” timpal Wahyu,
“Oke deh, kalau gitu kita sepakati aja, latihan tiap hari di kamar, dan latihan di studio dua minggu sekali,” pungkasku.
“Oke setuju.” Jawab serempak seluruh personil.
***
Pagi hari telah tiba, azan Subuh pun mulai berkumandang, aku segera bangun untuk menuju kamar mandi dalam mengambil wudlu, tak hanya itu, aku juga menyempatkan gosok gigi agar mulut terasa segar. Di saat sudah selesai, aku segera menuju kamar kembali. Azan pun telah selesai, namun di dalam kamar D5 masih ada beberapa anak yang masih belum bangun, sehingga hal tersebut telah menyulut emosi pak Wes.
“Wehhhh banguunnnn.” Teriak pak Wes.
Teman-teman segera bangun karena kaget.
“Udah jam berapa ini, azan selesai masih aja belum bangun, dasar malesss,” bentak pak Wes.
Atas hal itu, teman-teman merasa sangat geram akan perilaku pak Wes, yang begitu arogan dalam menyikapi kita semua, termasuk yang tinggal di kamar D5.
“Dasar tuh orang, kayak nggak punya sopan santun aja,” ucap Imam.
“Iya tuh, dasar orang Kalimantan tuh emang nggak punya adat,” tambahku dalam hati.
Kita semua dengan kompak berangkat ke masjid bersama-sama. Usai shalat Subuh kita memang nggak bisa tidur lagi, akan tetapi kita masih ada dua kegiatan sampai jam enam pagi, yaitu ngaji Al-Qur’an, dilanjutkan dengan ngaji kitab kuning.
“Ehh Vian, ntar malem kita latihan lagu apa nih?” tanya Faisol.
“Emmm, kalau pendapat aku sih ntar kita latihan lagu Peterpan yang judulnya jauh mimpiku.”
“Oke deh, kamu udah dapet kuncinya emang?”
“Tenang aja, gue dah hafal kok,” jawabku.
“Oke deh kalau gitu.”
***
Malam hari pun telah tiba. Seperti biasa setiap malam kita selalu memanfaatkan waktu untuk bergembira dan bernyanyi bersama sebagai hiburan semata. Saat kegiatan di pondok telah selesai, kita semua kembali berkumpul dengan kompak di kamar D5. Segera kulepas sarungku dan segera kukenakan kaos, celana panjang serta sepatu ket milik Irvan. Sound system beserta mic sudah mulai dinyalakan, dan Irvan telah siap dalam memainkan gitarnya. Dan karena malam ini cak Inul tak bisa hadir, maka untuk sementara waktu digantikan oleh Faisol sebagai pemain perkusi.
Satu lagu sebagai pembuka mulai kunyanyikan, waktu demi waktu pun berjalan. Sedikit demi sedikit para santri sebagai penonton pun mulai berdatangan, membuatku menjadi lebih bersemangat. Begitu semangatnya konser kita hari ini sampai tak terasa dua puluh lagu telah ternyanyikan.
Rasa lelah sisa-sisa semalam masih sangat terasa, sekarang sudah mulai masuk di jam istirahat sekolah yang bertepatan pada pukul Sembilan pagi. Aku mulai terduduk sendiri di bawah pohon Cherri, tiba-tiba Yunus datang menghampiriku lalu mengatakan sesuatu yang tak biasa.
“Hey Vian, ngelamun aja Lu dari tadi,” sapa Yunus.
“Ehhh Lu Nus, iya nih gue masih ngerasa ngantuk banget, mau ke kamar juga lagi bete banget.”
“Makanya, kesehatan tuh dijaga. Jangan bisanya cuma ngopi aja.”
“Ahhh s****n Lu, bukannya selama ini yang sering ngajakin ngopi itu Lu.”
“Hmmm, yee lah gue yang salah. Oh ya Vian ada kabar gembira nih buat Lu.”
“Kabar gembira apaan? Paling-paling mau Lu traktir ngopi.”
“Lahhh, Lu jangan salah paham dulu lah. Ini soal cewek cantik nih.”
“Cewek cantik siapa juga.”
“Lu dapet salam dari adik kelas.”
“Hmmm, pasti dari Shelli kan.”
“Bukanlah. Tuh orangnya.” Jawab Yunus sambil menunjukkan keberadaan perempuan itu.
Lalu aku menoleh ke arah yang di maksud Yunus. Perempuan itu mulai menatapku dan sedikit melambaikan tangan terhadapku, hingga pada akhirnya perempuan tersebut mulai berjalan menghampiri diriku yang masih terduduk di dekat Yunus.
“Halo kak Vian, kenalin namaku Cholilatul Ummah, panggil saja Lyla,” ucapnya.
“Iya dek, salam kenal juga.”
“Ciyee pandangan pertama, ya sudah aku tinggal dulu ya,” celetuk Yunus.
“Lyla mulai terduduk di dekatku.
“Ehmmm, ada angin apa kok tiba-tiba mau berkenalan sama aku dek?”
“Hihh emangnya nggak boleh kenalan sama kakak, kalau misal nggak boleh ya sudah aku pergi aja,” celetuknya.
“Hehehe, bercanda kali dek,” jawabku.
Dan kita berdua mulai berbincang serta mengobrol. Tak cukup banyak apa yang sedang kita bicarakan di saat ini, tetapi yang pasti kusedikit merasa nyaman didekatnya. Kini kumulai tahu, mengapa dia begitu bisa dalam memberanikan diri untuk dekat denganku, karena tidak lain dia sangat suka jika aku sudah tampil dalam bermusik.
Tak hanya sekedar berbicara, tapi di saat ini kita juga saling bercanda serta tertawa. Lumayan asyik juga berteman dengan Lyla, ya meskipun dia hanya sebatas adik kelas. Saat bel sekolah telah berbunyi kita mulai berdiri, karena kita harus kembali masuk ke kelas masing-masing.
“Aku masuk kelas dulu ya kak.”
“Baik dek, semangat untuk belajarnya.”
Dengan perlahan dia mulai melangkah meninggalkanku sendiri, di saat dia berjalan aku tetap memandangi dirinya yang semakin menjauh. Ya ampun, mengapa pertemuan ini terasa sangat aneh, pandangan pertama yang telah meluluhkan sebuah rasa. Dia hanya tersenyum lalu membuatku terpikat, lalu dia pun berkedip hingga membuatku terpesona. Ketika dirinya berbicara, begitu lembut sekali tutur katanya, membuat diriku tak kuasa mendengar suaranya.
“Lyla, sungguh begitu lugunya dirimu,” batinku dalam hati.
Dengan perlahan kukembali melangkah menuju kelasku. Aku terduduk dan mulai terdiam, saat pelajaran berlangsung sepertinya aku belum bisa fokus, karena tak ada ingatan lain selain dirinya, seorang adik kelas yang baru saja kukenal.